KEJAMNYA MAFIA CANTIK

KEJAMNYA MAFIA CANTIK
Bakar rumah itu


__ADS_3

Ternyata Glorria sedang berada dikandang sapi, ia sedang sibuk memasukkan sapi-sapinya "gadis kecilku kamu dimana nak?" Dallen terus berputar-putar mengelilingi rumahnya.


Setelah tidak mendapati Glorria disekitaran rumah Dallenpun berlari kekandang kuda dan sapinya, Dallen melongo melihat Glorria yang sibuk mengiring sapi-sapinya untuk masuk kandang. Dallen tidak kuat menahan rasa sedihnya iapun menitikkan airmata, Dallen tak menyangka jika anak sekecil Glorria sudah paham akan pekerjaan orang dewasa. Dallen tidak ingin melihat Glorria melakukan pekerjaannya, Dallenpun menghampiri Glorria lalu ia menggendongnya sambil menggiring sapi-sapinya masuk kandang, "Uncle sudah pulang? Tadi ada sahabatku datang Uncle" tutur Glorria


"Siapa gadis kecilku?" Tanya Dallen "Basten Uncle dia datang menemuiku, dan menanyakan aku kenapa tidak masuk sekolah lagi" jawab Glorria, Dallen berjalan masuk kedalam rumahnya dengan menggendong Glorria.


Dallen membelikan satu buah mainan untuk Glorria, karena ia mendapatkan uang hasil penjualan susunya hari ini sangat lumayan.


Glorria ia terdiam saat Dallen membrikan mainan untuknya "jei gadis kecil kesayangan Uncle kenapa diam? Apa kamu tidak menyukainya?" Tanya Dallen penasaran "tidak Uncle bukan seperti itu, aku suka dengan mainan ini, tapi apa tidak sebaiknya uang Uncle di tabung saja agar kita bisa jemput Mammy dan Daddy Uncle" ujar Glorria dengan mimik sedih, Dallen sangat sedih mendengar celotehan Glorria, yang menginginkan segera bertemu dengan kedua orangtuanya.


"Gadis kecilku kamu tak perlu pikirkan itu, biar itu menjadi urusan Uncle sayang, nanti kita pasti akan bertemu oke" tutur Dallen"hemm Uncle ini, memangnya urusan Uncle dan urusanku apa bedanya?" Tanya Glorria "hemm karna kamu masih kecil, dan belum waktunya memikirkan hal itu, sedangkan Uncle orang dewasa jadi semua itu Uncle yang memikirkannya apa kamu faham?" Jawab Dallen sambil menjawil hidung mancung Glorria


Glorria ia hanya mengagukan kepalanya mendengarkan perkataan Dallen, Dallenpun segera mengantar Glorria kedalam kamarnya, yang sudah terlihat mengantuk. Setelah melihat Glorria tertidur pulas Dallenpun keluar dari dalam kamar Glorria, hari ini ia sangat lelah maka dari itu Dallenpun tertidur dengan begitu cepat.


Peletokk.. Peletokk.. "Flora.. Flora.."


Glorria tersentak kaget karena ia mendengar seseorang memanggil dirinya, Glorriapun segera terbangun karena ia mendengar suara seseorang yang mengetuk jendela kamarnya. Glorria yang memiliki insting begitu kuat, ia langsung beranjak dari tempat tidurnya Glorria berjalan dengan mengendap-ngendap kearah jendela, dengan perlahan Glorriapun segera membuka jendelanya sambil celangak celinguk mencari suara yang memanggilnya.


"Hay Flora, aku disini"


Glorria yang sudah membuka jendela kamarnya ia terus celangak-celinguk memperhatikan kesekitaaran rumahnya, dan yang memanggilnya itu adalah Basten yang bersembunyi dibawah jendela.


Glorria menutup mulut dengan kedua tangannya, "Basten kamu?" Glorriapun segera membantu Basten untuk naik keatas jendela kamarnya.


"Basten bagaimana bisa kamu datang kerumahku? Kamu dengan siapa datang kesini.. Ini sudah larut malam Basten" tutur Glorria


Bastian hanya nyengir kuda mendapat pertanyaan dari Glorria, Glorria membawa Basten masuk kedalam kolong ranjang milikinya. "Flora aku punya ini untukmu, dan itu alasannya kenapa aku datang kemari ambillah" Basten meberikan sebuah celengan Panda kepada Glorria yang lumayan cukup besar, "apa ini Basten?" Tanya Glorria kebingungan melihat celengan persis seperti boneka panda. "Ini celenganku untuk mu Flora, kamu simpan baik-baik uang ini bisa kamu gunakan untuk menjemput Mammy dan Daddy kamu" jawab Basten

__ADS_1


"Tapi Basten jika orang tuamu mengetahuinya bagaimana? Nanti pasti akan jadi masalah besar untukmu" ujar Glorria "kamu tenang saja kedua orang tuaku tidak akan mengetahuinya Flora" ucap Basten, disaat keduanya sedang asyik mengobrol tiba-tiba pengawal Basten memanggil Basten, dari luar jendela.


"Tuan.. Tuan Basten" suara dari pengawal Basten kembali terdengar dari balik jendela kamar memanggil Basten.


Bastenpun segera keluar dari kolong tempat tidur Glorria, dan ia langsung berpamitan kepada Glorria.


Keesokan harinya dipagi hari Glorria sudah terbiasa terbangun lebih awal, Glorria langsung mesuk kedalam kamar Dallen namun ia tak mendapati Dallen didalam kamarnya, Glorriapun kembali berjalan keluar untuk mencari keberadaan Dallen.


Namun tetap sama ia tak melihat Dallen, suara Molly kuda kecil miliknya terdengar bising dan loncat-locat terus dikandangnya. Glorriapun berlari menghampiri Molly, "hey Molly kamu kenapa nangis? Cup cup.. Sudah jangan menangis aku disini Molly" Glorria melihat kuda besarnya tak ada didalam kandang Glorria kemabli celangak-celinguk mencari induk kuda, "ibu mu kemana Molly kenpa tidak bersamamu?"


Glorria terus berteriak dan memperhatikan kesekitaarnya, ia berjalan memutari rumah dan kandang kuda serta sapinya mencari keberadaan induk kuda namun ia tak mendapatinya. "Uncle..!! Uncle..!! Kamu dimana?!" Glorria kembali berteriak memanggil Dallen yang sama tak ia lihatnya, akhirnya tangisan Glorriapun pecah karena ia ketakutan akan ditinggal oleh Dallen begitu saja.


Glorria berjongkok dengan memeluk kedua lututnya, ia terus menangis karena Dallen tak kunjung datang. Dallen yang baru saja tiba di rumahnya, ia berlari kearah suara dimana Glorria sedang menangis pilu.


Dengan cepat Dallenpun menggendong dan memeluk tubuh mungil Glorria, ''gadis kecil kesayangan Uncle, kenapa menangis ha ada apa denganmu sayang? Tanya Dallen panik, Glorria menatap Dallen dengan begitu dalam. "Uncle kenpa meninggalkan aku, aku sudah berputar-putar mencarimu Uncle hikss hikss" ujar Glorria dengan lirih, hati Dallen benar-benar tersentuh melihat tangisan Glorria.


"Gadis kecil kesayangan Uncle tidak boleh cengeng, Uncle tidak meninggalkanmu sayang" ujar Dallen menenangkan Glorria "tapi tadi Uncle tidak ada, aku sudah mencari mu kemana-mana hikss hikss" Glorria terus menangis sambil memeluk erat tubuh kekar Dallen. "Baiklah Uncle janji tidak akan meninggalkanmu lagi, asal gadis kecil Uncle ini berjanji berhenti menangis"


Dallenpun segera menurunkan tubuh Glorria dari gendongannya, dan tanpa disengaja ia melihat dan menajamkan pendengarannya memastikan keberadaan indok kuda miliknya, namun sama sekali ia tak mendengarnya, Dallenpun berlari keujung ladang miliknya karena banyak burung-burung berkerumun disana.


Deg..


Hati Dallen tersentak saat ia melihat induk kuda sudah tergeletak dan bersibah darah diatas rumput, Dallenpun berjalan mendekati induk kuda ia terus memperhatikan luka yang didapat oleh kudanya, setelah ia memastikan dari jarak yang cukup dekat, ternyata kudanya mendapatkan luka tembak.


"Siapa yang sudah melakukan ini?" Dallen berbicara sendiri sambil memperhatikan kudanya yang sudah tak bernyawa, hati Dallen semakin cemas dan khawatir jika keberadaan Glorria telah tercium oleh pihak musuh Annabella.


Peristiwa beberapa hari lalu, dimana Basten merayakan ulangtahunnya, Bente menangis tersedu-sedu karena gaun milikinya rusak dan kotor oleh Glorria, Bente berlari menghampiri ibunya. "Mammy gaunku rusak hikss hikss" teriak Bente sambil terus menangis, "kenapa dengan gaunmu sayang kenapa bisa seperti ini?" Tanya ibunya Bente penasaran "ini semua Flora Mammy yang melakukannya Mammy hikss hikss." "Siapa dia Flora?" Ibunya Bente kembali bertanya kepada Bente yang tak henti-hentinya menangis, "Flora itu teman satu sekolahku dia anak tukang susu Mammy" tutur Bente

__ADS_1


"Ibunya Bente begitu geram terhadap Glorria "iyasudah kamu jangan menangis lagi nanti kita akan beli yang baru"


Sesampainya dirumah Anemi ibunya Bente segera memberi tahukan suaminya Allison.


"Sayang kamu lihatlah gaun mahal milik putrimu, gaunnya dirusak oleh anaknya tukang susu yang ada diujung ladang sana" tutur Anemi, ua langsung menceritakan semuanya kepada Alison mengenai Flora dan Dallen. "Kenapa bisa terjadi, apa anak tukang susu itu ikut juga diacara ulang tahun Basten"


"Tentu saja anak tukang susu itu ikut, karena Ariane sendiri yang mengundangnya,


sebaiknya kamu segera kasih mereka pelajaran, karena anak mereka sudah membuat putri kita menangis." Tutur Anemi, Allisonpun mengepalkan kedua tangannya, setelah ia mendengar penuturan Anime istrinya.


Dimalam hari para anak buah Allison, pergi ketempat Dallen, dan mengeluarkan induk kuda milik Dallen dan menembaknya begitu saja.


Dallenpun segera menguburkan induk kudanya, "Uncle kenpa Mammynya Molly meninggalkan Molly apa dia sakit?" Tanya Glorria "Iya gadis kecilku Mammynya Molly sedang sakit mangkanya dia meninggal." "Hemm kenpa Uncle tidak membawanya berobat seprti mobil Uncle, mungkin kalau Uncle tepat waktu membawanya berobat dia tidak akan meninggal Uncle" Dallen tidak menjawab celotehan Glorria, ia masih memikirkan luka tembak yang didapatkan oleh kudanya.


Dallenpun kembali berjalan dengan menggendong Glorria dan masuk kedalam rumahnya, tidak terasa haripun sudah menjelang malam, Dallen sudah berada didalam kamarnya begitupun juga dengan Glorria, Ia sedang asik memeluk kedua celengannya yang satu miliknya dan yang adalah pemberian Basten.


Sedangkan Dallen ia sudah memasukkan kedua senjata dan pisau belati pemberian Yohana kedalam tas ranselnya, hati Dallen sudah mulai tidak tenang dengan peristiwa yang sudah menimpa dengan kudanya tadi siang, Glorria tiba-tiba ia masuk kedalam kamar Dallen, Glorria menatap wajah Dallen yang terlihat gelisah Dallenpun berjalan kearah kamar mandi, sedangkan Glorria ia kembali masuk kedalam kamarnya dengan memeluk kedua bonekanya yaitu celengannya.


Dorrr.. Dorrr.. Dorrr.!!


Dallen yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, ia terjingkat kaget saat mendengar suara tembakan dari samping rumahnya. dengan sigap ia mengambil tas ransel yang berisikan kedua senjata dan pisau belatinya, Dallen berlari kearah kamar Glorria, dengan cepat ia menggendong tubuh Glorria dan membawanya keluar melalui pintu belakang rumahnya.


Suara tembakan terus terdengar, hingga suara teriakan dari para pria yang tak dikenal oleh Dallen terdengar begitu ramai. "Ayok bakar rumah ini cepat!!" salah seorang dari mereka memberikan perintah untuk membakar rumah Dallen, sedangkan Dallen dia sudah berhasil keluar dengan menggendong Glorria, tanpa ada rasa lelah Dallen terus berlari terpontang-panting menjauh dari rumah miliknya.


Setelah beberapa menit kemudian kobaran api dan ledakan, terlihat jelas dari kejauhan jika rumah miliknya sudah terbakar oleh api.


Glorria yang melihat akan kobaran api ia tak bersuara sedikitpun, seolah-olah ia mengerti dengan keadaan genting yang sedang oleh dihadapi Dallen saat ini, untungnya ladang Dallen tak jauh dari hutan maka dengan mudahnya Dallen berlari menerobos hutan, hingga ia tak sadar jika ia berlari sudah sangat jauh.

__ADS_1


Sampai-sampai Glorriapun sudah terlelap tidur dalam gendongan Dallen dan tak lepas memegangi kedua bonekanya, tak terasa malam sudah berganti pagi, Dallenpun sudah mulai merasa kelelahan dengan kedua kakinya, Ia pun mencari tempat untuk beristirahat.


Dallen menyenderkan tubuhnya dibalik pohon besar, dengan tubuh kecil Glorria dipindahkan posisinya keatas dada bidangnya, keduanyapun tertidur dengan begitu lelap dibawah pohon besar.


__ADS_2