
"Saya ingin mengajak anda untuk bergabung di arena pertandingan MMA dikota Tokyo, jika anda menyetujuinya maka hari inipun saya akan segera memberikan kontrak kerja untuk anda" ucap pria itu sambil menatap kearah Glorria, yang masih dipenuhi dengan darah Buaya.
"Maaf tuan untuk saat ini saya belum siap, karena saya tidak memiliki bakat untuk ikut pertandingan MMA." Jawab Glorria dengan membrikan secarik kertas tersebut kepada bos pemilik tempat tersebut. "Owh jadi seperti itu, baiklah saya tidak akan memaksa anda, tapi jika anda sudah siap anda bisa hubungi saya langsung Nona terimakasih." Jawab balik pria itu. Akhirnya Glorria pun menganggukkan kepalanya dan ia berpamitan untuk kembali pulang kerumahnya.
Sedangkan kedua Auntynya, mereka di sibukan dengan mengurus Annabella serta kedua anak-anak mereka, meskipun kehidupan Glorria saat ini begitu sederhana, tapi saat ini Glorria sudah bisa merasakan hidup lebih tenang tanpa ada yang di takutinya. Meskipun ia belum berhasil menemukan Deborah adiknya, tapi ia yakin jika Deborah baik-baik saja bersama Louis.
Setiap hari Deborah akan pulang sore hari, dengan membawa hasil yang cukup lumayan untuk kebutuhan sehari-hari mereka.
Meskipun ia masih memiliki uang yang cukup banyak dan takkan habis untuk 7 turunan, namun Glorria tak ingin memperlihatkan siapa dirinya itu kepada orang-orang di sekitarnya, Glorria lebih memilih hidup sederhana tapi setidaknya ia bisa menikmati hidup normalnya saat ini dengan kedua Aunty dan Unclenya.
Sampai saat ini Glorria masih belum bisa berbicara, meskipun saat ini ia sedang menjalani terapi. Entah sampai kapan ia akan kembali berbicara seperti semula lagi.
➡️➡️➡️
Glorria, dia kembali pulang kerumah kecilnya dengan rasa lelahnya seketika hilang saat ia melihat sikecil sudah pintar merangkak. Putri kecil Glorria begitu cantik meskipun ia masih bayi, dengan memiliki kedua bola mata yang sangat persis dengan Glorria. Meskipun rasa lelah ditubuh Glorria masih terasa, tapi kepulangannya kerumah ia sudah disambut oleh 3 bayi yang sudah pintar merangkak dan berceloteh.
Senyuman cantik Glorria terpancar dari wajahnya, dan segera menggendong satu persatu bayi-bayi kecil yang merangkak kearahnya. Annabella dan Aiden serta Darren, mereka sudah seperti kembar dengan pertumbuhan mereka yang sama.
Tapi Annabella yang paling super aktif diantara keduanya, tidak lama kemudian Arno datang dengan membawa sayuran yang begitu banyak.
"Alice!! Alma bantu aku.." teriak Arno dari arah luar
"kau ini sebagai laki-laki tak ada kuat-kuatnya Arno, apa-apa kau selalu berteriak memanggil kami, dasar kau ini loyo" ejek Alma dan Alice, mereka bertiga akan selalu cekcok saling mengejek dan tidak pernah akur.
Arno, dia hanya nyengir kuda saat mendapatkan ejekan dari Alma dan Alice.
➡️➡️➡️
Di kediaman Bastev, ia sudah kembali pulih dari depresi yang sempat membuatnya mengurung diri selama dua tahun lamanya.
Tak terasa kini kepergian Glorria dari kehidupannya sudah lima tahun lamanya, bahkan kini Sander sudah berusia 7 tahun lebih. Sander menjadi anak yang pintar dan tampan ia tidak seperti orang-orang Jepang yang memiliki mata sipit, wajah Sander saat ini malah lebih seperti orang-orang bule dan sama seperti Bastev.
Sander tidak seperti anak-anak orang Jepang seperti yang pernah di katakan oleh Nowela pada Glorria, jika ia hamil dari hasil perkosaan oleh orang-orang Jepang terhadapnya. Bastev yang telah mengetahui kisah Sander dari Glorria, ia tak terlalu memikirkan tentang keturunan siapa dan orang mana Sander. Karena saat ini Bastev sudah sangat menyayangi Sander seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan Bastev tak memberitahukan kepada siapapun jika Sander bukanlah anak kandungnya.
Disiang itu Bastev sedang berada didalam kamar Sander.
"Hallo sayang muach muach.. hai jagoan Aunty, bagaimana denganmu nak" tanya Calista calon istri Bastev.
__ADS_1
"Bastev, sayang cepatlah bersiap-siap hari ini kita harus segera pergi kebutik untuk melihat gaun pengantin kita nanti." Rengek Calista dengan manja.
"Apa kamu tidak bisa berangkat sendiri Calista, karena sepertinya hari ini aku sedang tidak enak badan." Ucap Bastev, Calista dia mendengus kesal karena lagi-lagi ajakannya di tolak oleh Bastev, dan hal itu bukanlah yang pertama kalinya dilakukan oleh Bastev.
"Aunty sudah berangkat saja dengan para pengawal, hari ini Daddy sedang kurang sehat Aunty." Ucap Sander ikut membela Bastev ayahnya. Calista sangat kesal dengan Sander yang akan menjadi putra angkatnya nanti, karena Calista tidak pernah menyukai anak-anak tidak seperti Glorria.
"Awas saja kamu anak kecil." Gerutu Calista yang kesal dan tak suka dengan Sander, padahal banyak yang mengira jika Sander begitu mirip dengan Calista. Tapi tetap saja itu tidak membuat Calista menyukai Sander.
Calista, dia sudah bertunangan dengan Bastev, mereka telah di jodohkan oleh Ariane dan juga kedua orang tua Calista, ketua Mafia London dan sudah sejak lama bekerja sama dengan ayah Bastev dan Aubert, sewaktu Aubert masih hidup hingga kini Bastev yang menjadi penerus Aubert, Bastev masih menjalin hubungan baik dengan para ketua Mafia rekan-rekan ayahnya dulu. Bastev tidak mengetahui siapa musuh-musuh Glorria yang telah membuat Glorria kehilangan keluarga besarnya, bahkan Bastev tidak mengetahui siapa Calista yang sebenarnya yang akan menjadi calon istrinya.
Bastev, dia tak pernah berhenti menanyakan kabar tentang Glorria kepada Dezi, meskipun ia tahu jika Glorria tidak berhasil ditemukan oleh para tim penyelam. Maka dari itu Bastev masih beranggapan jika Glorria masih hidup, meskipun pihak penyelam sudah meyakini jika Glorria sudah benar-benar ikut tewas akibat kecelakaan itu.
❤️🔥❤️🔥❤️🔥
Di sisi lain, Deborah dan Louis kini mereka telah menikah, dan mereka sudah menjadi penduduk Kanada, bahkan Deborah dan Louis sudah memiliki rumah sederhana, keseharian Louis ia menggarap lahan kosong disekitar pemukiman warga.
Putra Deborah yang diberi nama Agusto yang kini sudah berusia empat tahun, di siang itu Louis berusaha membujuk Glorria agar ia mau kembali ke Paris untuk menemui keluarga besarnya.
Karena Louis tidak bisa melihat Deborah susah hidup bersamanya.
"Ayolah sayang kita kembali ke Paris, pasti keluarga besarmu sangat merindukanmu.. apa kamu tidak merindukan mereka? Kakakmu, Mammy dan Daddymu begitupun dengan Uncle-unclemu, pasti mereka masih mencari keberadaanmu Deborah sayang" ucap Louis ia terus membujuk Deborah.
Dengan penuh semangat Deborah dan Louis membuka tabungannya, keduanya tersenyum bahagia karena uang tabungan mereka begitu banyak dan cukup untuk membeli 3 tiket pesawat.
Dengan cepat Louis dan Deborah segera mengemasi semua pakaiannya.
"Daddy, Mammy apa kita akan pergi?" Tanya Augusto
"Iya sayang kita akan akan pergi menemui Grandpa dan juga Grandma." Agusto jingkrak-jingkrak, ia begitu senang akan di bawa pergi oleh kedua orang tuanya. Kini Deborah dan Louis sudah berada di Bandara, Louis tak lepas menggendong Agusto yang sudah dianggap putranya sendiri.
"Daddy apa kita akan terbang seperti pesawat itu" Tanya lagi Agusto, dia terus berceloteh sambil mengunjuk-unjuk gambar pesawat.
"Agusto Mammy bilang apa? Kamu diam jangan banyak bertanya mengerti." Deborah yang tak menyukai Agusto sejak Agusto masih didalam kandungannya, ia begitu dingin terhadap Agusto puteranya sendiri.
"Sudah kalian jangan ribut ayooo kita naik."
Ucap Louis sambil mengajak Deborah.
__ADS_1
Louis selalu sabar menghadapi Deborah yang tak bisa menerima Agusto.
🐓🐓🐓
"Annabella!! kamu dimana? Lihatlah aku sudah berhasil menangkap dua ekor ayam." Teriak Darren sambil celangak-celinguk mencari keberadaan Annabella yang tak dia lihatnya.
"Darren, lihatlah aku berhasil menangkap ikan ini, hihi bagaimana besar bukan ikan hasil tangkapan ku" ucap Aiden sembari memeluk ikan hasil tangkapannya.
"Aiden, kamu mendapatkan ikan ini dimana?" Tanya balik Darren, Aiden dia tersenyum dan mengunjuk kearah kolam ikan milik seseorang.
"Oke kamu hebat Aiden sudah berhasil menangkap ikan orang." ucap Darren memuji Aiden.
Darren dan Aiden, mereka terperangah melihat Annabella menggendong seekor ular yang cukup besar.
"Waah besar sekali ular ini, kamu sungguh luar biasa Annabella, kamu dapatkan ular ini dari mana Hana?" Tanya Darren dan Aiden.
"Sudah tidak perlu banyak bicara kalian, ayok cepat kita harus segera pulang, nanti Mammy kita marah." ajak Annabella kepada kedua saudara laki-lakinya.
Tingkah Annabella sudah seperti orang dewasa, ia selalu menjadi pemimpin diantara dua anak laki-laki yang sepantaran dengannya, yaitu Darren dan Aiden.
"Uncle----Uncle Grandpa!! Mammy.. Mammy Mammy... Kami pulang." Ketiga anak-anak kecil itu datang dengan nafas yang tersengal-sengal memanggil ibu-ibu mereka, yang sedang sibuk membuat makanan ringan untuk di pasarkan.
Glorria dan kedua Auntynya begitu juga dengan Arno, kini ia sudah pindah kerumah yang lumayan agak besar dari sebelumnya.
Kegiatan Glorria sehari-hari ia membuat keripik ikan serta sayur-sayuran yang dibantu oleh kedua Auntynya dan juga Arno. Karena Glorria sudah tidak bekerja lagi di taman hewan itu.
Glorria kini sudah dikenal oleh masyarakat setempat, sehingga pesanan tak pernah kosong setiap harinya. Orang rajin tidak akan pernah kehabisan idenya, jalan menuju kesuksesan akan selalu mengikutinya.
Arno berlari keluar rumah karena ketiga kurcaci kurcaci super aktif terus-menerus berteriak memanggilnya.
Saat Arno keluar rumahnya ia kembali dibuat melongo dengan bawaan tiga anak-anak super aktif, yang tak lain mereka adalah Annabella, Darren dan Aiden dengan masing-masing hewan bawaan mereka.
"Uncle Grandpa ini hasil buruanku hari ini" ucap Aiden sambil memberikan ikan besarnya kepada Arno, begitupun juga dengan Aiden ia memberikan ayam tangkapannya kepada Arno.
"Ini untuk Uncle Grandpa aku lelah mau masuk." Annabella menyerahkan ular besar hasil tangkapannya kepada Arno. Arno tidak berani untuk memarahi ketiga kurcaci-kurcaci yang begitu nakal.
"Alice!! Alma.. lihatlah kurcaci-kurcaci kalian membawa hewan lagi hari ini. Kalian siap-siap sebentar lagi pemilik ikan koki dan pemilik ayam pasti akan datang kerumah ini." rengek Arno sambil duduk dengan kedua tangannya penuh oleh hewan-hewan, hasil tangkapan ketiga kurcaci super nakal.
__ADS_1
Alma dan Alice hanya tersenyum terbahak-bahak melihat tingkah anak-anak mereka.
"Hahahaha ayam lagi Alma, hahaha sebentar lagi pasti kita akan diusir warga kampung Alma hikssss." Alma dan Alice sudah sangat pusing dengan ketiga kurcaci mereka, yang selalu menangkap hewan-hewan peliharaan milik warga setempat.