
Glorria dan Arno serta kedua Auntynya kini mereka sudah berada di dalam pesawat, dengan berat hati Glorria terpaksa pergi meninggalkan negaranya dan orang-orang yang dia cintainya.
Dengan berjalannya waktu tidak terasa perjalanan yang mereka tempuh sudah sampai tujuan, pesawat yang ditumpangi Glorria sudah mendarat di bandara Jepang.
Glorria dia kembali menempati rumah lamanya ketika ia pernah tinggal bersama dengan Nowela dulu, istri Drak yang bernama Alice dan istri Aiken bernama Alma. "Nona besar, apa yang sebenarnya terjadi dengan Uncle Drak? Kenapa dia tidak ikut dengan kita" tanya Alice dan Alma, mereka masih kebingungan kenapa suami-suami mereka tidak ikut dengan mereka.
Alice dan Alma mempertanyakan akan keberadaan suami-suami mereka yang tidak mereka lihatnya, mereka sangat mengkhawatirkan pasangan hidup mereka. Glorria kembali mengambil kertas dan pena, ia menghela nafasnya dalam-dalam sebenarnya dia sangat berat untuk memberitahukan Alma dan Alice, mengenai Drak dan Aiken yang sudah tiada.
Glorria kembali mengambil kertas dan pena. "Maafkan aku Aunty Alice, dan Aunty Alma Uncle-uncle telah tiada, begitupun dengan kedua orang tuaku mereka telah tewas di bantai oleh para musuh kita aunty." Hiks Hikssss" ungkap Glorria dalam isi tulisannya.
Alice dan Alma, begitu terkejut mereka sudah tidak kuat membendung air matanya, ke-duanya langsung merangkul Glorria dan mereka menangis dalam kesedihan yang sama. Arno merasa bingung dengan ketiga perempun hamil yang ada dihadapannya menangis secara tiba-tiba. "Ada apa dengan kalian dan Nona besar, apa yang terjadi.?" Tanya Arno penasaran.
Alma menjelaskan kepada Arno jika keluarga Glorria dan juga ke-tiga Uncle-unclenya telah tiada.Seketika Arno terperangah dia tak menyangka dengan apa yang telah menimpa kepada keluarga Glorria, ia benar-benar ikut sedih dan duka yang begitu mendalam.
Sekarang Arno benar-benar harus siaga melindungi ketiga perempun yang tengah hamil tua tersebut. Para warga langsung menyambut kedatangan Glorria yang selama ini telah mereka kenal baik, karena selama Glorria tinggal Jepang ia dikenal begitu ramah oleh warga setempat.
Kembali ke Bastev, yang tak sadarkan diri ia dibawa kerumah sakit oleh Dezi. Dan Bastev pun segera mendapatkan perawatan khusus dari para dokter pribadinya. Sedangkan para anak buah Bastev masih terus melakukan pencarian Glorria di lokasi jurang, bahkan Dezi menyewa para penyelam yang handal.
Dan melakukan pengangkatan kerangka mobil milik para anak buah Bastev yang terjun bebas kedalam nya, dengan keadaan mayat-mayat yang sudah tak utuh lagi sudah berhasil mereka temukan.
Singkat cerita hari-hari telah berlalu pencarian terus dilakukan namun sampai saat ini pihak penyelam masih belum menemukan jejak jejak Glorria. Tapi tim penyelam tidak menyerah begitu saja mereka terus menyisir dalamnya jurang, dimana kejadian tersebut terjadi.
Kelain cerita. Deborah dan Louis kini mereka sudah berada didalam rumah kosong yang tak begitu besar, Deborah membuka setiap lemari yang terdapat di dalam rumah kosong tersebut, dan menemukan banyak pakaian yang ada didalam lemari-lemari itu.
"Louis cepet bawa pakaian pakaian ini untuk nanti kita ganti," pinta Deborah kepada Louis.
Louis pun hanya bisa menurut dengan apa yang diminta oleh Deborah dan dia segera mengambil tas ransel yang lumayan cukup besar yang terdapat diatas lemari, Deborah mengambil satu stel pakaian perempuan dan ia segera memakainya. "Louis ayo cepat kita harus segera pergi dari rumah ini, selagi hujnnya reda, takutnya pemilik rumah ini datang." Ucap Deborah lagi.
Akhirnya Deborah dan Louis pun segera keluar dari dalam rumah tersebut, "Nona Deborah kita akan pergi kemana?" Tanya Louis, dia kembali kebingungan harus kemana dia pergi.
"Aku juga tidak tahu Louis yang terpenting kita harus menjauhi perkotaan Louis, aku sangat trauma dan takut bertemu dengan mereka lagi." jawab Deborah, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, dan mereka berhasil keluar dari pedesaan dan hari sudah mulai petang.
"Nona Deborah kita mau pergi kemna lihatlah hari sudah mulai petang." Tanya Louis lagi.
__ADS_1
Deborah menghentikan langkah kakinya karena ada benarnya apa yang telah di katakan oleh Louis. "Oya bagaimana kalau kita mencari tempat sepi Louis untuk kita beristirahat.'' ucap balik Deborah.
Deborah, dia teringat akan cerita Annabella ibunya, yang pernah tinggal ditengah hutan, dengan rasa penasarannya Deborah terbesit dipikiran Deborah ingin mencoba hidup di tengah hutan seperti yang sudah dialami oleh ibunya. Akhirnya Deborah dan Louis menemukan pohon-pohon besar dan mereka segera duduk dibawah pohon besar itu.
Kembali lagi dengan Glorria. Keberadaan Glorria berserta kedua Aunty dan Unclenya, kurang lebih sudah dua bulan lamanya mereka berada di Jepang.
Di malam itu kedua Aunty Glorria sedang merasakan mules dibagian perut mereka.
Arnooo... Aduhh Arnooo... Awkwww!!!" Pekik Alma dan Alice. Arno terperangah melihat dua perempuan itu tidak berhenti melenguh kesakitan, sembari memegangi perut mereka.
Alma dan Alice terus merintih menahan sakit karena mereka akan akan melahirkan, membuat Arno kalang-kabut harus yang mana dulu yang di dahulukan, Alice dan juga Alma yang sama-sama akan melahirkan secara bersamaan.
Glorria dia berusaha membantu kedua Auntynya yang sedang berjuang melahirkan buah hati mereka. Glorria dan Arno tidak memberitahukan warga karena sudah tengah malam, karena keterbatasan jarak tempuh yang cukup jauh untuk menuju rumah sakit, maka Arno dan Glorria tidak bisa membawa kedua Auntynya kerumah sakit.
PLAKKKKKKKK..!!! PLAKKKKKKKK..!!!
Kedua pipi Arno mendapatkan dua kali tamparan dari perempuan yang berbeda, saat keduanya sedang mengejan. Glorria tersenyum melihat Arno mendapatkan tamparan dari kedua Auntynya. "Ayooo terus Alma terus sedikit lagi terus" teriak Arno.
"Terus bagaimana denganku Arno apa bayiku sudah mau keluar!!" Tanya Alice.
Dengan serentak keduanya mengambil ancang-ancang dan mengejan, kedua lengan kekar Arno ditarik secara bersamaan oleh Alma dan Alice. Membuat Arno kewalahan menahan tenaga kedua perempuan yang sedang melahirkan.
Oweowe.... oweowe... oweowe.. oweowe..
Kedua mata Arno seketika terbelalak saat ia melihat kedua bayi keluar dari kewanitaan Alma dan Alice. Seketika itu juga Arno malah pingsan ketakutan, dengan sigap Glorria menarik tubuh Arno yang duduk ditengah tengah kedua Auntynya, Glorria segera mengambil satu persatu bayi-bayi Uncle-unclenya, dan ia segera memberikan nya kepada Alma dan Alice.
Senyum dan tangisan bahagia terpancar dari wajah kedua Auntynya, membuat hati Glorria tersentuh melihat kedua bayi mungil tanpa ayahnya. Setelah selesai membantu kedua Auntynya melahirkan dengan perut Glorria yang buncit ia segera merapikan semua tempat untuk aunty-auntynya dan juga keponakannya.
Keesokan harinya Arno yang sudah tersadar dari pingsan, ia baru kembali dari pasar untuk membeli semua kebutuhan bayi-bayi yang baru saja dilahirkan. Kedua Auntynya meminta agar Glorria yang memberikan nama kepada anak-anak mereka yang berjenis kelamin laki-laki, Glorria memberikan nama Darren kepada putra Drak, sedangkan Aiden untuk putra Aiken.
Alma dan Alice sangat senang karena Glorria memberikan nama yang bagus untuk putra-putra mereka. Setelah pembantaian yang telah menimpa kedua orangtuanya dan Uncle-unclenya, sampai detik ini Glorria masih belum bisa bicara, entah apa yang terjadi dengannya. Sebisa mungkin Glorria berusaha berteriak namun tetap sama ia tak bisa mengeluarkan suaranya.
Entah akibat trauma berat atau karena terlalu banyak berteiak sehingga pita suaranya hilang, tapi ia tak mau ambil pusing dengan keadaan suaranya saat ini.
__ADS_1
Saat ini yang ia pikirkan bagaimana caranya agar dirinya bisa kembali pulih dari rasa ketakutan yang selalu menghantui disetiap tidurnya, Glorria harus mencari suatu persatu komplotan musuh-musuhnya yang sudah menghabisi seluruh keluarga besarnya.
➡️➡️
Dua bulan telah berlalu kini Louis dan Deborah sudah berhasil menemukan hutan belantara, sesuai keinginan Deborah.
Louis dan Deborah membuat gubuk di atas pepohonan. Agar terhindar dari hewan-hewan buas, di pagi itu Deborah baru saja terbangun dari tidurnya, tapi dia merasa ada yang aneh dengan dirinya.
Dengan terbirit-birit ia berlari menuruni tangga yang terbuat dari kayu. Sesampainya di bawah Deborah memuntahkan isi perutnya,
"Deborah ada apa denganmu? Apa kamu sedang sakit?" Tanya Louis khawatir
"Sepertinya begitu Louis tiba-tiba perutku mual sekali rasanya." jawab balik Deborah
"Apa jangan-jangan kamu karena kamu belum makan sarapan, jadi asam lambung mu naik" Deborah menggelengkan kepalanya karena ia memang tidak merasa lapar. "Iya sudah sebaiknya kamu istirahat saja tidak perlu ikut aku berburu." Ucap Louis
Deborah pun menurut apa yang dikatakan oleh Louis kepadanya, dia kembali naik keatas gubuknya ia benar-benar lemas dan pusing yang dirasakannya. Sedangkan Louis ia sudah pergi kesungai untuk mencari ikan.
"YaTuhan apa jangan-jangan aku owh tidak hikssss, aku tidak ingin hamil dari orang jahat itu." Gumam Deborah berbicara sendiri, karena ia teringat akan kejadian buruk yang terlah menimpanya. Ia sudah sangat yakin jika dirinya kini tengah hamil anak dari Zaidan. Deborah memegangi perutnya yang masih terlihat rata, ia terus memukuli perutnya dengan begitu kencang.
Bahkan Deborah turun dari dalam gubuknya, ia meloncat-loncat tanpa ada rasa lelah sehingga terlihat oleh Louis pun yang baru datang dengan ikan-ikan yang di bawanya.
Louis merasa heran dengan tingkah Deborah yang tidak seperti biasanya, "Deborah apa yang sedang kamu lakukan kenapa loncat-locat seperti itu?" Tanya Louis sambil tersenyum kecil.
"Aku sedang olahraga Louis karena badanku sepertinya naik lagi timbangannya." Jawab Deborah
"Hem dari mana kamu mengetahuinya kalau berat badan kamu naik" tanya Louis sambil mengerutkan dahinya.
"Sudah tidak perlu kamu tanyakan, ini urusan perempuan sudah sana bakar ikannya aku sudah lapar." jawab balik Deborah.
Louis hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah Deborah, yang tiba-tiba terlihat aneh. Setelah ikan-ikan hasil tangkapannya sudah selesai di bakar, Louis segera memanggil Deborah untuk makan. Deborah pun menghentikan aksinya ia segera berjalan dan duduk di samping Louis dengan mengambil satu panggang ikan bakar.
Uweeek.. uweekk..
__ADS_1
Deborah kembali berdiri dan berlari menjauhi Louis, karena ia sudah tak tahan dengan bau ikan bakar.