KEJAMNYA MAFIA CANTIK

KEJAMNYA MAFIA CANTIK
Itu Flora Uncle


__ADS_3

"Daddy.." Deborah ia memeluk Alexander ayahnya yang masih lemah, "aku Deborah Dadd, aku sangat merindukanmu aku sangat bahagia kini dirimu telah kembali" tangisan haru diruangan itu membuat semuanya ikut merasakan bahagia, kini keluarga kecil Annabella dan Alexander telah kembali utuh.


Annabella dan Maicon sangat bahagia, saat mereka melihat Alexander telah kembali membuka matanya, Deborah ia terus berceloteh disamping Alexander ayahnya yang masih terbaring lemah, Dallen dan Drak segera keluar ingin memberitahukan kabar bahagia kepada Glorria mengenai Alexander ayahnya.


Karena yang ada dipikiran Drak dan Dallen, mereka takut kalau Glorria akan berbuat nekad menembak kepalanya sendiri seperti yang dikatakan oleh Glorria tadi. Namun Drak dan Dallen dibuat terkejut, saat melihat Glorria sedang memakan roti sandwichnya dengan pemberian Bastev. Dallen dan DrakĀ langsung menodongkan senjatanya kearah Bastev, yang masih berdiri berhadapan dengan Glorria, karena Dallen dan Drak tahu betul jika Bastev adalah putra dari Aubert musuh mereka, dan pertemuan mereka di club malam pada waktu itu.


"jangan bergerak anak muda, cepat angkat tanganmu" bentak Drak, dari belakang Bastev


"Hem Uncle, jangan dia ini sahabatku Basten Uncle" ucap Glorria, dengan mulutnya yang penuh dengan roti sandwich, yang belum selesai memakan roti sandwich sampai terbatuk-batuk karena terkejut oleh Drak dan Dallen yang menghampirinya dan menodongkan senjatanya.


"Tapi nona besar apa anda tidak tahu jika dia ini.." jawab Drak dan Dallen dengan serentak


"Ya aku tahu Uncle dia ini putra dari Aubertkan, tapi berkat dia juga aku bisa menemukan Dady, dan dia juga membantuku membawa Dady, sudah simpan lagi itu senjatanya dia sahabat masa kecilku yang sering aku ceritakan kepadamu Uncle." tutur Glorria.


Glorriapun mulai menceritakan semuanya kepad Dallen dan Drak, jika Bastev telah membantu menemukan Michael. Drak dan Dallen hanya saling pandang satu sama lain mendengar penuturan Glorria. Meskipun Dallen sudah bisa menebak jika Glorria memiliki rasa terhadap Bastev, begitupun dengan Bastev terhadap Magnolia. Namun Dallen tak bisa ikut campur lebih dalam lagi urusan peribadi Glorria, yang sudah dianggap darah dagingnya sendiri.


"Nona besar tuan Alexander ingin bertemu dengan anda" tiba-tiba Louis menghampiri dan memberi tahukan Glorria, karena Alexander tak berhenti memanggil nama Glorria. Magnolia molotot dan melongo saat ia mendengar kata Michael ayahnya. Sampai-sampai ia menjatuhkan roti sandwichnya yang belum habis ia makan.


"Uncle Daddy... Apa kau serius Louis? Uncle Daddyku telah siuman" tanya Glorria kepada Louis, Louispun langsung menganggukan kepalanya kearah Glorria. Glorria dia langsung berlari masuk kedalam ruangan, yang diikuti oleh Drak dan Dallen serta Bastev, Glorria menghampiri Alexander ayahnya yang sudah membuka matanya, kedua mata Glorria melotot saat dia melihat Alexander tersenyum kepadanya.


"Uncle Daddy" Glorria langsung memeluk ayahnya, yang sudah sangat dia rindukan "Hey kamu sudah berjanji apa padaku gadis cerewet?" Ucap Alexander, Glorria ia tersenyum dan ia mengulangi panggilannya kepada Alexander, dengan sebutan Daddy seperti janjinya tadi. Glorria memeluk tubuh kurus Alexander yang masih terbaring. "Hey perempuan sampah jangan sentuh Daddyku.!! Dengan tangan kotormu itu, kau tak pantas berada disini. Kau tak jauh beda dengan seorang pembunuh berdarah dingin" bentak Deborah, Deborah kembali menarik bahu Glorria yang akan memeluk tubuh Alexander.


Plakk..

__ADS_1


Deborah melayangkan tangannya dan hampir saja mengenai wajah cantik Glorria, untung saja Glorria begitu sigap menangkap tangan kanan Deborah yang akan menampar dirinya.


"Jangan coba-coba menyentuhku Deborah, aku yang sudah membesarkanmu apa kau lupa itu? Aku memang seorang pembunuh tapi kau harus tahu aku begini demi kalian semua, dan asal kau ketahui jika ditubuhmu mengalir darah seorang pembunuh karena kau telah memakan hasil dari keringatku!" Glorria kembali membentak Deborah


Plakk..


Glorria menampar balik wajah mulus Deborah adiknya, yang sudah sangat keterlaluan kepadanya padahal selama ini dia berjuang demi menyatukan keluarga besarnya, sontak saja membuat Alexander dan Annabellapun serta yang lainnya terpercaya, melihat pertengkaran kakak beradik, sama Glorria menampar Deborah adik yang selama ini ia dijaganya.


"Sudah cukup sampai disini aku memanjakanmu Deborah, aku pikir kau akan semakin dewasa, namun sifatmu seperti anak jalanan yang tak tahu diuntung dan tak tau bagaimana caranya menghargai orang yang lebih dewasa darimu. Aku tidak meminta kau harus memujaku Glorria, aku mendidikmu dengan kebaikan setidaknya kau bisa melihat dan menjaga attitudemu terhadap orang yang lebih tua darimu **** you!" Bentak Glorria


Kesabaran Glorria benar-benar sudah habis mengahadapi adik semata wayangnya, yang selama ini ia manjakan, Glorria takkan bisa membiarkan orang berbuat kurang ajar terhadapnya apa itu adiknya sendiri, Glorria ia mengabil senjatanya dan ia memberikannya ketangan Deborah.


Tanpa pikir panjang lagi Glorria mengarahkan senjatanya kearah kepalanya sendiri, yang sudah ada pada digenggaman Deborah adiknya. "Tembak aku sekarang Deborah jika kau melihatku seperti sampah seperti yang kau katakan, cepet lakukan kenapa kau diam saja!" Teriak Glorria memecah keheningan.


Tubuh Deborah bergetar hebat saat ia baru pertama kalinya menyentuh senjata, seketika tubuh Glorria terasa lemas dan akhirnya diapun menangis, ia sangat menyesal atas apa yang dilakukannya terhadap Glorria kakaknya. Tubuh Deborah ambruk dihadapan Glorria, ia bersimpuh meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukannya, Glorria menatap tajam kearah kedua orangtuanya dan ia langsung pergi keluar meninggalkan Deborah dan orang-orang diruangan itu tanpa sepatah katapun.


Bastev dan Dallen serta Drak mengejar Glorria yang sudah pergi keluar. "Drak cepat kejar Nona besar berbahaya jika Nona besar marah." Teriak Dallen sambil berlari, Dallen dia sangat mengkhawatirkan keadaan Glorria yang sedang marah, Dallen tahu betul jika Glorria marah tak mudah untuk kembali membaik.


Didalam ruangan Deborah masih menangis, Deborah bangkit dan berdiri ia merangkul Annabella yang berdiri dihadapannya. "Kamu sudah keterlaluan kepada kakakmu, kamu sudah dewasa Deborah seharusnya kamu tidak seperti itu terhadap kakakmu, apa kamu lupa kalau dia begitu menyayangimu dia berkorban begitu banyak untukmu." Ucap Maicon, dia ikut kecewa dengan sikap Debora yang sudah kurang ajar terhadap kakaknya.


Sedangkan Glorria ia terus berjalan, dengan wajahnya yang sudah begitu merah dengan sorot matanya yang begitu tajam. Glorria berjalan kepinggir jalan besar dan ia merampas pengendara motor yang sedang melaju, Glorria langsung melajukan motor hasil rampasannya begitu kencang hingga tak lama kemudian ia tiba dirumahnya. Glorria mengabil tas ranselnya dan memasukkan beberapa pakaiannya dan ia juga menggantikan jaketnya dengan jaket berwarna merah, setelah selesai mengambil barang-barang yang dia perlukannya Glorria mengabil mengambil helm dan sepeda motor pemberian Dallen.


Glorria kembali melajukan sepeda motornya dan keluar dari gerbang rumahnya, Glorria ia mulai menancapkan gas motornya dengan kecepatan tinggi. Drak dan Dallen serta Bastev yang masih berada dalam mobilnya, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Glorria yang sedang mengendarai motornya.

__ADS_1


"Drak puter balik itu Nona besar.!!" Teriak Dallen dan juga Bastev yang melihat Glorria mengendarai motornya, Drakpun segera memutar balikkan mobilnya dan mereka kembali mengejar sepeda motor Glorria. Glorria yang tahu jika kedua Unclenya sedang mengejar dirinya, Glorria ia semakin menambah kecepatan laju motornya.


Hingga mobil yang dikendarai oleh Drak tak mampu mengejar sepeda motor Glorria, yang sudah begitu jauh dan tak terlihat oleh mereka. "Drak cepat tambah kecepatan Drak," Dallen terus berteriak kearah Drak yang membawa mobil. "Ini sudah mentok Dallen apa lagi yang harus aku tambah.?"


Drak sudah sangat kebingungan karena didepannya ada tiga arah jalan yang bercabang. "Dallen kita kemana ini?" Teriak Drak yang bingung dengan jalan yang bercabang didepannya. "Ambil kiri Drak" Dallen mengarhkan jalan kepada Drak, meskipun ia sendiri tidak yakin dengan pilihan jalan tersebut, telah dilalui Glorria atau tidaknya Dallen hanya mengikuti feelingnya.


Bastev terus menajamkan penglihatannya kekiri dan kekanan mencari keberadaan Glorria, begitupun dengan Dallen mereka sangat khawatir dengan Glorria. Drak melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tak terasa perjalanan mereka sudah sangat jauh namun mereka masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan Glorria.


"Oh my god.!!" Drak membanting setirnya kearah kanan dan mobilnya menabrak pembatas jalan, Drak sangat terkejut saat mobil-mobil didepannya berhenti secara mendadak, hingga mobil yang dikendarai Drak mengepul mengeluarkan asap. "Ada apa denganmu Drak? kau mau buat kita mati Drak ha" Dallen sangat emosi kepada Drak yang membuat kepalanya terbentur dan benjol. Begitupun dengan Bastev "apa kau tidak lihat didepan sana Dallen, pake matamu coba lihat itu" Drak kembali berteriak meneriaki Dallen, Dallenpun melihat kearah yang ditunjuk oleh Drak.


Benar saja jika depan mereka ada beberapa mobil berhenti mendadak dan terlihat sebuah ledakan dan asap begitu tebal, Dallen segera keluar dari dalam mobil dan ia berlari menghampiri kerumunan orang-orang dan mobil yang berhenti, yang sedang menyaksikan ledakan yang ada didepan mereka. Bastevpun ikut mengejar Dallen yang susul oleh Drak, Dallen berjalan semakin mendekati ledakan tersebut "Gadis besar, tidak ini tidak mungkin terjadi ini tidak mungkin, pasti aku salah lihat" kata hati Dallen.


Dallen tak lepas menatap tajam kearah motor yang terbakar, dan seorang mayat yang tergeletak disampingnya yang sudah sangat hancur akibat ledakan tersebut.


"Uncle, jangan katakan jika itu Flora Uncle." Ucap Bastev yang sudah berdiri disamping Dallen, sambil menatap kearah motor dan mayat yang sudah tak utuh lagi. Bastev melihat kearah kakinya ia seperti menginjak sesuatu dibawah kakinyapun, Bastevpun berjongkok dan melihat kearah bawah sepatunya, dan benar saja sepatunya menginjak sesuatu benda kecil.


Bastev segera mengabil benda kecil yang dia injaknya, Bastev ia menatap tajam kearah bandulan kunci tersebut, Bastev tersentak kaget karena bandulan kunci itu yang telah dia diberikannya kepada Glorria dulu.


"Tidakk.!!" Bastev langsung berteriak histeris sambil menggenggam bandulan kunci tersebut, dan menangis meraung-raung. "Uncle itu Flora Uncle!" teriak Bastev sambil mengunjuk-unjuk kearah motor dan mayat, yang sudah tak bisa dikenali lagi.


Seketika tubuh Dallenpun lemas dan ambruk bagaikan tak bertulang, karena ia juga melihat motor yang terbakar tersebut adalah motor mahal yang sama persis dengan milik Glorria pemberiannya. Hati Bastev berdetak kencang ia sangat syok dengan apa yang dia lihatnya, begitu juga dengan Dallen dia masih tidak percaya.


Sedangkan Deborah dan Annabella yang masih berada dirumah sakit, "Deborah kamu adalah putri Mammy dan Daddymu, begitupun dengan kakakmu dia juga sama adalah putri kami dan tidak pernah kami beda-bedakan kalian, harus kamu ketahui kalau kami berdua memang Mafia dan bukan hanya kakakmu saja. Dia terpaksa terjun ke dunia hitam karena keadaan, bukan karena keinginannya ingat bukan karena menginginkannya. Kami ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, begitupun dengan kakakmu sendiri jadi kami harap kamu jangan pernah memojokkan kakakmu, yang sudah banyak berkorban untuk kita semua dia itu pahlawan kita semua, jika tidak ada kakakmu mau jadi apa kita semua dan mungkin kita semua belum tentu bisa berkumpul seperti sekarang ini" tutur Annabella, mencoba menasehati Deborah.

__ADS_1


"Iya Mammy, aku sangat menyesal sudah berbuat kasar kepada kakak, aku menyesal Mamm hikss hikss" jawab balik Deborah ia kembali menangis. "Iyasudah sekarang kamu cukup mengetahuinya, untuk selamanya jangan pernah kamu ulangi lagi karena kata-katamu akan membuat hati kakakmu hancur" ucap Annabella sambil memeluk Deborah.


__ADS_2