
Matahari sudah beranjak naik menunjukan hari sudah semakin siang dan panas. Namun tidak mematahkan semangat para siswa yang sedang melakukan kegiatan mencari jejak dihutan. Karena hutan yang masih asri dan banyak pohon-pohon besar dan tinggi membuat udara disana pun sejuk walaupun sudah hampir tengah hari, panas matahari pun terhalang dedaunan pohon sehingga tidak terasa panas melainkan teduh dan sejuk.
"Al ini udah hampir tengah hari tapi kok ngga panas ya, malahan adem sejuk ada angin sepoi-sepoi" ucap Tasya dengan logat manjanya yang membuat teman-temannya selalu gemas dan geram dengannya.
"Iya sejuk tapi ngga perlu di manja-manjain suara lo, bikin jijik tau ngga" ucap Alia yang sangat sebal dengan suara Tasya yang dibuat itu
"Sirik aja lo, bilang aja lo terpesona dengan suara gue yang merdu kan?" ucap Tasya menyombongkan dirinya didepan Alia yang sejak awal bertemu selalu sebal dengan suaranya. Bukannya berhenti Tasya malah semakin menunjukan sikap dan suara manjanya didepan Alia.
"Ampun dah gue temenan sama lo, kok bisa ya ada orang yang PDnya tingkat dewa kaya gini," ucap Alia yang heran kenapa Tasya bisa mempunyai sifat yang membuatnya pasrah.
"Syukuri aja Al" ucap Yuna menggoda Alia
"Udah gue syukuri dari dulu, kalo ngga udah gue buang kejurang yang dalem biar ngga bisa balik tu orang" ucap Alia yang membuat Tasya merengek bak anak kecil, dan itu membuat yang lainnya geleng-geleng kepala.
"Kalian itu udah kaya anak kecil tau ngga, Silvi Andin ayo kita tinggalin aja mereka dari pada kita ikutan kaya anak kecil" ucap Yuna yang geram dengan sifat kedua temannya.
Setelah Yuna, Silvi dan Andin pergi meninggalkan Alia dan Tasya baru lah mereka menyudahi pertengkaran mereka.
"Yuna tungguin dong, jahat banget si lo kalo gue ilang dihutan ini gimana, ntar bonyok gue kan kasihan kehilangan anak secantik gue" ucap Tasya yang merengek kepada Yuna karena sudah ditinggal.
"Ya elah yang ada bonyok lo bersyukur kalo lo ilang" ucap Alia memulai pertengkaran dengan Tasya
"Udah diem deh! Ini dihutan jadi kalian ngga udah ribut disini, kalo mau ribut mending kalian pulang!" bentak Andin yang malas mendengar pertengkaran kedua temannya itu.
"Nggak gue mau ikut" ucap Tasya ingin ikut melanjutkan perjalanan
"Ayo kita lanjut perjalanannya, kita butuh kerja sama biar bisa sampai tujuan dengan selamat dan aman" ajak Yuna. Ia merasa tidak baik jika mereka bertengkar didalam hutan, jadi sebaiknya ia melerai pertengkaran mereka dengan melanjutkan perjalanan
Azura terus mengikuti mereka dari jarak yang cukup jauh agar tidak menimbulkan kecurigaan dan membuat rencana mereka ketahuan.
"Sebentar lagi lo harus ucapin selamat tinggal kedunia ini karena ini adalah akhir dari segalanya buat lo" batin Azura. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu lawannya jatuh ke dalam perangkapnya.
"Ayo cepet sedikit dong!" ucap Azura kepada Siska dan Abel untuk bergerak lebih cepat agar tidak tertinggal jauh oleh Yuna dan kelompoknya.
"Oke stop kita sembunyi disini," ucap Azura memberikan arahan kepada temannya. Ia memilih bersembunyi karena tempat itu sangat strategis untuk melihat kejadian yang akan segera terjadi.
"Temen-temen, tunggu dulu" ucap Yuna menghentikan langkah teman-temannya karena ia merasa ada yang tidak beres tapi ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi.
"Kenapa Yun?" tanya Silvi karena tiba-tiba Yuna menyuruh mereka berhenti
"Ngga papa cuma mau tuker posisi aja" ucap Yuna yang langsung mengubah posisinya menjadi berada didepan barisan
"Gue juga pindah posisi dibelakang Yuna deh" ucap Alia yang tidak mau jauh-jauh dari Yuna, ia juga merasakan hal yang sama dengan Yuna.
"Ya udah terserah kalian berdua, kita tinggal ngikut aja. Lagian ketuanya kan lo jadi wajar aja lo mau didepan kan?" tanya Andin kepada Yuna.
"Iya, hehe" ucap Yuna, sebenarnya bukan karena ia ketua ia berada diposisi terdepan tapi karena ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
__ADS_1
"Guys tiba-tiba gue kebelet nih," ucap Tasya membuat keresahan diantara mereka.
"Disaat kaya gini lo mau kebelakang?" tanya Alia heran kepada Tasya karena kebelet diwaktu yang salah.
"Iihh ini beneran udah dipucuk, ayo lah temenin gue" ucap Tasya memohon kepada salah satu diantara mereka untuk menemaninya kembali ke pondok untuk menuntaskan hajatnya.
"Ya udah si tinggal temenin aja, ngga perlu ribut" ucap Yuna kepada Tasya dan Alia
"Sini biar gue anter" ucap Silvi kepada Tasya
"Gue ikut ya, gue juga kebelet nih" ucap Andin kepada keduanya.
Akhirnya mereka bertiga kembali ke pondok untuk menuntaskan hajat mereka yang tertunda. Sekarang tersisa Yuna dan Alia ditempat itu menunggu ketiga temannya karena tidak tega jika harus meninggalkan mereka.
"Yun? Lo ngrasa ada yang aneh ngga? Perasaan gue ngga enak nih," ucap Alia membuat Yuna memperhatikannya dengan tatapan mengintimidasi.
"Kenapa lo liatin gue kaya gitu si? Gue serius!" ucap Alia lagi membuat Yuna mendengus kesal.
"Sebenernya gue juga ngrasain itu dari tadi, tapi gue coba buat berfikir positif aja karena gue juga bukan peramal yang bisa melihat masa depan jadi gue ngga cerita apa-apa sama kalian." ucap Yuna kepada Alia
"Gue juga gitu karena gue ngga tau apa-apa jadi gue ngga mau nyampein apa yang gue rasain. Takutnya ini cuma perasaan gue aja," ucap Alia
"Tapi gue penasaran buat lanjutin perjalanan ini. Gue lihat dulu deh jalannya" ucap Yuna lalu melangkahkan kakinya kedepan untuk melihat apa sebenarnya yang membuatnya memiliki perasaan buruk.
"Tunggu! Gue ikut," ucap Alia mengikuti langkah Yuna.
Dibelakang mereka Azura masih memperhatikan mereka dari jauh dibalik semak-semak. Tiba-tiba Abel yang sudah merasa lelah hilang keseimbangan dan menubruk tubuh Azura didepannya membuat semak-semak yang menutupi mereka bergerak dan menimbulkan bunyi cukup keras.
"Kresek"
Alia yang mendengar itu pun melihat kebelakang tapi ia tidak melihat siapapun dibelakang hanya semak-semak yang bergerak, karena takut ia berniat untuk berlari mengejar Yuna yang sudah berada didepannya. Namun ia tergelincir diatas lumpur yang sangat licin dan menabrak tubuh Yuna didepannya sehingga mereka jatuh dan tergelincir bersama.
"Aaaaaaaaaa!!!" teriak Alia memekikan telinga siapapun yang mendengarnya.
Karena jalan berlumpur itu menurun dan licin, membuat mereka terjun dengan mudah kebawah.
"Aaaaaaa tolong!!" ucap Yuna ikut berteriak karena ia merasa dalam bahaya sekarang.
Ia terus berteriak siapa tahu teman-temannya yang sedang kembali ke pondok bisa mendengarnya. Namun karena ketiga temannya tadi berlari sekarang mereka sudah jauh dari tempat Yuna dan Alia bahkan mereka sudah hampir sampai di pondok.
Saat Yuna melihat kearah depan, ia melihat lubang besar yang menganga seperti ingin menelan mereka.
"Astaga jurang! Tolong!!" teriak Yuna yang menyadari bahwa ia akan jatuh kejurang.
Alia pun ikut berteriak meminta tolong karena ia pun melihat lubang besar sudah menantikan kedatangan mereka.
"Ya Tuhan tolong lah hambamu ini yang sedang menghadapi bahaya," ucap Alia sambil menangis karena jarak mereka dengan mulut jurang sudah tidak jauh lagi.
__ADS_1
Tinggal beberapa meter lagi mereka lolos masuk kedalam jurang, Yuna mencari akar pohon disekitar mereka agar mereka tidak masuk ke jurang itu. Namun terlambat ia dan Alia jatuh kedalam jurang dengan keadaan saling berpegangan tangan.
Tapi Yuna tidak kehabisan akal ia melihat akar pohon menjuntai didinding jurang, ia pun meraihnya agar ia tidak jatuh semakin dalam.
Setelah berhasil meraihnya ia merasa sedikit lega namun tidak lama karena ia harus bertumpu pada satu tangan dan tangan satunya menahan tubuh Alia agar tidak jatuh.
"Tolonggggg!" seru Yuna yang sudah merasa tidak kuat menahan Alia.
"Alia lo harus bertahan, pegang terus tangan gue, jangan lepas tangan gue" ucap Yuna menguatkan genggamannya, sebenarnya ia tidak kuat tapi ia harus berusaha agar ia dan Alia bisa selamat.
"Lepasin gue Yun, gue udah ngga kuat tangan gue licin" ucap Alia sambil menangis.
Yuna tidak bisa jika harus melihat sahabatnya menangis dan menderita. Yuna pun mengangkat tubuh Alia sejajar dengannya agar ia bisa berpegangan pada akar pohon yang sama dengannya, karena akar itu besar setidaknya kuat untuk menahan tubuh mereka berdua.
"Lo harus kuat, gue akan mikirin cara biar kita bisa keluar dari sini," ucap Yuna menguatkan sahabatnya agar tidak mudah menyerah.
"Tapi gue takut Yun," ucap Alia yang masih menangis.
"Tolonggg! Siapapun itu tolong kami," teriak Yuna sekuat tenaga agar ada orang yang bisa mendengar suaranya.
Sedangkan Azura dan teman-temannya tertawa puas melihat Yuna dan Alia jatuh kejurang, mereka memilih untuk segera pergi karena jika tidak mereka bisa tertangkap jika ada orang yang datang. Mereka juga sudah melihat dengan mata kepala mereka sendiri Yuna jatuh ke jurang.
"Ayo buruan kita pergi dari sini sebelum ketiga temannya ataupun orang lain dateng kesini. Gue yakin mereka pasti ngga akan selamat karena jurang itu dalem kalaupun mereka masih hidup, mereka ngga akan bertahan lama. Hahahaha!" ucap Azura diikuti gelak tawanya dan teman-temannya.
Setelah kepergian Azura dan teman-temannya, Yuna terus berteriak siapa tau ada orang yang mendengarnya dan benar saja Yuna mendengar ada suara seseorang yang datang bukan hanya seseorang tapi beberapa orang karena mereka terdengar sedang berlari dan berbicara.
"Tolong!" seru Yuna, ia merasa sedikit tenang saat mendengar ada yang datang.
Alia sudah tidak kuat lagi, tangannya sudah memerah karena menahan badannya bertumpu pada kedua tangannya. Sama seperti Alia tangan Yuna pun memerah bahkan lebih merah lagi, tapi ia tak ingin meregang nyawa begitu saja.
"Yuna, Alia! Tunggu sebentar saya akan mengangkat kalian" ucap seseorang diatas sana.
"Tolong pak tolong kami, teman saya sudah tidak kuat" ucap Yuna senang karena akhirnya ada orang yang menolongnya bahkan mengenalnya, namun ia tidak tau siapa itu ia hanya mendengar suara laki-laki namun tidak tau siapa.
"Ayo pak kita bantu Yuna dan Alia naik" ucap Pak Ahmad meminta bantuan kepada Pak Indra.
"Yuna ayo pegang tangan saya," ucap Pak Ahmad kepada Yuna. Karena posisi Yuna yang tidak terlalu dalam membuat pak Ahmad mudah meraih Yuna tanpa harus menggunakan alat bantu seperti tali karena akan memperpanjang waktu dan membuat Yuna serta Alia dalam keadaan bahaya.
Yuna pun segera meraih tangan pak Ahmad. Orang yang membantu Yuna adalah Pak Ahmad, ia sangat khawatir saat melihat Yuna sedang berjuang antara hidup dan mati. Nyawanya hanya bergantung pada keberuntungan dan sebatang akar pohon yang kokoh serta tangannya yang sudah memerah, jika ia datang terlambat mungkin Yuna sudah jatuh karena tangannya yang kecil harus menjadi tumpuan seluruh berat badannya.
Alia pun diselamatkan oleh pak Indra, wajahnya tampak sangat pucat dan mata yang sembab karena ia terus menangis selama bertahan dibawah sana.
Setelah perjuangan Yuna yang sangat besar akhirnya ia selamat. Yuna tidak ingin jika ia harus meregang nyawa begitu saja, ia yakin jika ia masih diberi kesempatan hidup pasti akan ada bantuan dari Tuhan. Dan benar saja bantuan tak terduga datang menyelamatkan nyawanya dan Alia.
Jangan lupa tinggalin like dan komen, tambahkan ke favorit juga ya biar kalian ngga ketinggalan ceritanya karena setiap update akan ada notifikasi dihp kalian. Bantu vote juga ya, biar author semangat menulis cerita selanjutnya
Thankyou all😘
__ADS_1