
Dallen ia berjalan lebih dulu dengan menggendong Deborah, didepan perutnya sedangkan Drak Iya menuntun tangan Glorria yang berada di belakangnya, Drak dan Dallen terus berjalan menuju ladang milik Paman Raul, dengan Glorria dia terus bersenandung menyanyikan lagu kesukaannya.
"Uncle manis apa kita akan selamanya seperti ini, di mana aunty Mammy dan Uncle Daddy dimana mereka sekarang Uncle manis? Kenapa mereka tidak pernah mencintai kita, apa mereka tertangkap oleh para penjahat yang waktu itu menyerang kita?" Tanya Glorria kepada Drak yang sedang menuntut tangannya.
"Gadis besar, Mammy dan Daddymu baik-baik saja dan tidak ada penjahat yang menangkapnya, mereka sedang pergi ke suatu tempat untuk menyelesaikan tugas mereka, nanti jika tugas mereka sudah selesai mereka akan kembali dan menjemput kita di sini" jawab Drak, ia terpaksa berbohong kepada Glorria, karena Drak yakin jika ia menjelaskannya panjang lebarpun Glorria belum tentu akan mengerti, dengan masalah besar yang sedang dihadapi oleh kedua orangtuanya saat ini.
"Apa tugas mereka terlalu berat Uncle manis? Sehingga mereka membiarkan kita di sini untuk lebih lama lagi?" Glorria kembali bertanya kepada Drak, hingga membuat Drak sangat bingung untuk mencari alasan agar Glorria, tidak terlalu banyak bertanya mengenai kedua orang tuanya.
"Yeah!! akhirnya kita sampai di kebun sayuran Paman Raul" teriak Dallen membuyarkan obrolan Glorria dengan Drak, karena Dallen tahu betul, jika Drak sudah kebingungan untuk mencari jawaban dan alasan untuk menjawab pertanyaan Glorria, maka dari itu Dallen sengaja mengalihkan pertanyaan Glorria agar ia berhenti bertanya kepada Drak.
"Gadis besar Uncle lihatlah itu, apa kau menyukainya?" teriak Dallen kepada Glorria, sambil menunjukkan sayuran yang ada di depannya.
"Oh ya Uncle aku lupa kenapa tadi kita tidak membawa Molly ke kebun ini, agar dia bisa makan sayuran yang ada di sini" ucap Glorria kembali meminta agar anak kudanya ikut dibawa ke ladang Paman Raul.
"Hem Gadis besar, jika kamu membawa Molly ke sini bahaya, nanti sayuran Paman Raul akan habis dimakannya" ucap Dallen
"Owh jadi seperti itu ya Uncle, terus kita harus membawa Molly ke mana Uncle?" Glorria kembali bertanya, ia tidak berhenti bertanya kepada Dallen dan Drak.
"Ya kita tidak perlu membawanya kemana-mana gadis besar, yang terpenting saat ini dia masih bisa makan dan tidak kekurangan" jawab Dallen
"Tapi aku merasa kasihan terhadap Molly Uncle, karena ia dikurung terus setiap harinya, Molly tidak pernah kita lepaskan untuk bermain" ucap Glorria
"Jika ia tidak dikurung nanti dia akan kabur gadis besar, apa kau mengerti itu?" ucap Drak ikut menjawab pertanyaan Glorria
Glorriapun mengganggukan kepalanya, ia mulai mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Drak kepadanya, akhirnya mereka semua tiba diladang Paman Raul, Glorria langsung masuk ke gubuk yang ada di tengah-tengah ladang bersama dengan Dallen dan juga Drak.
Beroboot.!! tiba-tiba suara kentut terdengar yang tak lain Deborah, yang buang angin dengan begitu kencang, membuat Dallen mengerutkan dahinya karena ia tahu betul jika Deborah sedang buang air besar.
"Aduhh Drak bagaimana ini? baru saja kita sampai, gadis kecil kita sudah buang air lagi buruan bantu aku Drak" teriak Dallen yang mengetahui jika Deborah sedang buang air.
"Hahaha itu sudah resikomu Dallen, tapi baiklah aku akan membantumu mencarikan air untuk mencuci gadis kecil kita, gadis besar kamu tunggu sebentar di sini bersama Uncle Dallen ya, Uncle manis akan mencari air dulu untuk nona kecil sebentar" ucap Drak sambil berjalan menyusuri pinggiran ladang.
"Iya Uncle, hati-hati dan cepatlah kembali" jawab Glorria dengan singkat dan memperingati Drak, yang akan pergi mencari air.
"Gadis besarku, apa kau tidak melihat Paman Raul?" Tanya Dallen kepada Glorria, sambil celangak-celinguk mencari keberadaan Paman Raul, Dallen lupa jika Paman Raul sedang pergi mengirim sayuran ke kota tadi pagi.
__ADS_1
"Hemm Uncle ini bagaimana, akun kan baru saja sampai disini denganmu Uncle, jadi bagaimana aku tahu keberadaan Uncle Grandpa sedang ada diamana" jawab Glorria
"Oh iya Uncle lupa gadis besarku" Dallenpun kembali terdiam, sambil menunggu Drak tiba dengan membawa air untuk membersihkan Deborah, yang sedang buang air.
Sudah hampir satu jam lamanya Dallen menunggu kedatangan Drak, yang pergi mengambil air sungai yang berada di ujung kebun Paman Raul, namun Drak tak kunjung kembali entah apa yang dilakukan oleh Drak sehingga dia tak kunjung kembali.
Hati Dallen sangat khawatir karena ia tak mendapati Paman Raul, dan juga Drak yang masih belum kembali juga, perasaan Dallen mulai gelisah feelingnya memang tidak bisa dibohongi, Dallen yang jika ada sesuatu yang tidak beres dengan Drak dan juga Paman Raul.
"Kemana mereka perginya, kenapa Drak dan Paman Raul sampai saat ini masih belum kembali? Padahal ini sudah begitu siang biasanya Paman Raul sudah berada dikebunya" gumam Dallen berbicara sendiri, hatinya terus bertanya-tanya perasaannya mulai khawatir dan cemas, Dallenpun mulai mengeluarkan senjatanya dari tas Deborah.
Akhirnya Dallenpun membersihkan Deborah dengan tisu basah, setelah selesai membersihkan Deborah Dallenpun segera menggendong Deborah, yang sedang tertidur dan ia segera menuntun tangan Glorria.
"Sayang gadis beser Uncle ayok sekarang kita pergi dari sini, sepertinya keadaan sudah tak aman sebaiknya kita kembali saja" ajakĀ Dallen kepada Glorria, yang langsung dianggukan oleh Glorria.
Glorriapun berjalan mengikuti langkah kaki Dallen dari belakang, disaat Dallen sedang berjalan santai tiba-tiba dia melihat segerombolan orang yang mengenakan pakaian serba hitam, akhirnya Dallenpun
dengan begitu cepatnya dia menuntun tangan Glorria, agar dia segera pergi dari kebun Paman Raul tersebut.
Sesampainya di rumah Dallen mengambil kedua senjata milik Annabella, dan juga pisau milik Glorria dan ia segera memasukkannya kedalam tas pinggang milikinya. Ia kembali melihat kedua senjata Drak tergeletak begitu saja, Dallenpun segera memasukannya kedalam tas perlengkapan Deborah.
Tanpa menjawab Glorriapun langsung mengambil dan menganggukkan kepalanya dan memegangi senjata tersebut, meskipun ia merasa jika senjata tersebut sangatlah berat. Namun bukan Glorria namanya jika iya menyerah begitu saja.
"Genggamlah ini dengan kuat dan jika ada orang yang berniat jahat kepada kita maka tariklah pelatuknya ini, Dallen memberitahukan secara detail kepada Glorria, bagaimana caranya menggunakan senjata tersebut.
Glorriapun kembali mengganggukan kepalanya, tandanya bahwa ia sudah memahami apa yang telah diterangkan oleh Dallen kepadanya.
Setelah itu Dallenpun kembali menggendong peralatan bayi, yang sudah dipersiapkan bersama pakaian dan juga perlengkapan susunya.
Dallen berlari ke seberang rumah yang terdapat pohon besar di sana, ia duduk di balik pohon bersama Glorria dan juga Deborah yang masih tertidur lelap dalam gendongannya.
Tidak lama kemudian benar saja suara tembakan terdengar, dan Paman Raul sudah berada dalam cengkeraman para musuh.
Yang tak diketahui oleh Dallen, musuh tersebut dari mana datangnya karena kali ini Paman Raul yang menjadi sasaran mereka.
Hati Dallen mulai berdebar-debar, karena ia sangat khawatir dengan keadaan Paman Raul saat ini, tapi dia bisa berbuat banyak dengan kondisinya saat ini yang menjaga dua anak kecil. Sedangkan musuhnya terlihat begitu banyak, hal yang tidak memungkinkan untuk Dallen bisa mengalahkan para musuhnya.
__ADS_1
Keadaan paman Raul sudah sangat memprihatikan, dengan kondisi wajah Paman Raul sudah sangat babak belur, dan kedua tangannya terikat, di sana terdapat beberapa pria tinggi besar dengan pakaian jas hitam, mereka terus menanyakan keberadaan Glorria dan juga adiknya Deborah.
"Tua bangka cepat katakan dimana anak-anak Mafia Paris itu berada?!" Teriak salah satu dari mereka, "saya yakin kau menyembunyikannya, cepat katakan tua bangka! jika tidak kau katakan maka isi amunisi ini akan masuk ke dalam kepalamu!" teriakan dari salah satu pria tinggi besar yang mengacungkan senjatanya ke arah kepala Paman Raul, terus memaksa Paman Raul untuk mengatakannya.
"Sampai titik darah penghabisanku aku tidak akan pernah memberitahukan kalian, dimana kedua cucu dari adikku berada, jika kalian ingin menghabisiku silahkan habisi saja aku tidak takut dengan kalian semua" jawab balik Paman Raul
"Kurang ajar kau tua bangka, rupanya kau sudah bosan untuk hidup ha!!'' pria pria tinggi besar itu mengangkat senjatanya dan akhirnya
Dorrr.. Dorrr.. Dorrr..
Suara tembakan pun terdengar, dan seketika itu juga paman Raul pun tewas di tempat karena mendapat beberapa tembakan dari para pria-pria yang tak dikenal.
Sedangkan Dallen dan Glorria, mereka masih bersembunyi di balik pohon, karena ia tak mungkin jika menyerang lawannya yang begitu banyak.
Glorria yang melihat Uncle Grandpanya ditembak oleh pria asing, hati Glorria sangat sakit dan ia hanya bisa melihat keadaan uncle Grandpa nya, yang sudah tewas oleh pria-pria tersebut.
Glorria berusaha keras menahan tangisan dan teriakannya, karena ia takut keberadaannya akan diketahui oleh para musuhnya, maka akan sangat membahayakan keadaan adik tercintanya.
Sedangkan Dallen ia sangat gemetar dengan keadaan yang saat ini terjadi, karena sangat repot dengan menjaga dua orang anak kecil, dan dia begitu takut kalau keberadaannya sampai diketahui.
Dallen terus berusaha menahan dirinya agar ia tak diketahui oleh para musuhnya.
Para pria tersebutpun lalu masuk ke dalam rumah Paman Raul, dengan cara mendobrak pintu rumah tersebut.
Mereka memporak-porandakan seisi rumah Paman Raul, lalu mereka membakarnya begitu saja hingga ledakan dan kobaran api pun sudah tak terelakkan lagi.
Setelah mereka selesai membakar rumah paman Raul, kemudian jasad Paman Raul mereka lemparkan kedalam kobaran api yang sedang melahap rumah paman Raul.
Dallen yang melihat keadaan yang begitu sangat sadis dan menakutkan, Ia hanya bisa menitihkan air matanya, karena ia tidak tega melihat keadaan Paman Raul yang mendapatkan siksaan dan kekejaman dari para pria-pria tersebut.
Begitupun dengan Glorria air matanya terus menetes, tapi ia sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Cerita kembali pada Drak, yang saat itu dia yang akan mengambil air ke sungai yang berada di ujung kebun Paman Raul.
Sesampainya ia di bawah sungai, ia tak sengaja melihat paman Raul yang sedang disiksa oleh para pria tinggi besar, Drak ingin sekali menolong Paman Raul namun ia tak membawa senjatanya, maka niatnya ia urungkan.
__ADS_1
Drak ingin kembali menyusul Dallen agar mereka bisa melarikan diri dari para pria-pria tersebut, namun saat Drak akan kembali naik ke atas kebun Paman Raul, ternyata para musuh sudah lebih dulu berjalan menuju kebun tersebut, akhirnya Drak hanya bisa terdiam sambil melihat musuhnya yang sudah mulai naik ke atas kebun, dan membawa Paman Raul dengan kondisi yang sudah babak belur.