
Setelah Pak Ridwan meninggalkan kedua muridnya, iya berniat untuk berkeliling mengawasi aktivitas para siswa yang masih bergelut dengan tendanya masing-masing.
Balik lagi ke situasi dua orang yang baru bertemu itu, disisi Abi ia merasa malu karena telah membantu Yuna tapi malah menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka.
"Eee... kak, makasih ya udah nolongin aku kalo kakak nggak ada mungkin aku udah jatuh" ucap Yuna menghilangkan keheningan diantara mereka, "Iya ngga papa udah jadi kewajiban aku buat nolong orang yang kesusahan, oh iya jangan panggil aku kak dong kan umur kita juga cuma beda satu tahun kok" ucap Abi yang agak risih dengan panggilan dari Yuna yang menyebutnya kakak.
"Oh ya? Aku kira kakak itu kakak kelas aku soalnya aku ngga pernah liat kakak disekitar kelas 11," ucap Yuna yang terkejut karena Abi sama dari kelas 11.
"Iya, masa si? padahal aku sering lho liat kamu dan kita juga pernah ketemu beberapa kali kok, mungkin kamu aja yang ngga ngeh sama aku. Padahal kan kelas kita juga sebelahan kok" ucap Abi memberitahu Yuna yang sebenarnya tentang dirinya yang sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh Yuna sang gadis pujaannya.
"Oh ya? Maaf ya kak soalnya aku ngga terlalu suka bergaul dengan anak-anak dari kelas lain," ucap Yuna yang malu karena dia tidak mengenali Abi yang bahkan anak dari kelas sebelah.
"Tuh kan kamu masih manggil aku kakak," ucap Abi yang merajuk karena masih dipanggil kakak oleh Yuna padahal ia kan masih seumuran dengan Yuna hanya berbeda beberapa bulan sehingga membuatnya lebih tua,
"Terus aku manggil kamu siapa?" tanya Yuna dengan polos
"Kenalin gue Abidzar Abdurahman ketua osis super tampan dan super keren seSMA Bina Bangsa!" ucap Abi dengan penuh kepercayaan diri sehingga membuat Yuna tidak bisa menahan tawanya karena ucapan Abi yang sangat narsis.
Abi yang melihat Yuna tertawa lepas merasa sangat bahagia, baru kali ini ia melihat Yuna tertawa karena selama ia bertemu dengannya Yuna tak pernah menunjukan senyum manisnya kepada siapapun kecuali saat bersama teman-temannya itupun jika dikelas jika tidak ia akan sangat sungkan walaupun hanya sekedar tersenyum. Yuna yang menyadari ia ditatap oleh Abi merasa tidak nyaman sehingga ia memutuskan untuk berhenti tertawa, ia merasa heran kenapa Abi melihatnya dengan tatapan penuh arti yang tidak dimengerti oleh Yuna.
"Kak!" seru Yuna sambil menepuk pundak Abi, membuyarkan lamunan Abi yang sedari tadi menatapnya sampai tidak berkedip.
"Ehh iya maaf, kenapa?" Abi yang terkejut karena Yuna menepuk pundaknya jadi salah tingkah karena malu, bisa-bisanya ia menatap Yuna sampai tidak berkedip karena terpesona.
"Kakak ngga papa?" Yuna khawatir melihat wajah Abi yang tiba-tiba memerah karena menahan malu dua kali.
__ADS_1
"Ng..nggak nggapapa!" ucap Abi dengan gelagapan "kok kamu masih panggil aku kakak? kan aku dah ngenalin nama aku ke kamu,"
"Ehh iya ya, tapi.."
"Ngga ada tapi - tapi ini perintah!" ucap Abi yang sempat memotong ucapan Yuna, "Panggil aku Abi! Ingat itu A B I" lanjut Abi yang menyuruh Yuna memanggilnya sesuai namanya bahkan ia sampai mengejanya agar Yuna tau dan tidak lupa.
"Oke oke, Abi?" ucap Yuna yang akhirnya mengalah dan memanggil Abi sesuai namanya.
"Nah gitu dong kan lebih pantas" ucap Abi, lalu mereka tertawa bersama
Disisi lain ada sepasang mata tengah mengawasi Yuna dan Abi sejak tadi, dia adalah Pak Ahmad. Sebenarnya dia mau pergi ketenda pak Ridwan karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengannya, tapi sebelum sampai tenda ia malah melihat Yuna dan Abi sedang berbicara berdua dan sepertinya seru sekali. Pak Ahmad pun melupakan rencana awalnya yang ingin bertemu dengan pak Ridwan dan memilih untuk menguping pembicaraan antara Yuna dan Abi di balik pohon tak jauh dari tempat mereka sehingga bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka yang terlihat sangat akrab.
"Apa yang sedang mereka bicarakan, kenapa terlihat akrab sekali? Padahal selama ini kan jarang sekali ada laki-laki yang dekat dengan Yuna bahkan teman sekelasnya pun jarang ada yang mendekati Yuna," batin pak Ahmad yang heran melihat Yuna sangat akrab dengan Abi sedangkan dengan teman laki-laki kelasnya pun tidak sampai seakrab itu.
Setelah lama menguping pembicaraan mereka dan melihat betapa bahagianya Yuna, karena ia terlihat beberapa kali tertawa dengan lebar yang bahkan sangat jarang dilakukan oleh Yuna saat berada dikelas atau saat dengan temannya.
"Astagfirullah kenapa aku malah menguping disini, ini sudah salah besar seharusnya aku tidak mengurusi urusan mereka dan melupakan tujuan awalku" ucap Pak Ahmad lirih karena takut terdengar oleh Yuna dan Abi, ia pun memilih untuk pergi dan mencari pak Ridwan sebelum ia tertangkap basah oleh orang lain atau malah oleh Yuna dan Abi sendiri sedang menguping pembicaraan mereka.
Saat ia mencari pak Ridwan didalam pikirannya hanya ada Yuna dan Abi bahkan wajah Yuna saat tertawa bersama Abi masih terngiang-ngiang dikepala Ahmad, ia tidak bisa fokus karena kepalanya penuh dengan kejadian tadi. Sampai ia tidak sengaja menabrak Silvi yang sedang membawa tas milik teman-temannya bersama Andin sampai jatuh terduduk ditanah tas yang ditangannya pun ikut jatuh.
"Aduhhh.... woi kalo jalan liat-liat dong!" seru Silvi yang terjatuh cukup keras ke tanah, ia meringis menahan sakit di pinggul dan pantatnya. Silvi mengomel cukup banyak karena ia ditabrak cukup keras sampai jatuh ke tanah bagaikan terseruduk banteng, ia tak melihat siapa yang menabraknya sehingga ia bisa berkata-kata kasar sesuai hati nuraninya yang tersakiti secara fisik.
Andin yang sejak tadi mengikuti Silvi di sampingnya terkejut saat tiba-tiba sahabatnya itu jatuh tersungkur ditanah yang tak kalah membuatnya terkejut adalah saat yang menabrak Silvi adalah Pak Ahmad serta Silvi yang berani mengeluarkan kata-kata kasar didepan gurunya itu.
Andin tidak bisa berkata apa-apa bahkan untuk memperingatkan Silvi bahwa ia sedang berbicara dengan pak Ahmad pun tidak bisa ia ucapkan karena ia masih terkejut atas kejadian itu.
__ADS_1
"Maafkan saya, saya tidak sengaja." ucap Pak Ahmad yang angkat bicara setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Silvi. Silvi yang terkejut dengan orang yang menabraknya pun melongo tak percaya, ia sudah mengatakan banyak hal yang buruk dan kasar kepada gurunya.
"P...pak Ahmad?" ucap Silvi terbata karena ia baru tahu orang yang menabraknya adalah pak Ahmad.
"Mari saya bantu berdiri, maafkan saya ya saya sedang buru-buru jadi tidak memperhatikan orang didepan saya," ucap Pak Ahmad yang meminta maaf atas kesalahannya yang telah menabrak tubuh kecil Silvi sampai terjatuh. Ia pun tidak habis habisnya merutuki dirinya karena selama berjalan dikepalanya selalu memikirkan Yuna sampai ia tidak sengaja menabrak muridnya bahkan sampai keluar kata-kata tidak mengenakan dari mulut gadis yang ia tabrak.
"Iya pak terimakasih, maaf juga tadi saya mengatakan bapak yang tidak-tidak maafkan saya ya pak," ucap Silvi benar-benar tulus meminta maaf karena kata-kata yang ia lontarkan ke pak Ahmad benar-benar kasar dan sangat tidak sopan, karena ia pikir anak laki-laki yang sedang iseng menabraknya.
"Tidak apa-apa saya juga nyg salah jadi tolong maafkan saya ya," ucap Pak Ahmad meminta maaf atas kesalahannya.
"Iya pak saya maafkan lagi pula saya juga salah karena mengatai bapak yang tidak-tidak, " ucap Silvi yang sudah memaafkan pak Ahmad.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi karena saya masih ada urusan," ucap Pak Ahmad lalu pergi meninggalkan Silvi yang masih merasa bersalah dan malu dengan Andin yang sejak kejadian tadi hanya diam dengan mulut terbuka lebar.
Setelah kepergian pak Ahmad Silvi benar-benar merutuki dirinya sendiri atas apa yang ia lakukan kepada pak Ahmad, lalu Andin yang baru sadar setelah kepergian pak Ahmad pun sekarang sangat cerewet bertanya ini itu kepada Silvi apakah kejadian tadi benar-benar nyata atau hanya halusinasinya saja
Silvi yang malu dan merasa bersalah hanya diam dan melanjutkan jalannya menuju tenda yang tadi sempat tertunda karena tertabrak oleh pak Ahmad guru idolanya itu, tapi sepertinya sekarang Silvi sudah tidak punya muka untuk menampakkan diri di depan pak Ahmad karena ia benar-benar malu.
Disisi pak Ahmad, ia juga merasa malu karena ia hanya memikirkan Yuna sejak melihatnya tadi bersama Abi dan itu membuatnya tidak fokus selama berjalan hingga menabrak Silvi. Bahkan setelah ia bertemu dengan pak Ridwan pun ia masih memikirkan Yuna hingga ia tak fokus dengan obrolannya dengan pak Ridwan, tetapi jika ia mengingat Yuna tertawa dengan Abi dilubuk hatinya yang terdalam ia merasakan sakit yang sangat menyiksa
Ia sendiri tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengannya, ya sebenarnya sudah sejak lama ia mengagumi Yuna sebagai murid yang cerdas serta cantik dan imut itu tapi ia menampilkan segala pikiran jika ia menyukai gadis itu karena ia pikir itu hanya sebatas mengagumi kepandaian muridnya itu. Tapi setelah ia melihat Yuna bersama laki-laki lain hatinya terasa seperti dicabik-cabik,
"Apakah ini yang namanya cinta?" tanya Pak Ahmad kepada dirinya sendiri, karena ia belum tau betul bagaimana rasanya jatuh cinta selama ini ia hanya tau dari orang lain dan dari buku-buku yang ia baca, ia sendiri belum pernah merasakannya karena sejak kecil ia sekolah di Madrasah sehingga membuatnya tidak terlalu dekat dengan perempuan.
"Aku mikir apa si, paling juga cuma kagum bukan jatuh cinta, aku bahkan tidak tau pasti bagaimana rasanya jatuh cinta entah itu indah atau menyakitkan, dibuku yang pernah aku baca pun ngga pernah menjelaskan detail rasanya jatuh cinta," ucap Pak Ahmad meyakinkan dirinya bahwa itu bukan lah jatuh cinta.
__ADS_1
**Simak terus cerita KEPASTIAN CINTA biar tahu perkembangan ceritanya dari bab satu ke bab lain. Setelah baca jangan lupa tinggalin komen, like dan tambahkan favorit biar ngga ketinggalan ceritanya
Bantu vote juga ya buat Author biar semakin semangat buat cerita-cerita selanjutnya yang bakal semakin seru, kalo udah Thank You Allπππ**