
Para dokter pun segera melakukan pemeriksaan ulang terhadap Annabella dan janin yang ada dalam kandungannya Annabella, dan semuanya dalam keadaan baik-baik saja tidak ada masalah dengan kandungan Annabella, maupun dengan kesehatan Annabella sendiri.
Tak henti-hentinya Alexander mengucapkan rasa syukur karena istri dan calon bayinya baik-baik saja, bahkan saking senangnya Alexander terus memeluk dan mencium Annabella yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Alexander aku melihat putri kita Glorria memanggil-manggilku dan Dia terus berteriak meminta tolong kepada aku, Aku sangat merindukannya Alexander kita harus mencarinya Dia sedang membutuhkan kita saat ini hikss hikss" ujar Annabella dengan lirik, dan ia terus menangis karena teringat akan Putri sulungnya Glorria.
dengan cepat Alexander pun mempererat pelukannya terhadap Annabella yang menangis dalam pelukannya, "Iya sayang pasti kita akan mencarinya tapi setelah kamu sembuh, Aku berjanji kepadamu kita akan pergi ke Belanda untuk mencari keberadaan Putri kita sayang" ucap Alexander meyakinkan Annabella agar Annabella tetap tenang dan tidak terlalu banyak pikiran.
Setelah berhasil menenangkan Annabella istrinya, Alexander pun beranjak dari tempat duduknya karena Annabella akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap oleh para suster, Alexander berjalan keluar dengan tujuan dia akan pergi ke ruangan Maicon ayahnya, karena Alexander ingin memberitahukan ayahnya mengenai Annabella dan calon bayinya yang baik-baik saja.
Alexander menatap tajam ke arah Arno yang sedang mendorong kursi roda Maicon, Alexander pun berlari mengejar ayahnya yang akan masuk ke dalam kamarnya "Dadd!!" Alexander langsung merangkul tubuh Maicon dan ia memeluknya dengan erat dan penuh haru. "Dadd, maafkan aku karena aku sudah memperlakukanmu tidak baik Dadd, Annabella sudah kembali Dadd begitupun juga dengan calon cucu Deddy mereka baik-baik saja i'm sorry Dadd.." Alexander dan ayahnya pun saling memeluk dan menangis bahagia dan haru yang luar biasa.
Sedangkan Dallen, setelah ia menyusuri hutan yang cukup rimbun oleh pepohonan yang tinggi menjulang di sekitarannya, tidak terasa hari pun sudah mulai petang Dallenpun menghentikan langkah kakinya, dan Dallenpun segera mencari ranting-ranting pohon untuk ia jadikan obor sambil menggendong Glorria, setelah berhasil mendapatkan ranting-ranting pohon yang cukup lumayan banyak Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya menyusuri hutan.
__ADS_1
setelah menempuh perjalanan yang lumayan cukup jauh dengan posisi menggendong Glorria, tanpa Dallen sadari jika posisinya saat ini dia sudah berada di jalan setapak yang pernah dia lalui bersama dengan Annabella beberapa tahun silam, Dallen terus berjalan menyusuri jalan tersebut, namun tiba-tiba Glorria terbangun dari tidurnya karena dia merasa perutnya sudah sangat lapar.
"Uncle kita ada di mana perutku sangat lapar sekali Uncle" Dallenpun menghentikan langkah kakinya dan dia segera menurunkan tubuh mungil Glorria dari gendongannya, Dallen tersenyum ke arah Glorria yang berdiri sambil memegangi perutnya. Dallen celangak-celinguk dia kembali mencari ranting-ranting pohon, untuk dia jadi kan api unggun karena dia akan membakar ikan yang telah Ia sisakan untuk Glorria.
Setelah berhasil mendapatkan ranting-ranting pohon Dallenpun segera membakar ikan-ikan yang sengaja ia sisakan untuk Glorria tadi, dengan lahapnya Glorria memakan bakar ikan hasil tangkapan Dallen. "Uncle apa malam ini kita akan kembali pulang ke rumah kita? bagaimana dengan Molly dan juga sapi-sapi kita pasti mereka masih bermain di tengah ladang ya Uncle" Tanya Glorria, sambil mengunyah makanannya.
"Iya sayang tapi tidak malam ini kita kembali pulang ke rumah, kita akan melakukan perjalanan untuk mencari menjemput Mammy dan Daddymu gadis kecilku" tutur Dallen, sontak saja kedua mata Glorria terbelalak karena dia mendengar penuturan Dallen yang akan menjemput kedua orang tuanya, dengan cepat-cepat Glorria pun menghabiskan semua makanannya dan dia bergegas dari tempat duduknya, menghampiri Dallen dan memeluk Dallen dengan erat.
"Uncle Aku sangat senang sekali, karena sebentar lagi aku akan segera bertemu dengan Mammy dan Daddyku Uncle" ujar Glorria sambil gelayutan di punggung Dallen "Iya gadis kecilku semoga saja kita menemukan jalan keluar dari hutan ini, agar kita bisa secepatnya bertemu dengan Mammy dan Daddymu nak" Glorria langsung duduk di pangkuan Dallen sambil menatap ke arah semak-semak dan jalanan setapak yang terlihat remang-remang.
"Aku sedang melihat itu Uncle jalanan itu, kalau Uncle mau keluar sebaiknya ambil jalan yang sebelah sana saja, jangan lewat jalan itu Uncle karena jalan itu sangat berbahaya" tutur Glorria sambil menunjuk ke arah jalanan yang telah dia pilihnya.
Dallenpun mengerutkan dahinya dengan apa yang dikatakan oleh Glorria, antara percaya dan tidaknya dengan tebakan Glorria mengenai jalan setapak yang harus dia laluinya, "hemm apa kamu yakin dengan pilihanmu gadis kecilku?" tanya Dallen, dia kembali bertanya kepada Glorria karena dia masih tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh Glorria mengenai jalanan tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Glorria yang mendapatkan pertanyaan dari Dallen dia hanya mengganggukan kepalanya, tandanya Glorria sangat yakin dengan pilihannya "baiklah gadis kecilku kalau begitu besok kita akan lanjutkan kembali perjalanan kita, tapi sekarang biarkan Uncle untuk beristirahat dulu di sini" tutur Dallen sambil merentangkan tubuhnya di atas rumput-rumput liar.
sedangkan Glorria dia tidak mau ketinggalan Glorria terus menempel di atas perut kekar Dallen yang seperti roti sobek, kebiasaan Glorria sebelum dia tertidur, dia akan memainkan hidung dan juga daun telinga milik Dallen kebiasaan Glorria dari dia kecil hingga saat ini, hingga membuat perut Dallen sakit menahan tawa karena geli, yang daun telinga dan hidungnya terus dimainkan oleh Glorria. karena jika Dallen tertawa maka Glorria akan langsung menangis meskipun dalam keadaan remang-remang, mau tidak mau Dallenpun hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh kedua tangan Glorria.
kedua tangan mungil Glorria tidak berhenti terus dia memutar-mutar kan daun telinga dan hidung mancung Dallen, sehingga dalam pun tertidur dengan sendirinya begitupun juga dengan Glorria.
Tidak terasa waktu pun begitu cepat berlalu malam pun sudah berganti pagi, Dallen yang baru terbangun dari tidurnya dia tersentak kaget karena tidak mendapati Glorria di atas perutnya, dalen terus celangak-celinguk ke berbagai arah dan semak-semak mencari keberadaan Glorria, yang sama tidak dia lihatnya hati dalen semakin cemas dan panik.
"Aduhh berat sekali ini, ikhh kijang kecil kau sungguh merepotkanku ternyata tubuhmu yang kecil itu benar-benar berat dan aku tidak kuat menggendongmu, Uncle!! Uncle kemarilah tolong bantu aku lihat kijang kecil ini merepotkanku uncle!!" grutu Glorria sambil menyeret anak kijang yang lumayan cukup besar hasil tangkapannya.
Glorria terus menyeret anak kijang dari balik semak-semak, sambil berteriak memanggil Dallen yang masih melongo ke arah suara Glorria yang keluar dari balik semak-semak, dengan kondisi rambutnya sudah sangat acak-acakan begitupun kedua tangan dan pakaiannya sudah berlumuran dengan darah.
Dallenpun dengan cepat dia berlari ke arah Glorria yang sedang menyeret anak kijang, Dallen begitu terkejut dan syok saat dia melihat kedua tangan dan semua pakaian Glorria penuh dengan darah. "gadis kecilku oh my God!! Apa yang kamu lakukan sayang kenapa semua pakaianmu penuh dengan darah semua, apa kamu terluka gadis kecilku?" tanya dahlin kepada Glorria dengan perasaan paniknya, karena dia melihat darah yang begitu banyak di sekujur tubuh Glorria.
__ADS_1
"Uncle ini bukan darah aku dan aku juga tidak terluka lihatlah apa yang aku bawa, tadi saat aku terbangun aku melihat ada seekor anak kijang lalu aku mengejarnya dan aku menangkapnya begitu Uncle, jadi ini bukan darahku" tutur Glorria sambil memonyongkan mulut kecilnya, karena dia sangat kesal dengan Dallen yang terus bertanya dan meraba-raba tubuhnya.
Dallen pun segera menoleh ke arah anak kijang yang masih dipegangi oleh sebelah tangan Glorria, Dallen kembali dibuat terkejut dengan luka bacokan yang ada pada anak kijang hasil tangkapan Glorria, "gadis kecilku apa kamu kembali mengambil pisau belati Uncle ha?" tanya Dallen sambil menatap Glorria, "hehe Iya betul sekali Uncle, tadi aku mengambilnya karena terpaksa, karena aku sedang membutuhkannya maaf aku tidak memberitahukanmu terlebih dahulu karena tadi Uncle sedang tertidur lelap" jawab Glorria yang singkat tapi padat membuat Dallen kehabisan kata-kata.