
Setelah menempuh beberapa jam dalam perjalanan, Glorria beserta kedua Unclenya dan juga Alexander dan dokter serta yang lainnya, kini mereka telah tiba di Bandara Paris. Gloria beserta yang lainnya segera membawa Alexander kerumah sakit terbesar di Paris, dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tiba-tiba tubuh Alexander kejang-kejang hebat sehingga dokter dan susterpun panik. "Dokter cepet beri pertolongan kepada Dadyku, Cepat lakukan sesuatu! jika tidak bersiap-siaplah peluru ini akan menembus kepala kalian" bentak Glorria.
Glorria kembli mengancam dan menodongkan senjatanya kearah dokter dan suster, yang menangani Alexander dengan kedua tangannya yang gemetar karena takut oleh Glorria, dokter tersebut segera memberi nafas bantuan kepada Alexander yang tak berhenti kejang-kejang.
Akhirnya mobil yang membawa Alexanderpun telah tiba dirumah sakit, dengan sigap Louis segera meminta bantuan suster untuk membawa Alexander masuk. Dokter dan suster yang ikut dengan Glorria berlari mengikuti Alexander, yang sudah dibawa oleh para suster rumah sakit tersebut.
Disisi lain, sedangkan Galant anak terbesar dari Ames sudah menemukan asal muasal pesawat Jet milik Glorria, dan akhirnya Galant beserta para anak buahnya yang cukup banyak terbang menuju Paris mengejar keberadaan Glorria. Sedangkan Dezi ia kembali melakukan penerbangannya menuju Paris karena Bastev yang memintanya, begitupun dengan Bastev ia masih dalam perjalanan menuju Paris. Bastev sangat khawatir dengan keadaan Glorria, karena Bastev telah diberitahukan oleh Dezi jika para anak buah Galant putra dari Ames mengikuti Glorria.
Dengan perasaan was-was khawatir bercampur aduk menjadi satu itu yang dirasakan Bastev, Bastev terus memikirkan Glorria kekasih hatinya, meskipun ia telah berusaha menghubungi Glorria, namun sayang ponsel Glorria tak bisa dihubungi oleh Bastev.
Glorria ia hanya mampu menatap keadaan Alexander, yang sudah dibawa oleh para suster dan dokter masuk kedalam ruangan ICU.
Tidak lama kemudian Annabella dan Deborah beserta Maicon datang, yang ditemani oleh Aiken dan juga Arno serta Micer, kerumah sakit dimana Alexander dirawat saat ini. Karena Drak yang memberi tahukan Annabella, sesampainya dirumah sakit Annabella dan Deborah serta Maicon dan para pengawal setianya, dengan tergopoh-gopoh mereka berlari menghampiri Drak dan Dallen yang sedang duduk diruang tunggu ICU.
"Drak bagaimana keadaan Alexander putraku?" Tanya Maicon kepada Drak yang berdiri menyambut kedatangan Annabella dan Maicon. "Tuan Alexander masih mendapatkan perawatan dari dokter tuan." jawab balik Drak, Annabella ia berjalan mendekati Glorria yang sedang berdiri didepan pintu ruangan ICU. "Putri Mammy sayang.." Annabella mengulurkan kedua tangannya kearah Glorria yang sedang dilanda kesedihan.
Glorriapun memeluk Annabella ibunya, dengan wajah lelah dan sedih terlihat jelas dari wajah cantik Glorria.
"Maafkan aku Aunty Mammy, aku telat menolong Uncle Dady Mammy." Tutur Glorria dengan nada sedih, tiba-tiba Deborah berjalan mendekati Glorria yang sedang berpelukan dengan Annabella. Deborah ia menarik kasar bahu Glorria kakaknya. "Dasar pembunuh kau sudah membuat Daddy menjadi seperti ini, dan itu semua gara-gara kau, apa kau puas dengan kedudukan yang kau miliki namun keluarga kita yang terkena imbasnya, itu semua hasil dari perbuatanmu perempuan sampah!!" Bentak Deborah penuh emosi sambil menatap tajam Glorria.
Glorria dia terus memaki-maki Glorria kakaknya, sedangkan Glorria ia hanya terdiam tanpa sepatah katapun meski hatinya sangat sakit saat adik semata wayangnya memaki-maki dirinya. Sontak saja Dallen dan Drak dibuat terkejut oleh sikap Deborah yang begitu kasar terhadap Glorria kakaknya. "Deborah apa yang kamu lakukan dia itu kakakmu apa kau tahu itu!" Bentak Annabella ia mencoba melerai kedua anak-anaknya.
Tiba-tiba pintu ruangan ICU terbuka dan beberapa dokter menghampiri Glorria,
"Nona.. kami mempersilahkan kalian untuk melihat ayah anda, dan mohon sekali kami tidak bisa membantu lebih jauh lagi, kami semua sudah berusaha semaksimal mungkin namun kemungkinan besar ayah anda tidak bisa diselamatkan." Tutur beberapa dokter memberitahukan Glorria sambil menundukkan kepala mereka, menghadap kearah Glorria. Sontak saja membuat orang-orang yang mendengar penuturan dokter tersebut dibuat terkejut, Annabella dan Maicon mereka langsung berlari masuk yang diikuti oleh yang lainnya.
Setelah mendengar penuturan para dokter Glorria ikut berlari masuk kedalam,
__ADS_1
"tidak ini tidak boleh terjadi, dokter dokter.!" Bughh..
Bughh..
Glorria ia menarik kasar kedua dokter yang telah menangani Alexander ayahnya, Glorria menarik kerah seragam putih milik dokter-dokter tersebut dan tak segan-segan lagi Glorria langsung memukul para dokter dengan begitu kencang.
Sehingga para dokter tersebut meringis kesakitan dan terjengkang kebelakang, Drak dan Dallen segera menahan kemarahan Glorria yang sudah sangat emosi. Glorria mendorong kedua Unclenya hingga Dallen dan Drakpun ikut terpental, Drak teringat akan kejadian beberapa tahun silam saat Annabella dinyatakan meninggal, emosi Glorria sama persis seperti Alexander ayahnya.
Glorria ia berjalan gontai mendekati tubuh Alexander yang begitu kurus dan pucat, Glorria mengambil salah satu tangan Alexandre yang sudah sangat dingin, Glorria menggenggam erat tangan Alexandre.
"Mulai saat ini aku akan memanggilmu Daddy, tapi dengan satu syarat anda harus bangun dan melihat Aunty Mammy, yang sedang menangisi anda tuan Alexander. Aku hitung sampai sepuluh tuan Alexander, jika anda tidak membuka kedua mata anda maka anda akan lihat sendiri kemarahan saya, dan saya yakin kalau anda bisa mendengar semua kata-kata saya ini, kalau anda tetap tidak membuka kedua mata anda maka saya akan menembak kepala saya sendiri." Teriak Glorria , sambil mengeluarkan salah satu senjatanya.
Glorria ia berteriak dihadapan semuanya, membuat orang-orang yang menyaksikan tingkah Glorria menitikkan air mata mereka masing-masing. "Alexander lihatlah kedua putri kita mereka sudah dewasa dan menjadi gadis-gadis cantik, Alexander cepatlah bangun lihatlah mereka Alexander aku mohon padamu Alexander bangunlah, hiksss.. hikss" Annabella ia terus menangis dan tak lepas dari pandangannya menatap sendu kearah suaminya, yang terbaring lemah dengan alat-alat rumah sakit yang menempel disekujur tubuhnya.
"Oke tuan Alexander, sekarang kita mulai berhitung, satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh!" teriak Glorria sambil menodongkan senjatanya kearah kepalanya sendiri.
"Nona besar musuh kita datang.!!" Secara tiba-tiba Louis berteriak memberi tahukan Glorria, yang berada didalam ruangan ICU.
Namun tak disangka-sangka dengan begitu cepat Glorria mendorong tubuh kelima Unclenya, hingga kembali masuk kedalam ruangan dan menutup pintu ruangan ICU dengan begitu kencang.
Drak dan Dallen beserta Arno dan Aiken terjengkang kebelakang akibat didorong oleh Glorria.
Dorrr..
Dorrr..
Suara tembakan mulai terdengar begitu nyaring, sehingga membuat orang-orang yang ada disekitarnya berhamburan untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing.
__ADS_1
Sedangkan Glorria dengan engan begitu santainya, dia mengambil amunisi cadangannya dan ia mengisinya kedalam senjata pemberian Annabella ibunya.
Dorrr..
Dorrr..
Glorria dia kembali membalas tembakan para lawanya yang sudah semakin mendekat kearahnya.
Tubuh seksi Glorria kemabli beraksi, ia mengarahkan kedua senjatanya dengan dibarengi kedua kakinya menendang dan menembakkan senjatanya miliknya, satu persatu para musuhnya tertembak oleh timah panas milik Glorria.
Tubuh Glorria memutar-mutar dengan kedua kakinya yang tak tinggal diam, terus mengarahkan tendangannya kearah para musuhnya. Sehingga para anak buah Galant yang mendekat kearah Glorria sudah dipastikan akan tamat riwayatnya. Galant yang menunggu didalam mobilnya ia diberitahu oleh salah satu anak buahnya jika sebagian besar para anak buahnya sudah tewas, pada akhirnya Galantpun keluar dari dalam mobilnya ia berjalan masuk kedalam dan mencari keberadaan Glorria yang diikuti oleh para anak buahnya, Galant terus berjalan dan ia sudah bisa melihat keberadaan Glorria yang sedang bertarung melawan para anak buahnya, tak lama kemudian Galantpun sampai dibarisan para anak buahnya yang tersisa sekitar dua puluh orang lagi.
"Hentikan jangan tembak wanita ****** itu biar aku yang melawannya" teriak Galant dia mencegah para anak buahnya untuk tidak menembaki Glorria, karena ia ingin melawan Glorria dengan tangan kosong. Galant mendekat kearah Glorria yang masih berdiri diposisikannya tanpa bergeser sedikitpun dari tempatnya ia berdiri.
Galant memasukan senjatanya kedalam jaketnya, dengan tatapan tajamnya dan ia menantang untuk duel Glorria, Glorriapun sama menatap tajam kearah Galant dan ia tersenyum getir. Galant mulai mengepelkan kedua tangannya dan kedua kakinya memaju mundurkan kebelakang dan kedepan, begitupun dengan Glorria dia mulai memasang kuda-kudanya, karena ia hapal betul dengan gerakan beladiri yang sedang Galant gunakan saat ini, maka Glorriapun sengaja menggunakan kelemahan beladiri yang sedang digunakan oleh Galant. Yang tak lain beladiri tersebut populer di negara Jepang.
Ciattt ciattt..!!
Gerakan kedua kaki Galant begitu cepat menyerang kearah Glorria, namun Glorria tak kalah cepat dari Galant, ia menghindari setiap tendangan dan tonjokan yang dilayangkan oleh Galant kearahnya.
Bastev yang baru saja tiba dirumah sakit yang ditemani beberapa anak buahnya, ia segera berlari mencari keberadaan Glorria, namun saat dia sampai di koridor betapa terkejutnya Bastev, melihat para anak buah Galant yang begitu banyak sudah tergeletak tewas, Bastev menatap kearah Glorria yang sedang melawan Galant. Namun Bastev tak lepas memperhatikan tenggorokan Glorria yang terlihat terus-menerus menelan ludahnya, dan itu tandanya jika Glorria sedang lapar, dengan cepat Bastev menyuruh para anak buahnya untuk membeli roti sandwich kesukaan Glorria.
Tidak lama kemudian salah satu anak buah Bastev kembali dengan membawa roti sandwich yang diminta oleh Bastev tadi, Bastev berjlan mendekat kearah Glorria dan Galant, Bastev mengacungkan tangannya sambil memegangi roti sandwich kearah Glorria.
Glorria yang melihat makanan kesukaannya ada ditangan Bastev, dia ingin segera menyelesaikan pertarungannya dengan lawannya. Ketika kaki Galant mengarah tepat dibagian wajah Glorria, dengan begitu sigap Glorria mengakis dan menacapkan pisau tajamnya laulu ia menarik pisau tajamnya sampai diujung kaki Galant, seketika kaki galant terbelah.
Galant berteriak histeris dia meraung-raung setelah ia mendapati kaki kanannya sudah terbelah, dan terlihat jelas tulang putih nampak. Glorria tak tinggal diam setelah ia mengetahui jika lawannya sudah terluka, ia kembali menusukan pisau tajamnya dibagian leher Galant hingga terpotong. Tubuh Galant menggelepar dan kejang-kejang menghembuskan nafas terakhirnya, Bastev masih melongo melihat tubuh kekar Galant sudah tak bernyawa, sedangkan Glorria dengan cepat dia mengambil roti sandwich yang ada ditangan Bastev, "owh roti sandwichku" Glorria memakannya dengan lahap.
__ADS_1
Sedangkan didalam ruangan ICU terasa hening, "putriku sayang Glorria" Alexander tiba-tiba membuka kedua matanya dan ia langsung memanggil nama Glorria putri sulungnya, "Alexander sayang kamu sudah kembali ini aku istrimu Annabella Alexander" para dokter segera memberikan oksigen dan peralatan lainnya kepada tubuh Alexander. Kelima Uncle Glorria yang sedang mengintip aksi brutal Glorria, yang sedang menyembelih para lawanya. Sudah banyak sekali para anak buah Galant tergeletak menjadi mayat akibat tembakan dan sayatan dari pisau tajam Magnolia. Magnoya yang ikut mengintip ke-lima Unclenya yang sedang melihat aksi kakaknya Glorria, yang sedang melawan para anak buah Galant seorang diri.
Deborah begitu tercengang melihat pemandangan yang begitu sangat mengerikan, "kakak apakah sekejam itukah dirimu" kata hati Deborah yang baru pertama kalinya ia melihat dan menyaksikan kehebatan kakaknya, yang ia sendiri tak bisa mengikuti jejak seorang Glorria. Kelima Uncle Glorria menoleh kearah Alexander, karena suara tangisan Annabella yang semakin kencang. Kelima Uncle Glorria beringas dan mendekat kearah Alexander dan mereka langsung berloncat-loncat melihat Alexander, yang sudah membuka matanya dan bisa berbicara meskipun masih terbata-bata. Glorriapun segera mendekati Alexander dan Annabella karena ia baru tersadar oleh kehebohan Uncle-unclenya.