Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
51


__ADS_3

Risam yang menerima pas foto milik istrinya itu tersenyum karena pas foto sekolah dasar istrinya itu tidak memakai hijab, “Cantik!” ucap Risam.


“Ngeledek deh.” Ucap Nayya.


Risam segera menggeleng, ”Gak sayang. Sungguh mas mengatakan yang sebenarnya. Kau cantik masih kecil. Always beautiful.” Ucap Risam.


Nayya pun tersenyum, “Mas, aku sekolah di tempat umum yaa. Jadi gak pakai hijab. Jadi maklumi sajalah. Kau mungkin hanya menerima sisa pandangan orang lain terkait rambutku. Aku adalah seorang gadis yang baru saja mengenal agama. Jadi mohon bimbing aku dan maafkan jika kau hanya menerima si--”


Risam langsung menarik Nayya ke pangkuannya dan mengecup sekilas bibir sang istri, “Jangan katakan itu sayang. Jangan bicarakan masa lalu karena kita hidup untuk masa kini dan masa depan kita nanti. Biarlah masa lalu itu menjadi kenangan indah kita. Aku pun sama denganmu sayang. Kita memiliki kekurangan kita masing dan semuanya berusaha kita perbaiki untuk menjadi lebih baik. Jadi jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi.” Ucap Risam.


Nayya pun tersenyum lalu memeluk suaminya itu erat, “Nayya sangat beruntung memiliki suami seperti mas. Terima kasih sudah memberanikan diri melamar Nayya kepada mama dan papa. Terima kasih sudah memilih Nayya sebagai istri.” Ucap Nayya dalam pelukan suaminya itu.


Risam pun tersenyum, “Aku yang beruntung sayang bisa memiliki istri seperti dirimu.” Balas Risam.


“Emm, gak mau di lanjutin nih melihat dompetnya?” tanya Risam.


Nayya pun melepas pelukannya lalu mengambil dompet suaminya itu dan membukanya hingga dia menemukan foto lain. Nayya tersenyum mengeluarkan foto itu, “Mas, kapan ngambil foto ini?” tanya Nayya setelah mengeluarkan gambar punggung seorang gadis.


“Emang kamu tahu itu punggung siapa?” tanya Risam.


“Mas, ini Nayya. Nayya sangat hafal punggung Nayya. Ayo ngaku kapan foto ini di ambil?” tanya Nayya.


“Itu bukan kamu loh sayang. Kamu punya pakaian seperti itu?” tanya Risam.


“Ish mas. Ini sungguh punggung Nayya. Ahh Nayya punya pakaiannya. Tunggu Nayya lihat dulu.” Ucap Nayya hendak berdiri dari pangkuan suaminya itu tapi di tahan oleh Risam.


“Gak usah di buktikan sayang. Itu memang dirimu. Mas hanya mengerjaimu saja. Mas pikir kamu gak tahu itu dirimu.” Ucap Risam.

__ADS_1


“Ihh mas. Jadi itu benar Nayya kan? Kapan mas mengambilnya?” tanya Nayya.


“Lihatlah di belakang fotonya sayang.” ucap Risam.


Nayya pun segera membalik foto itu dan dia tersenyum membaca tulisan di sana yang di mana di sana ada tanggal pengambilan foto.


“Nayya akan meletakkannya di dompet Nayya ahh. Nayya suka posenya. Punggung Nayya cantik.” Ucap Nayya percaya diri.


Risam pun tertawa mendengar ucapan istrinya itu, “Kamu benar sayang. Punggungmu memang cantik tapi ada yang lebih cantik.” Ucap Risam.


“Emang ada foto yang lain lagi?” cari Nayya dalam dompet suaminya itu. Nayya membongkar isi dompet suaminya itu tapi tidak menemukan foto lain yang di maksud suaminya.


“Gak ada mas. Mas sembunyiin di mana?” tanya Nayya.


“Mas gak sembunyiin sayang. Mas belum mencetaknya. Jadi masih di galeri ponsel Mas.” Ucap Risam meraih ponselnya yang tergeletak di ranjang.


“Emang boleh?” tanya Nayya balik.


Risam pun tersenyum, “Tentu boleh sayang. Kenapa sih selalu izin?” tanya Risam.


“Dompet dan ponsel itu privasi mas. Nayya gak mau melakukan sesuatu yang akan membuat Nayya over thinking dan nanti kadar kepercayaan Nayya kepada mas berkurang.” Ucap Nayya.


“Mas gak ada apapun yang di sembunyikan atau perlu di sembunyikan darimu sayang. Ponsel mas adalah milikmu. Jadi bukalah dan lihatlah karena di dalamnya hanya ada fotomu saja.” ucap Risam.


Nayya yang mendengar ucapan suaminya itu menatap dalam suaminya seolah tidak percaya, “Masa sih?” tanya Nayya.


Risam mengangguk, “Kalau tidak percaya. Buka saja sayang jika kau tidak percaya.” ucap Risam memberikan ponselnya kepada Nayya.

__ADS_1


Nayya pun menghidupkan ponsel suaminya itu dan dia terharu melihat lock screen ponsel suaminya itu yang di mana adalah foto punggungnya itu, “Passwordnya?” ucap Nayya sambil menunjukkan ponsel suaminya itu kepada Risam.


“Tanggal lahirmu sayang.” ucap Risam.


Nayya pun mengetikkan tanggal lahirnya dan terbukalah ponsel suaminya itu. Nayya pun kembali terkejut dengan wallpaper suaminya di mana itu adalah fotonya memakai gaun pengantin saat di butik, “Mas, mengambil foto Nayya saat di butik?” tanya Nayya.


Risam mengangguk, “Mas, ingin jadi yang pertama melihatmu memakai gaun itu sayang walaupun mungkin itu kali kedua kau memakainya. Tapi setidaknya sebelum para tamu melihatnya mas sudah melihatnya lebih dulu.” Ucap Risam.


Nayya pun tersenyum lalu membuka galeri ponsel suaminya itu dan lagi-lagi dia kaget begitu melihat isi galeri suaminya yang hampir 90% isinya adalah fotonya yang di ambil secara sembunyi-sembunyi, “Wah, mas sepertinya fotografer deh. Bagus-bagus semua mas.” Ucap Nayya sambil melihat hasil foto yang di ambil suaminya itu.


Risam pun tertawa mendengar ucapan istrinya itu, “Kamu bisa aja sayang. Mas masih belajar kok. Lagian sebenarnya bukan mas yang jago ngambil gambarnya tapi objek gambarnya yang cantik sehingga hasil fotonya pun memuaskan.” Ucap Risam.


“Kebiasaan deh. Mulut mas sangat manis.” Ucap Nayya.


“Sungguh?” tanya Risam mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya itu.


Nayya yang menyadarinya langsung tersenyum dan menutup mulutnya, “Itu perumpamaan loh mas. Jangan salah paham.” Ucap Nayya tertawa. Risam pun akhirnya ikut tertawa mendengar ucapan istrinya itu.


***


Keesokkan harinya, Risam dan Nayya berencana untuk belanja keperluan mereka di kota. Mereka ingin menambah furniture yang sekiranya sangat mereka butuhkan. Semalam keduanya sudah merencanakan hal apa saja yang akan mereka beli dan rencana kedepannya akan seperti apa.


Sepasang suami istri itu menggunakan mobil milik Nayya. Risam yang mengendarainya lalu keduanya segera berangkat menuju toko yang menyediakan furniture. Sekitar satu jam perjalanan akhirnya keduanya tiba di toko yang memang sudah menjadi langgganan Nayya.


Keduanya memilih furniture yang memang mereka butuhkan. Risam segera membayarnya begitu menemukan yang cocok. Setelah itu keduanya segera pergi dari sana tapi sudah memastikan bahwa furniture mereka nanti akan di antarkan.


Keduanya segera menuju supermarket untuk belanja bulanan. Sebenarnya keduanya tidak perlu melakukan ini karena Nayya sendiri memiliki minimaret. Namun Nayya dan Risam sudah memutuskan walau hanya sekali keduanya ingin merasakan bagaimana itu belanja bulanan bareng pasangan.

__ADS_1


Nayya memilih semua bahan makanan untuk mereka sambil Risam mendorong troli. Mereka terlihat seperti pasangan pengantin baru pada umumnya. Sebenarnya Nayya ingin melakukan ini hanya karena ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi tokoh dalam sebuah novel ciptaannya. Dalam novel romansa yang dia buat belanja bulanan barena pasangan itu adalah hal yang wajib. Jadi setidaknya walau sekali Nayya ingin merasakannya. Usai belanja mereka singgah sebentar di restoran untuk makan siang dan Risam singgah di masjid untuk melakukan sholat. Setelah itu keduanya segera pulang.


__ADS_2