KEJAMNYA MAFIA CANTIK

KEJAMNYA MAFIA CANTIK
Glorria merasa tertantang


__ADS_3

Drak yang ikut menyaksikan kejadian tersebut dan melihat Dallen terkulai lemas ia segera menopang tubuh Dallen, dan memapapahnya kepinggir jalan, dan Drak kembali membantu Bastev yang sama sangat terpukul dan tak berhenti menangis. Drak segera menghubungi para anak buahnya, meskipun hati Drak merasakan kesedihan yang menyaksikan kejadian yang dialami oleh Glorria tuanya.


Tak lama kemudian para anak buah Glorriapun tiba di lokasi kejadian, dan mereka segera mengangkat bangkai motor dan juga mayat yang sudah tak utuh lagi sesuai dengan permintaan Drak. Drak dan para anak buah Glorria segera membawa bangkai motor, dan juga mayat yang diduga mayat Glorria itu langsung dibawa menuju rumah Glorria.


Dengan perasaan yang berkecamuk Drak terpaksa memberi tahukan Annabella, yang masih berada dirumah sakit.


"Tidak.. Tidak.!! itu tidak mungkin putriku, putriku tidak mungkin meninggalkanku hikss.. Hikss.. Tidak ini mungkin Tuhan."


Teriakan dan tangisan Annabella memecah keheningan rumah sakit, membuat Maicon dan Alexander kebingungan melihat Annabella terus berteriak histeris.


Aiken dia segera menghubungi Drak yang sudah berada dirumah Glorria, untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengan Glorria kenapa Annabella sampai histeris, Aiken setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Drak, Aikenpun menjatuhkan ponselnya ia tak kuasa untuk memberitahukan Maicon dan juga Alexander yang masih lemah, namun Maicon terus memaksa Aiken agar Aiken mau memberitahukannya, mau tidak mau Aiken pun memberitahukan apa yang terjadi dengan Glorria saat ini.


Sontak saja tubuh Maiconpun terkulai lemas dan ia terjatuh, namun Arno menopang tubuh Maicon yang sudah renta. Alexander yang mendengar kabar mengenai putrinya Glorria, diapun menangis dan ia meminta dibawa pulang kepada Aiken pengawalnya, akhirnya Aiken dan Arnopun meminta kepada dokter agar Alexander diizinkan pulang.


Setelah mendapatkan izin dari dokter, akhirnya Alexander beserta Annabellapun pulang, dengan peralatan rumah sakit ditubuh Alexander masih menempel. Namun Alexander berusaha kuat karena ia ingin melihat kebenaran yang terjadi kepada Glorria putri sulungnya.


Deborah yang berada diluar segera diberitahukan oleh Louis, jika kedua orangtuanya akan kembali pulang kerumahnya, akhirnya Deborahpun berjalan mengikuti Louis yang berjalan menuju mobil. Tanpa dia ketahui apa yang sudah terjadi dengan kakaknya, Deborah ia hanya melongo melihat Annabella dan Maicon sudah berada didalam mobilnya, dengan membawa Alexander pulang.


Tanpa bertanya lagi Deborahpun segera masuk kedalam mobilnya.


Deborah masih belum mengetahui dengan apa yang terjadi kepada Glorria kakaknya, ia masih terdiam setelah keributan dengan Glorria tadi. Sesampainya dikediaman Annabellapun segera turun dari dalam mobilnya yang dipapah oleh Aiken, sedangkan Maicon dipapah oleh Arno, keduanya berjalan masuk kedalam rumah yang diikuti oleh kursi roda Alexander dan Deborah.

__ADS_1


Didalam rumah terasa sangat hening dengan para anak buah Glorria sudah berjejer dihadapan peti mati, Bastev dan Dallen masih tak kuat untuk berdiri mereka berdua masih tak bisa menerima kenyataan, dengan apa yang terjadi kepada Glorria. Para anak buah Glorriapun menundukkan kepala mereka dengan wajah sedih mereka terlihat jelas.


Baru saja tiba dipintu masuk Annabella melihat kearah peti mati dan poto Glorria terpampang disamping peti mati, hati Annabella terasa disambar petir disiang hari, hatinya terasa ikut mati dengan putri sulungnya Glorria.


Annabella berjalan gontai mendekati peti mati yang berisikan mayat, Annabella sudah tak kuat untuk menahan rasa sesak dibagian dadanya hingga akhirnya iapun pingsan.


Aiden segera menggendong tubuh Annabella keatas sofa, yang tak begitu jauh dari peti mati, sedangkan Maicon dan Alexander yang sama baru melihat peti mati Glorria, mereka tak kuat menahan rasa sedih mereka.


Alexander yang masih lemah dan terduduk dikursi roda dengan alat-alat yang menempel ditubuhnya, ia melepaskan alat bantu pernafasannya, ia turun dari kursi rodanya dan berjalan mendekati peti mati, dengan wajah pucat dan air matanya yang terus menetes, Alexander mengelus-elus peti mati tersebut yang diduga kalau mayat tersebut adalah Glorria anak sulung mereka.


Dengan kedua bibirnya yang bergetar ia tak mampu berkata-kata lagi dengan apa yang dilihatnya, para dokter yang melihat Alexander melepaskan alat-alat ditubuhnya, tak menjauhi polisi Alexander karena mereka takut akan terjadi hal yang tak diharapkan kepada Alexander dengan kondisinya yang masih sangat lemah.


"Kakak ini pasti tidak benarkan Uncle?" ucap Deborah dengan kedua matanya sudah sangat rimbun oleh buliran bening, Deborah yang baru menyadari dengan peti mati yang ada dihadapannya, dia terperangah dan kedua matanya melotot dengan berlinang air mata.


"Tidak ini mungkin kakak, kakak tidak mungkin pergi meninggalkan kita semua, kak tolong kak bangun jangan buat aku merasa bersalah atas semua yang sudah aku lakukan kepadamu kak, tolong bangun kak hikss hikss" Deborah terus berteriak sambil memukul-mukuli wajahnya dan ia tak henti-hentinya menangis.


Dikediaman Glorria benar-benar terasa sunyi dan pilu, seolah-olah dunia ikut merasakan duka yang mendalam sedang dirasakan oleh keluarga Annabella, setelah kedua orang tua Glorria melihat mayat yang ada didalam peti mati untuk yang terakhir kalinya. Kini para anak buah Glorria mengantar jenazah Glorria menuju lokasi dimana Glorria akan di makamkan.


Yang diadakan dilahan khusus milik Mikael Muller, duka mendalam yang dirasakan oleh keluarga besar Glorria. Setelah acara pemakaman selesai semuanya, mereka semua kembali pulang kerumahnya, namun tidak dengan Dallen dan Bastev, mereka masih terdiam diatas pusaran Glorria.


Kedua mata Bastev sudah begitu sembab karena ia tak berhenti menangis, begitupun Dallen ia terus memanggil manggil Glorria, dengan sebutan gadis kecilku. Drak yang masih setia menemani Dallen dan juga Bastev, ia juga merasakan terpukul yang begitu dalam namun tak sedalam Dallen, yang mengurus Glorria sedari bayi sampai Glorria dewasa. "Dallen aku tahu apa yang kau rasakan saat ini, tapi aku harap kau jangan seperti ini ayok kita kembali." ajak Drak dengan lembut kepada Dallen "Diammm kau Drak.! Kau tidak tahu apa yang aku rasakan, maka kau begitu mudah berbicara dan melupakan kepergian gadis kecilku.. Jika kau ingin pergi, pergilah tidak perlu kau menungguku karena aku masih ingin disini" teriak Dallen.

__ADS_1


Dallen membentak Drak yang mengajaknya untuk pulang, Dallen segera berdiri dan ia pergi meninggalkan Drak menuju mobilnya. Sedangkan Bastev ia yang diikuti oleh para anak buahnya ia kembali pulang kerumah megah miliknya, setelah ia berpamitan kepada Drak. Drak segera berjalan menuju mobil setelah ia melihat Dallen sudah masuk mobil dan merekapun kembali kerumah Glorria.


Drak dan Dallen keluar dari mobilnya


mereka berdua berjalan masuk, didalam rumah terasa sepi tak seperti biasanya saat-saat masih ada Glorria, meskipun Annabella dan Alexander begitupun dengan Maicon serta para anak buah Glorria, sedang berkumpul diruangan tamu namun diantara mereka tak ada yang berani bersuara satupun.


Sedangkan Deborah sesampainya dirumah ia berlari masuk kedalam kamarnya, dan enggan untuk keluar lagi. "Apa yang sudah aku lakukan kepada kakakku, aku adik yang tidak tahu diri sudah membuat kakaknya sendiri pergi dari dunia ini hikss hikss." Deborah terus meratapi kesedihannya, ia baru menyadari jika banyak orang yang kehilangan kakaknya Glorria termasuk dirinya. "Benar apa kata Grandpa jika kakak adalah pahlawan dalam keluargaku. "Akhh tidakk!! Kenapa aku jahat kenapa!"


Glorria berteriak menjerit-jerit didalam kamarnya, hingga Drak dan Louis berlari memburu kekamar Deborah, Drak dan Louis terkejut melihat keadaan kamar Deborah sudah seperti kapal pecah, Drak dan Louis saling lirik mereka tidak tahu lagi harus berkata apa. Maicon ia mendekati Dallen yang terduduk tak begitu jauh darinya. "Dallen saya tahu kamu yang telah merawat putri kecilku, dan saya tahu pasti kamu sangat kehilangannya, saya bisa merasakannya apa yang sedang kamu rasakan saat ini, memang tidak mudah melepaskan orang yang kita sayangi begitu saja." Tutur Maicon mencoba menenangkan Dallen.


Tanpa menjawab Dallen langsung memeluk Maicon, ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Maicon.


Sedangkan Bastev yang baru saja tiba dikediamannya, yang disambut ole Dezi yang baru saja tiba. Bastev langsung membanting barang-barang yang ada didalam rumahnya


Bastev terus berteriak memanggil Glorria, Bastev begitu frustasi atas meninggalnya Glorria ia tidak bisa menerima kenyataan.


Dezi yang belum mengetahui akan meninggalnya Glorria, dia hanya terdiam sambil terperangah melihat kemarahan Bastev, yang menghancurkan seisi ruangannya.


Kita kembali saat kejadian tabrakan dan ledakan terjadi tadi siang, Glorria sedang melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba ia disalip dan diserempet oleh pengendara motor perempuan yang sangat sama dengannya, pengendara motor besar itu terus mengejek Glorria dengan mengacungkan jari tengahnya.


Glorria merasa tertantang oleh pengendara perempuan motor besar yang sama dengannya berwarna merah, akhirnya Glorriapun kembali menyerempet dan menyalip pengendara motor tersebut, dan melesat meninggalkan pengendara perempuan tersebut. Setelah Glorria berhasil menyalip pengendara perempuan tersebut, pengendara perempuan yang tidak diketahui namanya itu tiba-tiba motornya oleng saat ia akan mengejar balik motor milik Glorria.

__ADS_1


Hingga akhirnya motor tersebut tergelincir dan terlindas oleh pengendara lainnya, dan terjadilah ledakan dari motor perempuan tersebut. Sedangkan Glorria dia langsung menoleh kearah belakang, sambil tersenyum getir ketika ia melihat ledakan dan asap dari motor perempuan yang menantangnya tadi, Glorria terus menacapkan gas motornya hingga ia sudah melewati perbatasan Paris.


Glorria ia berhenti untuk mengisi bahan bakarnya, lalu ia kembali melajukan motornya dengan tujuan yang belum bisa ia pastikan dia akan pergi kemana.


__ADS_2