
Setelah selesai mengganti pakaian mereka dengan pakaian biasa. Nayya ke kamar mandi untuk buang air sekaligus cuci muka. Tidak lama Nayya kembali dengan wajah fresh-nya.
“Mas, gak mau bersih-bersih dulu sebelum tidur?” tanya Nayya kepada suaminya yang sedang berbaring di ranjangnya itu.
Risam pun segera bangkit dari ranjang istrinya dan meletakkan ponselnya di ranjang istrinya lalu dia segera berdiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur nanti.
Nayya merapikan tempat tidur dulu sebelum bersiap tidur. Nayya menatap ranjangnya itu dengan perasaan tidak menentu. Yah, malam ini dan seterusnya dia akan berbagi ranjang dengan seorang pria yang statusnya adalah suami. Ini malam pertama mereka walaupun gak ada ada ritual malam pertama yang seperti pada cerita novel ciptaannya namun saja dia tetap akan berbagi ranjang dengan seorang pria yang baru dia kenal.
Nayya saking seriusnya menatap ranjang tidak sadar bahwa sang suami sudah keluar dari kamar mandi. Risam tersenyum melihat istrinya itu yang memandangi ranjang. Risam sudah bisa menduga kekhawatiran apa yang saat ini sedang mengganggu pikiran istrinya itu.
Risam segera mendekati istrinya dengan langkah pelan lalu memeluk istrinya itu dari belakang. Nayya pun kaget akan hal itu lalu dia melihat tangan siapa yang memeluknya, dia tersenyum lalu menengok dan matanya beradu dengan mata sang suami, “Kenapa menatap ranjang seperti itu? Apa kau takut kita berbagi ranjang? Mas bisa tidur di so--”
Nayya segera membalikkan tubuhnya dan menatap suaminya itu dengan dalam, “Aku bukan istri yang jahat yang akan membuat suaminya tidur di sofa di hari pertama pernikahan. Kita akan tidur di ranjang yang sama. Kita sudah menikah. Nayya memandangi ranjang karena masih tidak menyangka bahwa Nayya akan berbagi tempat tidur dengan suami Nayya. Dan bukan hanya untuk malam ini tapi malam seterusnya. Mas mengerti kan maksud Nayya?” tanya Nayya.
Risam tersenyum lalu mengangguk, “Mas mengerti sayang.” ujar Risam.
“Terima kasih.” Balas Nayya tersenyum.
Risam pun gemas dengan tingkah istrinya itu mencubit pipi istrinya, “Aw sakit mas.” Ucap Nayya cemberut.
Risam pun tersenyum, “Baiklah sini mas sembuhin.” Ucap Risam mendekatkan wajahnya di pipi sang istri itu lalu mengecupnya.
“Sudah sembuh kan? Gak sakit lagi?” tanya Risam.
“Ahh mas. Kau mengerjaiku.” Ucap Nayya lalu dia segera menuju ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
Risam pun tersenyum lalu segera menuju pintu kamar istrinya untuk mengecek apa sudah di kunci atau belum dan ternyata sudah di kunci. Dia pun segera menuju sisi ranjang istrinya dan membaringkan tubuhnya di samping istrinya itu. Sebenarnya dia canggung saat ini karena ini juga pertama kalinya dia tidur dengan seorang wanita selain mami dan kakaknya.
Risam memiringkan tubuhnya menghadap istrinya itu yang masih saja menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. “Sayang, kamu gak sesak apa begitu?” ujar Risam mencoba membuka selimut yang menutup kepala istrinya itu tapi Nayya menahannya dengan erat.
“Sayang!” ucap Risam mendekati istrinya dan kini jarak keduanya tipis bahkan Risam terkesan menindih istrinya itu.
“Mas, mau ngapain?” tanya Nayya langsung membuka selimut yang menutupi kepalanya dan matanya kini beradu dengan mata sang suami yang berada di atasnya.
Risam pun tersenyum lalu dia segera kembali berbaring di samping istrinya itu, “Makanya jangan menutup tubuh seperti itu sayang. Sesak nanti.” Ucap Risam.
“Maaf! Tapi Nayya memang seperti itu cara tidurnya dan Nayya sudah terbiasa hingga tidak sesak kok.” jawab Nayya.
Risam yang mendengar itu tersenyum lalu dia kembali mendekat ke arah istrinya dan menarik tubuh Nayya ke dalam pelukannya dan melabuhkan kecupan di kening istrinya itu, “Sudah tidur sayang. Sudah larut. Mas ingin memelukmu seperti ini.” ucap Risam lalu memejamkan matanya.
Nayya pun tersenyum mendengar itu dan dia hanya membalasnya dengan menyembunyikan kepalanya itu di dada bidang milik sang suami. Nayya seolah mencari kenyamanan di tubuh suaminya itu. Risam pun dengan tangan terbuka membiarkan saja istrinya itu mencari kenyamanan di tubuhnya dan memeluk Nayya erat dalam dekapannya.
Sepasang suami istri itu pun tertidur sambil berpelukan, berbagi ranjang, berbagi selimut tanpa ada ritual intim yang lain karena masih ada tanda larangan yang menghalangi. Keduanya tertidur pulas seolah telah menemukan kenyamanan satu sama lain.
***
Keesokkan paginya, Nayya terbangun nanti setelah pukul 05.30 menandakan bahwa dia terlambat bangun. Nayya segera bangun dari tidurnya dan melihat sekeliling tidak mendapati suaminya. Yah suami.
“Kemana mas Risam?” tanya Nayya.
“Mas di sini sayang.” ucap Risam keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
“Mas kok gak bangunin aku?” tanya Nayya.
“Mas gak tega sayang. Kamu tidurnya pulas banget. Lagian kamu juga sedang udzur kan. Jadi untuk apa bangun cepat.” Ucap Risam.
“Tapi tetap saja mas aku malu sama keluarga di luar. Masa iya di pagi pertamaku menjadi istri justru bangun terlambat. Ahh aku malu mas. Sudah ahh Nayya mau bersih-bersih dulu.” Ucap Nayya segera menuju kamar mandi.
Risam hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Dia paham mood istrinya itu berubah-ubah karena sedang datang bulan. Jadi Risam mengerti saja. Risam merapikan tempat tidur mereka, “Mas, bisa tolongin Nayya gak.” Ucap Nayya dari dalam kamar mandi.
Risam pun segera mendekat, “Mau minta tolong apa sayang?“ tanya Risam lembut.
“Ambilin pembalut sama dalaman Nayya. Jika mas malu biar Nayya saja deh.” Ujar Nayya.
“Sudah biar mas saja. Kamu beritahu di mana tempatnya.” Ucap Risam.
“Di dalam lemari Nayya mas. Di lacinya.” Ucap Nayya.
Risam pun segera menuju lemari sang istri dan membukanya lalu segera membuka laci yang di maksud istrinya dan mengambilkan pembalut serta dalaman milik istrinya itu. Sebenarnya dia malu namun kemudian dia mengingat kenapa harus malu sedangkan Nayya adalah istrinya.
“Sayang, buka pintunya.” Ucap Risam.
Nayya pun membuka pintu kamar mandi sedikit dan Risam pun segera memberikannya, “Terima kasih mas.” Ucap Nayya tersenyum.
Risam yang mendapat ucapan terima kasih dari istrinya itu pun seketika menyunggingkan senyum juga. Mood istrinya itu telah kembali lagi. Wanita itu memang makhluk paling rumit dan sulit di pahami. Tapi jika kita bisa membuatnya nyaman maka semua akan baik-baik saja. Cinta dan kenyamanan bisa membuat wanita yang rumit dengan segala pembawaannya bisa di pahami. Wanita itu makhluk paling unik dengan segala tindakannya yang menggantungkan semuanya di tiang yang bernama perasaan.
“Sayang, mas mau keluar dulu yaa.” Izin Risam. Tapi Nayya tidak mendengarnya karena bunyi air yang deras.
__ADS_1