Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
102


__ADS_3

“Kamu hamil?”


Nayya yang mendengar perkataan suaminya itu pun bukannya menjawab justru tertawa, “Astagfirullah suamiku. Aku belum selesai bicara.” Ucap Nayya masih tertawa.


Risam yang mendengar itu pun bingung, “Lalu apa maksud perkataanmu tadi bahwa triplets akan punya adik. Jika kau tidak hamil maka siapa yang hamil dan triplets akan mendapat adik dari siapa--” ujar Risam terhenti begitu dia menyadari satu hal.


“Jangan katakan bahwa kalian bisik-bisik tadi itu tentang ini. Apa Rayya hamil?” tanya Risam setelah menyadarinya.


Nayya pun tersenyum lalu mengangguk, “Hum, dia mengandung. Sudah lima minggu. Makanya aku mengatakan bahwa triplets akan punya adik. Bukankah keponakanku sama saja dengan anak bagiku dan adik buat anak kita.” Jawab Nayya.


“Ahh aku pikir kamu yang hamil sayang. Aku lega sekarang.” Ujar Risam mengelus dadanya lega.


“Apa mas gak mau aku hamil lagi?” tanya Nayya.


“Bukan gak mau sayang. Tapi mas sudah merasa cukup dengan triplets. Mereka sudah cukup untuk mas. Tapi jika memang masih di rezeki lagi dan kau hamil lagi sudah tentu mas juga tidak akan menolak. Mas akan berusaha agar kau tidak hamil lagi. Mas takut melihatmu kesakitan begitu. Mas sangat menyayangimu dan tidak akan rela melihatmu kesakitan lagi. Jadi kita punya triplets saja yaa. Gak usah yang lain.” Ucap Risam.


“Aku juga ingin mencurahkan seluruh perhatianku untuk triplets.” Lanjut Risam.


Nayya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu dan dia pun mengangguk, “Baiklah jika memang itu keinginan mas. Aku akan menurut dan dengan senang hati tidak akan hamil lagi. Aku juga berpikir mereka sudah cukup. Kita akan mengajari dan menyayangi mereka dengan baik.” ucap Nayya.


***


Waktu terus berlalu dan berlalu tidak terasa kini usia triplets sudah 8 bulan. Mereka sudah lincah dan butuh perhatian yang ekstra. Mereka juga sudah bisa mengucapkan sepatah dua patah kata terutama memanggil bunda. Kata itu adalah kata yang pertama kali mereka ucapkan di usia mereka yang ke delapan bulan ini.


Nayya yang memang saat itu berada di tempat saat ketiga buah hatinya itu mengucap kata bunda pun terharu sampai menangis. Dia sangat bahagia mendengarnya sampai setiap kali ketiga buah hatinya itu memanggil bunda dia akan terharu.


“Mas, mereka memanggilku lagi. Aku sangat senang.” Ucap Nayya kepada Risam.


Risam pun tersenyum melihat ketiga buah hatinya itu yang sangat menggemaskan dan semakin menggemaskan setiap harinya.


“Aku tahu perasaanmu sayang. Walaupun aku belum mendengar mereka memanggilku ayah.” Ucap Risam merangkul sang istri.


Tiba-tiba putri mereka mendekati Risam dan Nayya dengan merangkak. Risam pun menyentuh tangan putrinya itu dan jari telunjuk miliknya di genggam erat oleh putrinya itu, “Aayaahh!” ucapnya.


Risam yang mendengar putrinya itu memanggilnya terkejut, “Sayang, kamu dengar dia memanggilku. Putriku memanggilku ayah sayang.” ucap Risam sangat senang.


Nayya mengangguk, “Kau benar mas. Kau di panggil ayah.” Ucap Nayya ikut terharu.


Risam pun segera mengangkat putrinya itu dan tersenyum, “Ayo nak panggil ayah lagi.” Pinta Risam pada putrinya itu yang di tanggapi oleh putrinya dengan senyuman.


“Ahh gak mau yaa. Jual mahal yaa. Yah udah gak apa-apa. Lain kali saja kamu panggil ayah lagi yaa.” Ucap Risam sangat bahagia. Bahkan saking bahagianya dia sampai mengangkat tubuh putrinya itu tinggi-tinggi.


“Putri ayah.” Ujar Risam.

__ADS_1


“Aayaah!” ujarnya lagi.


“Iya princess. Ini ayah.” Ucap Risam lalu menciumi wajah putrinya itu saking gemasnya karena sang putri sudah bisa memanggilnya ayah.


Setelah itu Risam menurunkan putrinya kembali dan segera bicara dengan kedua putranya, “Ayah juga menyayangi kalian nak. Jangan iri pada kakak kalian yaa. Ayah juga akan melakukan hal yang sama kepada kalian jika bisa menyebut kata ayah. Tapi ayah akan menunggunya sampai kalian mau menyebutkannya. Tidak perlu terburu-buru. Ayah menyayangi kalian juga boy.” Ujar Risam mengecup kening para putranya.


Nayya yang melihat itu pun tersenyum. Suaminya itu memang terlihat sangat menyayangi putri mereka di banding putra mereka. Tapi Nayya bisa memaklumi hal itu karena memang setiap putri pasti cenderung lebih dekat dengan ayah mereka ketimbang bunda mereka. Seperti dirinya, Rayya dan Zayya yang lebih dekat dengan papa Imran di banding mama Fara. Tapi hal itu tidak mempengaruhi apapun karena kasih sayang mama Fara tetap sama untuk mereka. Jadi Nayya juga begitu. Dia percaya suaminya itu tetap menyayangi putra mereka.


***


Sementara di sisi lain, di rumah sakit. Zayya yang memang kembali melakukan praktik profesinya setelah di rolling kini kembali lagi di rumah sakit di mana awal dia di tempatkan. Rumah sakit yang membuatnya benci pada sesuatu. Sudah setengah tahun dia menjalankan praktik profesinya dan rumah sakit ini adalah tempat yang paling di bencinya karena kejadian sesuatu yang dia tidak inginkan membuatnya harus menerima malu.


“Wah, Zayya apa kau tidak mengingat sesuatu yang indah di sini?” tanya gadis A salah satu teman sesama profesi Zayya.


Zayya yang mendengar itu hanya mengabaikannya dan dia segera menuju ruangan di mana mereka harus memulai praktiknya.


“Dasar sombong. Mentang-mentang punya backingan dokter spesialis di sini dia jadi sombong begitu. Dasar tidak tahu diri sama sekali.” Ucap gadis A itu sinis.


“Sudahlah kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan dokter itu. Kita hanya mendengar cerita orang saja kan.” Ucap gadis B.


“Kau selalu saja membelanya. Apa kau dekat dengannya?” tanya gadis A itu sinis. Gadis B pun hanya diam saja. Dia tidak ingin berdebat lagi. Sudah cukup.


Zayya yang sudah di ruangan yang biasa mereka tempati dia pun menghela nafas melihat ruangan yang tidak bisa dia lupakan, “Kenapa aku harus kembali ke sini? Aku benci tempat ini. Jika saja bukan karena penyelesaian profesiku maka aku akan mengundurkan diri saja. Tenang Zayya kau pasti bisa. Tinggal satu semester lagi semua akan selesai. Jangan lagi memikirkan apapun.” Ucap Zayya menyemangati dirinya.


Zayya pun segera duduk di tempatnya dan memulai kegiatannya pagi itu. Zayya bahkan mengabaikan teman-temannya yang baru berdatangan. Dia segera menuju ruangan dokter untuk memberikan laporannya.


“Zayya!” panggil seseorang. Itu suara yang sangat ingin dia hindari. Kenapa justru ketemu sih.


Zayya pun menoleh dan membungkukkan badannnya penuh hormat, “Selamat pagi dokter.” Salam Zayya lalu setelah itu dia segera menuju ruangan dokter Cyra untuk mengantarkan apa yang di minta oleh dokter pembimbingnya itu.


Sementara dokter yang menyapanya hanya bisa melihat Zayya dengan tatapan sendu, “Dia membenciku. Dia menghindariku. Sungguh aku hanya bisa melihat kebencian yang besar untukku di matanya. Menyebalkan. Siapa yang berani memfitnahku. Aku harus menemukan dalang dari semua ini.” ucap dokter itu lalu segera menuju ruangannya.


“Bagus! Kamu sudah bisa melakukannya dengan baik Zayya. Saya bangga padamu.” Puji dokter Cyra atas hasil kerja dan laporan milik Zayya itu.


“Zayya, tolong beritahukan kepada teman-temanmu yang lain juga untuk segera mengantarkan laporan mereka untuk di periksa. Ini awal semester kan jadi saya perlu mengevaluasi kalian. Tapi kau di bebaskan dari evaluasi karena laporanmu sangat rapi.” Ucap dokter Cyra tersenyum.


“Terima kasih dokter. Tapi apakah saya juga tetap bisa ikut evaluasinya? Saya tidak ingin di bedakan dengan yang lain. Saya tidak ingin menimbulkan rasa iri di hati mereka lagi.” Ucap Zayya.


Dokter Cyra itu pun tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah. Jika memang begitu. Saya tahu apa maksudmu. Kalau begitu kamu pergilah dulu dan minta mereka untuk ke ruangan saya. Saya akan mengetes kalian bersama-sama nanti.” Ucap dokter Cyra tersenyum.


Zayya pun mengangguk, “Kalau begitu saya permisi dokter.” Izin Zayya lalu segera keluar dari ruangan dokter Cyra begitu mendapat izin.


Zayya keluar lalu dia menatap nanar lorong di mana tadi dia di sapa oleh seorang dokter, “Aku tidak membencimu tapi aku benci diriku yang dengan mudah jatuh dalam pesonamu. Aku juga harus menghindarimu. Ini semua demi kebaikan kita agar tidak ada lagi yang memanfaatkanku untuk menjatuhkanmu. Anggap saja ini yang bisa di lakukan oleh seseorang sepertiku kepada orang yang membantunya.” Batin Zayya lalu dia segera meninggalkan lorong ruangan dokter itu.

__ADS_1


Dokter Cyra yang memang sengaja mengikuti Zayya dan melihat Zayya berhenti dia menghela nafas, “Kalian sepertinya saling mencintai tapi kejadian itu membuat kalian saling membenci satu sama lain. Aku akan membantu kalian.” ucap dokter Cyra lalu segera menuju ruangan dokter yang tadi menyapa Rayya.


Tok … tok … tok …


“Masuk!” ucap seseorang dari dalam.


Dokter Cyra pun tersenyum lalu menongolkan kepalanya di pintu itu, “Hey, adik sepupuku kenapa kau mengurung dirimu di ruanganmu ini?” goda dokter Cyra dengan senyuman di wajahnya.


“Masuklah kak. Aku baru saja selesai melakukan operasi. Jadi aku lelah.” Jawabnya


Dokter Cyra pun yang sudah di dalam ruangan itu tersenyum menatap sepupunya itu, “Sungguh? Apa memang benar-benar lelah atau ada yang mengganggumu. Kita adalah sepupu yang paling dekat satu sama lain. Jadi jangan pernah membohongiku. Aku tahu ada yang mengganggumu. Apa karena gadis itu?” tebak dokter Cyra.


“Jangan bicara lagi kak. Dia membenciku. Aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana lagi agar semuanya bisa kembali baik-baik saja. Aku tahu aku memang tidak bisa membuktikan apapun dengan perkataanku dan tidak ada yang mempercayai kami lagi hingga membuatnya di permalukan padahal tidak ada yang terjadi kepada kami di sana. Ahh aku membenci diriku sendiri yang lemah kak.” Ucap Diaz mengacak rambutnya kesal.


“Sudah hentikan apa yang kau lakukan. Aku tidak suka kau acak-acakan begini. Aku akan membantumu. Aku akan membantu mendekatmu dengannya lagi. Di semester ini aku penanggung jawab mereka. Jadi tenang saja.” ucap dokter Cyra.


“Aku tidak bisa melakukannya kak. Aku tidak ingin dia semakin membenciku lagi.” Ucap Diaz menggeleng.


“Lalu apa kau akan mengaku kalah untuk semuanya. Apa kau tidak ingin memperjuangkan perasaan cintamu itu. Kau mencintainya bahkan orang buta pun tahu bahwa kau mencintainya dan aku pun tahu dia juga mencintaimu. Aku mengikutinya saat keluar dari ruanganku dan dia berhenti di lorong itu lalu kemudian berjalan. Jangan bohongi kata hatimu dan perasaanku. Aku tidak suka orang yang suka membohongi dirinya sendiri.” Ucap dokter Cyra. Cyra memang lebih tua 6 tahun darinya. Cyra seorang dokter spesialis penyakit dalam. Dia sudah menikah dengan seorang perwira polisi dan sudah memiliki dua orang anak.


“Aku bukan mengatakan menyerah kak. Aku tahu cinta butuh perjuangan dan aku akan memperjuangkan perasaanku ini. Tapi aku harus mencari tahu dulu siapa dalang sebenarnya atas kejadian sebulan lalu itu. Aku akan menjelaskan padanya dengan membawa bukti di tanganku. Aku akan melakukan cara lain untuk mendekatinya. Aku bukan tidak butuh bantuanmu kak. Tapi untuk saat ini biarkan aku yang melakukannya sendiri. Aku akan meminta bantuanmu nanti.” Ucap Diaz.


Cyra pun tersenyum melihat tekad yang di mata adik sepupunya itu, “Baiklah jika begitu. Aku akan diam saja. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu. Aku yakin jika adikku sudah bertekad maka semuanya akan dia dapatkan. Aku mendukungmu. Tenang saja aku akan membantumu mengenalkan dia dengan orang tuamu. Aku yakin itu kan yang akan kau minta dariku nanti.” Ucap dokter Cyra.


Diaz pun tersenyum lalu mengangguk, “Kau selalu bisa menebak dengan tepat kak. Aku butuh bantuanmu untuk itu. kau tahu sendiri bagaimana mami.” ucap Diaz.


Cyra pun mengangguk, “Tenang saja. Bibiku itu biar akan jadi urusanku. Kau pastikan saja hubunganmu dnegannya akan baik-baik dan bisa membawanya dan memperkenalkannya di keluarga besar kita sebagai calon istrimu. Aku menyukainya. Dia sangat cerdas. Dia sangat cocok denganmu.” Ucap Cyra menepuk bahu sepupunya itu.


Diaz pun mengangguk membenarkan ucapan kakak sepupunya itu, “Aku juga merasa begitu. Dia sangat cocok untukku. Kau tahu kan aku selalu menghindari seorang gadis tapi denganmu baru kali pertama bertemu aku langsung merasa cocok dengannya. Walau kami berbeda profesi tapi dia nyambung ketika di ajak bicara.” Ujar Diaz.


“Matamu itu sudah penuh cinta” goda Cyra.


Diaz pun tertawa, “Terima kasih kak sudah datang sudah mencerahkan hariku ini. Ohiya bagaimana dengan keponakanku?” tanya Diaz.


Cyra mengelus perutnya, “Dia baik-baik saja.” ujar Cyra.


“Kak, kau hamil lagi?” teriak Diaz tidak percaya. Cyra pun hanya terkekeh lalu mengangguk.


“Ya begitulah. Suamiku itu tidak suka aku memakai kb jadi inilah yang terjadi. Tapi tidak masalah aku memang ingin punya anak lagi.” Jawab Cyra enteng.


“Wah kalian sangat produktif sekali yaa.” Ucap Diaz.


“Makanya cepatlah menikah dan segera punya anak agar anak kita bisa seumuran.” Ucap Cyra.

__ADS_1


Diaz pun hanya menarik nafas panjang. Cyra yang melihat itu pun tertawa lalu segera keluar dan kembali ke ruangannya di mana di sana sudah ada mahasiswa yang mengantri.


Diaz di ruangannya menatap sebuah foto di layar ponselnya, “Aku tidak pernah lupa kau yang menabrakku saat di hari pertamamu. Kau yang memulai rasa ini tumbuh di hatiku. Kau juga yang membuatnya semakin tumbuh subur. Aku akan memastikan bahwa kau akan menjadi pemilik hati ini. Aku mencintaimu dan aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu.” Ardiaz Syauqi Malik.


__ADS_2