
Tepat jam 09.00, mami Vega dan papi Lutfi datang ke tempat tinggal putra dan menantu mereka itu seperti janji mereka semalam yang memang akan datang berkunjung untuk mendengarkan secara langsung kehamilan menantu mereka.
Risam dan Nayya pun menyambut mami Vega dan papi Lutfi itu dengan ramah. Begitu juga dengan mama Fara dan papa Imran yang menyambut besan mereka.
Kini mami Vega dan papi Lutfi melihat hasil USG itu yang memang ada dua bulatan kecil di sana karena memang baru berusia lima minggu. Mami Vega mendekati menantunya itu dan mengusap perut Nayya dengan lembut.
“Mami harap semua akan baik-baik saja.” ucap Mami Vega bergetar. Papi Lutfi yang mendengar ucapan sang istri yang bergetar pun segera memegang bahunya.
Nayya juga menyadari hal itu, “Ada apa mih? Apa ada masalah?” tanya Nayya.
Mami Vega menggeleng, “Mih, ada apa sebenarnya? Kenapa mami mengatakan hal itu dengan suara bergetar seperti menahan tangis.” Ucap Risam penasaran.
“Mami—tidak apa-apa nak. Mami hanya khawatir berlebihan saja.” ucap Mami Vega.
“Ada apa sebenarnya jeng Vega?” tanya mama Fara hati-hati karena sebenarnya dia juga penasaran apa yang membuat besannya itu seperti di landa ketakutan.
“Mih, ceritakan semua kepada mereka. Jangan khawatir. Kita akan menjaga menantu kita dengan baik agar apa yang menjadi kekhawatiranmu itu tidak terjadi.” Ujar papi Lutfi menggenggam tangan mami Vega erat seolah menguatkan sang istri.
Risam dan Nayya yang melihat itu pun hanya bisa diam mengamati dan mereka yakin ada rahasia besar di balik sikap yang di tunjukkan maminya itu, “Nak, ini mungkin akan menjadi cerita yang sedikit mistis. Tapi itu adalah ketakutan mami.” ucap mami Vega setelah mencoba untuk menenangkan hatinya agar bisa bercerita.
__ADS_1
“Mami sudah mengatakan kan bahwa mami memiliki kembaran yang meninggal sewaktu di lahirkan. Mami memang mengetahuinya saat mami berusia 7 tahun bahwa memiliki kembaran dan mungkin kau bertanya-tanya kenapa mami dan papi tidak pernah menceritakan itu karena sebenarnya ada kesedihan dan ketakutan terbesar yang tersembunyi di sana. Untuk itu mami kenapa tidak pernah menceritakannya namun sepertinya kehamilan istrimu ini mengharuskan mami menceritakan semuanya. Mungkin juga memang sudah waktunya hal itu di ceritakan.” Ucap mami Vega menarik nafasnya.
“Ada kepercayaan dalam keluarga mami bahwa ketika ada yang hamil kembar dalam garis keturunan mami maka salah satu dari anak mereka itu akan meninggal dan satunya akan hidup. Semuanya normal pada umumnya dan tidak ada masalah. Namun saat di lahirkan maka pasti akan ada yang terjadi pada salah satu anak kembar yang di lahirkan. Itulah yang terjadi pada saudari kembar mami. Dia masih sempat menangis bahkan menyusu dan terlihat normal namun sekitar dua jam kemudian dia pun mengalami sesak nafas dan seluruh tubuhnya membiru sampai tidak bisa diselamatkan.” Ucap mami Vega.
“Hal ini bukan terjadi sekali tapi sudah beberapa kali. Hal sebelumnya juga terjadi pada ibu dari nenek mami. Dia juga hamil kembar dan salah satu putranya juga meninggal dan itu juga terjadi lagi pada dua generasi sebelumnya. Lebih anehnya lagi hal itu terjadi secara selang seling. Jika generasi nenekmu terjadi maka pada generasi mami gak dan tidak ada juga yang hamil kembar dan kini pada generasimu. Istrimu mengandung kembar. Mami khawatir salah satu--“ ucap mami Vega tidak bisa melanjutkan pembicaraannya.
Risam, Nayya, mama Fara dan papa Imran pun hanya bisa terdiam mencoba memahami semuanya dengan baik, “Mih, itu adalah ketakutan mami. Nayya janji akan menjaga anak Nayya dengan baik. Nayya tidak akan membiarkan sesuatu yang terjadi dengan mereka. Terima kasih sudah menceritakan ketakutan dan kesedihan mami ini.” ucap Nayya memeluk ibu mertuanya itu.
“Nak, mami tidak ingin kau merasakan kesedihan yang sama dengan apa yang di rasakan oleh ibu mami. Mami juga tidak ingin salah satu anakmu merasakan apa yang di rasakan mami yakni merindukan kembarannya. Kau tahu saudari mami itu selalu datang dalam mimpi mami jika mami merindukannya seolah dia ingin menyembuhkan kerinduan mami. Mami ingin ikut dengannya tapi dia menolak. Mami tidak ingin--”
“Mih! Nayya tahu apa yang menjadi ketakutan mami. In Syaa Allah hal itu tidak akan terjadi lagi.” Ucap Nayya.
Nayya pun tersenyum lalu menghapus air mata ibu mertuanya itu, “Sudah. Jangan menangis lagi ya mih. Lebih baik sekarang mami berikan apa yang mami dan papi bawa. Cucu kalian ini sepertinya tidak sabar ingin mencoba apa yang di bawa oleh kakek dan nenek mereka.” ucap Nayya.
Mami Vega pun tersenyum lalu mengambil tas bawaannya dan mengeluarkan makanan yang dia bawa, “Ini baik untuk kandungan nak.” ucap mami Vega menyajikan makanan itu di meja makan.
Nayya pun tersenyum lalu menikmati makanan buatan ibu mertuanya itu, “Wah, sangat lezat mih. Nayya menyukainya.” ucap Nayya.
“Jika kau menyukainya. Ayo makan lagi nak. Hi cucu-cucu nenek, kenalkan ini nenek kalian.” ucap mami Vega mengusap perut Nayya.
__ADS_1
Di sana di ruang keluarga papi Lutfi tersenyum melihat istrinya itu yang tersenyum bahagia karena semalaman dia menangis dan ketakutan setelah mengetahui kehamilan kembar Nayya. Dia semalam dalam sambungan video call berusaha menahan ketakutan yang tiba-tiba melandanya tapi begitu sambungan video call berakhir mami Vega langsung menangis.
“Dia akhirnya tersenyum lagi. Terima kasih kalian sudah melahirkan putri setenang Nayya.” Ucap papi Lutfi.
“Pih, apa yang di katakan mami itu benar?” tanya Risam. Sungguh dia masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.
“Apa yang di ceritakan mamimu itu benar nak. Papi mendengar cerita itu sendiri dari mendiang papa mamimu.” Ucap papi Lutfi.
“Terus sampai kenapa hal itu terjadi pada keluarga mami?” tanya Risam.
“Sampai saat ini kami tidak tahu apa penyebabnya.” Jawab papi Lutfi.
“Sudahlah nak. Jangan di bahas lagi. Kasihan mamimu dia saat ini sedang berusaha mengendalikan kesedihan dan ketakutannya. Mama bisa melihat bahwa mamimu itu sangat ketakutan tapi demi Nayya dia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakan hal ini. Kita harus menghargainya.” Ucap mama Fara.
Risam yang mendengar itu pun mengangguk mengerti, “Baik mah.” ucap Risam.
“Mih, mami juga makan dong. Nayya sudah tidak sanggup lagi menghabiskannya.” Ucap Nayya.
Mami Vega pun tersenyum lalu menggenggam tangan menantunya itu, “Terima kasih nak sudah memberikan ketenangan di hati mami. Setelah menceritakan ini padamu. Mami merasa plong. Terima kasih sudah menguatkan mami. Mami akan berdoa agar kutukan aneh itu tidak terjadi padamu.” Ucap mami Vega.
__ADS_1
Nayya pun tersenyum lalu mengecup punggung tangan ibu mertuanya itu, “Aamiin. Mami jangan takut lagi. Kita akan menjalani ini sama-sama. Kita pasti bisa.” Ucap Nayya. Mami Vega pun mengangguk tersenyum. Setelah itu ke empat orang lainnya yang di ruang keluarga segera bergabung untuk menikmati hidangan yang di bawa mami Vega itu.