
Namun secara tiba-tiba hujan deras turun mengguyur wilayah itu, Louis dan Deborahpun kembali berlarian mencari tempat untuk berteduh. Mereka berteduh disamping rumah-rumah warga setempat, karena hujan semakin deras. "Louis, kau tidak perlu memanggilku nona, seperti yang dikatakan oleh Mammy, kau bisa panggil namaku karena kau masih anggota Muller dan kau bukan orang asing" ujar Deborah.
Louis dia hanya tersenyum mendengar celotehan Deborah yang sudah terlihat sehat tidak seperti kemarinnya, meskipun luka lebam dibagian wajah Deborah masih terlihat membiru. Mereka terus saling mengobrol di tengah-tengah guyuran hujan.
"Louis, apa kau lihat rumah itu sepertinya rumah itu kosong, soalnya rumah itu tidak ada lampunya bagaimana kalau kita kesana saja" ucap Deborah sambil mengunjuk kearah salah satu rumah yang terlihat sepi. Dan seperti sepertinya rumah itu memang benar-benar kosong, seperti yang dikatakan oleh Deborah.
"Iya sudah ayo nona kita kesana saja, siapa tahu rumah itu tidak kunci" ajak Louis, yang langsung dianggukan oleh Deborah. Akhirnya mereka berdua pun berlari kearah rumah kosong itu, dengan menerobos guyuran hujan.
Sesampainya dirumah kosong itu Louis segera mendorong gagang pintu, namun sayang rumah itu terkunci dengan kinci gembok. Namun Louis tidak kehabisan akal dia langsung mengeluarkan pisaubya dan mencungkil gembok tersebut, hingga akhirnya pintu rumah pun berhasil dia bukanya.
"Yeah, kau memang hebat Louis, akhirnya kita bisa masuk juga" ucap Deborah sambil tertawa riang, saking senangnya dengan refleks Deborah mencium kedua pipi Louis, kedua mata Louis melotot dan terperangah mendapatkan ciuman dari Deborah.
Gadis yang dia kagumnya, "ayo cepat masuk Louis, kenapa kau masih berdiri di situ?" Tanya Deborah sambil menarik tangan Louis untuk masuk kedalam rumah itu. Suara Deborah membuyarkan lamunan Louis, dan dia pun segera berjalan masuk kedalam rumah kosong tersebut.
Kembali lagi kepada Glorria.
Ketika kejadian beberapa jam lalu saat dia berada di dalam mobil para anak buah Bastev, Glorria sudah bisa merasakan jika posisinya sedang dipantau dan di ikuti oleh pihak musuh. Dan dengan sengaja dia naik mobil yang terpisah dari Bastev, dengan tujuan untuk mengecoh pihak lawan agar keberadaannya tidak terlacak.
Sepanjang perjalanan Glorria hanya terdiam, namun tatapannya tak lepas memperhatikan kesekitaar jalan besar yang ramai oleh para pengendara lainnya. Hingga penglihatan Glorria tertuju dengan beberapa mobil, yang sejak tadi mengikuti mobil-mobil para anak buah Bastev.
__ADS_1
Glorria menghela nafasnya dalam-dalam, mau tidak mau siap tidak siap dia harus menghadapi lawan-lawannya, namun dia memiliki cara tersendiri bagaimana caranya agar dia terhindar dari kejaran pihak musuh-musuhnya, sedangkan keadaan hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Ketika kondisi jalanan sedang macet oleh para pengendara lainnya, Glorria menepuk bahu sang sopir dengan tujuan dia meminta turun. Berkali-kali Glorria mencoba berbicara namun tetap sama hasilnya, suara Glorria mendadak hilang dan tidak bisa berbicara Glorria merasa ada yang aneh dengan lidahnya kenapa dia tidak bisa mengeluarkan suara.
Lidah Glorria terasa kelu dan berat untuk berbicara, sehingga dengan terpaksa dia mencabut senjatanya dan menodongkan nya kearah kepala sang sopir. Akhirnya sang sopir dan anak buah Bastev yang lainnya memberikan Glorria turun dari dalam mobilnya, Glorria dengan cepat dia keluar dari dalam mobil anak buah Bastev.
Glorria berlari dengan begitu cepat melintasi mobil-mobil yang mulai bergerak, hingga ia berhasil melewati jalanan itu tanpa diketahui oleh pihak musuh. Glorria ia sudah berada di jalanan yang berbeda, Glorria segera memberhentikan salah satu pengendara dan dia segera masuk kedalam mobil orang yang tidak ia kenalinya.
Dengan bahasa isyarat Glorria mengarahkan sipemilik mobil tersebut, di dalam mobil pria itu memberikan secarik kertas beserta pulpen kepada Glorria karena pria itu tidak mengerti dengan kata-kata isyarat Glorria. Dengan cepat Glorriapun menuliskan tujuannya, dan dia kembali memberikan tulisannya kepa pria itu.
Pria itu langsung mengangguk dan dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju rute yang diberitahukan Glorria kepadanya. Ternyata Glorria akan pergi kerumah Dallen, yang tak begitu jauh dari posisinya saat ini.
Yang ada dipikiran para musuhnya jika Glorria masih berada didalam mobil anak buah Bastev, setelah melewati lampu merah mobil yang ditumpangi Glorria pun berbelok arah Karena berbeda rute. Glorria sudah tidak bisa melihat mobil anak buah Bastev dan juga mobil-mobil musuhnya yang sedang mengejar mobil anak buah Bastev.
Akhirnya Glorria pun sudah tiba disebuah rumah yang lumayan cukup besar yang tidak lain rumah itu adalah rumah Dallen, pemberian Annabella dan Alexander dulu. Glorria dia segera mengetuk pintu rumah Dallen, dan tidak perlu membutuhkan waktu lama seorang pria membukakan pintu rumah itu yang tak lain dia adalah Arno, pengawal seti Maicon dan Alexander.
Arno begitu terkejut saat dia melihat keadaan Glorria, wajahnya terlihat pucat dan kedua matanya sangat sembab. Glorria dia segera menghampiri dua orang perempuan yang sama tengah hamil tua, yang tak lain mereka adalah istri Drak dan juga Aiken.
Glorria, dia segera merangkul kedua perempuan hamil itu dengan tangisan yang terdengar memilukan, Glorria terus menangis sesenggukan dalam pelukan istri Drak dan juga Aiken. Hati Glorria begitu sakit melihat kedua wanita hamil itu, yang harus dia lindunginya karena amanah terakhir Aiken agar Glorria menjaga anak dan istrinya, serta istri dan anak Drak.
__ADS_1
Arno semenjak penyerangan terjadi pada rumah Annabella, dia di minta membawa Alma dan Alice oleh Drak dan Aiken. Sehingga Arno belum mengetahui apa yang terjadi dengan Annabella dan Alexander serta keempat teman-temannya, Glorria dia segera mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu lalu ia memberikannya kepada Arno.
"Uncle keci, cepat siapkan semuanya kita harus segera pergi dari Paris, cepat beritahukan mereka agar bersiap-siap" ucap Glorria dalam isi tulisannya, dengan cepat Arno membaca isi tulisan Glorria.
Daj tanpa berbasa-basi lagi Arno memberitahukan para istri Drak dan juga Aiken, akhirnya Alma dan Alice puj segera membereskan semua pakaian mereka kedalam koper-koper mereka. Glorria juga meminta Arno dan kedua Auntynya untuk menyamarkan wajah mereka, agar tidak diketahui oleh para musuh musuhnya yang sedang mencari keberadaan dirinya.
Malam haripun tiba,
Glorria dan Arno serta Alma dan Alice kini mereka sudah berada di dalam mobil menuju Bandara. Dengan wajah-wajah mereka yang terlihat berbeda, karena penyamaran yang telah mereka lakukannya.
Sesampainya didalam Bandara, mereka terus berjalan menuju penjualan tiket. Kedua mata Glorria tak memperhatikan kesekelilingnya dia sudah bisa menebak beberapa orang celangak-celinguk, dibagian pintu masuk tadi memperhatikan wajah setiap orang-orang yang akan masuk.
Setelah berhasil membeli empat tiket pesawat, Glorria bisa bernafas lega karena dia berhasil mengelabuhi para musuh dan tidak mengenali dirinya. Glorria membeli empat tiket pesawat untuk rute Jepang, karena saat ini dia merasa hanya tempat itu yang bisa membuat kedua Aunty dan dirinya aman.
Yang sudah banyak dia ketahui situasi Jepang seperti apa, dengan penduduk yang ramah dan juga tidak terlalu banyak geng Mafia seperti di Paris negaranya. Glorria sengaja tidak mengajak Bastev, karena dia tahu para musuhnya hanya mengincar keluarga besar Muller dan antek-anteknya, tapi bukan dengan Bastev.
Karena Bastev adalah seorang putra mahkota dari Aubert, yang begitu erat menjalin pertemanan dengan ketua Mafia Kanada dan juga Eropa. Maka dari Glorria memilih pergi dari kehidupan Bastev, agar keluarga Bastev tidak ikut terlibat dan bisa melindungi keluarga besarnya.
Begitupun dengan Glorria, dia harus melindungi istri Drak dan juga Aiken yang sudah dia anggap sebagai anggota keluarganya, apa lagi saat ini yang dia punyalah mereka tidak ada orang lain lagi.
__ADS_1
Itulah alasannya kenapa Glorria memilih pergi tanpa pesan kepada Bastev, karena banyak nyawa yang harus dia jaganya bukan hanya nyawa dia sendiri, tapi ada keturunan Drak dan Aiken yang harus dia jaga yang nantinya akan menjadi penerus kedua ayah-ayah mereka.