Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
83


__ADS_3

“Gak apa-apa mas. Mereka juga masih kecil untuk menempati kamar sebesar ini. Mereka kan masih tidur bersama kita.” Ucap Nayya tersenyum.


Risam pun mengangguk. Setelah itu mereka melanjutkan tour rumah baru itu sampai ke dapur dan halaman belakang.


“Terima kasih mas. Rumah ini sangat sesuai dengan impianku.” Ujar Nayya.


Risam pun tersenyum bahagia bisa melihat senyum bahagia yang di pancarkan istrinya itu. Percayalah dia yang lebih bahagia melihat Nayya bahagia. Baginya selama Nayya bahagia maka dia pun bahagia..


Setelah puas melihat keseluruhan kediaman baru mereka itu dan melihat apa semuanya sudah tersedia untuk proses pindahan mereka besok barulah keduanya pulang ke rumah mama Fara dan papa Imran.


Nayya dan Risam sambil bergandengan tangan pulang. Keduanya tersenyum melihat mama Fara dan papa Imran yang menunggu mereka di teras, “Hmm, apa anak-anak bunda dan ayah sudah bangun?” tanya Nayya menatap ketiga buah hatinya yang berada di stroller.


Nayya segera menggendong Xander lalu mama Fara pun segera menggendong Xavier dan Risam segera menggendong putri cantiknya yang seolah tersenyum di gendong ayahnya itu, “Dia tersenyum nak.” ujar mama Fara melihat senyum cucunya itu.


“Dia tahu ayahnya yang menggendongnya.” Timpal Nayya.


Risam pun tersenyum menatap mata cantik putrinya itu, “Putri ayah memang sangat cantik.“ ujar Risam.


Ke empat orang itu menghabiskan waktu mereka untuk bermain dengan triplets sampai mereka tertidur kembali.


***


Keesokkan paginya tepat jam 09.00 pagi Nayya dan Risam sudah melakukan pindahan ke rumah baru mereka. Kini mereka berkumpul di rumah Nayya dan Risam itu untuk acara syukuran atas rumah baru. Mami Vega, papi Lutfi, Adiba, Ahsan dan juga putra mereka hadir.


Acara syukuran pindahan rumah baru itu berjalan lancar. Kini seluruh keluarga sedang berada di ruang keluarga, “Wah, dek rumahmu sangat cantik.” Ujar Adiba. Nayya dan Risam hanya tersenyum menanggapinya. Mereka berbagi cerita sebelum pulang ke rumah masing-masing.


Kini tepat sebelum zuhur di rumah besar itu tinggallah Risam dan Nayya beserta ketiga buah hati mereka. Risam segera melakukan sholat zuhur sementara Nayya dia menyusui ketiga buah hatinya itu bergantian di ranjang mereka di kamar utama.


“Sayang, apa kapan cutimu selesai?” tanya Risam setelah sholat dan ikut bergabung dengan istri dan anaknya itu.


“Hmm, masih dua minggu lagi mas.” Jawab Nayya sambil membaringkan putrinya di ranjang untuk ikut tidur bersama kedua putranya yang sudah terlelap.


“Ada apa?” tanya Nayya menatap suaminya itu lekat.


Risam menggeleng, “Apa mas tidak ingin aku bekerja?” tanya Nayya hati-hati.


Risam menggeleng lagi, “Bukan begitu sayang. Kau kan tahu aku tidak mungkin melarangmu untuk tidak bekerja jika memang itu adalah hal yang kau inginkan. Itu adalah profesimu. Tapi bagaimana dengan anak-anak? Aku memang tidak selalu bekerja dan pastinya akan memiliki waktu menjaga mereka saat kau ke puskesmas tapi bagaimana jika aku bekerja juga.” Ujar Risam.


Nayya tersenyum lalu mengusap wajah suaminya itu lembut, “Aku tahu apa yang kau khawatirkan mas. Aku juga sudah memikirkannya. Kita akan menggunakan jasa menjaga anak tapi hanya setengah hari saja. Aku ingin mengurus mereka sendiri.” Ucap Nayya.


“Hmm, sepertinya itu solusi yang tepat tapi kita minta saran dulu dari orang tua kita. Mas akan mendukung apapun keputusanmu mana yang baik.” ucap Risam.


“Terima kasih yaa mas. Kau selalu mengerti aku.” Ujar Nayya.


“Itu sudah pasti aku lakukan sayang. Jika bukan suamimu yang mengerti dirimu lalu siapa yang harus melakukannya.” Balas Risam lalu mengecup kening istrinya itu lembut.


Nayya tersenyum lalu membalas mengecup bibir suaminya sekilas, “Maaf ya mas. Aku belum bisa memberikanmu nafkah batin.” Ujar Nayya.


Risam tersenyum lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukannya, “Jangan pikirkan hal itu sayang. Yang terpenting kau sehat dulu dan anak-anak kita juga sehat. Aku bisa mengatasinya.” Ujar Risam.


Nayya pun tersenyum mendengar hal itu.


***

__ADS_1


Waktu terus berlalu dengan cepat tidak terasa triplets sudah berusia sebulan lebih dan Nayya sudah kembali bekerja mulai kemarin. Nayya kembali beraktivitas sebagaimana biasanya dengan status seorang ibu tiga anak.


“Wah, wajah ibu tiga anak memang berbeda.” Goda para teman Nayya di puskesmas.


Iqbal yang mendengar itu pun tersenyum, “Kami ingin melihat wajah bayimu dong Nay.” Ucap Iqbal.


Nayya tersenyum, “Kalian bisa datang ke rumah jika ingin melihat mereka.” ucap Nayya.


“Beneran yaa. Kami akan datang ke rumahmu.” Ucap salah satu teman Nayya.


Nayya mengangguk, “Ehh tapi rumahmu yang mana nih?” lanjut teman Nayya itu.


“Rumahku di desa A.” jawab Nayya.


“Wah memang yang punya rumah baru ini sangat hebat yaa.” Timpal teman Nayya itu.


Nayya kembali tersenyum lalu dia mulai membaca jadwalnya hari ini. Nayya tidak lupa memulai aktivitasnya pagi itu dengan berdoa.


***


Kini Nayya segera memarkirkan mobilnya dan segera turun lalu masuk rumahnya. Dia tersenyum melihat adik-adiknya ada di sana yang sedang memangku kedua putranya sementara sang putri berada dalam gendongan mamanya.


“Kapan kalian tiba dek?” tanya Nayya.


“Hmm, kami baru saja pulang kak.” Jawab Rayya mencium punggung tangan kakaknya itu lalu bergantian dengan Zayya juga.


Sementara Nayya segera mencium punggung tangan mamanya, “Mah, suamiku ada di mana?” tanya Nayya yang tidak melihat suaminya.


“Kakak ipar sedang pergi bersama papa kak.” Ujar Zayya.


“Dia sudah mama minta pulang nak.” jawab mama Fara.


Nayya pun kembali menganguk, “Ya sudah kalau begitu. Nayya ganti pakaian dulu. Anak-anak bunda sebentar yaa bunda bersih-bersih dulu.” Pamit Nayya kepada anak-anaknya.


Sekitar lima belas menit Nayya kembali sudah berganti pakaian dan segera mengambil alih putra bungsunya dan segera dia susui, “Ihh kak lihat dia. Kelaparan yaa nak.” ucap Zayya tersenyum melihat putra bungsu kakaknya itu yang menyusu. Setelah itu Nayya pun segera menyusui kedua anaknya yang lain.


Seperti biasa jika habis menyusu triplets pasti terlelap. Mama Fara dan Nayya pun segera menidurkan mereka di box bayi masing-masing.


“Kapan kalian wisuda dek?” tanya Nayya.


“Kami akan melakukan wisuda di tanggal yang sama kak. Jadwalnya sudah keluar.” Jawab Zayya.


“Semuanya sudah selesai kan?” tanya Nayya lagi.


Rayya dan Zayya mengangguk kompak, “Aku yudisium minggu depan kak.” Jawab Rayya.


“Berarti laporanmu sudah selesai?” tanya Nayya kepada adik keduanya itu dan Rayya langsung menganggguk.


“Kalau kamu dek?” tanya Nayya beralih kepada adik bungsunya.


“Aku tiga hari lagi kak.” Jawab Zayya.


Nayya pun mengangguk, “Baiklah jika begitu. Ohiya apa kalian butuh uang?” tanya Nayya.

__ADS_1


Rayya dan Zayya menggeleng, “Mama sama papa sudah memberikannya kak.” Ucap Rayya di angguki Zayya.


Nayya yang mendengar itu tersenyum, “Beneran gak mau?” tanya Nayya berdiri segera membuka lemarinya.


“Ini untuk kalian.” ucap Nayya memberikan uang masing-masing satu juta kepada adiknya itu.


“Terima itu. Jangan di tolak. Tenang saja itu adalah uang milik kakak. Bukan pemberian kakak ipar kalian. Jangan merasa tidak enak dengan kakak. Kalian itu selamanya adalah adik kakak.” ujar Nayya.


“Terima kasih kak.” Ucap Rayya dan Zayya lalu memeluk kakak mereka itu.


***


Kini di kediaman baru Nayya dan Risam itu tinggallah mereka berdua dan juga ketiga anak mereka karena Rayya dan Zayya juga mama Fara dan papa Imran sudah pulang ke rumah mereka saat tadi Risam dan papa Imran pulang dari urusan mereka.


Kini Nayya sedang mengambilkan makanan untuk suaminya itu, “Silahkan di makan mas. Maaf yaa aku hanya bisa masak segini aja karena tadi mengurus mereka dulu.” Ucap Nayya.


Risam tersenyum lalu segera mengambil makanan yang di berikan istrinya itu, “Gak apa-apa sayang. Ini sudah sangat lezat. Makanan ini sangat enak karena istriku sendiri yang membuatkannya saat dia sedang repot dengan triplets.” Ucap Risam.


Nayya yang mendengar itu terharu dan selalu saja seperti itu suaminya itu selalu membuatnya terharu. Tidak sekalipun Risam tidak menghargai masakannya walaupun makanan yang dia buat kurang tapi Risam selalu memakannya dan menghargainya yang sudah memasak.


Nayya mengambil alih sendok suaminya dan menyuapi suaminya itu. Risam pun tidak menolaknya dia suka Nayya itu memperlakukannya itu. Dia merasa seperti di manjakan oleh istrinya itu.


“Kamu juga makan sayang.” ujar Risam mengambil alih dan menyuapi istrinya itu. Nayya pun tersenyum menerimanya. Pada akhirnya mereka makan sepiring berdua dan saling menyuapi satu sama lain.


Pada hakikatnya sebuah hubungan itu hanya perlu sebuah momen yang romantic untuk merawatnya agar tetap awet dan untuk merawat hubungan itu tetap awet tidak harus momen yang menghabiskan ribuan uang atau jutaan karena dengan saling memuji dan saling menghargai satu sama lain serta momen kecil yang tercipta bisa membuat hubungan awet.


***


Dua minggu berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa hari ini Rayya dan Zayya akan wisuda kelulusan mereka. Rayya akan wisuda kelulusan profesinya sementara Zayya akan wisuda S1-nya.


Risam dan Nayya sibuk bersiap-siap sejak bangun tadi pukul tiga. Nayya menyiapkan ketiga buah hatinya dulu. Nayya dan Risam memang memutuskan untuk mengajak ketiga buah hati mereka itu untuk ikut dan sudah tentu dengan semua pertimbangan. Nayya bahkan menghubungi dokter anak apa hal itu bisa di lakukan atau tidak dan dokter mengizinkannya.


Setelah memastikan ketiga buah hatinya sudah siap barulah dia bersiap. Nayya merias dirinya sendiri dengan keahlian merias diri yang dia miliki. Seperti biasa andalan riasan Nayya yaitu make up natural dan memang hanya itu juga yang dia bisa.


“Ada apa mas melihatku seperti itu? Apa ada yang salah? Apa alisku tidak sama?” tanya Nayya begitu menyadari bahwa suaminya itu menatapnya lama. Nayya pun kembali melihat cermin di hadapannya dan memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan riasannya.


“Gak ada yang salah kok. Alisku sudah bagus dan gak miring.” Ujar Nayya.


Risam yang melihat itu tersenyum ternyata wanita itu memang makhluk penyuka keindahan dan mereka tidak menyukai apabila ada yang salah dan tidak tepat apalagi jika itu menyangkut riasan wajah. Istrinya saja seperti itu padahal Nayya adalah wanita yang tidak begitu menyukai riasan.


Risam mendekati istrinya itu dan memeluknya dari belakang, “Gak ada yang salah dengan riasanmu sayang. Kamu sangat cantik dengan riasan itu bahkan sampai membuatku takut nanti ada yang terpesona dengan istriku dan mengambilmu dariku.” Bisik Risam manja.


Nayya yang mendengar bisikan suaminya itu tersenyum lalu mengecup pipi suaminya sehingga pipi suaminya itu kini ada bekas lipstipnya, “Aku adalah milikmu suamiku dan selamanya hanya milikmu. Aku tidak peduli dengan tatapan mereka karena di hatiku hanya ada dirimu saja.” ujar Nayya membawa tangan suaminya itu ke dadanya.


Risam tersenyum lalu mengangguk, “Aku tahu sayang. Aku juga percaya itu. Kau adalah milikku begitu juga diriku adalah milikmu. Tapi tetap saja kau itu sangat cantik sayang. Jujur saja walaupun kau sudah melahirkan ketiga anak kita tapi kau masih sama seperti aku pertama kali melihatmu. Nayya yang cantik.” Ujar Risam.


Nayya tersenyum, “Terima kasih mas atas sanjungannya. Aku terharu loh.” Ujar Nayya sambil menghapus bekas lipstipnya di pipi suaminya itu.


“Mas dengar aku begini demi dirimu. Aku tidak ingin kau merasa bahwa setelah aku memiliki anak aku tidak memperhatikan diriku lagi dan membuatmu bosan melihatku. Aku tahu dan percaya kau bukan pria seperti itu namun aku juga sebagai istrimu tidak bisa hanya bersikap bahwa kau tidak akan meninggalkan aku apapun bentuk diriku. Aku sebagai istrimu memiliki kewajiban untuk merawat diriku dan menyenangkan dirimu. Jadi jangan pikirkan apa yang mereka bicarakan dan berapa banyak yang mungkin akan terpesona denganku karena apa yang aku lakukan hanya untukmu suamiku. Suamiku yang bernama Risam Fauzi El Amin ayah dari ketiga buah hatiku.” Ucap Nayya.


Yah, Nayya walaupun sudah melahirkan bentuk tubuhnya masih sama seperti dia belum memiliki anak. Berat badan Nayya memang tidak naik drastis saat dia hamil walaupun dia selalu makan karena Nayya pintar menjaga bentuk tubuhnya itu sehingga saat dia melahirkan pun dia tidak butuh waktu yang lama untuk mengembalikan bentuk tubuhnya menjadi seperti sedia kala tanpa harus mempengaruhi dirinya yang sedang menyusui.


Nayya terlihat seperti seorang gadis saja. Jika Nayya pergi sendiri dan bertemu dengan orang yang tidak mengenalnya mungkin akan berpikiran bahwa dia adalah seorang gadis karena memang Nayya tidak terlihat seperti seorang seorang ibu dari tiga orang anak. Bahkan Nayya di usianya yang sudah 27 sebentar lagi akan berulang tahun yang ke 28 dia masih terlihat seperti gadis yang usianya masih 20 tahunan karena dia awet muda. Nayya terlihat seperti kedua adiknya saja. Jika mereka berjalan bertiga mereka terlihat sama dan mirip karena memiliki garis wajah yang mirip. Tidak ada yang membedakan mereka walaupun Nayya sudah menikah dan memiliki anak.

__ADS_1


Risam pun tersenyum terharu mendengar ucapan istrinya itu. Dia memeluk Nayya erat, “Aku tidak pernah punya pemikiran untuk meninggalkanmu sayang kecuali maut yang memisahkan.” Ucap Risam dalam pelukan Nayya.


Nayya tersenyum, “Aku tahu mas.” Ujar Nayya membalas pelukan suaminya itu tidak kalah erat. Untung saja ketiga buah hati mereka itu masih terlelap seolah mereka tahu bahwa ayah dan bunda mereka butuh waktu berdua. Jadi mereka tidak mengganggu sama sekali.


__ADS_2