Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
79


__ADS_3

Seminggu berlalu dengan sangat cepat, Nayya dan Risam masih tinggal di kediaman mama Fara dan papa Imran karena keduanya memang menunggu rumah mereka selesai dan mereka akan pindah ke sana. Rencananya tiga hari lagi mereka akan pindah kesana karena rumah mereka sudah selesai tinggal pembersihan saja dan juga mengisinya dengan furniture-furnitur.


Hari ini Risam dan papa Imran sedang memindahkan semua barang dari ruko menuju ke rumah baru Nayya dan Risam itu.


“Mah, aku sangat bahagia akhirnya impianku memiliki rumah sendiri terwujud. Aku bahagia.” Ujar Nayya.


Mama Fara tersenyum, “Iya nak. Mama juga ikut bahagia untukmu.” Ucap mama Fara sambil menggendong cucu perempuannya.


“Mah, aku takut ujian besar akan datang kepadaku karena selama ini aku bahagia dan aku takut ujian itu akan datang. Aku mohon ya mah doakan aku dan rumah tanggaku baik-baik saja.” ucap Nayya.


“Tanpa kau minta mama selalu mendoakanmu nak. Jangan takut, mama yakin kau dan Risam pasti bisa melewati semua masalah yang datang.” ujar mama Fara tersenyum.


Nayya pun mengangguk sambil mengaminkan ucapan ibunya itu. Sungguh dia takut untuk menghadapi ujian yang akan Allah berikan untuknya. Dia yakin hari ini kebahagiaan yang datang padanya suatu hari nanti akan ada yang datang padanya sebagai bentuk ujian. Dia takut tidak bisa melawannya.


***


Siang harinya, kini Risam dan papa Imran sudah selesai memindahkan semua barang ke rumah baru. Nayya setelah menidurkan ketiga buah hatinya dia segera melayani sang suami makan siang, “Anak-anak mana?” tanya Risam.


“Mereka sedang tidur mas. Biar aku menemanimu makan hari ini. Kau selalu makan sendiri beberapa hari ini karena aku yang sibuk mengurus anak-anak. Maafkan aku yang sudah kurang memperhatikanmu.” Ucap Nayya sambil mengambilkan makanan untuk suaminya itu.


Risam menahan tangan Nayya dan menarik istrinya itu ke pangkuannya, “Mas, jangan kaya gini. Nanti di lihat mama sama papa.” Ujar Nayya hendak berdiri dari pangkuan suaminya tapi Risam menahannya.


“Mama sama papa pasti tidak akan mempermasalahkannya sayang. Mereka juga pernah muda. Dengar sayang, aku tidak masalah kau tidak memperhatikan aku karena aku tahu kau sangat sibuk mengurus ketiga buah hati kita. Aku sibuk dengan urusan rumah sehingga tidak membantu mengasuh mereka. Jadi aku paham sayang. Jangan merasa bersalah begitu dan jangan meminta maaf.” Ujar Risam.


“Aku hanya merasa tidak bisa melakukan tugasku sebagai seorang istri jika aku mengabaikan dan tidak memperhatikanmu mas. Kau itu suamiku dan aku berkewajiban melayanimu mas tapi beberapa hari ini justru kau makan siang bersama mama dan papa karena kesibukanku.” Ujar Nayya masih merasa bersalah.

__ADS_1


Risam pun tersenyum lalu mengecup bibir istrinya itu sekilas, “Mas!” protes Nayya malu jika hal itu di lihat oleh orang tuanya.


Risam hanya tersenyum mendapat protes dari istrinya itu, “Makanya jangan merasa bersalah mulu sayang. Aku tidak keberatan kau tidak memperhatikanku karena aku mengerti itu bukan tidak sengaja kau lakukan. Aku benci istriku menyalahkan dirinya sendiri. Jadi jangan lakukan itu lagi.” Ujar Risam.


Nayya pun tersenyum lalu memutar bola matanya, “Hmm, baiklah jika memang begitu. Aku tidak akan memperhatikanmu lagi mas.” Goda Nayya.


“Ish jangan gitu juga sayang. Aku tetap butuh perhatianmu nanti. Aku akan menagihnya nanti. Untuk saat ini aku rela berbagi dengan ketiga buah hati kita tapi tidak jika mereka sudah besar. Kau hanya milikku.” Ujar Risam lalu kembali mengecup bibir istrinya itu. Sebuah kecupan yang lebih lama dari tadi.


“Mas!” protes Nayya lagi begitu kecupan itu di lepaskan.


Risam hanya tersenyum lalu melepas tangannya yang menahan Nayya agar tidak berdiri, “Aku akan makan siang karena aku sudah makan menu pembukanya.” Ujar Risam.


Nayya yang mendengar ucapan suaminya itu pun tersenyum lalu segera berdiri dari pangkuan suaminya. Dia sangat paham apa yang di maksud suaminya menu pembuka itu. Nayya pun segera melayani dan menemani suaminya itu makan siang.


Tidak lama mama Fara ke dapur sambil membawa piring bekas makan papa Imran. Mama Fara tersenyum melihat putri dan menantunya itu. Sebenarnya mama Fara tadi hendak ke dapur namun dia melihat sesuatu antara menantu dan putrinya. Jadi dia menundanya. Mama Fara dan papa Imran memang tidak ikut makan siang di meja makan untuk memberikan privasi putri dan menantu mereka. Seperti yang di katakan oleh Risam bahwa mereka juga pernah muda jadi paham apa yang di butuhkan oleh Nayya dan Risam.


Mama Fara mengangguk, “Sudah selesai nak.” jawab mama Fara.


“Emm, kenapa tidak ikut makan siang di meja makan?” tanya Nayya.


“Mama dan papa tidak ingin mengganggu kalian nak.” ucap mama Fara tersenyum.


“Ahh mama kok gitu sih padahal kami gak masalah. Iya kan mas?” ucap Nayya.


Risam pun mengangguk, “Iya mah.” ujar Risam.

__ADS_1


Mama Fara hanya tersenyum mendengar hal itu, “Papa kalian hari ini memang ingin makan siang sambil nonton aja nak. Sudahlah jangan pikirkan hal itu. Kalian lanjutkan saja makan kalian.” ujar mama Fara lalu segera meninggalkan area dapur dan meja makan itu.


Nayya pun menghela nafasnya, “Hmm, sepertinya mama melihat apa yang kita lakukan tadi mas.” Ujar Nayya.


“Emang apa yang kita lakukan?” tanya Risam pura-pura tidak mengerti apa yang di maksud istrinya itu.


“Hmm, terus saja pura-pura mas.” Ucap Nayya.


Risam pun tersenyum, “Jangan marah sayang. Mama sama papa pasti paham. Sudahlah. Lagian mereka tidak mempermasalahkannya kan.” Ujar Risam.


“Tetap saja aku malu mas.” Ucap Nayya.


“Ya sudah maaf. Mas janji gak akan mengulanginya lagi.” Ujar Risam.


“Ish bukan begitu mas. Jangan tersinggung deh. Bukan itu maksudku. Mas bisa melakukan itu tapi jangan di sini.” Ujar Nayya.


Risam yang mendengar itu tersenyum, “Ya yah mas paham maksudmu sayang.” ujar Risam.


“Mas, walaupun mama dan papa tidak akan mempermasalahkannya tapi hal seperti itu tidak harus kita pertontonkan. Aku tidak ingin keromantisan suamiku di lihat orang lain. Jujur saja aku cemburu walaupun itu orang tuaku sekalipun. Aku tidak rela. Cukup aku yang tahu dan merasakannya.” Ujar Nayya menatap dalam suaminya.


Risam tersenyum. Seperti biasa perkataan Nayya selalu bisa menghipnotisnya sampau ke dasar. Istrinya itu sangat romantis kepadanya dan seperti apa yang di katakan istrinya hanya dia yang tahu bagaimana istrinya itu saat bersikap romantis.


“Ya mas tahu sayang. Maaf untuk yang tadi.” Ujar Risam.


Nayya menggeleng, “Aku tidak marah mas dan kau tidak perlu meminta maaf karena itu pasti secara refleks saja kau lakukan. Jujur saja aku juga menikmatinya. Tapi kita lain kali harus hati-hati. Aku tidak keberatan jika itu hanya kita berdua. Namun ini di rumah orang tuaku.” Ujar Nayya.

__ADS_1


Risam tersenyum dan mengangguk, “Mas mengerti maksudmu sayang. Kita tidak boleh mengumbar kemesraan di hadapan orang tua kita.” Ucap Risam. Nayya pun tersenyum lalu memeluk suaminya itu. Nayya sangat beruntung memiliki suami seperti Risam yang selalu sepemikiran dengan dirinya.


__ADS_2