
Dua tahun kemudian kepergian Glorria dari kediamannya, Annabella beserta keluarga dan para anak buahnya sudah berpindah kemabli kerumah megah milik Annabella yang sebelumnya, yang sempat diambil oleh Aubert. Setelah kepergian Glorria, Bastev sudah mengembalikan semua harta dan rumah megah yang telah jatuh ketangannya, semuanya ia kembalikan kepada Annabella.
Bastev memutuskan untuk pindah ke Paris dan ia juga membawa ibunya Ariane ke Paris, sedangkan Bente dengan ibunya Anime mereka tetap tinggal di Belanda, karena Bastev juga sudah memberikan rumah megah beserta markas milik Aubert. Kini Bastev tak berkecimpung di dunia Mafia ia menggeluti bisnis heroinnya dan bisnis lainnya.
Sedangkan Deborah ia masih melanjutkan kuliahnya, Deborah yang selama ini menyukai Bastev, kini mereka telah resmi berpacaran dan mendapatkan restu dari dua belah pihak. Meskipun sebenarnya Bastev tak memiliki rasa sedikitpun terhadap Deborah, tapi atas permintaan Annabella dan Alexander yang sudah menganggap Bastev seperti anak mereka sendiri, Bastev terpaksa menuruti kemauan kedua orang tua Deborah.
Bastev dia tidak bercerita pada siapapun tentang hubungannya dengan Glorria,
uasia Deborah kini sudah genap dua puluh dua tahun, namun Deborah tak seperti Glorria yang begitu mandiri dan dewasa, hal itu yang membuat Bastev terkadang lelah untuk mengimbangi sifat Deborah yang masih kekanak-kanakan.
Sedangkan Dallen ia masih terpukul dengan kepergian Glorria gadis kesayangannya, Dallen sudah sangat jarang sekali keluar kamarnya. Meskipun Annabella dan Alexander serta Maicon, hampir setiap hari membujuk Dallen. Tapi tatap saja Dallen masih larut dalam kesedihannya, sedangkan Alexander ia sudah seperti dahulu lagi, mengelola demua bisnis miliknya yang sempat dia tinggalkan, begitupun dengan tubuhnyapun sudah tak kurus kering lagi.
Di siang itu Bastev sedang berada diruang kerjanya, namun secara tiba-tiba pintu kantornya dibuka oleh Deborah tanpa mengetuk pintu terselebih dahulu. "Hemm kenpa kamu kebiasaan sekali kalau datang tidak pernah ketuk pintu Deborah?" Tanya Bastev dengan mimik wajah kesalnya.
"Ini kan kantor kekasihku jadi yang ada di dalamnya hanya kamu sayang, jadi aku tidak perlu untuk mengetuk pintu dulu" jawab Deborah sambil gelayutan di dada bidang Bastev.
Bastev hanya menghela nafas saat mendengar penuturan Deborah, yang persis seperti anak kecil.
"Sayang apa kamu sudah makan siang? Bagaimana kalau hari ini kita makan di restoran milik Mammy yang baru di buka itu, kata Mammy banyak sekali menu-menu enak di sana" tanya Deborah kepada Bastev.
"Kamu kalau mau makan, makan saja karena aku sudah makan siang kenapa" jawab singkat Bastev
"Hemm yahh tidak jadi dong kalau begitu, niatnya aku ingin mengajakmu makan siang bareng di restoran Mammy" jawab Deborah dengan ketus, karena dia sudah terlanjur kesal lagi-lagi ajaknya di tolak Bastev.
"Lain kali saja ya, karena hari ini aku harus bertemu dengan Uncle Dallen, dan aku juga urusan yang harus di selesaikan dengan para klien" jawab Bastev
"Ketemu Uncle Dallen? Memangnya kalian mau kemana? Kenapa mau ketemuan dengan Uncle Dallen" tanya Deborah dengan penasaran
__ADS_1
"Tidak kemana-mana aku hanya ada urusan saja dengan Uncle Dallen, urusan pekerjaan yang akan kami bahas" mendengar penjelasan Bastev, akhirnya Deborahpun kembali pulang yang diantarkan oleh Bastev beserta anak buahnya. Annabella dan Alexander yang melihat mobil milik Bastev datang, mereka segera menghampiri Bastev. Bastevpun terpaksa turun dari mobilnya dan ia menyalami kedua orangtua Deborah.
"Ada nak Bastev, silahkan masuk nak Bastev kita ngopi dulu" ajak Annabella dan Alexander, namun Bastev menolak untuk masuk saat ia melihat Dallen sudah berjalan menghampirinya.
Akhirnya Bastevpun kembali berpamitan kepada Annabella dan Alexander, dan ia masuk kedalam mobilnya yang diikuti oleh Dallen.
Kini Bastev dan Dallen sudah berada didalam mobil menuju bandara, karena Dallen meminta diantarkan Bastev ke Bandara, Bastev sendiri tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Dallen, kenapa Dallen mengajaknya pergi kebandara. Bastev menatap Dallen yang terlihat kurus dan tak terurus, "Uncle ada apa sebenarnya? kenapa Uncle mengajakku kebandara?" Tanya Bastev penasaran.
Tanpa menjawab Dallen langsung menggenggam kedua tangan Bastev, dengan tatapan kedua matanya terlihat sendu.
"Nak Bastev apa masih mencintai Nona besar?" Tanya balik Dallen secara tiba-tiba dia bertanya seperti itu kepada Bastev.
Sontak saja pertanyaan Dallen mebuat Bastev terkejut dan bingung, karena Bastev tak menyangka jika Dallen mengetahu isi hatinya, mau tidak mau Bastevpun menjawab pertanyaan Dallen apa adanya.
"Ya Uncle aku masih sangat mencintainya sampai detik ini, tak ada yang bisa menggantikan Flora dalam hatiku Uncle" tutur Bastev
"Lalu bagaimana jika suatu saat Nona besar kemabli apa yang akan anda lakukan nak Bastev?" Dallen kembali bertanya.
"Lihatlah ini nanti nak Bastev akan tahu." Tutur Dallen sambil tersenyum, dan ia kembali terdiam dengan menggenggam remote kontrol yang ia peganginya. tidak lama kemudian mobil yang dinaiki Dallen dan Bastevpun telah tiba di Bandara, dengan tergesa-gesa Dallen segera turun dari dalam dan ia mulai mengarahkan remote kontrol tersebut, Dallen terus berjalan mengikuti arah dari remote kontrol yang ia pegangnya.
Bastev yang kebingungan dia hanya berjalan mengikuti Dallen turun dan ia pun mengikuti arah Dallen berjalan, remote kontrol yang di pegang oleh Dallen mengarh ke sebuah parkiran dan penitipan motor, Dallen terus berjalan namun tiba-tiba lampu remote kontrol terhenti disalah satu motor yang ditutupi oleh kain penutup.
Bastev dia berdiri di belakang Dallen memperhatikan apa yang dilakukan Dallen, wajah dan yang terlihat bahagia dengan senyumannya yang mengembang.
Bastev masih terdiam memperhatikan motor yang masih tertutup oleh kain, dengan debu yang sudah menempel begitu pekat, dengan perlahan Dallen mulai menarik kain penutup motor tersebut.
DEG..
__ADS_1
Hati Dallen tersentak bukan main saat ia melihat motor yang ada dihadapannya, yang tak lain itu adalah motor yang pernah ia belinya untuk Glorria, Dallen terus menerus memperhatikan bentuk dan motif yang terdapat dari motor berwarna merah tersebut. Dallen teringat akan nama dirinya dan nama Glorria yang pernah ia tulis dibagian bawah mesin motor tersebut.
Dengan Dallenpun segera berjongkok dan ia melihat kearah bawah mesin motor dan sebelah tangannya meraba-raba kolong mesin, dan benar saja namanya dan nama Glorria nampak dibawah mesin motor tersebut. Dengan begitu refleks Dallen memeluk Bastev, karena ia begitu yakin jika Glorria masih hidup namun entah dimana keberadaannya sekarang.
Bastev ia masih terdiam bingung dengan ekspresi Dallen yang tiba-tiba terlihat begitu bahagia, saat melihat motor yang ada dihadapannya.
"Uncle ada apa sebenarnya tolong katakan?" Tanya Bastev penasaran.
"Nak Bastev apa tidak mengetahuinya motor ini milik siapa?" Tanya balik Dallen kepada Bastev, Bastev menggelengkan kepalanya karena dia tidak tahu dengan motor yang ada dihadapannya.
"Nak Bastev ini adalah motor milik gadis kecilku, maksudnya milik Nona besar nak Bastev" seketika wajah Bastev berubah pucat pasi, mendengar penuturan Dallen tentang Glorria antara senang dan bingung. Bastev sangat bahagia mendengar kabar tersebut, namun pikiran Bastev malah bercabang kemana-mana.
Karena saat ia sudah menjalin hubungan dengan Deborah adik dari Glorria, meskipun Bastev tidak memiliki hati kepada Deborah namun ia tak ingin menyakiti hati Annabella dan Alexander yang begitu baik kepadanya.
"Apa Uncle serius dan yakin dengan apa yang di ucapkan Uncle ini?" Tanya Bastev kembali memastikan dengan rasa yakin Dallen.
"Tidak nak Bastev ternyata Uncle salah Uncle terlalu memikirkan Nona besar, Uncle pikir ini adalah motor milik Nona besar namun ternyata bukan." Dallen meralat perkataannya kepada Bastev, setelah Dallen melihat ekspresi wajah Bastev yang tiba-tiba berubah saat mendengar kata Glorria masih hidup.
"Uncle ini ada-ada saja sebaiknya kita kembali pulang Uncle, jangan terlalu dipikirkan Uncle Flora sudah tenang dan dia tidak mungkin kembali lagi di kehidupan kita." Ucap Bastev sambil mengajak Dallen untuk kembali pulang dan ia mulai menguatkan Dallen.
Beberapa tahun silam saat Dallen membelikan motor untuk Glorria, Dallen di berikan sebuah remote oleh pihak penjual motor yang telah dipesan oleh Dallen. Pada saat itu Dallen lupa tidak memberikan remote tersebut kepada Glorria, Dallen malah menyimpannya disembarang tempat begitu saja. Namun ketika Dallen ikut pindah rumah dengan Annabella, para asisten yang membereskan barang-barang milik Dallen dengan begitu telatennya, para asisten merapikan barang-barang milik Dallen hingga tak ada satupun yang tertinggal.
Hingga saat Dallen ingin mencari alat cukurnya didalam laci, tiba-tiba ia menemukan remote tersebut, Dallen mengambil dan memperhatikan remote yang tak begitu besar tersebut. Hingga ia teringat jika remote tersebut adalah remote motor Glorria, namun Dallen belum mengetahui pungsinya remote tersebut.
Hingga akhirnya ia mencoba mencari tahu tentang remote tersebut, dan pada akhirnya Dallenpun mengetahuinya jika remote tersebut adalah remote kontrol, untuk melacak keberadaan motor, jika motor tersebut dicuri oleh orang yang tak diketahui.
Bastev dan Dallen kini mereka telah tiba di kediaman Annabella, namun Alexander dan Annabella sedang tak ada di kediamannya, akhirnya Bastevpun berpamitan kepada Dallen dan juga Drak yang kebetulan ada dirumah. Wajah Dallen begitu terlihat bersemangat setelah ia menemukan motor Glorria, yang terparkir di sebuah penitipan Bandara. Drak yang tahu betul sikap Dallen merasa aneh dengan perubahan Dallen yang secara tiba-tiba senyum-senyum sendiri, dan dia sudah mau makan dengan begitu lahapnya, padahal selama ini Dallen jarang memakan makanan yang di antarkan oleh para asisten.
__ADS_1
Tanpa Drak ketahui jika Dallen memang sedang berbahagia akan menyambut kedatangan Glorria, meskipun ia tidak mengetahui kapan Glorria akan kembali. Karena Dallen sudah sangat khawatir dengan keluarga Alexander dan Annabella yang selalu menjadi incaran para musuhnya, saat Annabella kembali menduduki jabatannya sebagai ketua Mafia Paris, kini Annabella sudah tak sehebat dulu lagi Annabellapun sering mengalah terhadap musuh-musuhnya.
Jika mendapatkan seranganpun Annabella akan memilih mundur, dari serangan-serangan pihak musuh ketimbang menyerang balik para lawanya.