
Nayya segera di bantu oleh papa Imran dan Risam masuk ke dalam. Nayya tersenyum menyadari hal itu karena saat ini dia sedang di apit oleh dua cintanya. Cinta pertamanya dan cinta masa kininya. Nayya di tuntun ke kamarnya.
“Mas, Nayya mengantuk.” Ujar Nayya begitu di kamar dan duduk di ranjangnya sepeninggal papa Imran yang pergi meninggalkan Nayya dan suaminya.
“Ya sudah kamu istirahat dulu sayang. Nanti jika acaranya sudah di mulai mas akan membangunkanmu.” Ucap Risam lembut sambil merapikan barang mereka yang baru saja di bawa pulang tadi.
Nayya pun mengangguk lalu dia segera merebahkan tubuhnya di ranjang karena entah kenapa dia merasa sangat mengantuk padahal semalam dia tertidur dengan baik. Ketiga anaknya sangat pengertian tidak ada yang menangis sama sekali. Ketiganya tidak rewel satu sama lain. Mungkin juga pengaruh masih sangat kecil dan pekerjaan mereka hanya menyusui dan tidur saja.
Tidak lama Nayya pun segera terlelap, Risam yang baru saja selesai membereskan semua barang mereka yang dari rumah sakit kini tersenyum melihat sang istri tertidur, “Always beautiful dalam bentuk apapun. Apalagi ketika tidur sangat cantik.” Gumam Risam lalu mengecup kening sang istri lembut. Setelah itu dia segera keluar untuk melihat apa acara syukuran itu akan segera di mulai atau tidak.
Begitu Risam keluar dia tersenyum melihat ketiga buah hatinya yang saat ini sedang di gendong oleh para keluarga dan seperti mereka tahu bahwa keluarga ingin melihat mereka. Ketiga anaknya itu yang tadinya masih terlelap saat sampai kini terjaga dan menatap siapa yang menggendongnya seolah menghafal wajah mereka tanpa menangis sama sekali.
Risam segera mendekati ke arah putrinya yang di gendong oleh saudara mama Fara. Dia tersenyum melihat putri cantiknya itu yang kini seolah tersenyum padanya, “Wah, dia tersenyum. Apa kau tahu nak dia ayahmu.” Ucap saudara mama Fara itu.
Risam tersenyum mendengar hal itu, “Emm bibi bisa Risam menggendongnya?” pinta Risam.
Saudara mama Fara itu pun mengangguk lalu segera membiarkan Floella di gendong oleh ayahnya. Floella begitu dia berada dalam gendongan Risam kembali tersenyum, “Wah dia kembali tersenyum nak. Dia memang tahu bahwa kau adalah ayahnya. Ahh gemas banget sih.” Ujar saudara mama Fara itu gemas.
“Risam, Nayya mana?” tanya mama Fara yang lewat dan tidak melihat putrinya hanya menantunya itu.
__ADS_1
“Nayya sedang istirahat sebenar mah. Dia mengantuk. Risam membiarkan dia tidur sebentar dan nanti jika acaranya di mulai Risam akan membangunkannya. Apa acaranya akan di mulai?” tanya Risam.
Mama Fara menggeleng, “Belum nak. Acaranya masih sebentar lagi di mulai tapi kan ini triplets terbangun dia harus menyusuinya.” Ujar mama Fara.
“Gak apa-apa jeng. Biarkan saja dulu menantuku itu tidur. Biar nanti mereka rewel dan menangis kita baru bangunkan Nayya.” Timpal mami Vega. Mama Fara pun hanya mengangguk saja lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Risam tersenyum menatap putrinya yang menatapnya dalam dari tadi seolah merekam wajah Risam dalam memori kecilnya itu bahwa ini ayahnya bahwa ini cinta pertamanya yang akan menjaganya dengan baik nanti.
“Ada apa nak? Apa ada sesuatu di wajah ayah sehingga kau menatap ayah dalam begitu?” tanya Risam. Lagi-lagi bayi kecil itu hanya menanggapi dengan senyuman.
“Dia sepertinya membenarkan perkataanmu kak.“ ujar Adiba yang masih setia menggendong keponakan kecilnya.
Singkat cerita, kini acara syukuran itu segera di mulai. Nayya juga sudah bangun dan hadir di tengah-tengah acara itu dengan sudah mengganti pakaiannya. Dia tersenyum melihat ketiga anaknya yang masih terjaga padahal sudah dia susui tadi saat dia bangun, “Mas, sepertinya mereka tahu bahwa acara ini untuk mereka. Lihatlah mereka masih terjaga.” Bisik Nayya di telinga sang suami melihat ketiga anak mereka yang kini ada di pangkuan Adiba, mama Fara dan mami Vega.
Risam pun tersenyum lalu mengangguk, “Sepertinya memang begitu sayang. Mereka sangat menggemaskan. Terima kasih sudah memberiku ketiga buah hati yang cantik dan tampan seperti mereka sayang.” ujar Risam menggenggam tangan Nayya erat.
Nayya tersenyum lalu mengangguk, “Mereka adalah buah hati kita mas. Kita mempunyai tanggung jawab menjaga mereka. Kita harus memastikan mereka menjadi anak baik dan cerdas.” Ucap Nayya.
Risam pun mengangguk, “Hal itu memang sudah menjadi kewajiban kita sayang. Kita harus memfasilitasi mereka untuk bisa menjadi anak yang baik dan berguna bagi manusia yang lain.” Ucap Risam. Nayya tersenyum mendengar ucapan sang suami yang memang selalu sama dengannya. Mereka jarang memiliki perbedaan pendapat satu sama lain karena pemikiran mereka itu sama. Bisa di katakan mereka itu se frekuensi.
__ADS_1
Tidak lama acara khatam Qur’an di mulai karena memang selama kehamilan Nayya membaca Al-Qur’an dan dia selesaikan dua hari sebelum dia melahirkan sehingga hari ini di adakan khatam Qur’an untuk menyempurnakan bacaan Nayya dan juga penyambutan ketiga anak Nayya. Selain itu juga hal itu memang sudah menjadi keinginan Nayya.
Sekitar dua jam acara itu berlangsung dan Alhamdulillah kini sudah selesai. Acara syukuran sekaligus khatam Qur’an itu berjalan lancar tanpa kendala sama sekali. Kini acara di sana tinggal acara foto bersama saja.
Setelah acara foto bersama itu selesai di lakukan semua orang kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Nayya, Risam dan ketiga buah hati mereka itu langsung masuk ke kamar Nayya yang memang di sana sudah ada box bayi.
Walaupun sebelumnya mereka hanya menyiapkan dua box bayi karena memang semua keluarga tahu Nayya hanya mengandung kembar tapi kini sudah tiga box bayinya entah siapa yang membeli yang satu itu. Nayya sudah bertanya kepada mamanya tapi mamanya tidak menjawabnya dan hanya mengatakan bahwa itu dari seseorang yang tidak perlu Nayya tahu siapa yang memberikannya. Akhirnya Nayya pun mengalah saja. Sebenarnya Nayya dan Risam bisa membeli sendiri tapi karena sudah ada yang memberikannya maka mereka pun harus menerimanya.
Nayya dan Risam beserta ketiga anak mereka itu segera beristirahat, “Mas, aku sangat bahagia saat ini. Kita harus segera pindah ke rumah kita yaa mas.” Ucap Nayya.
“Kita akan pindah kesana sayang tapi kita selesaikan dulu semuanya. Kan tinggal finishing aja.” Ujar Risam.
“Ish mas bukan rumah baru kita tapi rumah sebelumnya.” Ucap Nayya.
“Hmm, gak deh sayang. Jangan di sana. Kamu akan lelah nanti jika naik turun tangga. Kita pindah ke rumah baru kita saja. Kitu tunggu itu selesai dulu.” Ucap Risam.
“Emang masih ada biaya untuk menyelesaikannya dalam waktu dekat mas?” tanya Nayya hati-hati.
Risam pun tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh istrinya itu, “In Syaa Allah cukup sayang. Hasil panen kita kan Alhamdulillah banyak. Jadi pasti bisa. Tapi mungkin untuk furniture belum cukup. Jika hanya ranjang dan lemari seperti masih cukup.” Jelas Risam.
__ADS_1