
Setelah melihat kepergian para pria-pria yang bertubuh tegap dengan membawa Paman Raul, akhirnya Drakpun segera keluar dari tempat persembunyiannya, dan ia segera naik ke atas ladang dengan mengendap-endap karena ia takut akan ketahuan oleh para musuhnya.
Tiba-tiba Drak melihat ada gumpalan asap dari arah rumah Paman Raul.
Dengan cepat Drakpun berlari ke arah rumah Paman Raul, dan ia bersembunyi di balik pohon yang terdapat di pelataran rumah.
Drak begitu terkejut saat dia melihat tubuh Paman Raul sedang dilempar ke dalam kobaran api oleh para musuhnya, Drak menutup mulut dengan kedua tangannya ia sangat syok melihat keadaan Paman Raul, yang sudah tewas dengan begitu mengenaskan.
Setelah beberapa jam kemudian para pria tinggi besar dan tegap itu telah berlalu pergi meninggalkan tempat Paman Raul.
Drak berlari menghampiri bakaran rumah Paman Raul yang masih mengepul dengan asap, ia menangis meraung-raung. Tubuh Drak seketika lemas seperti tak bertulang, kedua kaki Drak sudah tak mampu untuk menopang tubuhnya, seketika itu juga Drak ambruk di hadapan rumah Paman Raul yang sudah hancur menjadi abu.
"Tidaaakkk... tidakkkk!!
Gadis besar gadis kecil, kenapa kalian tinggalkan aku hikss hikss, Dallen kembalilah Dallen, enapa kalian tinggalkan aku Dallen gadis besar, gadis kecil, kembalilah Aku mohon jangan tinggalkan aku"
Drak terus menangis dengan menekuk kedua lututnya iya merasa bersalah karena tak segera kembali, dan tak menolong Dallen, yang dia pikir jika Dallen dan Glorria serta Deborah telah ikut tewas dibantai oleh para pasukan pria tadi, seperti yang telah menimpa Paman Raul.
"Hiks.. hiks.. hiks.. ini semua salahku"
Tak henti-hentinya Drak menangis ia begitu terpukul dengan apa yang dilihatnya.
"Uncle manis hentikan tangisanmu kami ada di sini kami baik-baik saja Uncle manis" ucap Glorria "gadis besar maafkan Uncle manis, karena Uncle manis tidak tahu akan seperti ini kejadiannya, andai saja tadi Uncle tidak pergi ke sungai mungkin semua ini tidak akan terjadi" Drak terus meratapi kesalahannya, tanpa menoleh kebelakangnya.
Glorriapun langsung menepuk bahu Drak dengan begitu kencang, karena Glorria kesal suaranya tak didengar dan tak dihiraukan oleh Drak.
Hingga membuat Drak terjingkat kaget karena baunya ada yang menepuk dari belakang, Drak menoleh ke arah belakang, ia kembali dibuat terkejut oleh keberadaan Dallen yang berdiri dengan menggendong Deborah, dan Glorria berdiri disampingnya yang berada, Drak masih tidak percaya dengan apa yang dia lihatnya, kembali mengucek kedua matanya melihat Dallen dan Glorria sudah ada di hadapannya dengan keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Apa ini benar-benar kalian Dallen? Tanya Drak kepada Dallen yang terus mengucek-ucek kedua matanya, dan ia bertanya kepada Dallen dan juga Glorria.
Drak menepuk-nepuk kedua pipinya, dan sesekali ia mencubit pipi Dallen dan juga hidungnya.
"Apa sih kau Drak, sudah tahu aku masih hidup kenapa kau cubit-cubit terus?!" bentak Dallen dia sangat kesal, karena pipi dan hidungnya dicubit oleh Drak.
Drak kemudian tertawa sambil memeluk erat tubuh Dallen yang sedang menggendong Deborah yang masih terlelap tidur.
"Ihh apa-apaan kau ini lepaskan, jangan peluk-peluk aku Drak apaan sih peluk-peluk segala" ucap Dallen yang geli akan pelukkan Drak, saking senangnya Drak tidak menghiraukan perkataan Dallen, dengan silih berganti dia memluk Dallen dan Glorria.
"Dark sudah lepaskan aku, kau lihat gadis kecil kita ini sedang tidur, jangan sampai kau membangunkannya akan repot kita Dallen, kembali menegur Drak yang sedang kegirangan karena melihat Dallen baik-baik saja dan kedua putri tuannya masih hidup.
"Iya iya aku tidak peluk-peluk kau lagi, aku hanya bahagia saja melihat kau baik-baik saja dan juga gadis-gadis kita" jawab balik Drak.
Drak kembali memeluk Glorria dengan begitu erat, hingga Glorria terbatuk.
"Salah lagi ya Dallen" ucap Drak melepaskan pelukannya dari Glorria ia kembali memonyongkan mulutnya.
Dallenpun terduduk diatas reruntuhan tembok, "sini duduk Drak" ajak Dallen kepada Drak.
"Sebaiknya kita pikirkan bagaimana kita keluar dari tempat ini kita tidak mungkin bertahan disini Drak" ucap Dallen
"Iya ada benarnya apa yang kau katakan Dallen, tapi sekarang kita tidak memiliki tempat untuk berlindung, kita harus pergi kemana Dallen?" jawab Drak kebingungan
"Emmm iya juga ya kita harus pergi kemana sekarang, sekarang begini saja Drak bagaimana kalau sebaiknya kita semua kembali ke Paris saja Drak, bukankah nona Annabella masih memiliki rumah persembunyian di pelosok desa?" tanya Dallen kepada Drak.
"Iya masih tapi aku sendiri tidak tahu rumah itu diketahui atau tidak oleh para musuhnya, karena selama ini kan aku tidak mengontrolnya, terus bagaimana bisa kita kembali ke Paris Dallen, sedangkan nona Annabella dan tuan Alexander saja tidak kita ketahui bagaimana keadaannya, apa mereka masih hidup atau..?"
__ADS_1
Drak menghentikan perkataannya karena ia melihat mata Dallen yang mengedip-ngedip kearahnya, ia lupa jika ada Glorria yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Jadi apa yang Uncle katakan jika Aunty Mammy dan Uncle Daddy sedang melakukan tugas itu bohong? Terus kebenarannya kalau Aunty Mammy dan Uncle Daddy sudah meninggal begitu?!" Glorria langsung menjawab semua pertanyaan Drak dengan lantang, Dallen dan Drak terperangah mereka begitu kaget melihat raut wajah Glorria yang terlihat marah kepada mereka.
Drak lupa jika ada Glorria disampingnya yang jelas mendengar semua pembicaraan mereka mengenai Annabella dan Alexander.
Dallen dan Dark tak berani untuk berbicara karena ia melihat wajah cantik Glorria, sudah terlihat kecewa dan marah kepada mereka.
"Aku benci dengan kalian!" Teriak Glorria dia berlari dari hadapan Drak dan Dallen, Glorria berlari kearah kebun milik Paman Raul, Dallen dengan cepat melemparkan tas perlengkapan bayi kepada Drak.
"Ayo kejar dia bahaya kalau dia sampai marah.!"
Dallen berteiak ke arah Drak agar mengejar Glorria yang sudah jauh, Dark dan Dallen berhaburan lari tunggang langgang mengejar Dallen, yang sedang marah kepada mereka. Sifat Glorria sama persis seperti Annabella ibunya, jika dia sudah marah maka jangan harap akan mudah untuk kembali membaik.
Kasih sayang Dallen yang begitu besar terhadap kedua anak Annabella dan Alexander, ia sangat ketakutan melihat Glorria yang begitu marah kepadanya.
Selama delapan tahun Dallen membesarkan Glorria penuh kasih sayang, dia tidak pernah memukul atau membentaknya bahkan menyebut namanya saja ia tidak pernah. Mungkin rasa sayang Dallen terlalu berlebih-lebihan terhadap Dallen, tapi memang begitu kenyataannya ia rela tak memiliki pasangan demi kebahagiaan Glorria yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Drak apa kau tidak bisa lebih cepat lagi larinya kau ini sangat lelet sekali Drak!!" Dallen kembali berteriak kepada Drak karena Drak tak begitu mahir dalam berlari.
Kejadian beberapa hari yang lalu, dimana Paman Raul mengirimkan bunga tulip hasil panennya ke Paris dengan menggunakan mobil besarnya seperti yang biasa ia lakukan saat mengirim sayurannya.
Mobil Paman Raul diikuti oleh beberapa para anak buah Aubert dan Ames, yang masih mencari keberadaan kedua anak-anak Annabella.
Tanpa Paman Raul sadari pergerakan Paman Raul, dipantau oleh beberapa para anak buah
Aubert dan Ames yang telah mendapatkan informasi mengenai Dallen dan Drak beserta kedua anak-anak Annabella dan Alexander, yang tinggal dikediaman Paman Raul.
__ADS_1
Aubert dan Ames segera mengerahkan para anak buah mereka untuk menangkap Drak dan Dallen, beserta kedua anak Annabella hidup-hidup, namun para anak buah Ames dan Aubert gagal, mereka tak berhasil membawa kedua pengawal dan kedua anak-anak Annabella.