KEJAMNYA MAFIA CANTIK

KEJAMNYA MAFIA CANTIK
Annabella kembali kedunia kedua


__ADS_3

Dengan cepat Louis mengambilkan air minum untuk Deborah "Deborah minumlah ini, siapa tahu rasa mualmu hilang." ucap Louis sambil memberikan air minum kepada Deborah, dengan cepat Deborah pun meminumnya. Deborah tak melanjutkan memakan makanannya, ia kembali naik keatas gubuknya dengan perasaan trauma dan bencinya kembali terlintas di benaknya.


"Tidakkkkk!! Aku tidak mau hamil anak orang jahat itu aku tidak mau tidakkkkk Hiksss Hikssss.!!" Deborah menangis histeris dan ia terus berteriak diatas gubuk sambil memukuli perutnya.


Dengan tergopoh-gopoh Louis naik menghampiri Deborah yang sedang menangis. "Louis tolong aku keluarkan anak orang jahat itu dari rahimku Louis, aku tidak sanggup mengandung anak orang jahat itu, dia telah merenggut kesucianku, dia telah memperkosaku Louis tolong keluarkan anak ini tolong aku Hikssss Hiksss." Teriak Deborah, seketika Louis terdiam ia bagaikan di sambar petir mendengar penuturan Deborah yang tak berhenti menangis dengan memukul-mukuli perutnya.


"Hentikan Deborah hentikan, untuk apa kamu menyalahkan anak yang ada dalam kandunganmu. Anak ini tidak bersalah Deborah jangan sakiti dia." ucap Louis


"Tapi ini adalah darah daging laki-laki penjahat itu Louis, aku tidak sanggup untuk membesarkan anak inii.!!" Ujar Deborah dengan lirih


"Iya aku tahu itu tapi aku mohon padamu Deborah biarkan anak ini ada, aku akan selalu ada untukmu, dan untuknya aku berjanji padamu Deborah.


Deborah pun menghianatikan aksinya setelah ia mendengar apa yang dikatakan oleh Louis.


Louis mengusap air mata yang menetes di pipi Deborah, ia segera merangkul dan memeluknya. "Jangan menangis aku ada di sini untukmu." Meskipun Deborah sudah memiliki rasa terhadap Louis, tapi ia masih belum bisa membuka hatinya untuk Louis, karena rasa traumanya masih saja menghantuinya.


Disisi lain, di pagi hari Glorria dan Arno sudah di sibukkan dengan kedua bayi-bayi lucu. Arno terpaksa menggendong kedua bayi mungil Drak dan Aiken sahabatnya, "owhh Aiken, Drak lihatlah putra kalian sangat tampan sekali, andaikan kalian berada disini dan melihatnya pasti kalian akan bahagia sekali." Arno berbicara sendiri di halaman rumah yang di tempatinya. Sedangkan Glorria dia sudah tidak kuat kemana-mana karena kehamilan sudah sangat besar hingga ia sering kelelahan.


"Alma, apa kita akan selalu bersama dengan Nona besar?" Tanya Alice


"Tentu Alice kita tidak akan pernah meninggalkan Nona besar. Suami kita telah tewas oleh para musuhnya, dan mereka telah membuat kita menjadi janda dan putra-putra kita menjadi kehilangan ayah mereka.. apa kau tak ingin membalaskan dendam kepada para musuh suami-suami kita yang telah membuat suami kita tewas? Jawab Alma


Alice pun menganggukan kepalanya ia sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Alma.


Kembali lagi dengan


Bastev, setelah kejadian yang telah menimpa Glorria, ia lebih sering mengurung dirinya didalam kamarnya. Bahkan kondisi Bastev pun sudah tak terurus ia begitu terpukul kehilangan Glorria dan juga buah hatinya.


Ariane dan Dezi sudah sangat bingung dengan perubahan Bastev, yang sudah tak memiliki semangat untuk hidup. "Dezi jika suatu saat saya telah tiada tolong kau jaga Bastev dan juga Sander, kau kelola semua bisnis Bastever sampai selama ia belum sembuh." Ariane berpesan kepada Dezi pengawal setia Bastev dengan baik, saya percayakan kepadamu dan saya yakin kamu bisa menjaganya." Tutur Ariane


Dezi pun hanya menganggukkan kepalanya yang mendapatkan tugas dari Ariane ibunya Bastev. Dezi terpaksa berperan menjadi ayah kedua dari Sander, karena kini ia sudah pintar berjalan dan sudah mulai bisa berbicara meskipun masih belum jelas.

__ADS_1


➡️➡️➡️


Hari-hari telah berlalu namun Glorria masih tetap tak bisa berbicara. Arno sudah sering memaksa Glorria untuk memeriksakan diri kerumah sakit, namun Glorria selalu menolaknya ia begitu trauma bertemu dengan orang-orang yang memiliki paras bule seperti dirinya, Glorria akan berusaha untuk menghindari setiap melihat orang bule karena dia takut jika orang-orang tersebut sedang mencari keberadaan dirinya.


Dengan berjalannya waktu tidak terasa kedua bayi-bayi kecil itu sudah satu bulan usianya.


Di siang itu Glorria sedang merasakan sakit dibagian bokongnya, namun ia berusaha menahan rasa sakitnya Glorria tidak ingin merepotkan kedua Aunty dan Unclenya.


Disaat malam tiba kedua Aunty dan Unclenya sudah tertidur dengan begitu pulasnya. Tapi tidak dengan Glorria ia begitu gelisah menahan rasa sakitnya yang semakin terasa dan mendesak dirinya agar segera mengambil ancang-ancang. Glorria penyangga tubuhnya untuk ia berpegangan, dia segera menutup pintu kamarnya karena ia takut jika suaranya akan terdengar oleh kedua Auntynya dan juga Arno.


Glorria mengambil tikar yang terdapat diatas lemari. Ia segera menggelarkan tiker tersebut di samping ranjangnya.


Glorria segera merentangkan tubuhnya diatas tikar tips dan satu bantalnya, ia segera mengambil ancang-ancang memegang kaki ranjang dan ia mulai menarik nafasnya untuk mengejan. Namun sang bayi masih belum keluar hanya dengan satu kali mengejan saja.


Glorria tidak menyerah sampai disitu saja dia kembali menarik nafasnya dengan begitu dalam. "Bastev buah hati kita akan segera lahir kedunia, Mammy Daddyyyy Uncle Dallen cucu kalian akan segera lahir kedunia untuk membalaskan rasa sakit kalian.. Hiksss Hikssss." kata hati Glorria terus memanggil orang-orang yang dia sayangi nya.


Hatinya kemabli terbayang akan dua kepala orang tuanya yang tergantung, pusara dan batu nisan milik Dallen terus terlintas pikirannya. Hingga ia lupa akan rasa sakit yang sedang ia rasakannya saat ini. "Heeeeg heeeeg" Oweeee oweeee oweeee...


Rasa sakit Glorria sudah tak dirasakannya seperti kebanyakan ibu-ibu yang telah melahirkan, mereka takkan kuat untuk segera bangun atau beraktivitas. Tapi berbeda dengan Glorria ia segera bangkit dan ia mulai membersihkan buah hatinya dan membungkusnya.


Dengan perlahan Glorria membuka pintu kamarnya dengan perlahan, ia segera kedapur dan mengambil makanan yang ada didapur kecinya, dengan begitu lahapnya Glorria makan di samping putri cantiknya, Alice dan Alma serta Arno yang tidur di satu ruangan diruang tengah.


Mereka tertidur begitu pulasnya sampai-sampai mereka tak mendengar suara tangisnya bayi Glorria, setelah merasa bersih dengan keadaan tubuhnya, Glorriapun segera memberikan asi untuk putri pertamanya. Hingga tak terasa Glorria pun tertidur di samping bayinya dengan begitu pulasnya, dengkuran keci keluar dari mulut Glorria hingga tanpa ia ketahui jika hari sudah siang.


Putri Glorria menangis dengan begitu kencang sehingga membuat Alma dan Alice yang sudah terbangun, mereka saling lirik mencari suara bayi yang terdengar begitu nyaring. "Alice bayi siapa itu yang menangis?" Tanya Alma sambil celangak-celinguk


"Aku tidak tahu Alma, kenapa kamu bertanya padaku." Alma dan Alice bangkit dari tempat duduk mereka dan menajamkan pendengarannya, keduanya kembali saling tatap saat mereka mengetahui jika suara bayi itu dari dalam kamar Glorria, dengan bersamaan mereka membuka pintu kamar Glorria yang tak dikunci.


Alice dan Alma menganga melihat Glorria sedang tertidur pulas, dan di sampingnya ada seorang bayi yang sedang menangis. PLAKKKKKKKK..


Dengan refleks Alice menampar Alma. Karena ia seperti mimpi saat melihat Glorria sudah melahirkan, begitupun dengan Alma ia kembali menampar balik wajah Alice.

__ADS_1


Namun Alice menutup mulutnya dengan satu jari agar Alma tidak berisik, yang nantinya akan membuat Glorria terbangun dari tidurnya. Dengan cepat Alma segera menggendong putri Glorria, dan membawanya keluar dari dalam kamar.


Dengan cepat Alma memberikan asinya kepada putri Glorria, yang tak berhenti menangis. Setelah diberikan asi oleh Alma, tiba-tiba Glorria terbangun dari tidurnya karena dia mendengar suara tangisan bayinya, Glorria yang mengantuk dia malah kembali tidur "Berikan padaku biar aku saja yang memberikan asi kepadanya." ucap Alice.


Alice mengambil bayi Glorria dan memberikan asinya kepada bayi mungil itu. Arno yang baru saja tiba dirumah ia terkejut melihat ada 3 bayi disamping Alma dan Alice. "Alice Alma... Ini bayi siapa kenapa bayi di rumah ini jadi bertambah?" Tanya Arno kebingungan


"Jangan berisik kamu Arno kamu tidak tahu ini bayi siapa" Arno menggelengkan kepalanya karena ia memang benar-benar tidak tahu dengan bayi yang ada di hadapannya. "Ini adalah keponakan barumu Arno, ini putri Nona besar kita." Seketika Arno melongo mendengar penuturan Alma dan Alice, Arno tidak menyangka jika bayi cantik itu adalah putri dari tuannya. Arno segera mendekati bayi cantik Glorria yang belum diberi nama itu.


"Cantik sekali, sejak kapan Nona besar melahirkan kenapa aku tidak mengetahuinya?" Tanya Arno


"Jangankan kamu Arno kita saja tidak tahu kapan Nona besar melahirkan." Jawab Alma dan Alice.


"Berarti Nona besar melahirkan seorang sendiri Alma??" Tanya balik Arno


"Ya kenyataan seperti itu kami melihat bayi cantik ini sudah ada di samping Nona besar." jawab Alice "sungguh luar biasa Nona besar, wanita tangguh dan kuat ya." puji Arno dia sangat salut dengan Glorria.


Plakkk.. "Akwww!!!"


"Kenapa kalian memukulku.?" Ucap Arno sambil memegangi bagian bahunya.


Tiba-tiba Glorria keluar dari dalam kamarnya, ia segera mengambil bayinya." Nona sejak kapan Nona melahirkan kenpa tidak beri tahukan kami?" Tanya Alma dan Alice.


Glorria, dia hanya menggelengkan kepalanya dan ia tersenyum kearah kedua Auntynya. Dengan cepat Glorria mengambil secarik kertas dan menuliskan kata.


(Annabella)


ternyata Glorria memberikan nama Annabella kepada putrinya, "aku memberikan nama Annabella kepada putriku agar nama Mammy selalu hidup bersama putriku. Dan kini Annabella telah terlahir kembali kedunia keduanya." kata-kata tulisan Glorria.


Kedua Aunty Glorria hanya saling lirik melihat tatapan tajam Glorria, yang begitu terlihat jelas menyimpan dendam yang begitu mendalam.


Kehamilan Deborah yang baru saja menginjak uasia 3 bulan jalan 4 bulan namun perutnya sudah mulai terlihat, Deborah terlihat begitu murung setelah ia mengetahui kehamilannya.

__ADS_1


__ADS_2