
Di sisi lain Glorria dan Dallen, kini usai Glorria sudah menginjak kelima tahun dia sudah sangat pintar berbicara, "Uncle tampan apa kita akan segera bertemu dengan Mammy dan Daddy?" tanya Glorria dengan wajah lucunya
"Tentu sayang gadis kesayangan Uncle, kita akan secepatnya bertemu dengan mereka" jawab Dallen sambil mengelus lembut rambut panjang Glorria, "Uncle apa mereka tidak mencari kita? Dan tidak merindukan kita seperti kita sangat merindukan mereka Uncle"
Dallen terkadang bingung memberi penjelasan kepada Glorria, yang sudah pintar berbicara diusianya yang ke lima tahun. Dengan terpaksa Dallenpun mengajak Glorria untuk tidur karena ia sudah kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan dari Glorria.
Keesokan harinya seperti biasa sebelum Dallen melakukan pekerjaannya memeras susu sapi diladang, Dallen akan terlebih dahulu mengurus Glorria dan mengantarkan Glorria kesekolahnya yang tak begitu jauh dengan ladang miliknya.
Dallen mengganti nama Glorria dengan nama pendeknya Flora, karena Dallen takut jika keberadaan Glorria akan menjadi sasaran para pihak musuh Annabella ibunya.
Dallen yang kini sudah menjadi pemilik ladang dan sapi-sapi begitupun dengan rumah milik nenek Ross. Yang telah diberikan kepadanya, karena nenek Ross tidak memiliki anak, dan selama ini Dallen merawat nenek Ross dengan baik selama nenek nenek Ross sakit.
Dallen juga telah mengetahui kabar tentang kematian Annabella, dan kepemimpinan telah jatuh kepada Jack, Dallen selalu berusaha mencari jalan pintas untuk keluar dari lokasinya saat ini namun usahanya selalu gagal karena sulitnya sinyal lokasi rumah Dallen. Dallen setelah selesai melakukan pekerjaannya, dia bergegas pergi untuk menjemput Glorria disekolahnya.
Dallen merawat Glorria dengan penuh kasih sayang meskipun Glorria bukanlah anaknya, Dallen seperti biasa ketika ia tiba disekolahan Glorria dia akan menunggu Glorria keluar dari dalam kelasnya, Glorria yang melihat akan keberadaan Dallen sedang menunggu dirinya ia tersenyum cantik kearah Dallen dan memeluknya, "Uncle-uncle bolehkah aku ikut di acara ulang tahun temanku? Tanya Glorria
"Hemm memangnya kamu diundang oleh temanmu itu gadis kesayangaku? Jika kamu diundang tentu boleh kamu ikut tapi jika tidak jangan pergi gadis kecilku" jawab Dallen sambil berjalan menggendong Glorria
"Tentu aku diundang Uncle dan ini undangannya, coba Uncle lihat baguskan undangannya" tutur Glorria sambil memperlihatkan undangan ulang tahun untuknya, "waw jadi gadis kesayangan Uncle diundang kepesta orang kaya itu, waww luar biasa sekali sayang" ucap Dallen
"Tentu Uncle karena Basten sahabat baikku disekolah, tapi Uncle aku tidak memiliki gaun untuk pergi kepesta ulangtahun Basten nanti" ujar Glorria dengan lirih, Dallen kembali dibuat bingung dengan permintaan Glorria yang menanyakan gaun, "apa kamu bisa kasih tahu Uncle, yang namanya gaun itu seperti apa gadis kecilku?" tanya balik Dallen
"Hemm Uncle ini payah masa gaun saja tidak tahu, itu loh Uncle gaun cantik spesial gaun Cinderella gitu" tutur Glorria sambil memonyongkan bibirnya karena ia kesal dengan Dallen, yang tak mengetahui apa itu gaun. "Owh sekarang begini saja bagaimana kalau kita pergi untuk membelinya ketoko, nanti disana gadis kesayangan Uncle bisa memilihnya bagaimana" ajak Dallen dengan polosnya, membuat Glorrian terperangah karena dia akan dibawa ke toko gaun "Ha apa Uncle yakin ingin membelikan gaun untukku? Tanya Glorria penasaran "owh itu tentu kenapa tidak untuk gadis kesayangan Uncle"
__ADS_1
Dengan senangnya mempererat pelukannya dan mencium Dallen, karena ia senang akan dibelikan gaun untuk kepesta ulang tahun Basten teman sekolahnya.
sesampainya dirumah Dallenpun segera mengganti pakaian Glorria, karena mereka akan langsung pergi ke toko gaun.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan cukup jauh, kini Dallen dan Glorriapun sudah tiba di sebuah toko pakaian anak, bermacam-macam model pakaian anak terpampang di patung-patung. Glorria seperti gadis dewasa, ia tidak seperti anak kecil pada umumnya selama ini Glorria mengerti akan kesulitan Unclenya maka dari Glorria tidak pernah menuntut apapun kepada Dallen, Glorria berdiri diantara dua patung yang memakai gaun Cinderella.
Dallen ia sudah paham dengan sifat Glorria yang sedang memperhatikan gaun cantik, Dallen berjalan mendekati Glorria yang masih berdiri memperhatikan dua patung yang ada di hadapannya. "Gadis kecilku apa kamu menyukai baju sangkar burung ini gadis kecilku? Tanya Dallen "Ikh Uncle ini bukan sangkar burung, tapi ini gaun Cinderella Uncle" Glorria kembali memonyongkan mulutnya karena Dallen tidak mengetahui jika itu adalah gaun yang diinginkan Dallen.
"Hemm oke baiklah gadis kecilku, Uncle minta maaf karena Uncle tidak tahu apa kamu menyukainya gadis kecilku?" Dallen kembali bertanya kepada Glorria, dan Glorria langsung menoleh kearah Dallen sambil nyengir seperti kuda, "hemm baiklah ayok kita tanya dengan pemilik toko ini" Dallenpun kembali berjalan kearah kasir dia akan membelikan gaun yang diinginkan Glorria, meskipun dengan uang yang pas-pasan, tapi Dallen sangat bahagia melihat keceriaan Magnolia.
Setelah melakukan pembayaran Dallen dan Glorriapun bergegas pulang, namun tak disangka-sangka dipertengahan jalan mobil tua Dallen tiba-tiba mati, karena mobil yang dimiliki Dallen adalah mobil tua peninggalan nenek Ross. "Yah mobilnya mati lagi ya Uncle?" tanya Glorria sambil mengerutkan dahinya "iya sayang bagaimana kalau sekarang kita jalan kaki saja" jawab Dallen Glorriapun segera turut dari dalam mobilnya "Uncle apa Uncle tidak marah kepadaku? karena uang Uncle habis untuk membeli gaun Cinderella ku?" ujar Glorria dengan lirih
Dallen langsung menghentikan langkah kakinya dan ia segera berjongkok, disamping Glorria agar sejajar dengannya.
"Hei gadis kecilku kenapa kamu bicara seperti itu? Tanya Dallen sambil menatap dan mengelus lembut kepala Glorria, "karena aku tahu Uncle tidak mudah mendapatkan uang sebanyak itu" tutur Glorria membuat hati Dallen begitu sedih, karena dia tahu sendiri jika kedua orang tua Glorria memiliki segalanya, andaikan saja waktu bisa diputar kembali mungkin Glorria sudah hidup enak dengan kedua orangtuanya yang memiliki segalanya.
Tanpa disadari celotehan Glorriapun terhenti dengan sendirinya, dan ternyata ia sudah tertidur pulas dalam gendongan Dallen. Sesampainya dirumah Dallenpun langsung membawa Glorria, masuk kedalam kamarnya Dallenpun tak lupa membuka sepatu dan pakaian Glorria dan ia segera menyelimuti tubuh mungil Glorria yang sudah tertidur lelap. Dallen mengelus rambut panjang Glorria dan mencium keningnya, Dallenpun kembali keluar dari dalam kamar Glorria dan ia pergi kedalam gudang miliknya. Ia sedang membuat pelacakan untuk mencari tahu jalan pintas menuju Paris, tanpa menggunakan pesawat. Namun Dallen kemabli merasa ketakutan karena jalan yang akan dilaluinya harus melewati perbatasan.
Kaj sangat kebingungan, karena ia sudah tidak memiliki akses untuk bisa menghubungi para anak buah Annabella atau pun Alexander. Dallen hanya bisa melenguh dan pasrah akan nasib dirinya.
"Aku harus mengumpulkan banyak uang agar aku bisa membeli dua tiket ke Paris, tapi kalau aku keempat sapi-sapi ini tidak mungkin cukup untuk membeli tiket ke Paris" gumam Dallen sambil meremas kepalanya.
Keesokan harinya Glorria sudah terbangun lebih awal karena ia akan pergi ke sekolahnya, Glorria berlenggak lenggok didepan cermin ia mencoba gaun Cinderella yang akan ia kenakan diacara ualanh tahun temannya, ia terus memutar-mutarkan tubuhnya layaknya seorang princess sambil bernyanyi. "Uncle Uncle!! Lihatlah apa aku sudah cantik?" tanya Glorria
__ADS_1
Glorriapun naik keatas tempat tidur Dallen, dimana Dallen masih tertidur lelap, "Uncle apa Uncle tidak ingin melihatku" teriak Glorria sambil menggoyang-goyangkan tubuh kekar Dallen.
"Hemm tidak Uncle tidak ingin melihatmu pergi pergi.." "Ikh Uncle jahat hikss.. Hikss"
Glorria langsung menangis, karena ia baru pertama kalinya mendengar Dallen seperti marah kepadanya. Dallen terkejut dan langsung terbangun dari tidurnya mendengar Glorria menangis, dan ia segera bangun dan melihat kekiri dan kekanan, namun keberadaan Glorria sudah tidak ada dikamarnya.
Dallen langsung panik karena Glorria tidak ia lihatnya, Dallen berlari keluar sambil menengok kiri-kanan dan ia melihat Glorria sedang berada dikandang kuda, Glorria menangis disamping anak kuda kesayangannya yang diberi nama Molly.
hati Dallen kembali tenang dan ia berjalan mendekati Glorria yang sedang ngambek dan menangis, "hemm maafkan Uncle gadis kecilku kesayangan Uncle, Uncle janji tidak akan nakal lagi, tadi Uncle sedang bermimpi hadi Uncle tidak sengaja melakukannya" Dallen mengeluarkan kelingkingnya membujuk Glorria untuk damai, namun Glorria masih tetap diam dan cemberut, "aku rindu Mammy Uncle, apa Mammy tidak merindukanku? Kenapa Mammy dan Daddy tidak menemui kita Uncle? Apa mereka sudah melupakan kita hikss hikss" ujar Glorria dengan lirih, sambil menangis sesenggukan.
Membuat hati Dallen terasa diiris-iris melihat Glorria menangis, yang merindukan kedua orangtuanya.
"Mammy dan Daddymu sedang mencari kita gadis kecilku, tapi mereka belum tahu jalan kerumah kita jadi kemungkinan mereka akan sedikit terlambat untuk sampai dirumah kita ini" ujar Dallen menenangkan Glorria
"Owh jadi Mammy sama Daddy tidak tahu jalan kerumah kita ya Uncle, kasihan sekali Mammy dan Daddy ya Uncle, bagaimana kalau mereka lelah mencari kita Uncle?" Jawab Glorria dengan begitu polos, dan ia kembali gelayutan dipangkuan Dallen.
Dallen sungguh kebingungan untuk menjawab setiap pertanyaan Glorria, yang selalu semakin besar semakin mempertanyakan keberadaan kedua orangtuanya. "Coba Uncle lihat baju sangkar burungnya wahhh cantik sekali, gadis kecil kesayangan Uncle, kamu pintar sekali memilih baju ini sayang" ucap Dallen sambil menggoda Glorria.
"Ikh Uncle ini buka baju sangkar burung namanya, tapi ini gaun Cinderella Uncle gaun Cinderella" Dallen sengaja menggoda Glorria agar Glorria tidak menanyakan keberadaan kedua orangtuanya lagi kepadanya, Dallen tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah Glorria yang lucu dan bikin gemes Dallen. "Upss Uncle aku kan mau pergi ke sekolah" Glorria berlari terbirit-birit masuk kedalam rumah, dan segera memakai seragam sekolahnya.
"Owhiya mobil Uncle kan tidak ada bagaimana aku berangkat ke sekolah Uncle? Kaj kembali berjongkok, dan dengan cepat Glorria segera naik diatas punggung kekar Dallen.
Setelah mengantarkan Glorria kesekolah, Dallenpun mengabil mobil milik yang ia tinggal ditengah jalan. Dallenpun membawanya kebengkel, setelah selesai ia kembali pulang kerumahnya, Ia terus teringat akan Glorria yang merindukan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Dallen melihat beberapa sapinya peninggalan nenek Ross, sapi Dallen hanya ada empat ekor jika dijual pun uangnya belum tentu cukup untuk membeli dua tiket pesawat rute Paris, Dallen terus berpikir keras agar ia bisa mendapatkan uang yang cukup untuk membeli dua tiket.
Setelah melakukan pemerasan susu sapi perah miliknya, Dallenpun bergegas pergi untuk menjemput Glorria di sekolahnya. "Uncle apa mobilnya sudah sembuh?" tanya Glorria sambil mengelus mobil tua milik Dallen, "iya gadis kecilku tadi Uncle sudah bawa dia berobat ayok naik' Glorriapun naik kedalam mobil tuanya, "Uncle nanti sore acara ulang tahun Basten, nanti Uncle ikut denganku ya" Dallenpum hanya bisa menganggukkan kepalanya, kalau Glorria sudah meminta Dallen tidak bisa menolaknya. Akhirnya merekapun telah sampai dirumahnya, Glorria segera mengganti pakaiannya, dengan pakaian sehari-harinya, dan seperti biasa Ia akan menghasilkan waktunya mengikuti Dallen bekerja Glorria berlari-larian diladangnya.