Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
38


__ADS_3

Kini keduanya makan malam bersama, Nayya menikmati makan malam bersama calon suaminya itu. Keduanya menikmati makan malam itu dengan bahagia. Lalu setelah itu mereka kembali ke mobil yang entah kemana tujuan perginya.


Risam menghentikan mobilnya kembali di sebuah taman di mana ada taman bermain. Nayya tersenyum menatap taman bermain di depannya, “Kita kesini? Kenapa gak bilang kita mau kesini?” tanya Nayya antusias.


“Kamu senang kesini?” tanya Risam balik.


Nayya mengangguk, “Ini bukan memalukan untuk di akui walau Nayya sudah berusia 27 tahun tapi Nayya tetap menyukai yang namanya taman. Nayya ingin mencoba wahana itu. Bisa gak mas?” tanya Nayya.


Risam mengangguk, “Kita akan mencoba semua wahana yang kau inginkan. Ayo kita masuk. Mas sudah membeli tiketnya.” Ucap Risam.


Nayya pun mengangguk lalu keduanya segera masuk ke dalam taman bermain itu. Nayya dan Risam menaiki semua wahana yang mereka sukai sampai puas. Risam mengabadikan semua momen Nayya yang bahagia itu di ponselnya, “Mas, kenapa dari tadi mengambil foto Nayya terus?” tanya Nayya setelah baru saja turun dari wahana ke lima yang mereka coba.


“Saya juga melihatmu tersenyum dan tertawa bahagia seperti itu. Untuk itu saya mengabadikannya. Kamu gak masalah kan?” tanya Risam.


Nayya menggeleng, “Gak masalah sih hanya saja emang mas gak malu melakukannya?” tanya Nayya balik.


“Kenapa harus malu. Mas hanya ingin mengabadikan momen calon istri mas. Mas gak peduli dengan perkataan orang di luaran sana yang mungkin beranggapan bahwa mas lebay atau apalah. Selama calon istri mas gak masalah maka itu gak akan jadi masalah dan mas tidak akan malu melakukannya.” Ucap Risam.


Nayya tersenyum lalu dia menuju tempat penjualan es krim karena entah kenapa dia haus setelah mencoba beberapa wahana itu. Risam pun hanya mengikuti saja dari belakang sambil tersenyum.


Kini Risam dan Nayya sedang menikmati es krim mereka masing-masing, “Apa masih ada yang ingin kamu coba dek?” tanya Risam sambil menatap wahana di depan mereka.

__ADS_1


Nayya melirik sekilas ke arah calon suaminya lalu melihat jam di tangannya, “Emm, Nayya rasa sudah cukup mas. Itu sudah pukul 21.43. Kita pulang saja. Lagian sudah tidak ada juga wahana yang menarik.” Ucap Nayya.


Risam pun mengangguk, “Baiklah jika begitu.“ timpal Risam lalu segera berdiri.


Nayya pun ikut berdiri lalu keduanya segera keluar dari taman itu dan menuju parkiran di mana mobil mereka berada, “Mas, kita bisa singgah ke adikku dulu gak. Mereka ini menghubungi Nayya meminta di jemput di gedung A.” ucap Nayya.


Risam pun mengangguk lalu keduanya segera menuju gedung A di mana Rayya dan Zayya di sana entah karena apa. Begitu tiba di gedung A itu Nayya segera menghubungi adiknya yang justru memintanya dan Risam untuk naik ke rooftop gedung dengan sepuluh lantai itu.


Nayya dan Risam pun mengikuti saja walaupun entah kenapa Nayya merasa bahwa kedua adiknya itu sedang mengerjainya saat ini. Nayya dan Risam segera naik ke rooftop menggunakan lift dan begitu Nayya keluar dari lift dia terharu melihat dekorasi yang ada di rooftop itu. Nayya melangkah keluar dari lift lalu tersenyum menatap semua hiasan yang ada di sana. Dia berbalik menatap Risam yang langsung berlutut di hadapannya dengan bunga di tangannya, “Selamat ulang tahun calon istriku. Maaf terlambat mengucapkannya.” Ucap Risam.


Nayya tersenyum tidak menyangka dengan semua ini lalu dia menerima bunga lily pemberian suaminya itu yang memang bunga lily adalah bunga kesukaannya. Risam segera mengajak Nayya menuju tengah-tengah dekorasi itu di mana di sana ada sebuah meja kecil dengan dua bangku kecil yang di kelilingi oleh lilin. Di sana juga ada tulisan selamat ulang tahun dan ada kue tanpa lilin, hanya kue saja.


Risam tersenyum lalu menatap istrinya itu, “Biarlah itu jadi rahasia. Kamu akan tahu nanti.” Ucap Risam.


Nayya pun mengangguk saja, “Emm, mas kapan menyiapkan ini semua? Kok Nayya gak tahu yaa?” tanya Nayya lagi.


“Sebenarnya ini sudah dari beberapa hari yang lalu rencananya. Sebenarnya mas sudah ingat ulang tahunmu dan sengaja tidak mengucapkan lebih dulu karena mas ingin memberimu kejutan walau tidak seberapa ini.” ucap Risam.


“Ini sudah bagus kok. Nayya sangat menyukainya. Nayya sangat suka. Romantis. Jujur saja Nayya tadi berpikir mas gak romantis masa ulang tahun Nayya gak tahu padahal kita sudah saling membaca identitas masing-masing sebelum memasukkan berkas ke kantor agama. Namun Nayya masih mencoba berpikir positif bahwa mas mungkin gak membaca identitas Nayya atau mungkin membaca tapi juga lupa.” Ucap Nayya jujur.


Risam yang mendengar penuturan jujur dari calon istrinya itu pun hanya bisa tersenyum sambil menahan untuk tidak mengusap kepala calon istrinya karena gemas dengan tingkah Nayya, “Emm, apa Nayya bisa memotong kue ini?” tanya Nayya menunjuk kue di hadapannya.

__ADS_1


Risam mengangguk, “Tentu saja bisa tapi walaupun tidak meniup lilin kita tetap meminta permohonan kita. Ayo apa permohonanmu.” Ucap Risam.


Nayya pun menutup matanya dan berdoa, “Emm, sudah selesai. Apa sekarang sudah bisa di makan kuenya?” tanya Nayya lagi.


“Sebentar!” tahan Risam lalu segera mendekati Nayya dan mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.


“Nayyara Apriliani Al Ayaan untuk kedua kalinya aku memintamu, apakah kau bersedia menikah denganku?” tanya Risam sambil membuka cincin di tangannya itu.


Nayya menatap calon suaminya itu dengan perasaan kaget karena tidak menyangka akan di lamar untuk kedua kalinya, “Mas, bukankah aku sudah menerima lamaran darimu? Kenapa melamarmu lagi?” tanya Nayya.


“Itu adalah lamaran di hadapan keluarga dan juga tamu undangan. Aku ingin melamarmu hanya saat berdua saja seperti ini dan tepat di hari ulang tahunmu. Jadi apakah kau ber--”


“Aku bersedia mas. Berapa kali pun kau menanyakan itu maka jawabanku tetap sama bahwa aku bersedia menikah denganmu. Aku sudah memilihmu menjadi calon suamiku yang nantinya akan menjadi imamku.” Potong Nayya.


Risam pun tersenyum lalu mengeluarkan cincin itu dari kotaknya, Nayya segera menerimanya di telapak tangannya dan memasangkannya di jarinya yang sudah terpasang cincin sebelumnya saat lamaran resmi itu, “Mas, apa cincin ini sepaket dengan gelang yang kau berikan?” tanya Nayya.


Risam mengangguk, “Apa kau menyukainya.”


Nayya mengangguk, “Tentu saja Nayya menyukainya.” jawab Nayya.


Tidak lama semua orang yang bersembunyi keluar satu persatu. Nayya tersenyum melihat semua keluarga intinya ada di sana. Baik keluarga inti dari pihaknya maupun pihak Risam. Semuanya merayakan ulang tahun Nayya dengan bahagia. Bagi Nayya ini ulang tahunnya yang sangat berkesan walaupun tadi pagi dia sedih.

__ADS_1


__ADS_2