KEJAMNYA MAFIA CANTIK

KEJAMNYA MAFIA CANTIK
Mammy aku ingin pulang


__ADS_3

Tak terasa hari sudah menjelang sore, namun Dallen tak kunjung bangun dari tidurnya sedangkan Glorria ia sudah terbangun dari tidurnya, ia melihat kekiri dan kekanan yang lokasi tak ia kenalinya, Glorria segera turun dari atas dada bidang dan ia menaruh kedua celengannya disamping tubuh Dallen yang masih tertidur pulas.


Dengan jahilnya Glorria memainkan hidung mancung Dallen, hingga Dallen kesulitan untuk bernafas sesekali Glorria tertawa melihat mulut Dallen yang menganga dan mendengkur, seketika Glorria gmenghianati kejahilannya pada Dallen karena ia melihat ada seekor ular besar diatas pohon, ular besar itu sedang berusaha untuk turun namun karena dibawahnya ada kepala Dallen, alhasil ular tersebutpun turun tepat di kepala Dallen.


Dengan cepat Glorriapun turun dari tubuh Dallen, sedangkan ular yang berukuran lumayan besar trus merayap kebaikan wajah Dallen yang masih tertidur, Dallen ia merasa geli dibagian wajahnya akhirnya Dallenpun membuka kedua matanya ia pikir Glorria sedang memainkan hidungnya, namun saat dia membuka kedua matanya ia tersentak kaget melihat Glorria sedang memegangi pisau miliknya yang ia simpan didalam tasnya.


Dallen baru tersadar jika yang menggerayanginya bukanlah Glorria melainkan seekor ular yang sedang merayap, Dallen kembali terkejut karena diatas kepalanya ada seekor ular yang terus bergerak turun kebagian wajahnya. Kedua mata Dallen terus memperhatikan kearah Glorria yang sedang memegang pisau yang begitu tajam dan berjalan kearahnya, Dallen khawatir jika tangan Glorria akan terkena luka dari pisunya, dengan mengendap-endap Glorria menempelkan jari-jarinya di mulut mungilnya, mengisyaratkan agar Dallen jangan bergerak.


"Hiattt.. Slepp.. Slepp"


Dengan secepat kilat tangan mungil Glorria begitu cepat mengarahkan pisu tajam milik Dallen, kearah ular yang ada di atas kepala Dallen.


Plekk.. Plakk..


Potongan tubuh ularpun berjatuhan dari atas kepala Dallen menjadi beberapa bagian.


"Aarghhh.!!''


Sedangkan Dallen ia berteriak histeris dan beranjak dari duduknya, dengan cepat Dallenpun menggendong tubuh kecil Glorria dan berlari terkocar-kacir menjauh dari ualar yang yang telah di cincang cincang oleh Glorria. Yang ada dipikiran Dallen yang terpotong bukanlah ular tapi kepala dirinya sendiri, hingga membuat Dallen brigidik sambil meloncat-loncat tak jelas arah.


Glorria dia tertawa terbahak-bahak, melihat kelakuan Dallen yang tinggi kekar tapi takut akan ular, "turunkan aku Uncle hahaha" pinta Glorria ia minta diturunkan dari gendongan Dallen, Glorria kembali mengambil kedua celengannya yang tertinggal dibawah pohon.


Dallen ia masih berdiri mematung, ia tak menyangka jika ular sebesar itu bisa dibunuh oleh Glorria, "Uncle lihatlah ini" Glorria membrikan pisau milik Dallen dan diapun mengajak Dallen untuk duduk, "Uncle lihatlah ini apa sudah cukup untuk menjemput Mammy dan Daddy? Tanya Glorria kepada Dallen yang masih syok, kata-kata Glorria membuyarkan lamunan Dallen.

__ADS_1


Dallenpun segera menoleh kearah celengan yang dipegang oleh Glorria "apa ini gadis kecilku?" tanya Dallen sambil memperhatikan kedua boneka panda milik Glorria, "bukalah Uncle dan Uncle lihat apa isinya sudah cukup untuk menjemput Mammy dan Daddy" tutur Glorria, Dallenpun mengikuti apa yang dikatakan Glorria.


Dallen segera membuka kedua celengan itu dengan pisaunya, betapa terkejutnya Dallen saat dia melihat ada beberapa uang yang cukup besar nominalnya, kedua mata Dallen terbelalak saat melihat uang yang cukup banyak dan ia tidak percaya jika Glorria memiliki uang tersebut. "Gadis kecil kesayangan Uncle, kamu dapatkan uang sebanyak ini dari mana sayang?" Tanya Dallen penasaran "kalau yang ini pemberian sahabatku Basten, kalau yang ini milikku Uncle, bagaimana Uncle apa semua ini sudah cukup?" Glorria kembali bertanya dengan rasa penasarannya.


Dallen menarik tubuh Glorria kedalam pelukannya, ia menangis karena terharu dengan apa yang telah dilakukan oleh Glorria, karena Dallen sendiri tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, tapi anak sekecil Glorria bisa melakukannya.


"Iya sayang ini sudah sangat cukup untuk menjemput Mammy dan Daddymu nak, biar Uncle simpan uangnya" Dallenpun kembali menyimpan uang dari celengan Glorria dengan perasaan haru, lalu ia kembali berjalan dengan menggendong Glorria.


Stelah beberapa jam melakukan perjalanan Dallen kemabli menghentikan langkahnya, karena ia melihat sungai dimana kala itu Annabella melahirkan Glorria, Dallen kembali teringat akan masa-masa sulit saat bersama dengan Annabella telah dilaluinya, "gadis kecilku kamu tunggu disini Uncle akan mengambil ikan, untuk kita makan malam kita" Glorriapun menganggukkan kepalanya dan ia duduk diatas batu besar,  sedangkan Dallen ia turun kedasar sungai untuk mencari ikan.


Setelah mendapatkan beberapa ikan Dallenpun segera naik, dan membuat api unggun untuk membakar ikan-ikannya yang ia dapat, setelah ikan-ikannya matang Dallen segera menghampiri Glorria, dengan membawakan bakar ikan untuk Glorria.


"Gadis kecilku nak" Dallenpun menghentikan suaranya karena ia melihat Glorria tengah tidur pulas, Dallenpun duduk disamping batu besar dimana Glorria tertidur, Dallen senyum-senyum sendiri melihat wajah mungil nan cantik Glorria. Dengkuran kecil keluar dari mulut mungil Glorria, setelah selesai makan Dallenpun kemabli menggendong tubuh Glorria dan ia kembali melanjutkan perjalanannya menyusuri hutan, Dallen mengingat-ingat jalan yang pernah ditempuh dengan Annabella beberapa tahun sialam.


Meskipun sudah banyak sekali perubahan disekitarnya, seperti pohon-pohon sudah banyak sekali yang tumbuh dengan liar.


Para dokter sudah sangat kepanikan melihat detak jantung Annabella yang sudah tak berdenyut lagi, bahkan kini tubuh Annabella sudah sangat dingin dan pucat, berulang kali ketiga dokter yang menangani Annabella, terus melakukan pemeriksaan ulang, namun hasilnya tetap sama detak jantung Annabella masih tetap tidak terlihat dan pada akhirnya Annabellapun dinyatakan meninggal.


Drak yang ikut masuk untuk melihat keadaan Annabella, Drak tidak tega melihat tangisan Alexander yang semakin menjadi saat ia melihat para dokter melepaskan alat yang ada ditubuh Annabella.


"Dokter apa yang kalian lakukan dengan istriku?! Jangan lepaskan alatnya dokter!!" Alexander kembali berteiak dan ia pun mengangkat meja yang ada dihadapannya, Alexander mencabut senjatanya yang ada didalam bajunya, ia menodongkannya kearah dokter yang menangani Annabella. "Sekali lagi kuperingati kepada kalian jangan ada yang berani melepaskan alat-alat itu dari tubuh istriku!!" Kemarahan Alexander sudah tak bisa dihentikan lagi, bahkan ia pun memukul wajah dokter Drak berusaha keras mengahalangi Alexander agar ia tak melakukan hal yang tak diinginkan, terhadap para dokter yang ada dihadapannya.


Meskipun dengan sekuat tenaganya Drak dan Aiken menahan Alexander Namun Drak tak mampu hingga ia pun ikut terkena pukulan dari Alexander.

__ADS_1


"Pasangkan kembali alat-alatnya!! Jika kalian tidak memasangnya kembali, maka bersiap-siaplah aku akan menembak kalian semua!!" Teriakan Alexander membuat para dokter semakin ketakutan, Dark memberikan kode kepada suster, agar kembali memasangkan alat di tubuh Annabella yang sudah tak bergerak. Para dokter dan susterpun kembali memasangkan alat ketuban Annabella, meskipun itu hal yang tidak mungkin menurut mereka.


Alexander berlari kearah luar Drakpun segera memanggil Aiken untuk mengejar Alexander, yang berlari kekamar Maicon ayahnya sesampainya dikamar Maicon. Alexander menarik kerah baju milik Maicon hingga tubuh Maicon ikut terjungkal dari tempat tidur, Arno pengawal Maicon berusaha menahan Alexander, namun Arno mengalami hal yang sama seperti Drak yang terkena pukulan dari Alexander.


Bahkan tubuh Arno terpental akibat pukulan dari Alexander, beberapa kali Alexander melayangkan pukulannya kearah wajah Maicon ia tidak peduli dengan kondisi Maicon yang masih terbaring lemah, "bajingan apa kau sudah puas telah membunuhnya!! Kau manusia tidak punya hati kau telah membunuh anakku dan juga istriku brengsek!!"


Drak dan Aiken segera menahan Alexander yang sedang memukuli Maicon ayahnya,


Drak dan Aikenpun berhasil menarik tubuh Alexander dari hadapan Maicon, namun wajah Maicon sudah babak-belur akibat pukulan dari Alexander, tiba-tiba Maicon mengangkat kedua tangannya dengan wajahnya yang terlihat sedih.


"Maafkan Daddy putraku Daddy tidak pantas untuk mendapatkan maaf darimu, jika kau ingin membalasnya tembaklah ayahmu ini putriku, Daddy pantas mendapatkan hukuman darimu nak, Arno antar aku untuk menemui menantuku dan cucuku" Maicon meminta pengawal setianya untuk mengantarkan dirinya kekamar Annabella, Arnopun segera membawa Maicon dengan kursi rodanya menuju kamar Annabella, sesampainya dikamar Annabella, Maicon menatap tajam kearah Annabella yang sudah terlihat pucat.


"Dokter bagaimana dengan menantu dan cucuku?" Dokter yang masih ada di ruangan Annabella mendekati Maicon, "maaf tuan menantu anda sudah tiada, maafkan kami tak bisa menyelamatkannya" Ketiga dokter itu menundukkan kepala mereka masing-masing dihadapan Maicon.


Hati Maicon bagikan tersambar petir disiang hari, ia tak menyangka jika Annabella akan tewas di tangannya. tanpa terasa Maicon menitikkan bulir bening dari kedua matanya ia sangat menyesali akan apa sudah dia lakukannya, Maicon terus meratapi kesalahannya terhadap Annabella, "menantuku cucuku hikss hikss maafkan aku menantuku" gumam Maicon sambil tak lepas menatap kedua telapak tangannya ia benar-benar merasa kotor karena ia telah membunuh cucunya sendiri.


Alexander kembali berjalan menuju kamar Annabella menyusul Maicon, Alexander menarik kursi roda Maicon "Arno bawa orangtua ini keluar jangan biarkan dia masuk kedalam ruangan istriku!! Pergi.. Pergi.!!" Alexander kembali berteiak mengusir Maicon dari ruangan Annabella.


"Mammy Mammy.!! aku sangat merindukanmu Mammy jemput aku Mammy


aku ingin pulang Mammy hikss hikss." "Glorria sayang kamu dimana nak? Glorria!!"


"Mammy tolonglah aku, aku sangat merindukanmu Mammy"

__ADS_1


"Glorria.. Glorria kembali nak kembali jangan tinggalkan Mammy nak Glorria!!"


Jeritan Annabella terdengar jelas oleh Alexander dan juga para dokter, tiba-tiba kedua mata Annabella melotot, dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Seperti sedang kelelahan, "Annabella sayang.. Annabella?" Alexander berlari menghampiri Annabella, begitupun dengan para dokter "lakukan sesuatu istriku telah kembali dokter!!" para dokterpun dengan cepat memriksa keadaan Annabella.


__ADS_2