
"Oya Bastev sahabatku, kapan kita akan bertemu aku sudah sangat rindu denganmu dan istrimu yang super pendiam itu." Tanya Zaidan
"Secepatnya Zaidan, pasti kita akan segera bertemu." Jawab singkat Bastev sambil mengakhiri sambungan teleponnya dengan Zaidan.
"Bastev apa kau mengetahui siapa Zaidan?" Tanya Glorria penuh selidik, Bastev menggelengkan kepalanya karena ia memang tidak mengetahui siapa Zaidan yang sebenarnya.
"Louis coba kau cek keluarga besar Erazino dan Ernesto, ketua Mafia Spanyol, siapa saja keturunan mereka yang tersisa." Pinta Glorria.
Louis pun segera membuka laptop nya dan mencari tahu keturunan dan keluarga besar Ernesto dan Erazino. Kenapa Glorria langsung mengetahui jika yang penculikan Deborah adiknya, ada hubungannya dengan kelompok Ernesto, karena Glorria melihat logo yang terdapat di bumper mobil milik para anak buah Ernesto.
Ya tak pernah terpikirkan oleh Annabella dan Alexander, serta Louis yang sudah melihat rekaman CCTV kampus dimana Deborah kuliah. Glorria yang sudah menghafal satu persatu musuh-musuh Annabella, dan musuh-musuhnya. Ia begitu jeli mengenali satu persatu logo yang dimiliki oleh setiap kelompok musuh-musuhnya.
"Nona besar kita sudah berhasil menemukan keturunan dan anggota keluarga Ernesto dan Erazino, yang masih tersisah dan benar apa dikatakan nona besar." Louis langsung memperlihatkan photo-photo keturunan keluarga Erazino dan Ernesto.
"****!!!"
"Siapkan para ana buah kita malam ini kita akan menyerang mereka." Ucap Glorria dengan nada tinggi
Bastev yang melihat photo-photo keluarga Erazino, dan nampak jelas photo masa kecil Zaidan, bersama Erazino serta Ernesto, Bastev sangat terkejut dengan siapa Zaidan yang sebenarnya. "Glorria sayang, apa kamu sudah mengetahuinya jika Zaidan putra dari Erazino."
"Ya aku sudah mengetahuinya, dan aku bisa mendengar dengan jelas suara jeritan seorang perempuan di dalam telpon tadi." Jawab singkat Glorria
"Maafkan aku Glorria sayang, jika aku telah salah membawa Zaidan dalam kehidupan kita." Ujar Bastev
Glorria, dia hanya terdiam mendengar penjelasan Bastev, karena Glorria sendiri tidak bisa menyalakan Bastev yang sudah salah dalam memilih teman.
Kembali kagi pada Deborah, dia terus meringis kesakitan saat rambutnya di jambak kasar oleh Zaidan. "Zaidan tolong lepaskan aku, aku tidak tahu apa-apa, dengan apa yang terjadi kepada keluargamu tolong jangan libatkan aku Zaidan.Hiksss Hikssss.." Rintih Deborah memelas
"Hahaha perempuan ******, kau memang tidak mengetahui apa-apa tentang keluargamu, tapi darah pembunuh itu telah mengalir ditubuhmu, jadi jangan harap kau akan bisa keluar dan bertemu dengan keluargamu lagi! Karena aku tidak akan pernah mengeluarkanmu jadi kau nikmati saja masa tuamu didalam ruang bawah tanah, kau harus membayar semua yang telah dilakukan oleh Annabella ibumu!!!" Bentak Zaidan dengan wajah beringasnya.
Zaidan kembali menarik rambut panjang Deborah, dan menyeretnya keluar dari dalam kamar, tubuh Deborah yang sudah babak-belur terus diseret keluar oleh Zaidan. "Pengawal! masukkan perempuan ini kedalam ruangan bawah tanah jangan sampai dia melarikan diri." Dengan cepat para anak buah Zaidan menarik paksa tubuh Deborah dan membwanya kembali kepenjara ruang bawah tanah.
Di dalam penjara Deborah terus memanggil Glorria kakanya, "kakak tolong aku hikssss hikksss.."
Di kediaman Annabella. Annabella dan Alexander yang sedang dilanda kepanikan, mereka tak memikirkan diri mereka masing-masing. Tapi mereka teringat akan Deborah anak bungsu mereka, yang hingga saat masih belum mereka ketahui keberadaannya.
"Nyonya--- nyonya!! Cepat kita harus segera keluar dari rumah ini." Drak berlari dan berteriak menghampiri Annabella dan Alexander, yang ada diruang kerjanya, "ada Drak?" Tanya Alexander kebingungan.
"Rumah ini sudah di kepung nyonya cepattt!!." Jawab Drak,
__ADS_1
Deg..
Seketika itu hati Annabella berdetak kencang, dengan rasa panik yang dirasakan oleh Annabella ia segera berlari keluar melalui pintu belakang, sedangkan Dallen dengan setianya menggendong Sander, Annabella dan Alexander berlari lebih dulu yang diikuti oleh Micer dan Aiken serta Drak.
Sedangkan Dallen ia berlari diantara paling belakang. Suara tembakan sudah semakin mendekat kearah mereka,
Dorrrr... Dorrr.. Dorrr..
Dengan tergopoh-gopoh mereka semua terus berlarian, tanpa menoleh lagi kearah belakang.
Tanpa disadari dada Dallen mengeluarkan darah namun tak dirasakannya oleh Dallen, ia terus berlari mengikuti yang lainnya. Hingga akhirnya kelompok Annabella pun berhasil keluar da menjauh dari kejaran para musuhnya yang tak diketahui oleh Annabella siapa mereka. Para anak buah Annabella yang menghadang sudah tewas lebih dulu.
Kini kelompok Annabella sudah berada di dalam mobil menuju rumah persembunyian milik Glorria, tempat teraman Annabella untuk bersembunyi. Sepanjang perjalanan nafas Dallen semakin sesak dirasakannya, tapi ia tetap menahan rasa sakit di bagian dadanya bahkan wajah Dallen sudah terlihat sangat pucat.
Sesampainya di pelataran rumah Glorria semua kelompok Annabella pun turun dari dalam mobil, sedangkan Dallen yang masih menggendong Sander ia tiba-tiba tersungkur dan terjatuh, tubuh Dallen ambruk membuat saat dia keluar dari dalam mobil, Drak dan Aiken terkejut
Aiken segera menggendong Sander sedangkan Drak dan Micer mereka menggotong tubuh Dallen, yang sudah tak sadarkan diri. Setelah Dallen berhasil dibawa masuk oleh Drak dan Micer, betapa terkejutnya Annabella dan Alexander melihat darah keluar dari bagian dada Dallen begitu banyak. Dengan sigap Drak segera membuka baju Dallen, untuk melihat luka yang di dapat oleh Dallen.
Deg..
Semuanya terperangah saat melihat luka tembak di bagian dada Dallen.
Annabella berteriak memberi tahukan Aiken yang baru saja mengantarkan Sander masuk kedalam kamarnya.
Dengan cepat Aiken menghubungi dokter pribadi Glorria, namun detak jantung Dallen sudah terhenti begitu saja. Membuat Drak semakin panik dengan kondisi Dallen yang sudah tak bergerak lagi, "Drak bagaimana ini Drak.!!"
Aiken berteriak memanggil Drak, ia begitu panik melihat sahabatnya sudah tak bernafas, Drak mendekati tubuh Dallen yang tergeletak dan tak bergerak. "Heyy, bujang lapuk jangan buat sandiwara didepan kami apa kau mau jika aku mengadukannya kepada Nona besar ha, bangunlah bujang lapuk" Drak terus menepuk-nepuk wajah Dallen yang semakin dingin dan pucat. Tiba-tiba dokter pribadi Glorria datang dan segera memeriksa Dallen.
Perasaan Drak dan Aiken, sudah sangat kacau mereka bingung antara percaya dan tidak, jika seorang Uncle kesayangan sang pahlawan telah terluka. "Maafkan saya Nyonya, saya telat menyelamatkan nyawa beliau, tuan Dallen sudah meninggal Nyonya."
Deg...
Annabella dan Alexander serta yang lainnya hanya ternganga dengan penuturan dokter pribadi Glorria. "Ha---a apa dokter serius..? Bagaimana bisa meninggal ini sahabatku paling kuat dokter" Drak benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter. "Bujangan lapuk bangunlah jangan buat kami menagis ayolah, aku mohon padamu bujang lapuk.." Drak dan Aiken terus memanggil Dallen yang sudah terbujur kaku.
Annabella tak mampu berkata-kata dengan apa yang terjadi kepada Dallen, ia hanya menangis dalam diam, di usianya yang sudah tak muda lagi ia juga sudah tak mampu melindungi para anak buahnya. "Maafkan kami Dallen, kami selalu membuatmu repot, dan kami tidak bisa melindungimu maafkan kami hikss.. hikss.." Annabella menangis disamping tubuh Dallen.
"Nyonya jadi ini beneran Dallen telah tiada..??" Drak kembali bertanya kepada Annabella. Annabella hanya menganggukkan kepalanya sambil terisak tangis.
Seketika tangisan Drak dan Aiken pun pecah mereka tidak percaya jika Dallen akan secepat ini meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
Drak, ia berteriak frustasi melihat sahabat baiknya wafat.
Alexander, dia merasa beruntung budi terhadap Dallen, yang selama ini telah menjadi ayah kedua dari putrinya Glorria. Sontak saja para anak buah Glorria merundukkan kepala mereka melihat ayah kedua dari tuan mereka telah menutup mata.
Di malam itu Glorria dan Bastev, serta Louis dan Dezi, serta para anak buah Bastev lainnya mereka semua sudah siap dengan senjata mereka dan berangkat menuju kediaman Ernesto.
Tidak perlu membutuhkan waktu lama kini
Glorria beserta para ank buahnya sudah tiba dilokasi, Louis dan Dezi ditugaskan untuk menyelamatkan Deborah, sedangkan Glorria bersama Bastev akan menghadapi Zaidan langsung. Glorria segera mengerahkan anak buahnya untuk mengepung kediaman Ernesto.
Hanya hitungan detik kediaman Ernesto sudah berhasil di kepung oleh seluruh anak para anak buah Bastev, beberapa anak buah Bastev mengarahkan senjata bazooka kearah pintu gerbang yang tinggi menjulang dengan penjagaan yang begitu ketat.
"Seranggg!!!!"
Duarrr..!! Duarrrr..!!! Duarrrr..!!
Suara ledakan pun mulai terdengar nyaring di sekeliling rumah Ernesto.
Glorria, memberi perintah kepada para anak buahnya, dengan gerakan cepat beberapa senjata bazookapun terus di luncurkan mengarah gerbang dan rumah Ernesto.
Suara tembakan dari berbagai arah sudah mulai terdengar begitu bising, Glorria dan Bastev segera berlari mencari celah untuk menerobos masuk kedalam rumah Ernesto. Glorria yang sudah siap dengan kedua pisau tajamnya, ia mulai melancarkan aksinya yang diikuti oleh Bastev dari belakangnya. Bastev berusaha melindungi Glorria istrinya, sedangkan Dezi dan Louis berjalan menuju ruang bawah tanah sesuai arahan Glorria.
Louis yang begitu lincah dan mahir dalam menggunakan senjatanya, dengan cepat ia menembakki para anak buah Zaidan, yang begitu banyak sedang menjaga pintu gerbang ruang bawah tanah.
Sedangkan Zaidan dia tertawakan terbahak-bahak dengan suara musik yang begitu kencang, didalam kamarnya dan ditemani dua orang perempuan yang sudah tak mengenakan busananya.
Zaidan menikmati setiap goyangan erotis dan sentuhan para wanita-wanita penghibur tersebut. Seorang wanita dengan perawakan seksinya sudah berada diatas tubuh Zaidan.
"Oyeahhh!! Oyeahhh.." Wanita itu terus mendesah,
"Oyeahhh baby akhhh!!!!"
Zaidan terus mendesah sambil meremas pepaya gantung yang besar dan montok.
Menikmati setiap liukan dan goyangan dari bokong semok perempun tersebut, hingga tanpa ia ketahui jika diluar rumah megahnya sedang terporak-porandakan oleh para anak buah Bastev.
DORRRRR.. DORRRRR..!!!!
Bastev terus menembakki para anak buah Zaidan, yang akan berusaha menembak Glorria, sedangkan Glorria ia tak henti-hentinya memotong leher-leher para anak buah Zaidan dengan brutal tanpa ada ampun sedikitpun.
__ADS_1
Kedua suami istri ini begitu kompak dalam melakukan penyerangannya terhadap musuh-musuh mereka, Bastev tidak mau meninggalkan posisi Glorria sedikitpun dia masih terus mengikuti setiap langkah Glorria.