
Keesokkan paginya, Nayya dan Risam kembali sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Nayya yang sedang siap-siap akan ke puskesmas setelah sarapan tadi dan juga menyiapkan persediaaan ASI untuk ketiga buah hatinya itu sebelum dia pergi. Sementara Risam yang juga siap-siap akan ke kebun mengecek pertumbuhan dan perkembangan jagung miliknya.
Nayya memakai pakaian rapinya sementara sang suami memakai pakaian khas ke kebun. Nayya mendekati suaminya itu yang sedang siap-siap. Nayya menyentuh dada sang suami, “Mas nunduk sebentar.” Pinta Nayya.
Risam pun tersenyum lalu dia menurut. Nayya segera memberikan kecupan hangat di kedua pipi suaminya itu, “Semangat kerjanya ya suamiku!” ucap Nayya.
Risam tersenyum lalu mengangguk, “Terima kasih sayang.” ucap Risam lalu melabuhkan kecupan di kening istrinya dengan lembut.
Setelah itu Risam pamit lebih dulu dengan membawa bekal yang sudah di siapkan istri tercintanya itu. Risam pergi menggunakan sepeda motornya yang memang biasa dia gunakan untuk ke kebun.
Sementara Nayya sebelum dia pergi dia memeriksa dulu ketiga buah hatinya yang pengasuh mereka sudah datang, “Bu tolong jaga mereka yaa. Nayya titip!” ucap Nayya.
“Tentu nak. Tenang saja ibu akan menjaga mereka dengan baik.” jawab pengasuh itu.
Barulah setelah memastikan semuanya sudah beres, Nayya segera mengambil kunci mobilnya dan segera berangkat melajukan mobilnya menuju puskesmas. Tapi dia singgah sebentar di minimarket dan usaha percetakannya.
***
Jika di sisi Nayya dia di sibukkan dengan aktivitas harinya. Maka berbeda dengan kedua adik Nayya yang baru saja bangun. Kedua gadis itu tidak melaksanakan sholat karena sedang udzur, Zayya juga baru saja tamunya itu datang saat dia hendak bangun sholat tadi. Setelah mengetahui tamunya datang bukannya bangun dia malah kembali tidur.
Rayya dan Zayya sepertinya ingin puas-puas bermalasan di tempat tidur. Mama Fara pun membiarkan kedua putrinya itu tiduran. Dia tahu pasti kedua putrinya itu ingin merefresh otak mereka dengan bermalasan di tempat tidur.
“Kamu gak sholat dek?” tanya Rayya yang bangun melihat adiknya itu masih tidur juga.
Zayya membuka matanya perlahan mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang masuk dari jendela karena gorden yang di buka oleh Rayya.
__ADS_1
“Gak bisa kak.” Jawab Zayya setelah dia sadar sepenuhnya.
Rayya pun mengangguk, “Ya sudah jika memang begitu.” Ujar Rayya lalu dia segera menuju kamar mandi untuk mandi.
Zayya yang di tinggalkan di ranjang masih tetap tiduran dan mengambil ponselnya. Seteleh sekitar 10 menit dia mengecek ponselnya barulah dia bangun dan segera merapikan tempat tidur.
Zayya segera keluar dari kamar dan menuju kamar mamanya untuk menumpang mandi, “Baru bangun nak?” tanya mama Fara basa basi karena tanpa di jawab pun dia sudah tahu bahwa putrinya itu baru bangun terlihat dari muka-muka bantal yang di tampilkan.
Zayya pun melihat ke arah mamanya dan tersenyum cengesan, “Iya mah. Zayya numpang mandi dulu ya.” Ucap Zayya segera menuju kamar mamanya dan menumpang mandi. Mama Fara yang melihat itu pun hanya tersenyum saja.
Tidak lama sekitar 20 menit kemudian Rayya keluar dari kamar dengan tubuh yang fresh karena baru mandi pagi, “Mah! Maaf ya bangun telat.” Ujar Rayya mendekati mamanya.
Mama Fara tersenyum lalu menggeleng, “Gak apa-apa sayang. Mama sama papa ngerti kok kalian pasti lelah dan ingin bermalasan dengan tempat tidur sebelum nanti kamu sibuk dengan mencari pekerjaan dan Zayya yang akan sibuk dengan studi profesinya. Jadi nikmatilah dengan baik waktu liburmu ini.” ujar mama Fara mengelus rambut putrinya yang sedang di gerai itu karena baru saja keramas.
Rayya pun tersenyum mendengar ucapan mamanya itu dan segera memeluknya, “Terima kasih atas pengertiannya mama cantikku.” Ucap Rayya.
Mama Fara pun terkekeh dengan pujian putrinya itu, “Sudah ahh ayo sana sarapan.” Ujar mama Fara.
Rayya pun mengangguk, “Ohiya, kenapa Zayya bangun telat? Apa dia tidak sholat tadi nak?” tanya mama Fara.
“Sedang udzur dia mah.” Jawab Rayya yang mengambil sarapannya.
“Oh pantas dia mandi di kamar mama karena malas menunggumu selesai.” Ucap Mama Fara.
Rayya pun menganguk lalu segera duduk kembali di samping mamanya dengan sarapan di piringnya, “Mah, papa di mana?” tanya Rayya yang tidak melihat papanya itu.
__ADS_1
“Biasa nak. Tadi papa kalian itu setelah sarapan meminta mama di sediakan bekal. Mama pikir akan ke kebun kita tapi justru menyusul kakak ipar kalian ke kebunnya.” Jawab mama Fara.
Rayya pun mengangguk mengerti, “Jadi apa itu artinya kakak ipar juga ke kebun. Mah, kita ke rumah kakak yaa. Aku ingin melihat triplets dan bermain dengan mereka.” ucap Rayya.
“Ikut!” ucap Zayya yang tiba-tiba bergabung dan segera mencicipi sarapan Rayya.
“Ish dek. Sana ambil sendiri. Banyak tahu. Dek, gak berdoa dulu ya. Mana makan berdiri lagi.” Ucap Rayya.
“Maaf kak kelepasan. Enak juga. Aku akan mengambil sarapan. Terima kasih sudah mengizinkan aku mencicipi makananmu kak.” Ucap Zayya lalu dia segera mengambil sarapan.
“Di izinin apa-an. Orang kamu sendiri yang mengambilnya.” Ucap Rayya sinis yang hanya di balas dengan tawa oleh Zayya.
Mama Fara pun ikut tersenyum melihat tingkah kedua putrinya itu yang tidak terasa mereka sudah tumbuh besar. Bahkan putri keduanya itu sudah di lamar. Tidak lama sepertinya putri bungsunya itu juga akan menemukan jodohnya.
“Mah, apa yang mama pikirkan?” tanya Rayya menyadari bahwa mamanya itu tengah melamun.
Mama Fara segera tersadar dari lamunannya dan tersenyum menatap putri keduanya itu.
“Mama tidak menyangka bahwa ketiga putri mama yang dulunya kecil. Masih mama sama papa gendong kini sudah tumbuh dewasa dan akan menemukan pasangan mereka masing-masing. Akan memiliki keluarga sendiri. Pada akhirnya mama sama papa akan tinggal berdua lagi.” Ujar mama Fara.
“Mah, jangan ngomong gitu. Zayya gak akan ninggalin mama.” Ucap Zayya segera bergabung sarapan.
“Iya mah. Kami gak akan ninggalin kalian.” timpal Rayya menggenggam tangan mamanya itu.
Mama Fara menggeleng, “Mama gak sedih sayang. Mama senang kok. Mama senang kalian akan mendapatkan pasangan kalian. Mama akan berdoa agar kalian menemukan pasangan yang menyayangi kalian. Kakak kalian sudah mendapatkan suami yang menyayangi dan mencintainya sepenuh hati. Walaupun suami kakak kalian tidak menyandang gelar apapun tapi dia baik. Itu jadi poin pentingnya. Mama bukan tidak suka orang yang memiliki gelar hanya saja kita sebagai manusia tidak boleh membedakan orang hanya berdasarkan gelarnya.” Ucap mama Fara menatap putri keduanya.
__ADS_1