KEJAMNYA MAFIA CANTIK

KEJAMNYA MAFIA CANTIK
Glorria berhasil keluar


__ADS_3

Glorria mengarhkan laju motornya menuju bandara, entah apa yang ada dipikirannya dengan secara tiba-tiba dia ingin pergi kesuatu tempat yang cukup jauh, tanpa pikir panjang lagi Glorria ia langsung mulai membeli tiket pesawat rute Jepang.


Glorria dia tidak membawa motornya, sengaja dia tinggalkan sepeda motornya ditempat penitipan, setelah mendapatkan tiket Glorriapun segera naik dan ia masuk kedalam pesawat rute Jepang tersebut. Hati Glorria saat ini benar-benar sangat kecewa dengan adik kesayangannya, hingga ia merasa tak berguna berada disamping keluarganya.


Glorria ia duduk dikursi pesawat sesuai dengan nomor urut yang tercantum didalam tiket pesawat, Glorria menutupi wajahnya dengan sapu tangan yang selalu ia bawanya, karena dia merasakan lelah dan mengantuk.


Hingga akhirnya tanpa ia sadari Glorriapun sudah tertidur begitu lelapnya, hingga tak terasa ia tertidur sudah sepuluh jam lamanya, tak lama kemudian pesawat yang ia naikinya sudah tiba di Jepang. Glorria kemabli berjalan keluar dan ia berjalan menuju transportasi umum, sungguh diluar nalar pikiran dan hatinya seperti ada yang membawanya untuk datang ketempat tersebut. Meskipun dia sendiri tidak memiliki tujuan untuk saat ini, dia hanya mengikuti kata hatinya yang ingin pergi ketempat itu.


Setelah ia berhasil mendapatkan transportasi umum, Glorriapun segera naik transportasi rute Kamagasaki Osaka, sebenarnya ia tak memiliki rencana untuk mendatangi tempat tersebut, ia hanya mengikuti rute terinspirasi kemana akan membawanya. Hingga akhirnya transportasi umum yang ia naikinya berhenti didaerah pelosok, susana sangat sepi seperti tanpa penghuni. Namun Glorria tetap berjalan masuk kedalam perkampungan yang begitu sepi, Glorria melihat jam ditangannya ternyata sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Glorria memperlihatkan kesekelilingnya ia berniat akan mencari tempat penginapan yang ada disekitar itu, hingga tanpa disengaja ia bertemu dengan salah seorang warga Jepang.


Glorria ia segera menghampiri pria paruh baya dengan perawakan pendek dan memiliki mata yang sipit.


"Permisi tuan saya ingin bertanya, apa disekitar sini ada penginapan.?" Tanya Glorria kepada pria paruh baya itu dengan sopan.


Pria paruh baya yang ditanya oleh Glorria tak menjawab langsung, dia malah memperhatikan Glorria dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Hallo apa anda mendengar saya.??" Glorria kembali bertanya dan kali ini ia melambaikan tangannya kearah wajah pria tersebut.


Pria tersebut tersentak dan ia baru menyadari jika perempuan yang ada dihadapinya adalah pendatang. "Nona ini sudah sangat larut malam berbahaya bagi gadis secantik anda berkeliaran diluar, jika anda mau anda bisa menginap dirumah saya, yang letaknya tidak begitu jauh dari sini Nona, karena disekitar sini tidak ada penginapan bagaimana apa anda mau?" Jawab pria paruh baya itu, menawarkan tumpangan kepada Glorria.


Mau tidak mau Glorriapun menyetujui akan tawaran pria paruh baya tersebut, dan ia mengikuti langkah pria paruh baya itu dari belakang yang memasuki gang-gang sempit dan rumah-rumah.


Sesampainya dirumah pria paruh baya itu, Glorria ia segera diajak masuk oleh para pria tersebut. Sesampainya didalam rumah yang kecil milik pria paruh baya tadi, Glorria langsung dipersilahkan untuk beristirahat didalam kamar yang dihuni oleh tiga orang perempuan yang sudah tertidur, Glorria ia memperlihatkan ketiga tubuh dan wajah perempuan yang sudah tertidur lelap dalam satu kasur.


Dan Glorria kembali dibuat terkejut oleh salah satu perempuan yang berwajah bule sama seperti dengan dirinya, Glorriapun duduk disamping ketiga perempuan-perempuan yang sedang tertidur. Tanpa disengaja Glorria mendengar pembicaraan pria paruh baya yang membawanya tadi, feeling Glorria mulai merasakan ada yang tidak beres dengan pria paruh baya tadi.

__ADS_1


Namun Glorria berusaha tenang ia menunggu ketiga perempuan-perempuan yang ada dihadapannya terbangun, pagi haripun tiba dan ketiga perempuan-perempuan itupun sudah terbangun dari tidurnya, namun dengan serentak mereka terkejut saat melihat keberadaan Glorria, yang duduk diantara mereka. Ketiga perempuan-perempuan tersebut saling lirik satu sama lain melihat kearah Glorria, yang menampakkan senyumannya kearah mereka.


"Hey kau siapa? Kenapa kau bisa ada disini apa kau ditangkap oleh Chitora.?" Tanya perempuan bule itu kepada Glorria, Glorria yang bingung dengan pertanyaan perempuan bule, Glorria ia hanya menggelengkan kepalanya, karena ia tidak merasa ditangkap oleh pria yang mengajaknya tadi malam.


"Malang sekali nasibmu perempuan cantik" ucap perempuan bule tersebut.


"Maksud anda apa..?" Glorria balik bertanya dengan perkataan perempun bule.


"Maksudnya malang sekali karena kau akan menjadi korban selanjutnya dan pastinya kau juga akan mengalami hal yang sama dengan kami, nanti kau akan dijual oleh Chitora kepada pria-pria hidung belang." Tutur ketiga perempuan tersebut, bercerita panjang lebar,


Glorria ia kembali tersentak saat ia mendengar penjelasan dari perempuan yang memiliki mata sipit tersebut. "Kenalkan namaku Azusa, aku asli Jepang Tokyo dan dia Asami adikku, kami berdua diculik oleh Chitora saat kami pulang dari tempat kerja." Tutur Azusa memperkenalkan dirinya dan juga adiknya kepada Glorria.


"Kenalkan aku Nowela dari London akupun sama telah dijebak oleh pria paruh baya itu." ucap Nowela memberikan mengatakan hal yang sama seperti Azusa, Glorria ia tak habis pikir dengan ketiga perempuan muda itu, Glorria hanya melongo setelah mendengar penuturan para perempuan, yang posisinya sedang disekap oleh pria yang ditemuinya tadi malam. Glorria ia berpura-pura bodoh dan hanya manggut-manggut mendengar celotehan ketiga perempuan muda tersebut, dia tidak memberitahukan siapa dirinya dan asalnya, Glorria ia mengenalkan nama samarannya yaitu Flora.


Para perempuan perempuan tersebut sudah dua bulan lamanya dalam penyekapan pria paruh baya itu. "Apa kalian tidak ingin keluar dari tempat ini.?"  Tanya Glorria kepada para perempuan perempuan yang sekarang menjadi teman barunya.


Teman-teman Glorria keluar dari dalam kamarnya mereka mengajak Glorria untuk sarapan, Glorriapun ikut sarapan dengan ketiga teman barunya. Glorria ia tak lepas melihat kesekelilingnya namu tak ada celah sedikitpun diruang itu untuk melarikan diri, Glorria ia berjalan mendekati pintu keluar dan memegangi gagang pintu, namun benar apa yang dikatakan oleh ketiga teman barunya jika rumah tersebut dikunci dari luar.


Setelah selesai memakan sarapan yang disediakan oleh Chitora, Glorriapun kembali masuk kedalam kekamar. Ia memikirkan jalan keluar untuk menyelamatkan para teman barunya. Ketika malam tiba pintu keluar dibuka dan Chitora datang menghampiri ketiga tema-tema Glorria dan membawa Azusa dan Asami keluar, sedangkan Glorria dan Nowela tidak dibawa oleh pria paruh baya yang tak lain Chitora. Setelah melihat Chitora dan kedua temannya keluar, Glorria berlari kearah pintu dan ia mengintip dari celah pintu yang terdapat lobang kecil.


"Hahaha kita berhasil mendapatkan perempuan-perempuan bule lagi Chitora haha dan sebentar lagi kita akan mendapatkan penghasilan dari dua perempuan bule itu hahaha." Azusa dan Asami


"Oh my god.. berarti mereka masih satu komplotannya hemmm, dan bekerja sama oke kalau begitu kalian sudah bermain-main denganku" gerutu hati Glorria.

__ADS_1


Glorria kembali masuk kedalam kamar dan ia mendekati Nowela, dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Nowela saat tertangkap oleh Chitora.


Sambil celangak-celinguk Nowelapun mulai menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya dua bulan silam, Nowela juga memberi tahukan jika dirinya adalah salah seorang anak ketua Mafia di London. Tanpa pikir panjang Glorria segera pergi kekamar mandi, dan tak ketinggalan dengan tas yang dibawanya Glorria merapikan dirinya dan ia mengisi amunisi senjatanya dengan full. Setelah selesai ia segera menyuruh Nowela untuk merapikan diri, dan memakai celana panjang agar tak kesulitan jika berlari nanti. Nowelapun ia menurut dengan apa yang dikatakan oleh Glorria, setelah semua rapi Glorria memberitahukan jika Nowela harus bersiap-siap untuk berlari. Setelah beberapa jam menunggu kedatangan Chitora dan Azusa beserta Asami kembali, Glorria ia sudah mempersiapkan pisau tajam dikedua tangannya yang tertutup oleh jaket kulitnya.


Tidak berselang lama


Cekrekkk..


Tiba-tiba suara pintu terdengar dan dibuka dari luar, Chitora dan Azusa juga Asami telah masuk kedalam rumah. Namun Azusa dan Asami kembali mulai berakting seolah-olah mereka teraniaya oleh Chitora.


Sedangkan Glorria dan Callista mereka sudah bersembunyi dibalik pintu, Glorria menunggu Chitora menutup pintu, sedangkan Callista sudah siap akan merebut kunci yang dipegang oleh Chitora, dengan hitungan ketiga Glorria langsung meloncat kearah Chitora dan menikamkan pisau tajamnya tepat dibagian leher Chitora.


Crepp..


Creppp..


''Aarghhh.!! Aarghhh..!!"


Suara teriakan Chitorapun terdengar, karena bagian lehernya digorok habis oleh Glorria. Glorria kembali menarik rambut Asami yang akan berlari kearah luar, dan sebelah kaki Glorria melesat menendang kedua kaki Azusa yang sama akan melarikan diri. Dengan kecepatan tangannya ia menacapkan pisau tajamnya dibagian dada Asami dan Azusa.


Glorria segera menarik tangan Nowela keluar dan berlari melewati gang-gang sempit yang terdapat dilokasi tersebut, dengan begitu kencang Glorria dan Nowelapun berlari menuju jalan keluar, dan akhirnya mereka berhasil keluar. Namun suara teriakan terus terdengar dari para anak buah Chitora, yang mengejar Glorria dan Nowela, sehingga Glorria dan Nowelapun mempercepat larinya.


Glorria ia berlari menjauh dari jalan besar ia memilih masuk kejalan perkampungan, yang dipenuhi dengan kebun-kebun warga sekitarnya.

__ADS_1


Dengan terengah-engah Glorria dan Callista terus berlari tanpa lelah menyusuri kebun, hingga mereka bertemu dengan jembatan gantung untuk menyebrangi perbatasan antara perkampungan dan hutan. Glorria membawa Nowela melewati jembatan gantung, meskipun kedua kaki Nowela berkali-kali terpeleset namun Glorria terus membantunya.


Hingga akhirnya mereka berhasil melewati jembatan gantung pembatas, dengan sigap Glorriapun segera memotong tali penyangga jembatan gantung tersebut. Yang terbuat dari tali bambu dan rotan, ketika para anak buah Chitora sudah berada ditengah-tengah jembatan gantung tersebut, seketika tali penyangga pun putus dan merekapun terjatuh kedasar jurang yang begitu curam.


__ADS_2