
Setelah beberapa jam melakukan perjalanan Dallen dan Glorria, yang masih berada di dalam pesawat akhirnya kini mereka pun tiba di Bandara, yang belum diketahui pesawat itu tujuan mana. Dallenpun berjalan keluar dengan perasaan lemas dan tak bersemangat sambil menggendong Glorria, ia terus berjalan menuju luar bandara dengan perasaannya yang sangat sedih karena ia sudah salah masuk pesawat.
"Uncle bisakah kita berhenti sejenak aku lapar Uncle" ucap Glorria, "iya gadis kecilku nanti kita akan cari tempat makan diluar sana" jawab Dallen, sambil berjalan dan celingukan mencari tempat makan, "Uncle itu ada tempat roti Sandwich kita makan disana saja Uncle" ucap Glorria sambil menunjuk kearah tukang roti sandwich.
Dallenpun berjalan menghampiri tukang roti sandwich, dan ia memesan dua roti sandwich, dengan lahapnya Glorria makan karena dia belum makan sama sekali.
Disisi lain Annabella yang telah tiba dirumah Maicon yang lumayan cukup megah, Ia disambut oleh para anak buah Maicon dan para asisten Maicon, yang bekerja dirumah tersebut. "Hallo Daddy Maicon berapa banyak anak buahmu yang berada di Belanda ini?" tanya Annabella lewat sambungan telponnya, "sepertinya kurang lebih sekitar ada dua ratus orang menantuku, kenapa apa masih keurang dengan mereka nak?" jawab Maicon "tidak Daddy sudah cukup, terimakasih sudah menyiapkan semuanya." Akhirnya Annabella pun mematikan teleponnya dengan Maicon.
"Kenapa sayang apa kamu menghubungi Daddy?" Tanya Alexander sambil mendekati Annabella, "Iya Alexander karena nanti malam kita akan pergi ke markas Algozilo, untuk mencari keberadaan anak kita" tutur Annabella "istriku sayang apa tidak sebaiknya kamu beristirahat terlebih dahulu, karena kamu sedang hamil ingat kandunganmu harus dijaga sayang" ucap Alexander.
"Alexander kau ini, bagaimana bisa aku beristirahat dengan tenang sedangkan putriku sedang dalam bahaya diluar sana, apa kau tidak memikirkan puntrimu sendiri Alexander dimana hatimu?!" bentak Annabella dia sangat kesal dengan Alexander, yang menyuruhnya untuk beristirahat padahal keinginan Annabella sudah ingin buru-buru menemui Glorria.
Annabellapun berjalan keluar meninggalkan Alexander yang ada didalam kamarnya,
Annabella Ia sangat menghawatirkan putrinya, apa lagi selama ini tak pernah tahu perkembangan putrinya seperti apa, ia baru melihat sepintas saja membuat hatinya takuasa untuk menahan rindu. "Drak!"
Annabella berteriak memanggil Drak, tak seperti biasa Annabella terlihat begitu emosi. "Drak apa kau tadi tak berhasil menemukan Dallen? Tanya Annabella dengan wajah ketusnya "tidak nona karena saya dengan Aiken dihadang oleh para anak buah Algozilo nona" jawab Drak singkat
"Apa kau punya perkiraan kemana Dallen membawa Glorria pergi?" Annabella kemabli bertanya, "tidak nona karena saya tidak terlalu banyak tahu dengan kota ini" jawab balik Drak.
"Owh oke baiklah kalau begitu, owiya satu hal lagi Drak, kau awasi gerak gerik orang baru itu jangan sampai dia berbuat yang tidak diharapkan" ucap Annabella dan berlalu pergi meninggalkan Drak.
"Sayang kamu marah, aku berjanji nanti malam akan berusaha mencari putiri kita" Alexander berusaha merayu Annabella istrinya. "Terserah kaulah mau mencarinya atau tidak itu hak mu, hanya saja aku kecewa dengan sikapmu, seperi acuh tak acuh membiarkan pitrimu yang sedang dalam bahaya." bentak Annabella
"Sayang aku bukan acuh, tapi aku memikirkan dirimu aku takut jika terjadi apa-apa dengan kandunganmu" jawab Alexander berusaha menjelaskan "sudahlah tak perlu basa-basi, bilang saja kalau kau itu tidak perduli dengan Glorria" Annabella kembali keluar kamarnya, ia sudah siap dengan kedua senjatanya untuk berangkat menyerang markas Algozilo dan Aubert.
__ADS_1
"Drak, Aiken apa kalian sudah siap semuanya kita akan berangkat sekarang'' ajak Annabella kepada para anak buahnya. Alexander yang mengikuti Annabella ia segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil kedua senjatanya, tidak lama kemudian Alexanderpun kembali keluar namun sayang mobil Annabella dan para anak buahnya sudah mulai melaju, Alexanderpun berlari mengejar mobil Annabella yang berada ditengah-tengah.
Annabella sengaja tidak mengajak Alexander karena ia masih sangat kesal terhadap Alexander, "sopir stop! Tunggu Alexander naik" sang sopirpun menghentikan mobilnya, karena perintah dari Annabella untuk menunggu Alexander naik. Tidak lama kemudian Alexanderpun berhasil naik kedalam mobil, dengan nafas tersengal-sengal.
Keberangkatan Annabella beserta para anak buahnya menuju kediaman Algozilo, Annabella juga tidak lupa membawa Micer salah satu pengawal dari Algozilo, yang kini berada dipihaknya untuk mengarahkan lokasi rumah dan markas milik Algozilo.
Annabella dan beserta anak buahnya sudah dalam perjalanan menuju markas Algozilo, Micer menjadi petunjuk jalan menuju markas Algozilo. Setelah menempuh perjalanan yang tak begitu jauh kini akhirnya kelompok Annabellapun telah sampai di markas Algozilo yang tak begitu jauh dari rumanya. Para anak buah Maiconpun berhamburan keluar dari dalam mobilnya, dan menyebar kesekelilingnya untuk mengepung markas dan rumah Algozilo.
Annabella dan Alexanderpun berjalan dengan diikuti oleh Drak dan Aiden, melalu pintu rahasia yang diberi tahukan oleh Micer. Tak hanya itu saja Micer memberi tahukan semua ruang rahasia milik Algozilo.
Sedangkan Algozilo yang kebetulan malam itu berada di markasnya bersama Aubert.
Annabella yang saat ini sedang hamil ia tak kuasa menahan emosinya, yang terkadang tiba-tiba labil dan ingin terburu-buru dalam melakukan hal apapun.
Para anak buah Algozilo yang menjaga gerbang markas, dan kini para anak buah Maicon sudah berhasil masuk, namun didalam gerbang mereka sudah dihadang oleh musuhnya yang begitu banyak.
Hingga akhirnya baku tembak dari dua kelompok Mafia tersebut terjadi, heberapa anak buah Algozilo dan Aubert telah tewas terkena tembakan dari para anak buah Maicon. Sedangkan Annabella dan Alexander mereka terus berjalan masuk kedalam halaman markas mengincar keberadaan Algozilo dengan Aubert.
Setelah berada didepan pintu pasuk markas Algozilo, Annabella dan Alexander sudah dihadapkan dengan para pengawal Algozilo yang tinggi dan kekar,
Dorrr... Dorrr.. Dor.!!
Tembakan terus mengah kearah Annabella dan Alexander serta pengawal setianya, Aiken dan Drak berusaha melindungi Annabella dari tembakan musunya karena mereka tepat berada disamping Annabella, namun Annabella tak ingin dikatakan lemah, ia berdiri dan berlari kearah pengawal Algozilo yang berjumlahkan 15 orang.
Annabella yang mahir menggunakan pisaunya ia berlari dengan begitu cepat kearah lawannya, tak hanya itu ia berhasil memotong urat leher para musuhnya dengan gerakan cepatnya, sehingga tanpa musuhnya sadari jika leher mereka telah terpotong begitu saja, para pengawal Algozilo mengarahkan tembakannya kearah Annabella yang sedang berlari. Namun setelah mereka sadari dibagian leher mereka terasakan perih yang sangat luar biasa dengan darah yang keluar begitu banyak.
__ADS_1
Dan akhirnya satu persatu merekapun terjungkal bagai tersengat listrik, dan tewas begitu saja, Algozilo dan Aubert yang mendengar suara tembakan dari para anak buahnya. Mereka sudah sangat ketar ketir dan panik karena Algozilo tahu jika markasnya sedang mendapatkan serangan.
"Aubert selamatkan berkas-berkas berharga kita, kau pergilah selamatkan dirimu dan jagalaharga putriku jika terjadi sesuatu kepadaku" teriak Algozilo sambil mendorong masuk tubuh Aubert, kedalam dinding rahasia yang hanya cukup untuk satu orang saja, Aubert yang sudah berada didalam dinding rahasia, dia menangis karena khawatir dengan Algozilo sahabatnya.
Algozilo sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya, karena ia tahu betul kekejaman orang yang akan dihadapinya ia duduk santai disofa empuknya dengan menatap poto anak dan istrinya.
Annabella dan Alexander berhasil menewaskan para lawannya yang dibantu oleh Drak dan Aiken, beserta para anak buah Maicon lainnya. Kini markas besar milik Algozilo sudah hening seperti tak berpenghuni. Drak dan Aiken berusaha membuka pintu markas yang telah terkunci dari dalam.
Drak dan Aiken sangat kesulitan membuka pintu markas Algozilo, akhirnya Micer berjalan menghampiri Drak dan Aiken untuk membantu membuka pintu markas, tak perlu menunggu lama Micer berhasil membukan pintu markas Algozilo. Setelah pintu berhasil dibuka kini Annabella sudah berhasil masuk, namun apa yang terjadi Algozilo sudah tewas dengan luka tembak dibagian kepalanya dengan posisi duduk tertelungkup diatas meja.
Annabella mendengus kesal karena mendapati lawanya telah tewas secara cuma-cuma, akhirnya Annabella dan Alexanderpun beserta para pengawalnya, bergegas pergi dari markas Algozilo yang sudah acak-acakan tak karuan dengan mayat-mayat yang berserakan dimana-mana dan bau darah yang begitu menyengat.
Dallen dan Glorria masih duduk dikursi penjual roti sandwich, pikiran Dallen kalang kabut ia bingung harus kemana lagi tujuannya, apa lagi uangnya tinggal sisah beberapa dollar lagi, dan itu tidak akan cukup untuk membeli dua tiket.
"WELCOME TO PARIS.." Dengan begitu lancarnya Glorria membaca plang yang ada dipinggir jalan bandara, Uncle apa kita ini sedang berada di Paris?" tanya Glorria dengan polosnya, Dallen hanya bengong saat Glorria bertanya kepadanya, hingga akhirnya Glorriapun berteriak karena ia kesal dengan Dallen yang bengong tak mendengarkan pertanyaan. "Haa iya gadis kecilku ada apa?" Jawab Dallen terjingkat kaget.
"Ikh Uncle kenpa denganmu? aku sedang bertanya kepadamu tapi Uncle tidak mendengarkanku" ujar Glorria dengan kesal
"Iya iya sekarang Uncle akan mendengarkanmu, ada apa gadis kecilku kesayangan Uncle?" Glorria mendelikkan matanya ia masih tetap manyun karena ia sudah terlanjur kesal kepada Dallen.
"Itu Uncle..!! WELCOME TO PARIS. apa sekarang kita berada di Paris Uncle?!" teriak Glorria sambil mengunjuk kearah plang. Dallenpun segera menoleh kearah plang yang ditunjuk oleh Glorria. Seketika mulut Dallen terbuka lebar dengan kedua matanya terbelalak, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dallen langsung memeluk erat tubuh mungil Glorria dan ia berteriak-teriak seperti orang kesurupan, saking senangnya Dallen loncat-locat dan jumpalitan. Ia tak menyangka jika dirinya sudah berada di Paris
Dallenpun segera menggendong Glorria, ia berlari-lari kesana kemari. "Uncle ada apa denganmu apa Uncle sedang jatuh cinta dengan papan itu?" Tanya Glorria kebingungan melihat Dallen yang tiba-tiba aneh. Dallen tidak menghiraukan pertanyaan Glorria, "Uncle ada apa denganmu?!" Glorria kembali berteriak karena dibuat kesal oleh Dallen yang sedang loncat-locat dan senyum-senyum sendiri dan sesekali ia berteriak, "iya gadis kesayanganku Uncle sedang jatuh cinta, lets go gadis kecilku."
__ADS_1