
Louispun membukakan kunci pintu jeruji besi yang mengurung Annabella, "Louis kau pegangi tangannya jangan sampai wanita ini melarikan diri, harus kau ketahui jika wanita itu sangat berbahaya, aku malas menyentuhnya wanita ini sangat kotor dan bau" teriak anak buah Aubert, Louispun menganggukan kepalanya tanpa menjawab perkataan temannya, tanpa ada rasa jijik sedikitpun Louis langsung menggandeng tangan Annabella, "Aunty apa kita bisa melarikan diri dari sini? apa Aunty sudah siap kalau kita melarikan diri dari tempat ini?" Bisik Louis ditelinga Annabella.
"Kira-kira seberapa banyak mereka Louis?" Tanya balik Annabella,
"semuanya kurang lebih ada delapan puluh orang Aunty, didepan pintu gerbang sebelah kiri ada jalan menuju kapal Ferry, yang biasa digunakan oleh Aubert dan anak buahnya Aunty." Ucap Louis, Louis dan Annabella berbicara secara berbisik-bisik agar tidak terdengar oleh para anak buah Aubert, yang ada dibelakang mereka.
Annabella ia sedikit ia tersenyum karena sudah memiliki strategi, apa yang akan dia dilakukannya.
Disisi lain diimalam itu Aubert kedatangan Ames saudara kembarnya dari Meksiko, kini keduanya sudah berada didalam markas Aubert.
"Aubert saudara kembarku cepat kau perintahkan para anak buahmu, agar mereka segera membawa wanita itu dari pulau" ucap Ames meminta Aubert agar segera memerintahkan para anak buahnya untuk mengeluarkan Annabella, dari ruangan tahanannya.
"Tapi Ames bukanya Annabella lebih aman kalau kita kurung di pulau itu, karena pulau itu jauh untuk dijangkau dan tidak mudah untuk dilacak oleh para musuh kita" jawab Aubert "kau salah besar Aubert, tidak ada kata jauh bagi para musuh kita untuk membebaskan seorang ketua mereka, apa kau lupa kalau Annabella memiliki dua orang anak gadis yang jelasnya pasti sekarang mereka sudah dewasa" tutur Ames
"Iya aku tahu Ames, tapi sangat tidak mungkin ada kelompok Annabella mencari keberadaannya, karena sudah delapan belas tahun lamanya pihak kelompok Annabella, tidak ada yang mencari keberadaan Annabella maupun Alexander." Jawab Aubert
"Hemm apa kau sudah lupa dengan kejadian kemarin malam yang telah menimpa para anak buahmu Aubert" jawab balik Ames
"Iya tentu aku ingat dengan kejadian kemarin malam, para anak buahku diserang oleh seorang perempuan." Aubert kembali menjawab.
"Nah apa kau tahu siapa perempuan yang sudah berani menyerang markasmu?" Tanya balik Ames, Aubert menggelengkan kepalanya, karena dia sendiri tidak tahu dengan perempuan yang dimaksud oleh Ames adik kembarnya "kau jangan terlalu bodoh Aubert, seharusnya kau sadar jika perempuan itu adalah putri dari Annabella dan Alexander, yang akan menuntut balas kepadamu faham" ucap Ames.
Tanpa pikir panjang Aubertpun segera memberi perintah kepada para anak buahnya yang berjaga di pulau tersebut, agar segera membawa Annabella keluar dari pulau itu.
Sedangkan Bastev ia masih berada didalam ruangan kerjanya, karena Bastev sedang menunggu hasil laboratorium. Setelah menunggu seharian akhirnya Bastevpun mendapatkan hasilnya, yang diberikan Dezi kepadanya. Bastevpun menyuruh Dezi untuk keluar dari dalam ruangannya, karena ia tidak ingin siapapun mengetahui akan hasil tes tersebut, dengan perlahan Bastev mulai membuka hasil laboratorium tersebut.
"Oh my god.. Ini tidak mungkin, jadi kamu adalah perempuan itu Flora oh my god" Bastev terus melenguh sambil menjambak rambut cepaknya, ia masih tidak percaya dengan kenyataan yang sedang dihadapinya.
"Flora maafkan Daddyku Flora, aku benar-benar malu kepadamu Flora" Bastev menangis ia sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh Aubert ayahnya.
Dipulau terpencil.
"Aarghh.!! Aarghh..!! Arghh.!!"
__ADS_1
Dorrr.. Dorrr.. Dorrr..
Suara tembakan terus terdengar dari arah luar pintu gerbang begitu nyaring, sehingga membuat para anak buah Aubertpun berhamburan, berlarian untuk melindungi diri mereka masing-masing.
Kesempatan besar bagi Louis dan Annabella untuk melarikan diri, dengan sigap Louis memapah tubuh Annabella untuk kembali masuk, Louis kembali mencari kunci untuk membuka gembok rantai kedua kaki Annabella.
Louis mengabil ikatan kunci yang begitu banyak tergeletak diatas meja temannya, ia segera mencoba satu persatu kunci tersebut. Namun satupun tak ada yang berhasil membuka gembok kedua kaki Annabella, tanpa kata menyerah Louis mengabil patik yang terpampang diatas dinding, dengan sekuat tenaganya ia menarik patik tersebut hingga akhirnya berhasil dia diambilnya.
Louispun kembali menghampiri Annabella, dan ia mengarahkan patiknya ke rantai yang mengikat kedua kaki Annabella.
Jengkrengg.!! Jengkrengg..!!
"Heyy apa yang sedang kau lakukan Louis?!"
Dorrr.. Dorrr.. Dorrr..
Dua orang anak buah Aubert memergoki Louis yang sedang berusaha membuka rantai kaki Annabella, dengan cepat Louis menarik tubuh Annabella agar merunduk, karena tembakan terus mengarh kepada mereka.
Annabella yang melihat senjata dibalik jaket milik Louis, tanpa berkata apapun Annabella langsung menarik senjata milik Louis yang ada di pinggang Louis.
Cukup dua kali tembakan dari Annabella, para anak buah Aubert seketia tewas. "Aunty ayok kita keluar lewati dapur" Louis kembali menuntun tangan Annabella menuju dapur, yang biasa digunakan oleh para anak buah Aubert untuk memasak air panas.
Dan akhirnya Louis berhasil membawa Annabella keluar dari dalam ruangan tersebut, Louis dan Annabella bersembunyi dibalik tembok dan karung-karung yang tersusun rapih.
Glorria dan keempat Unclenya beserta para anak buahnya, mereka berhasil membuka pintu gerbang yang telah dijaga ketat oleh para anak buah Aubert. Para anak buah Aubert yang berada diluar gerbang sudah berhasil dilumpuhkan oleh para anak buah Glorria dan keempat Unclenya, Glorria dia menyisir dinding dengan mengendap-endap.
Namun para anak buah Aubert tak tinggal dia mereka terus mengarahkan tembakannya kearah para anak buah Glorria, dan keempat Unclenya yang berlindung dimasing-masing tempat.
Siattt.. Slepp.. Slepp..
Glorria menyerang para anak buah Aubert yang berjejer didepan pintu masuk kedalam ruangan.
Tendangan dan sabetan dari pisau tajam Glorria, terus ia arahkan kepada para lawanya sehingga tubuh para lawan Glorriapun tercabik-cabik oleh pisau miliknya, tubuh seksi Glorria seperti gangsing yang memutar-mutar hingga membuat para musuhnya kewalahan dan tercengang melihat kehebatan dari seorang Glorria.
__ADS_1
Para anak buah Aubert tak mampu untuk melawan setiap gerakan Glorria, sabetan demi sabetan pisau tajam Glorria, tak memberikan kesempatan para lawanya untuk menarik pelatuk senjata mereka.
Sehingga keempat Uncle Glorria dan para anak buahnya, hanya melongo dan menonton aksi berutal Glorria yang sudah tak dapat dihentikan. "Drak jatah kita mana amunisi kita masih utuh ini" tanya Aiken kepada Drak yang masih terdiam dan hanya menelan ludahnya.
Drak menggelengkan kepalanya karena ia juga tak menyangka, jika Glorria berhasil membuat semua musuhnya tewas ditangannya tanpa menganggukan senjatanya. "Wow really amazing" Micer yang baru mengetahui kehebatan Glorria tak henti-hentinya ia bertepuk tangan disamping Dallen, Dallen yang kesal dengan kelakuan Micer, Dallen memukul kepala Micer.
"Ayok cepat kita ikuti nona besar" teriak Dallen kepada teman-temannya, agar segera menyusul Glorria yang sudah berhasil masuk terlebih dahulu. Glorria ia berlari masuk kedalam ruangan dimana jeruji besi terdapat, Glorria menghampiri jeruji besi yang sudah kosong.
Glorria berdiri dan terdiam didepan pintu jeruji besi bekas Annabella ibunya, sambil menatap nanar kedalam jeruji besi, Glorria ia kembali berjalan menuju dapur yang terdapat didalam ruangan itu, ia melihat pintu kecil yang terdapat disamping dapur. Glorriapun segera membuka pintu dapur itu dengan penuh hati-hati, ia berjalan dengan begitu pelan.
"Aunty Mammy.. Aunty Mammy.. Aunty Mammy" Glorria ia terus memanggil Annabella ibunya. "Aunty Mammy keluarlah aku Glorria Alexander Muller, Aunty Mammy aku tahu Aunty Mammy sedang bersembunyi,
tolong keluarlah Aunty Mammy." Glorria terus berbicara sendiri dan memanggil Annabella ibunya, yang sedang bersembunyi tak begitu jauh dari posisinya.
Annabella dan Louis yang sedang bersembunyi, tiba-tiba mereka mendengar suara seorang perempuan yang jelas-jelas Annabella kenalnya dengan sebutan nama tersebut.
Annabella tanpa melihat wajahnyapun dia sudah bisa menebaknya jika yang memanggil dirinya adalah Glorria putri sulungnya, butir bening keluar dari kedua mata Annabella, suara yang selama ini selalu ia rindukan yang memanggil dirinya dengan sebutan Aunty, kedua tangan dan kaki Annabella bergetar dengan tubuhnya terasa lunglai, ia tak menyangka jika dirinya akan bisa mendengar sebutan Aunty dari sosok yang dirindukannya selama delapan bulan tahun lebih.
"Gadis kecil Mammy Glorria sayang" ucap Annabella sambil berdiri dan keluar dari tempat persembunyian.
Glorria menatap nanar kearah Annabella, yang terlihat kotor dan tumbuhnya yang sudah sangat kurus, dengan rambut panjangnya yang begitu gimbal. Glorriapun melirik kearah Louis yang berdiri disamping Annabella, Glorria dia seperti tak asing melihat wajah Louis yang baru ia lihtnya. Annabella mengulurkan kedua tangannya menyambut kedatangan Glorria, agar Glorria mendekat dan memeluknya, dengan air matanya yang terus menetes dari kedua matanya.
Tak mengulur-ngulur waktu lagi Glorria langsung menghampiri Annabella dan memeluknya dengan begitu erat. Tangisan keduanya memecahkan keheningan malam ditengah-tengah pulau, keempat Uncle dan para ank buah Glorria yang baru saja sampai dibelakang Glorria, ikut terharu dan meneteskan air matanya, menyaksikan antara ibu dan anak yang telah kembali dipertemukan setelah terpisah selama belasan tahun lamanya.
Rasa bahagia dan haru yang dirasakan oleh Dallen dan juga Drak, melihat keduanya bisa dipertemukan kembali.
"Nona besar kita harus segera meninggalkan tempat ini" ajak Drak kepada Glorria yang masih memeluk ibunya.
Dimalam itu Aubert dan Ames mereka masih berada didalam markasnya, Aubert dan Ames sangat ketar-ketir menunggu informasi dari para anak buahnya.
Yang diberikan tugas oleh mereka untuk membawa Annabella ketua Mafia terkejam.
Namun sampai menjelang pagi punpa para anak buahnya tak kunjung memberikan kabar.
__ADS_1
"Aubert sebaiknya kau kembali kirimkan para anak buahmu, untuk melihat keadaan dipulau itu!" Teriak Ames saudara kembar Aubert.