Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
104


__ADS_3

Kembali lagi di sisi Zayya kini baru saja selesai jam praktiknya dan sudah tiba saatnya jam pulang. Zayya pun segera menyiapkan semua peralatannya dan siap-siap pulang.


Zayya segera berjalan menuju parkiran di mana motornya terparkir. Zayya segera menaiki sepeda motornya dan tidak lama sepeda motor Zayya pun melaju meninggalkan rumah sakit itu.


Dalam perjalanan Zayya merasa ada yang salah dengan sepeda motornya itu. Zayya pun segera menghentikan sepeda motornya dan memeriksanya yang ternyata ban sepeda motornya kempes.


Zayya pun menarik napas panjangnya, "Huft, kok bisa kempes sih. Mana jauh lagi dari bengkel. Masa iya aku tinggalin di sini motornya. Oh My God. Kenapa aku hari ini sangat sial. Moodku sudah hancur sejak pagi dan kini sudah waktunya pulang justru ban motor kempes begini." gumam Zayya.


Setelah itu Zayya pun melihat sekeliling dan Zayya pun memilih mendorong motornya itu mendekati rumah yang ada di sana. Zayya memilih rumah yang ada teras nya.


"Ada apa nak?" Tanya pemilik rumah itu yang sudah melihat Zayya mendorong motornya.


"Ban motor saya kempes bu. Apa bisa saya titip di sini sebentar lalu nanti saya ke bengkel dulu dan akan kembali lagi untuk mengambilnya. Apa bisa bu?" izin Zayya.


"Ahh tentu nak. Ayo bawa masuk ke dalam. Bengkel di sini juga memang lumayan jauh nak." ucap ibu itu segera mempersilahkan Zayya untuk membawa sepeda motornya masuk.


"Apa baru pulang kerja nak?" tanya ibu itu.


Zayya pun tersenyum lalu mengangguk, "Iya bu. Saya baru pulang kerja." Jawab Zayya memang memilih untuk tidak menjelaskannya dirinya lebih lanjut lagi.


"Ibu, terima kasih sudah mengizinkan saya menutup motor saya. Ohiya nama saya Zayya." ucap Zayya memperkenalkan dirinya yang di balas oleh ibu itu dengan anggukan dan tidak kalah ramah juga.


Zayya pun segera memesan ojek online lewat ponselnya dan baru saja dia menekan untuk memesan tiba-tiba saja ada yang berhenti di depan rumah itu dan segera turun dari mobilnya lalu merebut ponsel Zayya dan segera membatalkan pesan Zayya itu.


Zayya pun hanya menatap orang di hadapannya itu dan menarik nafas panjang, "Dokter, apa yang kau lakukan?" Tanya Zayya.


"Kamu ikut saya saja. Motormu biar teman saya saja yang membawanya ke bengkel." ucap Diaz lalu segera menarik lengan Zayya menuju mobilnya.


Zayya menghentak tangannya dan akhirnya Diaz pun melepaskannya, "Aku tidak butuh bantuanmu dokter. Abaikan saja aku. Jangan pedulikan. Anggap saja kau tidak melihatku. Kau pulanglah." Ucap Zayya lembut.


"Zayya jangan keras kepala. Ikut saja. Apa kau ingin kita jadi tontonan semua orang di sini. Lihatlah sekelilingmu. Kau bisa marah sepuasnya nanti saja. Sekarang ikut saja. Please! Saya mohon." ucap Diaz dengan suara kecil.


Zayya pun melihat sekeliling, "Aku tunggu di sini saja temanmu itu dokter. Biar aku ikut dengannya saja." ujar Zayya.


Diaz pun menghela nafas panjangnya, "Baiklah." jawab Diaz.


Tidak lama mobil pick up pun datang dan segera mengangkat motor Zayya ke atasnya, "Kamu ikut saya. Motormu sudah aman. Saya tidak akan mengambilnya. Saya pastikan motormu itu akan sampai ke tanganmu dalam keadaan beres." ujar Diaz langsung membukakan pintu mobil untuk Zayya.


"Masuk atau saya akan menggendongmu dan memaksamu masuk ke dalam. Jangan keras kepala. Saya tidak main-main dengan apa yang saya ucapkan." ancam Diaz.


Zayya pun akhirnya menurut saja. Setelah memastikan Zayya sudah masuk. Diaz segera meminta temannya dari bengkel itu untuk segera menyelesaikan urusannya. Lalu dia segera menghampiri pemilik rumah yang tadi di titipin Zayya motornya.


"Ibu, terima kasih sudah mengizinkan tunangan saya itu menitipkan sepeda motornya di sini. Ini ada sedikit bantuan dari saya untuk kebaikan yang ibu lakukan." Ucap Diaz memberikan dua lembar uang seratusan.


Ibu itu langsung menolak, "Ahh gak usah nak. Ibu ikhlas membantunya. Lagian juga kamu sudah membawa mototnya tidak jadi di titip. Jadi tidak masalah nak. Ibu ikhlas." Ujar ibu itu.

__ADS_1


"Saya juga ikhlas bu. Saya mohon di terima. Tunangan saya itu lagi sensitif. Kami juga ada beberapa kesalahpahaman yang terjadi. Jadi saya mohon yaa bu terima ini dan doakan saya agar dia memaafkan saya." bujuk Diaz.


Ibu itu pun mengangguk dan akhirnya menerima uang pemberian Diaz itu, "Baiklah nak. Terima kasih. Ibu doakan kamu dan tunanganmu itu akan baik-baik saja." ujar ibu itu.


Diaz pun tersenyum lalu mengangguk dan dia pun segera pamit pergi sebelum Zayya nanti protes dan menolak untuk ikut bersamanya.


Begitu Diaz masuk, Zayya menurunkan kaca mobilnya.


"Ibu jangan percaya padanya. Saya bukan tunangannya. Kenal dengan orang tua saya saja gak apalagi tunangan. Jadi dokter ini mengada-ngada saja. Jangan percaya padanya." ujar Zayya yang hanya di balas oleh ibu itu dengan senyuman. Jujur saja dia bingung entah yang mana yang harus dia percaya. Tapi satu hal yang pasti dia mendoakan yang terbaik untuk dua orang itu yang menurutnya sangat cocok.


***


Di dalam mobil Zayya melirik sinis Diaz di sampingnya itu, "Jika kamu ingin bicara atau ingin mengatakan sesuatu maka katakan saja. Jangan menahannya. Aku tidak melarangmu sama sekali untuk bicara. Sekali pun kau ingin marah. Marah saja. Lampiaskan saja padaku. Aku hanya tidak mau kau jadi pendiam. Lebih baik kau marah." ujar Diaz tetap fokus menyetir.


Zayya pun menarik nafas panjang, "Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan dokter? Kenapa kau selalu menggangguku? Kenapa tidak membiarkan aku sendiri? Aku tidak ingin ada lagi cerita dan gosip mengenal kita. Kita memang tidak sepadan dokter. Kita berbeda. Jadi biarkan aku dengan duniaku sendiri dan kau pun sama. Dunia kita berbeda. Tidak akan pernah bisa di satukan." Ucap Zayya.


"Kata siapa tidak bisa di satukan? Kita belum mencobanya bukan. Kenapa kau selalu saja merendahkan dirimu. Saya tidak suka mendengar hal ini. Memang apa yang terjadi sebelumnya itu buruk untuk kita. Tapi kau juga tahu bahwa kita di jebak. Kita di fitnah. Kenapa kau justru memilih menghindar dan tidak memperjuangkan kebenaranmu. Kenapa kau tidak ingin membuktikan dirimu tidak bersalah. Apa kau ingin namamu buruk?" tanya Diaz.


Zayya menunduk dan lalu menatap sendu Diaz, "Apa ada yang ingin namanya buruk di hadapan orang lain? Tidak ada bukan. Aku juga sama dokter. Aku bukan tidak ingin membuktikan diriku. Hanya saja aku tahu bahwa aku tidak bisa melawannya. Dia mempunyai kuasa yang tinggi. Aku hanya ingin profesiku ini cepat selesai agar aku tidak lagi berurusan dengan hal ini. Aku hanya ingin lulus dengan tenang. Aku memilih mengalah tapi bukan berarti aku kalah. Aku akan melaporkannya nanti jika dia sudah sangat keterlaluan. Aku hanya sedang memberinya kesempatan saja." ujar Zayya.


Diaz yang mendengar penuturan Zayya itu menghentikan mobilnya dan menatap Zayya, "Jadi kau tahu dalang di balik semua ini? Kau tahu dan diam saja?" tanya Diaz.


"Aku tidak diam saja dokter. Aku sedang mengumpulkan bukti untuk melawannya. Jika aku melawannya secara terang-terangan maka aku pasti kalah. Aku hanya ingin membuktikan diriku saja." ucap Zayya.


"Bukan itu. Kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau mengetahui dalangnya? Kenapa menyembunyikannya sendiri dan menyelidikinya sendiri? Apa kau tidak percaya padaku? Kenapa kau melakukan ini?" tanya Diaz tidak percaya.


Diaz yang mendengar ucapan Zayya itu pun menjadi kesal lalu memutar balik mobilnya, "Dokter kau mau membawaku kemana? Turunkan aku dokter." ucap Zayya.


"Aku akan membuatmu menjadi bagian dari hidupku yang harus ku lindungi dan ku jaga agar kau tidak akan sungkan lagi padaku. Sudah cukup kau menyembunyikan semua ini dariku." ucap Diaz lalu semakin melajukan mobilnya menuju satu tempat.


Zayya yang hendak protes pun terhenti karena ponselnya berdering. Zayya segera menjawab panggilan yang dari Nayya itu.


"Halo, Assalamualaikum kak?" salam Zayya.


"Wa'alaikumsalam dek. Kamu sudah di jalan pulang kan?" Tanya Nayya dari seberang.


"Iya kak. Ada apa? Aku sedang dalam perjalanan pulang ini." jawab Zayya berbohong.


"Syukurlah jika begitu. Kakak khawatir dek. Kakak tiba-tiba saja mengkhawatirkanmu. Tapi syukurlah jika kau sudah dalam perjalanan pulang. Yaa sudah kamu hati-hati di jalan. Kakak tutup. Wassalamualaikum." Ujar Nayya dan Zayya pun segera menjawab salam kakaknya itu.


Zayya segera mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya lalu dia menatap Diaz, "Dokter, kau akan membawaku kemana? Aku sudah di tunggu oleh kakakku." ujar Zayya.


"Aku akan mengantarmu pulang nanti dan aku sendiri yang akan meminta maaf kepada keluargamu dan kakakmu itu. Tapi kita ke suatu tempat dulu." ucap Diaz.


"Jangan main-main dokter." ucap Zayya.

__ADS_1


"Siapa yang main-main denganmu. Saya ini akan mewujudkan menjadi tunanganmu ahh bukan saya akan menjadi suamimu." ujar Diaz lalu segera masuk ke dalam sebuah rumah mewah dan memarkirkan mobilnya di garasi.


Diaz segera turun lalu dia segera membukakan pintu untuk Zayya, "Turun." ucap Diaz.


Zayya pun menurut walaupun dia bertanya-tanya rumah siapa yang ada di hadapannya itu.


Diaz segera memegang lengan Zayya dan membawanya masuk ke dalam rumah itu. Zayya hanya bisa menurut saja walaupun dia sangat ingin bertanya rumah siapa yang mereka datangi ini tapi dia menahannya.


Diaz dan Zayya begitu masuk langsung di sambut dan orang-orang itu menyambut penuh hormat kepada Diaz. Kini Zayya mengerti rumah siapa yang mereka datangi itu. Ini adalah rumah Diaz.


Diaz membawa Zayya ke ruang keluarga di mana keluarganya berkumpul di sana, "Assalamualaikum." salam Diaz yang langsung saja ketiga orang di ruangan itu menatap ke arah mereka.


"Waalaikumsalam." Jawab ketiganya sambil menyimpan tanya dalam benak mereka tentang siapa gadis di samping Diaz itu.


"Mami, papi, dek kenalkan ini Zayya gadis yang kakak cintai." ujar Diaz tegas.


Ketiga orang di hadapan mereka itu dan Zayya sendiri terkejut mendengar pengakuan dari Diaz itu. Zayya menatap ketiga orang di hadapannya itu yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di baca, "Kak Diaz apa kau bercanda kak?" tanya Dea adik Diaz.


"Apa menurutmu kakak sedang bercanda?" Tanya Diaz balik menatap adiknya itu. Dea pun terdiam dan menatap kedua orang tuanya yang hanya diam saja.


"Diaz, minta dia untuk duduk. Tidak baik membiarkan tamu berdiri saja." ucap papi Atif.


Diaz pun segera mempersilahkan Zayya duduk yang hanya menurut saja sambil mengutuk Diaz dalam batinnya karena mengajaknya kesini dadakan seperti ini tanpa persiapan sama sekali. Bahkan dengan tidak bersalahnya mengaku mencintainya di hadapan keluarganya.


"Nak, kau bekerja di mana?" tanya mami Kartika lembut menatap Zayya.


Zayya pun menatap wanita di hadapannya itu yang seumurun dengan mamanya atau mungkin tua sedikit. Zayya memberanikan dirinya menatap keluarga Diaz itu, "Saya belum bekerja bu. Saya hanyalah mahasiswi profesi yang kebetulan sedang praktik di rumah sakit tempat anak ibu bekerja. Saya tidak bermaksud menggoda anak ibu. Jadi maafkan saya yang sudah lancang datang ke sini tanpa pemberitahuan atau apapun itu." ucap Zayya.


Diaz yang mendengar ucapan Zayya itu pun menarik nafasnya dalam, "Aku yang memaksanya datang kesini. Dia tidak sama sekali bahwa aku akan membawanya kesini. Semua ini rencana dadakanku saja tapi apa yang aku katakan sebelumnya bahwa aku mencintainya maka itu adalah kebenaran. Aku memang mencintainya. Dia memang mahasiswa profesi tapi hanya dia yang aku cintai. Jadi jika kalian tidak setuju atau apapun itu maka katakan padaku. Jangan menyalahkannya sedikit pun. Apalagi sampai menghinanya. Aku tidak akan pernah terima." ucap Diaz.


"Kak, kenapa kau menjadi tidak sopan pada mami dan papi." ucap Dea.


"Diam saja Dea. Mami dan papi tidak mengajarkanmu agar bisa mengajar kakakmu seperti itu. Dia hanya sedang jatuh cinta sehingga lupa sopan santun." ucap mami Kartika.


"Sudah, jangan ribut. Sekarang papi tanya apa yang kau inginkan Diaz?" tanya papi Atif.


"Aku ingin menjadikannya istriku." ucap Diaz.


"Bagaimana jika kami tidak merestui? Apa kamu akan tetap memaksa menikahinya?" tanya papi Atif lagi.


"Aku akan berusaha untuk mendapatkan restu kalian. Jika setelah aku berusaha dan kalian masih tidak memberi restu maka mau tak mau aku akan menikahinya tanpa restu kalian." ucap Diaz tegas.


Zayya yang mendengar itu berdiri, "Aku punya harga diri dokter. Aku memang bukan berasal dari keluarga kaya tapi aku punya harga diri. Di dalam keluargaku tidak ada pernikahan yang terjadi tanpa restu. Bagiku juga restu orang tua adalah hal yang utama. Aku tidak akan menikah tanpa restu." ucap Zayya mulai kesal.


Dia tidak suka keadaan ini. Dia akui dia memiliki perasaan yang sama dengan Diaz tapi dia tidak akan menikah tanpa restu, "Selain itu juga saya belum menerima ungkapan cinta dari putra kalian selain yang dia ucapkan tadi. Kami tidak memiliki hubungan apapun. Jadi saya tidak sungkan sama sekali jika memang tidak berjodoh." sambung Zayya.

__ADS_1


Kedua orang tua Diaz saling menatap satu sama lain lalu mengangguk tersenyum setelah mendengar ucapan Zayya itu.


Mami Kartika mendekati Zayya dan menepuk bahunya, "Kamu lolos!"


__ADS_2