
"Tahulah Mammy, Aunty aku juga bingung dengan sikap Bastev" ujar Bente sambil berjalan mengikuti Ariane dan ibunya. "Bente sayang, Aunty harap kamu bisa sabar untuk menghadapi sikap Bastev, lambat laun Bastev pasti akan terbiasa dengan adanya kamu" tutur Ariane mencoba menenangkan Bente, Bente dia hanya menganggukkan kepalanya dengan apa yang dikatakan oleh Ariane.
Sedangkan Bastev dia kembali keluar dari rumahnya dan ia kembali menaiki mobil mewahnya, Bastev berniat akan pergi ke suatu tempat yang bisa membuat dirinya tenang dan damai, selama delapan belas tahun ini Bastev akan selalu mengunjungi tempat tersebut. Yang lumayan cukup jauh dari kediamannya, yang tak lain tempat tersebut adalah bekas tempat tinggalnya Glorria.
Bastev akan selalu menghabiskan waktunya sampai berjam-jam dilahan yang sudah kosong tersebut, dengan harapan Glorria akan kembali datang untuk menemui dirinya. Bahkan Bastev sampai membeli lahan kosong itu dengan harga yang sangat lumayan, Bastev juga sudah mengatasnamakan Glorria sahabatnya kecilnya.
Tidak berselang lama Bastevpun telah tiba dilahan kosong tujuannya, dia segera memarkirkan mobil mewahnya disembarang tempat Bastev berjalan keluar dari dalam mobilnya. Bastev terus berjalan menyusuri rumput-rumput ilalang yang sudah cukup tinggi, sepanjang perjalanannya Bastev tak lepas memperhatikan rumput ilalang yang sebagian banyak yang roboh, seperti terinjak-injak dan artinya ketempat itu ada yang datang.
Bastev mempercepat langkah kakinya dan mengikuti jejak kaki yang masih terlihat jelas, setelah mengikuti jejak kaki seseorang yang tidak diketahuinya dan ternyata jejak tersebut menuju ketempat biasa dia duduk. Bastevpun segera duduk diatas hamparan batu-batu kecil yang sudah dia pasang sejak lama, "Flora andaikan saja dirimu ada disini, mungkin tempat ini tidak akan seperti ini dan pastinya masih akan terawat" gumam Bastev
Namun tanpa Bastev sadari sebelah tangan kirinya telah menyentuh sesuatu yang tak lain itu adalah selembar kain yang ditindih oleh batu kecil, Bastev langsung mengambil bungkusan kain kecil yang ditumpangi oleh batu tadi, dan saat dia membukanya ternyata di dalamnya ada sebuah jepitan dan helaian rambut yang menempel.
Kedua mata Bastev terbelak saat dia melihat jepitan tersebut dan dia jelas mengingatnya siapa pemilik jepitan tersebut, Bastev tertawa sambil memeluk robekan kain yang ditinggalkan oleh Glorria, seketika hati Bastev berdenyut kencang karena dia sangat senang sahabat kecilnya telah kembali. Bastev yakin jika Glorria sudah kembali "YaTuhan terima kasih engkau telah kembali membawa Floraku, hari ini aku benar-benar bahagia" ucap Bastev
__ADS_1
Bastev terus menciumi kain dan jepitan yang ada di genggamannya dia terus tertawa, dan sesekali berteriak memanggil nama Flora. Bastev segera menyimpan robekan kain dan jepitan milik Glorria, dia berlari terkocar-kacer ke arah mobilnya entah apa yang akan dia lakukannya yang jelas saat ini hatinya sedang berbunga-bunga.
Dengan cepat Bastev mencari secarik kertas dan pena, setelah mendapatkan yang dia carinya Bastev langsung menuliskan sesuatu didalam kertas tersebut, "Flora hari ini aku sangat bahagia, karena kamu telah kembali menemuiku, terimakasih Flora tolong hubungi aku" ucap Bastev dalam suratnya, dan dia kembali berlari ke tengah-tengah lahan kosong untuk menaruh kertas yang sudah dia isi dengan kata-katanya, Bastevpun tidak lupa menaruh batu diatas kertas tersebut agar tidak terbang tertutup angin.
Disisi lain Annabella "nyonya Annabella bangun dan makanlah ini" ucap Micer mebari menaruh makanan disamping jeruji besi, seperti biasa Micer datang dengan memberikan makanannya, namun kali ini wajah Micer terlihat berbeda dari biasanya dia terlihat sedih dan murung. "nyonya sebelumnya saya minta maaf, karena hari ini adalah hari terakhir saya memberikan anda makan, karena mulai nanti malam saya sudah dipindah tempat oleh tuan Aubert" ujar Micer dengan lirih
Annabella langsung menghentikan suapan nasi kemulutnya saat dia mendengar kata-kata Micer akan dipindahkan dari pulau tersebut, dengan berat Annabella menarik nafasnya dalam-dalam "baiklah Micer jaga dirimu baik-baik, dan tolong jika kau sudah keluar dari pulau ini kau cari tahu keberadaan putriku Micer" jawab Annabella sembari memelas
"Iya nyonya itu sudah pasti akan saya lakukan, tapi apa putri anda memiliki ciri-ciri yang bisa dikendali?" Tanya balik Micer, Annabella ia kembali terdiam mengingat-ingat apa yang bisa dikenali dari wajah Glorria, karena dia sendiri tidak memiliki fhoto ataupun lain sebagainya untuk memberitahukan Micer.
Dengan berat hati Micerpun terpaksa pergi meninggalkan Annabella ditengah pulau tersebut, begitupun dengan Annabella sendiri hatinya begitu sedih melihat kepergian Micer yang selama ini selalu memberikannya makan. Tanpa terasa buliran bening menetes dikedua pipi Annabella "aku harus kuat demi kedua putriku, aku yakin mereka pasti akan mencari keberadaanku" gumam Annabella berbicara sendiri, diapun kembali memakan makanan yang diberikan Micer tadi dan segera menghabiskannya.
Sedangkan Micer kini dia sudah berada diatas kapal Ferry, yang khusus digunakan untuk para anak buah Aubert jika menyerang ke pulau tersebut. Tidak lama kemudian Micerpun telah tiba tepi pantai Belanda, "Micer ini uang untukmu dari tuan Aubert, dan kau telah diberhentikan oleh tuan Aubert" tutur sahabat Micer sambil memberikan uang gaji milik Micer.
__ADS_1
"Hey kawan bagaimana bisa aku di berhentikan, aku tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat tuan Micer marah kepadaku" jawab balik Micer dia tidak terima karena secara tiba-tiba dia langsung dipecat oleh Aubert majikannya.
"Kau memang tidak salah, tapi tuan Aubert sudah memiliki anak buah yang cukup banyak, jadi bukan kau saja yang dikeluarkan tapi banyak yang lainnya juga sama seperti kau, dan yang aku dengar kalau penjagaan di pulau itu akan digantikan dengan anak buahnya yang masih muda-muda begitu" jawab balik sahabatnya Micer
"Owh begitu baiklah kawan aku ucapkan terimakasih banyak, sampai berjumpa kembali" ucap Micer sambil melambaikan tangannya kearah temannya yang sama-sama melambaikan tangan kearahnya.
Kembali ke Glorria dan kedua Unclenya yang kini sudah tiba ditempat penginapan mereka,
"huaa aku ngantuk sekali Uncle manis dan Uncle Dallen, sepertinya aku akan tidur terlebih dulu daripada kalian" ucap Glorria dia berpura-pura menguap seolah-olah dia benar-benar mengantuk, didepan kedua Unclenya.
Drak dan Dallenpun langsung menyuruh Glorria untuk pergi beristirahat dan tidur,
Glorriapun langsung berjalan dan masuk kedalam kamarnya. Sesampainya didalam kamar Glorria segera membuka isi kopernya, dengan cepat Glorria mengambil kedua senjatanya dan mengisinya dengan amunisi.
__ADS_1
Setelah kedua senjatanya terisi dengan amunisi, Glorriapun segera menyembunyikannya dibawah bantal, karena secara tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Dengan cepat Glorriapun naik keatas tempat tidurnya dan ia berpura-pura sudah tertidur, "gadis kecilku tidurlah dengan nyenyak, semoga semua harapanmu menjadi kenyataan" ucap Dallen yang seperti biasa jika Glorria sudah tertidur dia akan mencium pucuk kepala Glorria, dan menyelimutinya.
Dallenpun kembali berjalan keluar dari dalam kamar Glorria dan kembali menutup pintu, kasih sayang Dallen memang tidak dapat ditukar dengan apapun, meskipun Glorria sudah beranjak dewasa tapi dia masih memperlakukan Glorria seperti gadis kecilnya yang dulu.