KEJAMNYA MAFIA CANTIK

KEJAMNYA MAFIA CANTIK
Deborah nama yang cantik


__ADS_3

Dark dan Dallenpun akhirnya ikut masuk kedalam rumah pria paruh baya tersebut.


Tanpa diminta pria tua itu sudah menyiapkan makan siang untuk mereka, dan beberapa just serta minuman lainnya. Glorria ia menatap tajam kearah roti sandwich kesukaannya, sambil menelan ludahnya ia sudah tak tahan ingin menyantap roti sandwich yang ada dihadapannya.


"Paman Grandpa, bolehkah aku memakan roti sandwichmu ini?" Tanya Glorria sambil melirik kearah Raul pemilik rumah.


"Hahaha tentu boleh gadis cantik, silahkan kamu ambil dan makanlah nak" ucap Paman Raul sambil tertawa geli melihat tingkah Glorria yang lucu, Glorria yang sudah tak tahan melihat roti sandwich yang disuguhkan oleh Raul, yaitu pria paruh baya tersebut.


Dengan lahapnya Glorria memakan roti sandwich yang disuguhkan oleh paman Raul,


tiba-tiba suara tangisan bayi mungil terdengar nyaring.


owe..owe..owe..owe..


"Drak buatkan aku susu, bayinya haus Drak" pinta Dallen sambil berdiri dan menggendong bayi mungil Annabella.


Dengan cepat Drakpun meminta ijin untuk pergi kedapur paman Raul, untuk membuatkan susu bayi Annabella,


"silahkan kalian tidak perlu sungkan anggaplah jika ini adalah rumah kalian sendiri, pergilah anak muda, buatkan bayi kecil itu susu, kasihan dia pasti sudah lapar" jawab Paman Raul


"Hay adik kecilku, jangan menagis aku ada disini kamu yang sabar ya, Uncle manis sedang membuatkan susu untukmu" ucap Glorria sambil mengajak main adik bayinya.


Glorria ia teringat akan pesan Annabella ibunya, jika adik kecilnya harus diberi nama olehnya.


Wajah Glorria mendongak keatas langit-langit, ia memikirkan nama untuk adik bayinya.


"Deborah.. yes Deborah Uncle, panggil adik kecilku Deborah, agar namanya mudah untuk diingat" ucap Glorria sambil tersenyum antusias,


"Cup.. Cup.. Deborah sayang"


Dallen ia hanya tersenyum melihat tingkah Glorria, dengan mudahnya memberikan nama untuk adik kecilnya.


Tak lama kemudian Drakpun datang dengan membawakan sebotol susu untuk Deborah adik dari Glorria.


Glorria ia baru teringat akan senjata yang diberikan oleh Annabella kepadanya, "Uncle manis senjata pemberian Mammyku dimana? apa kamu menyimpannya?" Tanya Glorria kepada Drak.


"Iya sayang, senjatamu ada padaku" jawab Drak, Glorriapun tersenyum dan mengangkat jempolnya.


"Maaf sebelumnya paman Raul, anda ini siapa? kenapa anda membantu kami?"


Drak mulai bertanya kepada paman Raul yang baru dikenalnya, Paman Raul tersenyum saat mendapati pertanyaan dari Drak terhadapnya.


"Tidak perlu kalian pertanyakan siapa saya anak muda, yang jelasnya saya tahu siapa kalian, kalian inj adalah anak buah Mikael Mullerkah ketua Mafia Paris itu kan?" Tanya balik Paman Raul.


Drak dan Dallen melongo saat mendengar apa yang diucapkan oleh paman Raul,

__ADS_1


"bagaimana anda mengetahuinya Paman Raul? Kalau kami ini anak buah dari tuan Mikael Muller?" tanya Drak penasaran,


Paman Raul menunjuk kearah jas yang Dallen pakai, di jas tersebut terdapat logo MMA


"saya adalah Raul Muller, kakak dari Mikael Muller" uacap Paman Raul sambil tersenyum.


Dark dan Dallen benar-benar tercengang saat ia mendengar apa yang dikatakan oleh paman Raul terhadap mereka,


"jadi anda adalah kakak tuan Mikael Muller?"


"Iya itu betul sekali anak muda, saya adalah kakaknya hanya saja kami terpisah sejak Mikael berusia lima belas tahun, karena dia tersesat ditengah hutan Belanda, dan tak berhasil kami temukan setelah sekian tahun saya sudah melihat Mikael sudah berubah menjadi pemimpin di Paris" tutur Paman Raul


Ternyata Paman Raul adalah kakak kandung dari Mikael, yang tak diketahui oleh orang-orang, termasuk para tetua klan.


Paman Raul tak ikut terjun menjadi seorang Mafia seperti Mikael, karena mereka memiliki profesi yang berbeda, meskipun dari kakak mereka memiliki turun temurun darah Mafia, tapi tidak dengan Paman Raul dia lebih memilih menjadi seorang petani.


Karena Paman Raul lebih memilih hidup normal menjadi seorang petani dengan istri dan kedua anaknya yang kini berada di Eropa.


Drak dan Dallen hanya saling lirik dan sesekali mereka menganggukkan kepalanya, karena mereka sangat bersyukur telah dipertemukan dengan orang yang tepat.


Darkpun menceritakan semuanya apa yang menimpa keluarga Mikael Muller, dan begitu juga dengan keluarga kecil Annabella tadi malam.


"Iya saya sudah mendengarnya jika Mikael Muller sudah meninggal dunia, owhiya jadi gadis-gadis kecil ini cucunya Mikael?" tanya Paman Raul, sambil melirik kearah Glorria dan Deborah.


"Iya Paman betul Paman" jawab bali Dallen


"Ohh Cup.. Cupp.. Mikael lihatlah betapa cantiknya cucu-cucu mu, andaikan saja kau masih ada betapa senangnya dirimu memiliki dua orang cucu yang cantik" ucap Paman Raul, dengan senangnya Paman Raul segera belanja untuk perlengkapan bayi mungil cucu dari adiknya Mikael.


Hari telah berganti bulan telah berlalu, tak terasa kini Annabella sudah 1 tahun lamanya menjadi penghuni penjara ditengah-tengah pulau yang sangat menyeramkan dan kotor.


Hari-hari menyebalkan telah dilewati oleh Annabella, meskipun kondisinya baik-baik saja namun ia dibawa oleh Aubert dan para anak buahnya ke Belanda, dan menjadi tawanannya.


Annabella dikurung disalah satu penjara ditengah pulau kecil yang dijaga ketat oleh para anak buah Aubert, kedua kakinya dirantai oleh para anak buah Aubert dan ia diperlakukan seperti layaknya seekor binatang. Sungguh sangat memprihatikan dan miris keadaan Annabella saat ini.


Dengan rambutnya yang sudah acak-acakan dan pakaiannya yang sudah sangat kotor, ia tak bisa memberi perlawanan apapun dengan keadaannya saat ini.


Sedangkan Alexander diapun sama dengan yang dialami Annabella, dikurung didalam penjara di negara Meksiko. Karena Ames dan para anak buahnya yang telah membawa Alexander ke Meksiko, namun bedanya Alexander dipenjara ditengah hutan dengan dijaga ketat oleh para anak buah Ames.


Sedangkan Maicon dan Aiken serta Arno, mereka tak kembali kekediamannya di Italy, karena markas dan rumah milik Maicon telah mendapatkan serangan dari Ernesto, yang merasa di khianati oleh Maicon.


Dimalam itu saat Maicon sedang berada di Paris, Ernesto dan para anak buahnya melakukan penyerangan terhadap markas dan rumah megah milik Maicon. Karena Ernesto mengetahui jika dirumah dan dimarkas Maicon tak ada pemimpinnya, maka dengan leluasa Ernesto beserta para anak buahnya menyerang markas dan rumah megah milik Maicon, hingga pertumpahan darahpun terjadi, antara para anak buah Maicon dan para anak buah Ernesto, para anak buah Maicon banyak sekali yang tewas dalam waktu satu malam.


Rumah dan markas milik Maicon hancur berkeping-keping hingga tak ada yang tersisa sedikitpun.


Ernesto sangat puas dengan penyerangan yang telah dilakukannya terhadap Maicon, yang sempat menjadi sahabatnya.

__ADS_1


Keberadaan Maicon kini masih di negara Paris, namun ia bersembunyi di salah satu tempat yang jauh dari kota. Maicon dan pengawal setianya Arno beserta Aiken, mereka menempati rumah yang tak begitu besar mereka tempati.


Disaat seperti sekarang ini, Maicon baru menyadari dengan kesombongannya selama ini, ia sadar jika tanpa para pengawalnya, ia bukanlah apa-apa. Saat ini Maicon sudah jauh berbeda, ia memperlakukan Arno dan Aiken sudah seperti anaknya sendiri, meskipun Aiken dan Arno masih sangat canggung terhadap tuan mereka.


"Aiken.. Arno.. Saya sangat merindukan putraku Alexander dan menantuku, begitupun dengan kedua cucuku dimana mereka sekarang? apa mereka baik-baik saja?" ujar Maicon dengan lirih.


Arno dan Aiken ikut sedih mendengar keluhan Maicon saat ini, "tuan saya yakin jika mereka akan baik-baik saja, dan berada ditempat yang aman saat ini" ucap Aiken menenangkan Maicon.


"Kenapa kau begitu yakin Aiken, dengan putra dan menantuku akan baik-baik saja?" tanya balik Maicon


"Karena saya tahu betul siapa nona Annabella, ia adalah pahlawan di klannya, maka saya percaya jika tuan Alexander dan kedua cucu anda akan baik-baik saja" ucap Aiken


Maiconpun kembali terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Aiken, meskipun hatinya tak bisa dibohongi jika keadaan Alexander dan Annabella pasti sedang tidak baik-baik, karena kalau mereka baik-baik saja sudah pasti Annabella dan Alexander akan mencari keberadaannya yang sudah satu tahun lamanya.


"Aiken dan kau Arno jika kalian ingin pergi meninggalkanku lakukanlah, saya tidak akan menghalangi kalian" ujar Maicon dengan lirih


"Tidak tuan jangan pernah katakan itu, kami akan selalu ada untuk menjaga tuan dengan nyawa kami" jawab Aiken dan Arno


Tak terasa buliran bening menetes dari kedua mata Maicon, ia sangat bersyukur kedua pengawalnya masih setia kepadanya.


Disisi lain, Glorria kini ia sudah berumur delapan tahun tahun dan si kecil Deborah genap satu tahun, paman Raulpun merayakan ulang tahun Glorria dan sikeci Deborah, meskipun hanya seadanya. Tapi ia begitu menyayangi Glorria dan Deborah untuk mengobati rasa rindunya, terhadap kedua anak-anaknya yang tak pernah mengunjunginya, keberadaan Glorria dan Deborah bisa mengobati perasaannya.


Glorria ia sudah tidak pernah bersekolah lagi, namun Drak dan Dallen berusaha mengajarkannya apa yang pernah mereka ketahui.


Glorria dia sudah sangat mahir menggunakan pisau dan senjatanya, bahkan Paman Raul sengaja membelikan anak kuda untuk Glorria pas di hari ulangtahunnya.


Sedangkan keseharian Dallen dan Drak selain mengurus kedua anak-anak Annabella, mereka juga membantu perkebunan Paman Raul yang begitu sangat luas.


Glorria dia sangat senang karena ia telah mendapatkan kado ulang tahunnya berupa anak kuda yang ia idam-idamkan, karena Glorria masih mengingat anak kudanya yang diberi nama Molly. Hingga kini anak kuda yang barupun ia berikan nama yang sama yaitu Molly.


"Uncle manis Uncle Kaj, apa aunty Mammy dan Uncle Daddy baik-baik saja saat ini?" tanya Glorria kepada kedua Unclenya.


Dark dan Dallen hanya saling pandang mendengar pertanyaan Glorria kepada mereka, "owh tentu cucu tercantikku, Mammy dan Daddymu pasti baik-baik saja" ucap Paman Raul, Paman Raul langsung menjawab pertanyaan Glorria tentang keadaan Annabella dan Alexander.


Glorriapun kembali tersenyum saat mendengar penjelasan dari Paman Raul, meskipun diawal wajahnya sudah sangat terlihat murung dan sedih, karena ia teringat akan hari terakhir perpisahan dengan kedua orangtuanya.


"Paman Grandpa kenapa aunty Mammy dan Uncle Daddy, memiliki banyak musuh ya?" Glorria kembali bertanya, hingga membuat Drak dan Dallen begitu terkejut dengan pertanyaan Glorria kali ini.


"Cucu tercantikku, nanti kau akan mengerti jika waktunya sudah tiba" jawab Paman Raul sambil tersenyum.


Glorriapun menganggukkan kepalanya karena saat ini benar-benar tak mengerti dengan kedua orangtuanya, yang selalu dikejar oleh para musuhnya.


Glorria memeluk Paman Raul, ia mengucapkan kata terima kasihnya kepada paman Raul, karena dia telah dibelikan seekor kuda.


Sikecil Deborah ia sedang masa aktif-aktifnya merangkak, sehingga membuat Dallen dan Drak sering kewalahan dalam mengasuh si kecil Deborah. Dark dan Dallen terpaksa harus tidur dalam satu kamar, karena mereka sangat takut jika sikecil merangkak pergi dari tempat tidurnya tanpa sepengetahuan mereka.

__ADS_1


Di dalam kamar, Drak dan Dallen sudah seperti ibu-ibu yang habis melahirkan, karena posisi mereka tidur dikelilingi dengan perlengkapan bayi milik Deborah.


__ADS_2