KEJAMNYA MAFIA CANTIK

KEJAMNYA MAFIA CANTIK
Mati kau brengsek


__ADS_3

Setelah berhasil membuat para anak buah Zaidan tewas, kini Glorria dan Bastev berhasil masuk kedalam rumah Ernesto. Meskipun posisi Bastev dan Glorria sudah berhasil masuk kedalam rumah Ernesto, namun tak mudah untuk Glorria dan Bastev untuk menemukan Zaidan.


Karena Glorria dan Bastev kembali di hadapkan dengan para anak buah Zaidan, yang terus bertambah dan tak kunjungan habis meskipun komplotan mereka sudah banyak yang tewas.


Felix pengawal utama Zaidan, dia berlari menuju kamar Zaidan untuk memberitahukan majikannya, jika rumah tuannya sedang mendapatkan penyerangan. Namun Glorria lebih dulu melihat Felix, dengan kecepatan kedua kakinya. Glorria menghampiri Felix dan langsung menerjang tubuh Felix hingga tersungkur.


Bastev, ia mempercepat gerakannya karena ia telah kehilangan Glorria yang tadi berada tak jauh darinya. Bastev kehabisan amunisinya dengan sigap ia mulai melawan para musuhnya dengan tangan kosong, kemampuan Bastev sudah tidak perlu diragukan lagi ia begitu mahir dalam beladiri.


Tendangan dan tonjokan kedua kaki dan tangannya Bastev, berhasil melumpuhkan para anak buah Zaidan yang berusaha menghadangnya.


Perasaan khawatir Bastev terhadap Glorria yang tengah hamil, membuat Bastev semakin bersemangat dan menggila melawan para musuhnya. Hingga tak segan-segan Bastev mematahkan anggota tubuh dan leher-leher musuhnya dengan begitu sadis.


Glorria yang sudah berhasil menendang tubuh Felix, dengan gerakan cepatnya Glorriapun kembali menaiki tubuh kekar Felix yang masih tersungkur, dengan membabi-buta Glorria menghajar wajah dan tubuh Felix hingga babak belur.


Dengan cepat Glorria menacapkan pisau tajamnya dibagian dada Felix hingga menembus ke jantung Felix. Dengan begitu kuatnya Glorria menarik dan kembali menghunuskan pisau tajamnya, hingga membuat dada dan perut Felix tercabik-cabik dengan kondisi perutnya sudah terbelah bak ikan geprek.


Glorria, ia masih belum puas dengan apa yang di lakukannya terhadap pengawal Zaidan. Dia segera berdiri dan menginjak kepala Felix yang sedang sekarat, ia menggorok leher Felix dengan sadis hingga nyaris putus.


Para anak buah Zaidan yang berlarian kearah Glorria, mereka beringsut mundur dengan menelan saliva mereka masing-masing, saat mereka melihat keadaan Felix, seorang kaki tangan Ernesto telah tewas ditangan perempuan cantik yang tengah hamil.


Tak di sangka-sangka para anak buah Ernesto melemparkan senjata mereka kehadapan Glorria, mereka bertekuk lutut di hadapan Glorria yang masih berdiri dengan kedua pisau tajam di tangannya. "Cepat tunjukkan dimana keberadaan tuan kalian?!!" Bentak Glorria dengan nada menakutkan.


Glorria, dia sudah faham jika para anak buah Ernesto sudah menyerahkan diri dan ketakutan, Glorria tidak lupa mengintrogasi para anak buah Ernesto agar mereka memberitahukan keberadaan Zaidan tuan mereka.


Dengan serentak para anak buah Ernesto menjulurkan tangan mereka kelantai atas dimana Zaidan berada saat ini, Glorria tersenyum menyeringai dengan sorot kedua matanya yang tajam.


Glorria kembali menendang senjata-senjata para anak buah Ernesto kearah mereka. "Lepaskan jas kalian dan ambil senjata-senjata kalian ikut denganku." Dengan cepat para anak buah Ernesto pun mengangguk dengan perintah Glorria, anak buah Ernesto yang berjumlahkan 30 orang lebih itu segera, mengambil senjata mereka masing-masing dan melepaskan jas yang mereka kenakan, hingga hanya kemeja putih yang melekat ditubuh mereka. Dengan cepat mereka berjalan menuju lantai atas dimana Zaidan sedang berada didalam kamarnya.


Namun ketika mereka tiba dilantai atas para anak buah Zaidan kembali menghadang para anak buah Ernesto, yang sudah ikut bergabung dengan kelompok Glorria, namun tak disangka-sangka para anak buah Zaidan malah ikut melepaskan jas mereka tanpa diminta oleh Glorria.


Karena mereka melihat para teman-teman mereka ikut berada di pihak Glorria, para anak buah Zaidan dan Ernesto kini sudah menjadi pengikut Glorria tanpa diminta. Glorria berjalan dengan begitu santainya menaiki anak tangga, para anak buah Ernesto dan Zaidan yang baru saja ikuti gabung di kelompok Glorria pun sudah berjejer disamping pintu kamar Zaidan.


Glorria, mengibaskan tangannya agar para anak buah barunya mendobrak pintu kamar Zaidan. Dengan cepat beberapa anak buah baru Glorria menendang pintu kamar Zaidan hingga terbuka lebar.

__ADS_1


Gubrakk!!! Brakkk!!!


Seketika itu juga terpampang jelas tubuh Zaidan dan kedua perempuan malam tanpa mengenakan sehelai busana, para anak buah baru Glorria sudah siap berjaga-jaga diluar kamar Zaidan. Sedangkan Glorria ia berjalan masuk dengan memutar-mutarkan kedua pisau tajamnya.


Sontak saja kedua perempuan yang sedang asik diatas ranjang berhamburan, dengan keadaan tubuh mereka tanpa sehelai benangpun.


Sleep.. slepppp.. Crepp.. Crepp..


Tanpa beranjak dari posisinya dengan secepat kilat Glorria, berhasil menarik dan menggorok leher-leher kedua perempuan tersebut. Zaidan yang melihat kedatangan Glorria ia segera mengambil selimut dan menutupi bagian senjatanya yang masih berdiri tegap, namun Glorria tak kalah cepat ia menarik senjatanya dan menembak tangan Zaidan.


Dorrr..!!


Hanya dengan satu kali tembakan tangan sebelah kiri Zaidan pun mengeluarkan darah, Zaidan kembali bergetar tangan sebelah kanannya menekan tombol alarm bantuan, kepada kerabatnya yang memimpin klan Eropa.


Glorria tersenyum miring sambil berjalan mendekat kearah Zaidan, yang gelagapan tak bisa berkutik lagi, dengan gerakan cepat Glorriapun menarik tubuh Zaidan dan membantingnya kesembarang arah, Glorria mengajak Zaidan untuk bertarung dengannya.


"Hemm, ernyata kau tidak punya nyali untuk menghadapiku laki-laki biadab! Cepat hadapi jika kau berani brengsek!!" Teriak Glorria dengan lantang.


karena ia tidaklah mahir dalam beladiri.


Dengan begitu santainya Glorria menghindari setiap tendangan Zaidan, yang tak beraturan menendangkan kedua kakinya. Karena satu tangannya sudah terluka oleh tembakan Glorria, jadi dia lebih memilih menggunakan kedua kakinya untuk menyerang Glorria.


Sedangkan Bastev masih sibuk dengan melawan para anak buah Zaidan, karena Bastev melawan para anak buah Zaidan dengan tangan kosong dan kedua kakinya.


Sedangkan Dezi dan Louis, mereka sudah berhasil masuk kedalam ruangan bawah tanah. "Louis kau cepat cari Nona kecil biar aku yang menghadang mereka.!!"


Dezi berteriak memberitahukan Louis, agar Louis segera menerobos masuk untuk mencari keberadaan Deborah didalam ruang bawah tanah.


Tanpa basa-basi Louispun segera menerobos masuk kedalam ruang bawah tanah, dan beruntungnya diruang bawah tanah hanya ada 3 orang anak buah Zaidan yang sedang berjaga.


Dorrr.. Dorrrr..


Dengan kecepatan tangan Louis, dia berhasil menembak ketiga anak buah Zaidan hingga tewas, Louis terus berjalan melihat satu persatu jeruji besi ketika ia tiba dijeruji besi yang terakhir, Louis melihat tubuh Glorria yang sedang meringkuk dengan kondisi pakaiannya yang tercompang camping.

__ADS_1


Dengan cepat Louis membuka pintu yang terbuat dari besi tersebut hingga terbuka lebar.


"Nona! Cepat bangunnn kita harus segera pergi dari sini" ucap Louis, Deborah ia menoleh kearah suara yang didengarnya, dengan begitu senangnya Deborah langsung tersenyum dengan wajah pucatnya dan luka lebam diwajah dan sekujur tubuhnya.


Deborah segera bangkit namun tiba-tiba tubuhnya ambruk, ia sudah tak kuat untuk menopang kedua kakinya. Dengan cepat Louis menggendong tubuh Deborah yang terlihat agak sedikit kurus, Louis membawa tubuh Deborah keluar dari dalam jeruji besi yang mengurungnya, Tubuh kekar Louis terus berlari keluar dari ruangan bawah tanah.


Ketika Louis tiba dipintu gerbang keluar ruangan bawah tanah, ia kembali dihadang dengan beberapa anak buah Althaf yang baru saja tiba karena panggilan dari Zaidan tadi.


Dezi yang berbeda tak jauh dari Louis ia segera mengarahkan tembakannya kepara akan buah Althaf. Sehingga sebagai anak buah Althaf berhamburan karena menghindari tembakan dari Dezi.


"Cepat pergi Louis!!!"


Teriak Dezi.


Dengan tergopoh-gopoh Louispun kembali berlari keluar dari dalam halaman rumah Ernesto, ia mencari mobil yang dekat dengannya. Dan akhirnya Louis berhasil masuk kedalam salah satu mobil yang berjejer, namun keberadaannya telah diketahui oleh para anak buah Althaf yang baru saja keluar dari dalam mobil mereka.


Hingga para anak buah Althaf pun mengarhkan tembakannya kearah Louis, dengan cepat Louis menacapkan gas mobilnya hingga ia berhasil keluar dari kerumunan para anak buah Althaf yang sedang menghadangnya.


Bastev, dia sudah berhasil membuat para musuhnya tewas, ia segera naik kelantai atas menyusul Glorria yang sedang bertarung dengan Zaidan.


Namun langkah kaki Bastev ditahan oleh anak buah baru Glorria, "tuan cepet keluar tuan Zaidan memanggil anak Mafia Eropa cepat selamatkan Nona Anda.." Ungkap salah satu anak buah Ernesto, yang sudah mengetahui jika Zaidan sudah memanggil para kerabatnya kelompok Mafia Eropa.


Dengan cepat Bastev pun masuk kedalam kamar dimana Glorria berada. "Cepat bereskan Glorria sayang, kita tidak punya banyak waktu." Saat Zaidan mendengar perkataan Bastev, ia tersenyum getir kearah Glorria, ia bahagia karena panggilan daruratnya berhasil.


Saat Glorria melihat Zaidan tersenyum dengan secepat kilat kedua tangan Glorria mengibaskan kedua pisau tajam miliknnya, tepat dibagian tubuh Zaidan dan Glorria berlalu pergi dengan berlari meninggalkan Zaidan, sedangkan Zaidan ia masih berdiri dengan tubuh pelontosnya


Zaidan, dia merasa perih di bagian perut dan lehernya, Zaidan masih berdiri mematung tubuhnya terasa berat untuk digerakkan ia menunduk kearah bawah melihat bagian perutnya, yang secara tiba-tiba mengeluarkan darah semakin lama semakin banyak membuat ia terkejut, saat dirinya akan berteriak sekeras mungkin tiba-tiba suaranya menghilang, dan yang keluar adalah suara dengkuran dari lehernya yang sudah terpotong. Seketika tubuh Zaidan ambruk dan tewas dengan leher yang terpotong dan perutnya yang terbelah sungguh sangat mengerikan.


Dezi, dia terus berlari menghindari serangan musuhnya, ia menghampiri Glorria dan Bastev yang berlari menuju pintu keluar. "Tuan Bastev cepat kita harus keluar dari rumah ini kita sudah dikepung" ucapan Dezi langsung dianggukan oleh Bastev dan Glorria.


Glorria dia berlari kearah belakang rumah Ernesto, dan ia berhasil menemukan pintu keluar begitupun dengan Bastev dan Dezi berlari mengikuti Glorria. mereka tak sanggup menghadapi para anak buah Althaf yang begitu banyak. Kini ketiganya berhasil lolos melalui pintu belakang rumah Ernesto.


šŸ„€ Mampir di cerita setan anthor yuk siapa tau menguburkanšŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2