
Glorria yang menyaksikan ketiga kurcacinya sudah tertidur pulas, ia hanya tersenyum dan menyelimuti ketiganya.
"Kalian akan menjadi pahlawan dan penerus nama besar Muller putra-putriku" gumam Glorria ia begitu menyayangi ketiganya, Glorria begitu senang dengan banyaknya anak-anak.
Glorria pun kembali masuk kedalam kamarnya dan ia segera membersihkan dirinya untuk beristirahat, melepaskan rasa lelahnya. Begitu pun Alice dan Alma mereka memilih tempat tidur dalam satu kamar.
Mereka hanya tak mampu berbuat banyak karena mereka tahu jika hidup mereka dalam bahaya jika pisah dari Glorria, maka apapun yang terjadi mereka akan tetap ikut dengan Glorria demi putra-putra mereka
"Alice kita harus bersyukur memiliki Nona besar seorang pahlawan yang menjadi pelindung hidup kita dan kedua putra kita" ucap Alma "iya Alma aku tahu itu, kalau tidak Nona besar akan menjadi apa nasib kita dan pura-pura kita, kau tahu sendiri kita ini perempuan terbuang yang tidak memiliki keluarga, tapi berkat Nona besar sekarang kita jadi manusia yang layak Alma" ujar Alice
Tampa terasa Alma dan Alice tertidur dengan begitu pulasnya.
Di pagi hari Alma dan Alice sudah terbangun dari tidurnya, mereka membantu para asisten Glorria yang merapikan kediaman megah Glorria. Sedangkan Glorria ia baru terbangun dari tidurnya, namun ia melihat sesuatu di atas dinding ya itu lukisan Maicon kakeknya.
Glorria, dia mendekati lukisan tersebut dan ia menatap tajam kearah mata Maicon yang ada dalam lukisan tersebut, tatapan kedua mata Maicon yang mengarah ke dinding, Glorria yang memiliki insting kuat ia mulai meraba-raba dinding yang ditatap oleh lukisan mata Maicon.
Glorria mengetuk-ngetuk di ngding tembok dan ia sudah bisa mendengar jika tersebut kopong, Magnolia mulai mencungkil tembok tersebut dengan pisaunya. Dan benar saja tembok itu langsung terbuka yang berisikan berangkas besar, yang ternyata di sembunyikan oleh Maicon.
Glorria kembali terdiam ia memikirkan kata kunci dari brankas tersebut. "Jika suatu saat gadis cantiku dewasa ingat nama ini ELANG."
Glorria, dia teringat akan kata-kata yang pernah Maicon katakan kepadanya saat ia masih kecil.
Glorria pun mencoba memasukkan nama Elang yang pernah di katakan oleh Maicon.
Dan benar saja seketika berangkas itu terbuka dengan sendirinya, Glorria begitu terkejut saat melihat berkas-berkas tertata rapih, ia mulai melihat isi berkas satu persatu yang ternyata Maicon memiliki bisnis dan tempat tinggal di setiap negara yang jatuh ke tangan putranya Alexander.
Yang tentunya jika Alexander tiada hak waris tersebut jatuh kepada anak-anak Alexander, pantas saja saat Glorria menikah Alexander tidak memberikan kado apapun, dan ternyata semuanya sudah di siapkan oleh Maicon dan Alexander. Semua saham milik keduanya yang berada di Italy seluruhnya jatuh menjadi milik Glorria dan Deborah, Glorria kembali melihat berkas-berkas dari pihak Bank.
Setelah mengetahui semuanya Glorria pun kembali merapikan berangkas milik Maicon, karena pintu kamarnya sudah di ketuk oleh ketiga kurcaci kurcacinya.
__ADS_1
Cklekk..
"Mammy.. Mammy.. Mammy cantik kami sudah siap ayo ajari kami Mammy cantik" Annabella dan kedua saudara laki-lakinya sudah berdiri di depan kamar Glorria dengan membawa pisau dapur, begitupun dengan Darren dan Aiden mereka sudah memegang pisau di tangan mereka masing-masing. Glorria tertawa terbahak-bahak saat melihat tingkah ketiga kurcacinya, yang mengajaknya untuk mengajari mereka ilmu beladiri.
"Darren! Aiden Annabella.. Kalian bawa kemana pisau dapur..." Dengan tergopoh-gopoh Alma dan Alice berlari menghampiri ketiga kurcacinya, yang berhasil mengambil pisau dapur milik para pelayan yang sedang sibuk memasak. "Sini kembalikan pisau pisau itu jangan main-main dengan pisau bahaya"
Alma dan Alice meminta pisau dapur dari ketiga kurcacinya, namun ketiganya malah nyengir kuda bukannya memberikan pisau dapur yang mereka ambilnya. "Aunty biarkan saja mereka bermain dengan pisaunya" Glorria memberikan izin kepada ketiga kurcacinya untuk bermain dengan pisau dapurnya, agar ketiga anak-anak kecil itu terbiasa memegang senjata tajam.
Alma dan Alice tak mampu berbuat apa-apa jika Glorria sudah turun tangan, Akhirnya Alice dan Almapun kembali turun kelantai bawah untuk menggunakan pisau lainnya. "Mammy cantik apa Mammy cantik sudah siap?"
Dengan begitu beraninya Annabella kembali bertanya kepada ibunya Glorria. Mau tidak mau Glorria pun menganggukkan kepalanya dan ia tak lepas dari senyum cantiknya, melihat tingkah ketiga kurcacinya yang super nakal.
Glorria, dia mengajak ketiga kurcacinya untuk naik kelantai paling atas yang kosong tanpa ada sekat ruangan. Glorria mulai berdiri dipaling depan dan ketiga kurcaci dibagian paling belakang, "apa putra putri Mammy sudah siap? Ikuti gerakan Mammy mengerti" tanya Glorria.
Ketiga kurcaci Glorria menganggukkan kepalanya mereka dengan serentak, dan benar saja mereka mengikuti gerakan Glorria dengan baik. "Aiden! Kenapa kamu kentut ikhh bau, aku jadi tidak fokus ini" protes Annabella dia kesal karena Aiden kentut dengan begitu kencangnya.
"Hehehe maafkan aku Annabella aku tidak sengaja" ucap Aiden sambil memegangi bokongnya.
"Iya kentut kamu memang tidak terdengar oleh siapapun tapi baunya membuat aku tidak bisa berpikir Darren" rutuk Annabella, Aiden dan Darren hanya nyengir mendapatkan omelan dari Annabella yang kesal kepada mereka.
Glorria, yang berada di paling depan manahan tawanya dia benar-benar sakit menahan perutnya karena mendengar celotehan ketiga kurcacinya yang selalu membuat onar. "Berlatihnya cukup sampai sini dulu besok kita lanjutkan lagi karena perut Mammy sudah sangat lapar sekali." Ucap Glorria.
Akhirnya ketiga kurcaci Glorria pun ikut turun untuk makan siang.
Di lain cerita.
Di siang itu Deborah dan kedua jagoannya yang kini sudah menjadi tanggung jawabnya untuk dijaga. "Aunty hari ini aku akan pergi latihan, boleh atau tidak jika aku mengajak Augusto untuk ikut berlatih denganku Aunty?"
Tanya Sander
__ADS_1
"Hemm tentu saja boleh tapi bagaimana jika Aunty ikut dengan kalian boleh atau tidak ya" jawab Deborah sambil tersenyum.
"Ha---a? Aunty serius ingin ikut dengan Kami?" Deborah menganggukkan kepalanya kearah kedua jagoannya. Akhirnya Deborah pun segera mempersiapkan semuanya untuk kedua jagoannya, dan merekapun berangkat dengan beberapa mobil anak buahnya Bastev menuju tempat latihan.
Sedangkan Bastev dan Louis mereka sedang berada di markas karena ada pertemuannya dengan para ketua Mafia lainnya.
Deborah dan kedua jagoannya kini mereka sudah berada ditempat latihan beladiri untuk kanak-kanak, Deborah menunggu kedua jagoannya sampai selesai ia tak menyadari jika gerak geriknya telah diikuti oleh seorang perempuan. Hingga latihan kedua jagoannya selesai Deborah pun kembali bersiap-siap untuk kembali pulang.
Kini Deborah dan kedua jagoannya sudah berada di dalam mobil menuju rumahnya.
"Mammy, apa Mammy lelah? kenapa wajahmu terlihat begitu lelah, apa aku membuatmu repot Mammy" Augusto tidak seperti biasanya ia bertanya kepada ibunya Deborah, "tidak sayang Mammy tidak lelah, owh bagaimana tadi latihannya apa kamu menyukainya?" Tanya Deborah
"Tentu Mammy aku menyukainya apa lagi ada kakak Sander teman latihanku" Didalam mobil ketiganya bercanda dan kedua anak kecil itu tak henti-hentinya berceloteh. Namun secara tiba-tiba mobil yang ditumpangi Deborah di hadang oleh oleh beberapa mobil yang tak dikenal.
Sander menatap tajam kearah penumpang perempuan yang ada didalam mobil tersebut "Aunty Nowela.. Augusto Aunty cepat keluar itu didepan ada wanita iblis!!" Teriak Sander sembari membuka pintu mobilnya.
Sander berteriak kearah Deborah dan ia meloncat kearah pintu keluar dan menarik Deborah serta Augusto. Dengan rasa traumanya Deborah yang refleks ia segera keluar dan berlari kearah belakang mobil para pengawal Bastev.
Dengan cepat para pengawal Bastev menghampiri dan menghadang musuhnya yang menghalang-halangi laju mobil mereka, Jonas salah satu pengawal Bastev membantu menggendong Augusto dan berlari, rasa ketakutan Deborah semakin menjadi sehingga tanpa ia sadari ia menarik tangan Sander, dan berlari dengan kencang.
Deborah, dia berlari dengan begitu kencang tak jelas arah yang di ikuti oleh Jonas. "Habisi mereka semuanya jangan biarkan mereka hidup!" Nowella memberikan perintah kepada para anak buahnya, ia mengincar Sander yang di pikirkannya Sander masih berada di dalam mobil. Baku tembakpun mulai terjadi dan sudah tak terelakkan lagi, anak buah Nowela yang begitu banyak berhasil membuat para anak buah Bastev tewas.
"Periksa semua mobil mereka apa anak itu sudah ikut tewas" beberapa anak buah Nowella segera memeriksa satu-persatu mobil milik Bastev, untuk mengetahui keberadaan Sander telah tewas atau tidaknya. Anak buah Nowela kembali dan memberitahukan jika anak tersebut sudah tak ada didalam mobil tersebut.
"Cepat cari anak itu aku yakin anak itu belum jauh dari sini.!!" Teriak Nowela kepada para anak buahnya.
Dengan cepat Jonas menyebarangi jalan besar yang di ikuti oleh Deborah "Jonas lihat itu ada mobil ayo cepat kita ikut" dengan sigap Deborahpun segera naik kedalam mobil transportasi umum dan menarik kencang tubuh Sander, dan membawanya masuk yang di susul oleh Jonas yang menggendong Augusto. Keempatnya terdiam dengan nafas mereka yang tersengal-sengal.
Sander dan Deborah memiliki riwayat trauma yang begitu mendalam sehingga dia begitu ketakutan dengan orang-orang disekitarnya.
__ADS_1
"Nona mobil transportasi ini menuju Belgia" ucap Jonas
Deborah, ia tak mampu berkata-kata ia hanya menggelengkan kepalanya dengan perkataan Jonas kepadanya.