Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
108


__ADS_3

Waktu berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa waktu sebulan yang di tetapkan sebagai hari pernikahan Zayya dan Diaz berlalu dengan sangat cepat. Hari ini pernikahan Zayya dan Diaz akan melaksanakan pernikahan dengan Zayya yang belum lulus profesi. Zayya masih harus menyelesaikan profesinya dua bulan lagi tapi Diaz dan keluarga nya yang memang sudah tidak ingin menunda pernikahan. Akhirnya pernikahan pun di setujui untuk di langsungkan pada hari ini. Papa Imran dan mama Fara juga setuju dengan hal itu karena niat baik memang harus di segerakan tidak boleh di tunda. Yang terpenting Diaz berjanji tidak akan menunda kelulusan Zayya.


Zayya di kamar nya selepas sholat subuh pagi tadi langsung di rias oleh tim MUA professional di bidang nya yang sudah dia pilih sebelum nya untuk hari bahagia nya itu.


“Wah, adik kecil kakak sangat cantik.” Ucap Nayya yang tiba-tiba masuk dan melihat adiknya itu yang hampir selesai di rias.


Zayya tersenyum, “Kakak bisa aja. Ohiya kau juga sangat cantik kak. Pantas saja kakak ipar sangat mencintaimu.” Ucap Zayya.


Nayya pun tersenyum dan mendekati adiknya itu, “Kakak sangat bahagia kamu sudah menemukan kebahagiaanmu. Kau adalah adik kakak yang paling kecil. Kamu juga lah adik kakak yang menikah di usia muda dalam tanda kutip menikah di umur yang lebih muda di bandingkan kakak dan Rayya. Selain itu juga kamu menikah dengan seorang dokter Jantung. Jantungmu pasti akan baik-baik saja karena sudah menemui ahlinya.” Ucap Nayya menggoda adiknya itu di akhir kalimatnya.


“Bukan hanya dokter Jantung kak tapi dokter cinta juga.” Timpal Rayya yang juga tiba-tiba masuk ke kamar Zayya itu.


“Ahh kalian jangan menggodaku kak. Kalian sudah menikah dan punya anak. Kalian pasti tahu bahwa aku sangat gugup saat ini. Tapi kalian justru menggodaku.” Ucap Zayya.


Nayya dan Rayya yang mendengar ucapan adik mereka itu pun tersenyum, “Kami menyayangimu dek. Kami yakin walaupun usiamu masih muda saat menikah. Tapi kami percaya kau sudah siap untuk membina rumah tangga.” Ucap Nayya.


“Ingat yaa dek. Walaupun kau sudah menikah dan kita sudah punya keluarga masing-masing. Kita tetap harus saling menghubungi satu sama lain. Kita tetap harus saling bertemu. Tidak boleh saling menjauh.” Ucap Rayya.


“Tentu saja kak. Aku adalah adik kecil kalian dan kalian adalah kakakku. Kita selamanya adalah saudara yang harus saling mendukung satu sama lain.” Ucap Zayya.


Lalu ketiga saudara itu pun saling berpelukan satu sama lain begitu Zayya selesai di rias.


***


Kini tepat pukul 09.30 semua tamu sudah hadir di tempat untuk melihat akad nikah Zayya dan Diaz itu. Mempelai pria dan keluarganya memang sudah tiba setengah jam yang lalu dan kini Diaz sedang duduk di meja akad di mana di sana sudah ada papa Imran selalu wali nikah. Ada penghulu dari KUA dan ada juga dua orang saksi akad nikah hari itu. Lalu banyaknya tamu undangan yang hadir yang juga ikut menjadi saksi untuk pernikahan hari itu.


Papa Imran menatap pria di hadapannya itu dengan tersenyum. Pria dengan gelar dokter spesialis jantung itu mencoba untuk tidak terlihat gugup. Memang papa Imran akui bahwa pengendalian gugup yang di lakukan oleh Diaz itu sangat membantu karena Diaz terlihat tidak gugup tapi papa Imran tetap bisa membaca bahwa laki-laki muda itu gugup hanya saja punya pengendalian gugup yang kuat. Mungkin pengaruh profesinya yang seorang dokter yang biasa bertemu dengan pasien sehingga bisa mengendalikannya dengan baik. Jujur saja dari Risam, Ariq dan kini Diaz baru Diaz lah calon menantunya yang dalam beberapa menit ke depan akan resmi jadi menantu itu yang bisa menyembunyikan kegugupannya dengan baik.


Akad akan segera di mulai karena semua sudah siap. Penghulu sudah bertanya kesiapan Diaz dan papa Imran yang langsung di jawab oleh kedua nya dengan sangat siap. Penghulu pun segera meminta papa Imran dan Diaz untuk saling berjabat tangan.


Papa Imran pun mengangguk dan segera menyalami tangan Diaz yang lumayan dingin. Papa Imran tersenyum karena hal itu sudah membuktikan bahwa seberapa pintar pun Diaz mencoba mengendalikan kegugupannya tetap saja tangan laki-laki itu gugup. Papa Imran menggenggam erat tangan Diaz seolah memberi kekuatan kepada Diaz dan menatap Diaz seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan apapun.


Diaz pun menatap ayah mertuanya itu dengan tersenyum karena jujur saja genggaman papa Imran itu membuatnya tenang. Yah, ayah mertua yang dalam beberapa menit ke depan akan resmi.


“Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ardiaz Syauqi Malik bin Atif Malik dengan putri kandung perempuan saya yang bernama Zayyana Noviani Al Ayaan binti Imran Al Ayaan dengan mas kawin uang sebesar 100 juta rupiah dan 1 set perhiasan emas di bayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Zayyana Noviani Al Ayaan binti Imran Al Ayaan dengan mas kawin uang sebesar 100 juta rupiah dan 1 set perhiasan emas di bayar tunai.” Ucap Diaz dalam satu tarikan nafasnya.

__ADS_1


“Gimana para saksi sah?” tanya penghulu dan langsung mendapat jawaban sah dari kedua saksi pernikahan itu dan semua tamu yang hadir dalam proses akad. Penghulu pun segera mendoakan pernikahan mereka itu.


Diaz mengucapkan rasa syukur sebanyak-banyaknya dalam lubuk hati nya karena akad pernikahan nya berjalan sangat lancar. Kini dia sudah resmi menyandang suami seorang gadis bernama Zayyana Noviani Al Ayaan. Seorang gadis yang mencuri perhatiannya karena pertemuan pertama mereka yang tidak sengaja karena gadis itu yang hampir terlambat di hari pertamanya. Seorang gadis yang menjalani drama yang keluarganya buat untuk mereka. Seorang gadis yang cerdas yang bisa mengimbangi apa yang dia bicarakan karena memiliki pengetahuan yang luas. Dan masih banyak lagi. Diaz tidak bisa mendefinisikan lagi karena seolah-olah menjadi suami dari Zayya adalah impiannya. Dia merasa pria yang paling beruntung karena sekarang sudah sah menjadi suami dari Zayya yang ketika ceria sangatlah humble dan ketika diam pun akan sangat cuek.


Sementara di kamarnya, Zayya meneteskan air matanya begitu mendengar kata sah dari semua orang yang berarti menandakan bahwa saat ini dia sudah jadi seorang istri. Seorang istri dari pria yang bergelar dokter bernama Ardiaz Syauqi Malik. Seorang pria yang dulunya hanya dia anggap sebagai dokter pembimbing saja tapi lambat laun karena kedekatan mereka hingga membuat mereka menjadi dekat yang pada akhirnya menyebabkan drama yang lumayan menguras emosi. Tapi ternyata drama itu hanya sengaja di ciptakan untuk membuat mereka memahami perasaan masing-masing. Harus dia akui bahwa apa yang di lakukan oleh keluarga suaminya yah suami itu memang berpengaruh untuk perasaannya pada Diaz. Dia baru menyadari bahwa dia yang sudah terbiasa bekerja dan bertukar pikiran dengan Diaz menjadi merasa kehilangan dan hatinya pun terasa hampa.


Nayya dan Rayya yang memang berada di kamar adik mereka itu tersenyum melihat Zayya meneteskan air matanya yang mereka tahu bahwa itu adalah air mata bahagia karena mereka sendiri juga pernah merasakannya. Rasa di mana yang sangat sulit untuk di gambarkan karena semuanya campur aduk satu sama lain. Semua perasaan bercampur jadi satu tapi yang paling menonjol itu pasti rasa bahagia karena sudah resmi menyandang gelar baru yang pastinya butuh tanggung jawab yang besar juga.


Nayya dan Rayya segera menghapus air mata di pipi adik mereka itu dan tersenyum lalu menggeleng seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan adik mereka itu harus bahagia.


“Selamat dek!” ucap Nayya dan Rayya kompak yang langsung memeluk adik mereka itu.


“Makasih kak.” Balas Zayya.


“Sudah. Jangan menangis dong. Kita harus menemui suamimu itu. Dia sudah menunggu.” Ucap Nayya lalu mencoba untuk memperbaiki riasan adiknya.


Zayya pun tersenyum lalu dia segera berdiri dan Nayya dan Rayya langsung mengapitnya. Dulu dia yang menjadi penggiring pengantin untuk kedua kakaknya itu menemui suami mereka kini kedua kakaknya yang mengantarnya untuk menemui suaminya. Suami yang bergelar seorang dokter yang di takdirkan oleh Allah untuknya.


Zayya yang di apit oleh Nayya dan Rayya kini mereka sudah hampir tiba di tempat akad di mana di sana Diaz menunggu istrinya itu dengan tersenyum penuh cinta menatap istri cantiknya. Sangat cantik hingga membuat jantungnya dua kali bekerja lebih cepat karena getarannya.


“Tentu kakak ipar.” Jawab Diaz.


Nayya dan Rayya pun tersenyum mendengar jawaban yang di berikan oleh Diaz itu lalu mereka segera meninggalkan tempat akad itu menuju suami mereka masing-masing yang menatap mereka dengan penuh cinta juga.


Di sisi Zayya dan Diaz kini mereka melakukan ritual pertama yaitu Zayya yang mencium punggung tangan suaminya itu dengan lembut dan Diaz yang mengecup kening Zayya juga dengan tidak kalah lembut dan tentu saja dengan banyak cinta di dalamnya. Setelah itu keduanya segera bertukar cincin lalu menandatangani semua berkas nikah mereka lalu kemudian di lanjutkan dengan sesi foto tentunya.


“Kau sangat cantik!” ucap Risam berbisik pada istrinya itu.


Nayya yang mendengarnya pun tersenyum, “Mas juga tampan. Kita itu adalah pasangan yang sangat serasi.” Balas Nayya bermanja pada punggung suaminya itu.


Rayya berdehem melihat kemesraan kakak dan kakak iparnya itu, “Ehem, maaf ya bu mengganggu sedikit. Saya hanya ingin tanya sebenarnya siapa yaa yang menikah di sini? Kok bisa Zayya dan Diaz yang menikah tapi justru kak Nayya dan kakak ipar yang sangat mesra dan romantis di sini. Ingat sudah punya ada tiga.” Ucap Rayya.


“Sayang, adikmu sinis. Ariq istriku ingin di manja juga.” Timpal Risam tersenyum.


“Adik keduaku yang paling manis dan cantik. Jika kau iri maka bermanja saja pada suamimu. Tidak ada yang melarang bukan.” Tambah Nayya.


Rayya pun hanya bisa mendesis lalu dia menatap suaminya yang tersenyum, “Sayang, jika kamu ingin bermesraan maka sini denganku. Jangan iri pada mereka. Kita juga bisa menciptakan suasana romantic yang mampu mengalahkan pasangan kakakmu itu dan pasangan pengantin baru di sana.” Ucap Ariq sambil menunjuk Zayya dan Diaz yang masih mengambil foto.

__ADS_1


Rayya yang mendengar ucapan suaminya itu pun tersipu dan menyembunyikannya di dada suaminya, “Hum, sekarang siapa yang bermesraan di depan umum.” Sindir Nayya.


Seketika hal itu membuat ke empat orang itu tertawa di tengah ramainya pesta pernikahan Zayya dan Diaz.


Akad pernikahan itu berjalan sangat lancar dan untuk resepsi pernikahan akan di laksanakan satu jam lagi seperti pernikahan Rayya dan Ariq waktu itu yang hanya memiliki jeda satu jam saja.


***


Singkat cerita, waktu terus berlalu dengan sangat cepat. Kini tidak terasa triplets sudah berusia setahun. Nayya dan Risam mengadakan syukuran untuk perayaan ulang tahun triplets itu di kediaman mereka. Risam dan Nayya juga tidak lupa berbagi dengan para anak yatim dan kaum dhuafa di hari ulang tahun anak mereka itu.


Semua keluarga dan para tetangga yang berdekatan pada berdatangan untuk ulang tahun triplets itu. Banyak yang hadir di kediaman Nayya dan Risam. Mereka sangat berbahagia.


Sementara untuk Zayya dan Diaz selepas menikah mereka tinggal di kediaman mama Fara dan papa Imran karena memang sudah menjadi kesepakatan sebelumnya bahwa Zayya akan tetap tinggal bersama orang tuanya. Diaz dan keluarganya juga menyanggupi hal itu. Tapi walaupun begitu Zayya dan Diaz juga kadang-kadang menginap di kediaman orang tua Diaz. Namun paling banyak itu mereka tinggal di kediaman orang tua Zayya.


Zayya sudah lulus profesinya sebulan lalu dengan predikat cumlaude tentunya karena memang mereka cerdas. Bukan hanya Zayya saja yang mendapat predikat cumlaude tapi juga Nayya dan Rayya juga sama.


“Wah, selamat ulang tahun untuk triplets nya aunty.” Ucap Zayya menciumi wajah ketiga balita itu yang sudah bisa bicara dan sudah lancer berjalan itu. Perkembangan mereka sangat cepat.


“Ini hadiah dari aunty!” ucap Zayya memberikan hadiah untuk ketiga keponakannya itu.


“Hum, aunty kami tidak butuh hadiah ini. Kami butuh hadiah yang lain. Buatkan kami adik. Iya kan triplets.” Ucap Nayya tersenyum sambil menatap ketiga buah hatinya itu yang mengangguk saja. Tidak tahu apa mereka paham dengan apa yang Nayya bicarakan atau tidak.


Diaz yang mendengar ucapan kakak iparnya itu pun tersenyum lalu segera merangkul istrinya, “Doakan saja kakak ipar.” Ucap Diaz tersenyum sementara Zayya tersenyum malu.


“Harus di cepetin yaa adik ipar.” Timpal Rayya yang repot dengan putranya.


“Gas aja adik ipar.” Sambung Ariq dengan senyum menggoda.


“Wah, sepertinya kalian sudah kerja sama yaa untuk menggoda kami.” Ucap Zayya lalu segera mendekati anak Rayya dan menggendong keponakannya itu.


“Tuh, liat aja sudah cocok. Fattan aja sudah anteng denganmu dek.” Ucap Rayya.


“Kak Ray. Hentikan. Jangan di lanjut lagi.” Ucap Zayya tersipu.


Mereka pun tertawa melihat Zayya yang tengah malu itu. Suasana ulang tahun triplets itu berjalan lancar tanpa kendala.


Tiba-tiba Risam merasa dadanya terasa nyeri. Nayya menyadari suaminya yang meringis dan memegang dadanya, “Ada apa mas?”

__ADS_1


__ADS_2