
Matahari sudah bergerak menuju Barat, burung-burung sudah pulang ke sarangnya masing-masing. Penjelajahan pun sudah diakhiri di pos peristirahatan karena pak Ridwan mendapatkan kabar tidak mengenakan dari pak Ahmad mengenai kecelakaan yang menimpa Yuna dan Alia.
Namun karena jarak antara pos peristirahatan ke tenda cukup jauh dan memakan waktu yang lama akhirnya pak Ridwan dan kelompoknya memilih menunggu kelompok lain berkumpul untuk memberitahukan kabar yang disampaikan oleh pak Ahmad.
Disisi lain, Azura dan kedua temannya masih melanjutkan perjalanannya karena tadi sempat tertunda untuk menjalankan rencananya. Saat ini ia masih bisa bersenang-senang karena rencana berhasil dan berjalan mulus, ia berharap Yuna dan Alia sudah jatuh ke dalam jurang dan meninggal namun kenyataan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan karena Yuna dan Alia tidak jatuh ke dalam jurang melainkan ia selamat dan sudah berada ditenda.
Pak Ahmad masih setia menyuapi Yuna yang masih tidak berdaya untuk melakukan apapun, Yuna hanya bisa pasrah dengan perlakuan pak Ahmad kepadanya karena ia pun masih sangat lemah.
" Bagaimana kalau kamu panggil saya dengan nama saja? Lagipula usia kita pun tidak jauh berbeda hanya terpaut 5 tahun saja," pak Ahmad menyarankan Yuna untuk memanggilnya 'Ahmad' saja tanpa sebutan 'bapak' agar tidak canggung lagi
" Tapi pak, bapak kan guru saya," ucap Yuna tidak enak jika harus memanggilnya tanpa sebutan 'bapak' karena ia adalah gurunya.
" Ini kan bukan dilingkungan sekolah, jadi jangan panggil saya bapak. Saya jadi terlihat lebih tua," pak Ahmad tidak ingin dipanggil bapak namun karena tuntutan pekerjaan membuatnya dipanggil demikian.
" Tapi kan bapak memang tua," gumam Yuna yang didengar jelas oleh pak Ahmad
" Kamu bilang saya tua?" tanya Pak Ahmad yang tersinggung dengan ucapan Yuna.
" Ehh bu..bukan, bukan seperti itu maksud saya." Yuna yang merasa telah menyindir pak Ahmad mencari cara agar sang empunya tidak marah
"Aduh gimana nih, pake salah ngomong segala lagi," ucap Yuna dalam hati.
Melihat raut wajah Yuna yang cemas membuat pak Ahmad tak bisa menahan tawanya.
" Gampang banget di bohongin si ini anak. Kenapa wajahnya jadi imut gitu kalau lagi takut" batin pak Ahmad yang sangat gemas melihat tingkah Yuna.
" Hahahahahaa" tawa pak Ahmad pecah melihat wajah Yuna yang sudah pucat kini makin pucat karena akan dimarahi oleh gurunya
Pak Ahmad terus tertawa sampai Yuna memperhatikannya dengan heran.
" Ternyata dia cukup tampan saat tertawa seperti ini, kenapa gue baru sadar kalo dia cakep. Entahlah," batin Yuna kagum dengan ketampanan guru agamanya yang satu ini.
" Kamu ini lucu ya," ucap Pak Ahmad lalu ia kembali tertawa.
" Saya pak? Maaf saya tidak bermaksud bilang kalo bapak tua," sesal Yuna karena telah berbicara lancang kepada gurunya.
__ADS_1
" Oke saya maafkan, syaratnya panggil saya Ahmad tidak pakai bapak" karena pak Ahmad tidak suka jika dipanggil demikian. Bahkan umurnya masih sangat muda tidak pantas jika ia dipanggil bapak.
" Kak Ahmad, saya tidak bisa panggil bapak dengan sebutan nama saja itu tidak sopan jadi bagaimana dengan kak Ahmad. Itu pun jika tidak dilingkungan sekolah dan hanya kita berdua." ucap Yuna, ia tidak mau lagi berdebat masalah ini namun ia juga enggan memanggilnya dengan namanya saja.
" Oke baiklah," ucap Pak Ahmad yang tiba-tiba merasakan sejuk dihatinya saat Yuna memanggilnya kak Ahmad.
Sebelumnya setiap murid yang mendekatinya selalu memanggilnya Ahmad sehingga ia menyarankan Yuna untuk memanggilnya demikian namun Yuna sungkan untuk memanggilnya Ahmad karena merasa tidak sopan dan memilih memanggilnya dengan panggilan kak Ahmad.
Alia berniat untuk menjenguk Yuna ditenda PMR namun saat hendak masuk ia mengurungkan niatnya karena melihat Yuna sedang bersama pak Ahmad, bahkan pak Ahmad sedang menyuapinya makan. Alia yang melihat itu sangat terkejut karena Yuna bisa sedekat itu dengan pak Ahmad padahal sebelumnya ia sangat tidak suka dengan laki-laki. Alia tidak ingin mengganggu Yuna dan Pak Ahmad, ia pun pergi ke tendanya sendiri.
Setelah Yuna selesai makan pak Ahmad tidak ingin beranjak pergi dari tenda namun ia tetap berada disamping Yuna. Sebenarnya Yuna senang karena mendapat perhatian dari pak Ahmad namun ia takut akan mengganggu waktunya hanya untuk melayaninya.
Yuna teringat dengan hal yang membuatnya berfikir keras sejak selamat dari bahaya yang ia alami tadi.
" Kak, saya ingin tau cerita sebenarnya yang kak Ahmad lihat dari kejadian tadi?" tanya Yuna agar ia tahu bagaimana cara pak Ahmad sampai ditempat ia jatuh.
Akhirnya pak Ahmad pun menceritakan dari awal sebelum mereka melakukan perjalanan sampai akhirnya mereka menemukan Yuna dan Alia berada didalam jurang secara detail.
Flashback
Saat mereka baru berbelok dipersimpangan tadi ia berpapasan dengan Andin, Silvi dan Tasya yang berjalan tergesa-gesa memutar arah. Pak Ahmad pun penasaran kenapa mereka putar balik dan terlihat sangat tergesa-gesa. Dan yang membuat pak Ahmad tambah khawatir adalah mereka hanya bertiga padahal saat mereka pergi mereka berlima, lalu kemana Yuna dan Alia? pikiran pak Ahmad kemana-mana karena merasa khawatir kepada kedua muridnya terkhusus Yuna.
" Andin, Silvi, Tasya? Kalian kenapa putar balik dan kalian sangat tergesa-gesa, lalu dimana kedua teman kalian bukannya kalian tadi berlima?" tanya Pak Ahmad sangat cemas
Ketiga orang yang dipanggil namanya pun menghampiri pak Ahmad, dan akhirnya mereka menjelaskan kenapa mereka berputar balik dan tergesa-gesa.
" Kami mau ke toilet di pondok pak, dan bapak tidak usah khawatir dengan kedua teman kami karena mereka berada tidak jauh setelah persimpangan didepan. Kalau sudah kami permisi dulu pak" jawab Tasya tegas karena ia tidak ingin menunda-nunda perjalannya untuk menuntaskan hajatnya.
Pak Ahmad yang mendengar penjelasan dari Tasya pun sedikit lega namun ia tidak bisa jika harus tenang karena Yuna hanya bersama dengan Alia dihutan ini. Tanpa pikir panjang pak Ahmad langsung berjalan mendahului yang lain karena ia sangat khawatir kepada kedua muridnya apalagi Yuna. Entah kenapa pikirannya hanya terfokus pada Yuna, ia takut jika Yuna kenapa-napa.
Pak Indra dan Pak Danu yang melihat Pak Ahmad sangat tergesa-gesa pun merasa heran kepada guru yang baru saja diangkat menjadi guru di SMA Bina Bangsa. Pak Ahmad hanya lebih muda beberapa tahun dari pak Danu yang berusia 26. Sedangkan pak Indra, ia sudah berumur 35 namun masih terlihat seumuran dengan kedua guru muda itu.
Kedua guru itu beserta kedua petugas perkemahan hanya bisa mengikuti langkah kaki pak Ahmad tanpa berbicara sepatah katapun. Mereka bergerak cepat karena takut terjadi sesuatu kepada kedua muridnya. Setelah sampai dipersimpangan yang dimaksud oleh Tasya pak Ahmad tidak langsung pergi karena ditahan oleh pak Indra dan pak Danu agar tidak terlalu terburu-buru takutnya nanti dia yang akan celaka.
Setelah para petugas melihat arah yang akan dituju pak Ahmad salah, mereka langsung memeriksa petunjuk arah yang tertancap dipohon. Sesuai dugaan kedua petugas itu dan benar saja, saat dipegang dan diperiksa ternyata paku yang digunakan untuk memasang papan kayu petunjuk arah itu sudah kendur dan papan pun bisa diputar-putar.
__ADS_1
Ketiga guru yang sejak tadi memperhatikan apa yang dilakukan kedua petugas itu tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Akhirnya pak Danu menanyakan apa yang mereka lakukan.
" Ada apa pak? Kenapa wajah kalian terlihat cemas?" tanya Pak Danu kepada kedua petugas hutan yang merangkap petugas perkemahan itu.
" Begini pak, arah yang ditunjukkan petunjuk arah ini salah. Seharusnya ini menunjuk arah kanan bukan kiri, dan setelah saya periksa sepertinya ada seseorang yang sengaja menyabotase ini agar tersesat." jawab seorang petugas yang memiliki tubuh tinggi dan berbadan kekar. Dilihat dari tanda nama dibajunya namanya adalah pak Galih, ia masih muda dan memiliki wajah yang tampan.
" Memangnya ada apa dengan jalan ini sehingga membuat kalian sangat khawatir dan berwajah pucat?" tanya Pak Ahmad, ia memiliki firasat buruk saat melihat wajah mereka sangat pucat seperti orang kehabisan darah
" Jadi begini pak, jalan ini adalah jalan menuju jurang. Jurang itu adalah jurang yang sangat dalam dan curam banyak orang dulu yang meninggal jatuh ke dalam jurang itu bahkan jasadnya tidak diketemukan karena jurang yang dalam dan curam menyulitkan proses evaluasi dan penyelamatan," jelas pak Iwan satu petugas yang berperawakan lebih kecil dari pak Galih, serta terlihat lebih tua.
Ketiga guru itu terkejut bukan main karena ada yang berani berbuat seperti ini. Perbuatan ini bisa menyebabkan hal yang sangat fatal.
Mendengar penuturan dari petugas, pak Ahmad langsung mengingat ucapan Tasya yang mengatakan bahwa Alia dan Yuna berada tak jauh dari persimpangan ini. Artinya mereka tidak tahu jika mereka salah jalur dan mendatangi bahaya.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah jalan yang salah itu. Pak Ahmad yang mendengar suara itu ingin langsung berlari namun tangannya dipegang oleh pak Iwan sang petugas hutan yang merangkap menjadi petugas perkemahan.
" Apa-apaan ini pak? Apa bapak tidak mendengar suara perempuan berteriak dari dalam sana, saya yakin itu adalah suara kedua murid kami?!," ucap Pak Ahmad menaikkan nada bicaranya. Ia nampak emosi dan marah karena dicegah oleh pak Iwan padahal ia ingin menyelamatkan Yuna dan Alia yang mungkin dalam bahaya karena berteriak sangat keras.
" Saya mohon bapak jangan gegabah seperti ini pak, jika kita salah langkah kita bisa ikut dalam bahaya jadi sebaiknya kita susun rencana dan ambil perlengkapan yang akan dibutuhkan mereka," ucap Pak Iwan dengan sopan, ia tak ingin jika ada korban lagi dihutan ini namun ia juga tak akan membiarkan orang yang ingin menolong ikut menjadi korban. Karena hal seperti itu pernah terjadi beberapa kali disini.
" Kita sudah tidak ada waktu lagi pak," ucap Pak Ahmad yang sangat cemas dengan keadaan Yuna.
" Apa yang harus kami siapkan untuk menolong mereka pak?" tanya Pak Indra dengan sopan dan lemah lembut namun dihatinya ia merasa sangat khawatir kepada kedua muridnya itu. Jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka itu adalah ancaman tersendiri untuk sekolah, karena akan membuat nama sekolah menjadi buruk dimata orang.
" Didalam itu sangat berbahaya karena selain jalannya yang terjal dan menurun sangat curam, disana juga terdapat tanah berlumpur yang sangat licin namun dapat menipu orang" ucap Pak Iwan masih menjelaskan bagaimana bahayanya jalanan menuju jurang itu.
" Menipu? Maksudnya apa pak?" tanya Pak Danu yang tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh pak Iwan.
" Tanah berlumpur itu hampir menyerupai tanah yang padat pada umumnya sehingga kebanyakan orang mengira itu tanah biasa sehingga banyak orang yang tertipu dan berjalan biasa bahkan berlari. Mereka tidak tahu itu, namun saat itu juga mereka akan terpeleset dan menyadari bahwa tanah itu berlumpur dan sangat licin. Tapi mereka telat menyadarinya dan karena jalur yang terjal dan menurun membuat mereka lolos begitu saja jatuh ke dalam jurang." Pak Iwan menjelaskan secara detail bahayanya jalur menuju jurang itu.
Bersambung
Jangan lupa like dan komen ya
Bantu vote jugaš
__ADS_1