
“Dia menyalahkan saya dan membesarkan masalah itu. Dia menunjuk saya dan menyalahkan saya. Dia meminta saya bertanggung jawab dan mengancam saya dengan akan melaporkan pada pihak berwajib. Saat itu saya jadi takut karena saya baru saja selesai pendidikan dan belum di lantik. Hal itu akan mempengaruhi pelantikan saya. Saya sudah membujuk untuk membawa anak bapak itu di bawa ke klinik atau puskesmas tapi justru bapak itu menolak dan semakin menuduh saya yang enggak-enggak. Dia bahkan semakin menggiring opini orang-orang agar menyudutkan saya. Dan akhirnya masalah kecil itu pun menjadi masalah besar. Tapi pada saat saya akan di bawa ke pihak berwajib Rayya datang dan membela saya dengan menjelaskan semuanya yang terjadi. Rayya bahkan memperlihatkan videonya yang pada akhirnya semua orang yang tadinya menyalahkan saya kini berbalik membela saya. Bapak dan anak itu pun akhirnya pergi dari sana dengan kemarahan dan menahan malu. Dan ternyata setelah saya selidiki bapak dan anak itu memang orang-orang yang suka melakukan hal seperti itu untuk memeras orang-orang.” Jelas Ariq.
“Jadi itu alasanmu menyukai Rayya? Lalu kenapa tidak dari setahun lalu kau datang?” tanya papa Imran.
Ariq yang mendapat pertanyaan itu pun tersenyum, “Papa benar. Jika saya sudah kenal Rayya setahun lalu kenapa baru dua bulan terakhir ini kami saling kenal dan saling berkomunikasi satu sama lain. Itu juga ada alasannya. Setelah bapak dan anak itu pergi, saya yang ingin mengucapkan terima kasih kepada Rayya tidak sempat karena Rayya sudah pergi. Tapi saat itu saya masih melihat plat nomor sepeda motor Rayya dan menyelidikinya setelah saya di lantik. Saya menemukan Rayya kuliah. Saya mengumpulkan semua informasi tentang Rayya secara diam-diam. Bisa di katakan saya paparazinya Rayya.” Ujar Ariq.
“Saya menyelidikinya dan sejak saat itu saya memutuskan memilih akan menikahi Rayya nanti. Gadis yang pemberani membela kejujuran. Dia bahkan membantu seseorang tanpa pamrih. Tidak berharap imbalan sama sekali. Saya semakin mengaguminya dan sudah merencanakan akan menemui Rayya. Saya sudah menyiapkan semuanya namun ternyata salah satu teman saya mengatakan bahwa dia menyukai seorang gadis yang saat itu sedang kuliah kebidanan katanya. Saya pun penasaran dan bertanya siapa gadis itu. Dia memperlihatkan foto dan ternyata foto gadis itu adalah Rayya. Saya langsung patah hati. Jujur saja saya pengecut saat itu dan mengalah untuk teman saya.” lanjut Ariq.
“Jadi apa temanmu itu menyukai Rayya? Kamu tidak salah kan? Rayya sama sekali gak cerita bahwa dia dekat laki-laki nak.” ujar papa Imran.
“Yah, awalnya saya tidak percaya itu adalah Rayya. Namun saat dia menyebutkan nama lengkap Rayya dan juga tempat dia kuliah serta jurusannya. Saya yakin itu Rayya. Saya juga memastikan bahwa Rayya menyukai teman saya itu dan benar. Mereka saling menyukai namun entah kenapa hubungan mereka berakhir. Namun dari yang saya dengar karena Rayya menolak untuk menikah cepat.” Ucap Ariq.
Papa Imran pun mengangguk mengerti. Dia mulai menyambungkan kejadian satu dengan kejadian lainnya yang terjadi setahun lalu, “Saya mengerti. Pasti alasan Rayya menolak karena kakaknya saat itu belum menikah.” Ucap papa Imran.
“Saya tidak menyangka dia menyembunyikan ini. Wah, putri kedua saya ini sepertinya punya banyak rahasia. Lalu setelah kau mendengar itu bagaimana? Apa kau senang?” tanya papa Imran tersenyum.
Ariq terkekeh, “Munafik saya jika mengatakan bahwa saya tidak senang. Saya sangat senang saat itu tapi saya harus menyembunyikannya karena bagaimanapun teman saya itu sedang patah hati. Sejak itu saya kembali membangun keberanian untuk bertemu Rayya namun tetap mempertimbangkan semuanya dengan baik. Karena ternyata walaupun saya sudah bertekad untuk melupakan dan mengikhlaskan Rayya untuk teman saya. Tapi ternyata rasa itu sulit hilang. Perasaan itu sulit hilang. Saya pun baru berani mendekati Rayya dua bulan lalu karena empat bulan lalu teman saya itu menikah dengan kekasihnya. Nah baru itu saya merencanakan bertemu dengan Rayya.” Jelas Ariq.
“Jadi apa pertemuan kalian dua bulan lalu sudah di atur olehmu?” tanya papa Imran.
Ariq tersenyum lalu mengangguk, “Yah, itu sudah di atur oleh saya. Namun saya tidak menyangka takdir berpihak kepada saya saat itu dengan menyisakan satu kursi kosong saja di restoran itu dan kursi kosong itu ada di meja Rayya.” Ujar Ariq.
Papa Imran pun tersenyum mendengar itu, “Sepertinya takdirlah yang menyatukan kalian. Jadi saya harap semoga kalian bahagia nak.” ucap papa Imran.
“Terima kasih pah.” Ucap Ariq.
Papa Imran pun mengangguk. Dia tidak menyangka bahwa kisah putri keduanya itu sangat menarik. Pria di hadapannya ini memang pria yang sudah di takdirkan untuk menjadi jodoh putrinya karena mereka di uji lebih dulu baru di pertemukan satu sama lain. Saling kenal dan berkomunikasi.
***
Kembali ke kamar, Rayya baru saja selesai mandi dan segera keluar kamar mandi langsung di sodori kertas oleh adiknya itu.
Rayya pun menatap Zayya tersenyum, “Kenapa di tulis pakai kertas sih. Kan bisa di kirim dan di list lewat ponsel saja.” ujar Rayya.
Zayya yang mendengar perkataan kakaknya itu pun seketika menepuk keningnya karena baru sadar kenapa dia tidak memikirkan itu tadi. Kenapa dia lelah-lelah menulis di kertas padahal dia bisa mengirimkannya lewan pesan saja, “Ouh kak Ray aku lupa bisa di list lewat chat saja. Saking bersemangatnya aku sampai lupa bahwa ada barang canggih. Bawa saja kertasnya ya kak. Aku sudah lelah menulisnya. Jika aku menyalinnya lagi di ponsel aku jadi kerja dua kali. Kasihani lah adikmu ini kak. Aku sudah menulisnya dengan cantik dan rapi. Kau pasti tidak akan kesulitan membacanya.” Ucap Zayya sambil memberikan kertas itu.
Rayya hanya melihat kertas itu dan mengangkat alisnya. Rayya menuju lemari dan memilih pakaiannya, “Ayolah kak. Bawa saja kertasnya. Aku akan menyimpannya di tasmu. Kau akan membawa tas yang mana?” tanya Zayya segera memilih tas.
Rayya pun menghela nafas melihat adiknya yang sibuk memilih tas itu, “Huh, dek kan bisa kau foto saja kertas itu dan kirimkan ke ponsel kakak. Ribet banget sih harus pakai kertas segala.” Ucap Rayya.
__ADS_1
Zayya yang mendengar perkataan kakaknya itu pun seketika menyadari bahwa dia terbodohi lagi. Kenapa dia tidak memikirkan hal itu lagi. Zayya pun kembali menepuk keningnya, “Apa tidak terpikirkan lagi?” tebak Rayya.
Zayya pun mengangguk dengan lemah, “Kak, kenapa otakku ini mendadak lemot begini yaa. Ahh, aku payah. Kenapa aku tidak memikirkan itu dari tadi ya. Makasih ya kak kau menyelamatkan kelemotanku.” Ujar Zayya segera menghentikan aktivitasnya memilih tas dan segera mengambil ponselnya dan mengambil foto kertas itu dan mengirimkannya kepada Rayya.
“Sudah kak. Aku sudah mengirimkannya. Terkirim.” Ujar Zayya tersenyum cengesan.
Rayya pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya itu. Zayya itu memang kadang lemot saat menanggapi sesuatu apalagi jika terburu-buru. Namun dia sangat cerdas jika menyangkut nilai akademik.
“Aku mau mandi dulu ahh. Makasih ya kak Ray kau sudah mau aku repotkan hari ini. Aku akan mandi dulu.” Ucap Zayya lalu mengecup pipi Rayya itu dan segera berlari menuju kamar mandi.
Rayya segera melap pipinya, “Ish dek. Wajah kakak jadi bau jigong deh.” Ujar Rayya sementara Zayya di kamar mandi yang mendengar itu hanya tertawa.
Rayya pun segera memakai perawatannya dan make up tipis-tipis yang dia bisa. Setelah itu dia mengambil ponselnya yang masih di charge. Dia melepasnya dan segera membuka whatsapp aplikasi sejuta umat. Dia segera membuka pesan dari Zayya dan seketika dia kaget melihat banyaknya list di foto yang di kirimkan adiknya itu.
“Astaga, apakah ini baru memorot namanya. Wah, dia pintar juga menguras kantongku. Aku hanya mengambil sepotong coklatnya dan lihatlah yang harus aku tukar list sebanyak ini. Ini belanja untuk sebulan mana ada skincare juga. Astaga Zayya kau memang pintar memanfaatkan kesempatan.” Ujar Rayya sambil menggelengkan kepalanya itu akan tingkah adiknya. Ingin dia marah tapi tidak tega. Sudahlah ikhlas saja. Lagian mungkin tinggal kali ini dia akan melakukan itu untuk adiknya itu. Sekali-kali menyenangkan adik.
Setelah itu Rayya pun meletakkan ponselnya dan menuju lemari melihat tas yang akan dia bawa hari ini. Tapi tidak ada yang cocok, “Hum, pengen pinjam tas punya kakak. Ada gak ya.” Ujar Rayya.
Rayya pun mengambil ponselnya dan mengirim chat kepada Nayya untuk meminjam tas milik kakaknya itu dan tidak lama Nayya langsung membalas dan mengizinkannya, “Yes, kakak memang the best deh. Sekarang ayo kita ambil dan mari kita pilih tas yang cocok.” Ucap Rayya mengambil ponselnya dan keluar untuk mengambil tas milik Nayya di lemari tas kakaknya yang masih ada di rumah ini belum di pindahkan ke rumahnya.
Rayya pun keluar menuju ruangan sholat sekaligus ruang santai dan juga ruangan tempat lemari berada. Rayya melewati papanya dan Ariq yang tengah berbincang, “Dia mau kemana?” ujar papa Imran. Ariq yang mendengar ucapan papa Imran hanya tersenyum.
“Hum, kok gak ada? Apa kakak membawanya?” tanya Rayya pada dirinya sendiri lagi lalu mengambil ponselnya dan segera mengirim pesan kepada Nayya.
“Yah, kok kakak lama balasnya sih?” ucap Rayya sambil memandangi chatnya yang belum juga di read oleh kakaknya itu.
“Ahh menyebalkan!” ucap Rayya.
Tiba-tiba mama Fara masuk, “Nak, kamu ngapain di sini? Kenapa belum juga siap. Kasihan Ariq sudah lama menunggu.” Ucap mama Fara.
Rayya pun memandangi mamanya itu dengan sendu, “Nah, itu masalahnya mah. Rayya sudah siap. Tinggal tas saja yang belum.” Ucap Rayya.
“Yaa sudah ambil saja tasmu. Kan punya tuh banyak.” Ucap mama Fara.
“Gak ada yang cocok mah dengan pakaian Rayya. Mau pinjam punya kakak sudah di izinin tapi kunci lemarinya gak ada. Sudah tanya di mana kuncinya tapi belum kakak balas chat.” Ucap Rayya.
Mama Fara pun tersenyum, “Ouh jadi itu masalahnya. Kenapa gak bilang dari tadi jika kamu di sini mau pinjam tas kakakmu. Tunggu sebentar mama ambilin kuncinya.” Ujar mama Fara segera mencarikan kunci lemari tas Nayya itu dan begitu dia menemukannya langsung mama Fara berikan kepada Rayya.
“Ish, kok mama gak bilang ada sama mama kuncinya. Kenapa juga kuncinya sudah di pindahin. Kan biasanya di sana.” Tunjuk Rayya pada tempat penyimpanan kunci yang dia ketahui.
__ADS_1
“Mama sudah memindahkannya nak. Sudah ambil saja tas yang kamu suka lalu kunci dan kembalikan kuncinya di tempatnya semula agar kakakmu nanti saat dia mencarinya dia tahu. Ohiya kamu juga jangan lama. Kasihan Ariq yang menunggumu. Sangat lama.” Ucap Mama Fara.
“Kak Ariq pasti ngerti mah. Salah dia sendiri datang tanpa pemberitahuan. Seandainya saja dia sudah mengatakan akan datang sebelumnya mungkin Rayya sudah berganti pakaian dari tadi.” Ujar Rayya.
“Ya sudah terserah padamu saja.” ucap mama Fara lalu dia segera keluar meninggalkan putri keduanya itu sibuk memilih tas.
“Nah, ini cocok.” Ucap Rayya setelah menemukan tas yang menurutnya cocok dengan pakaiannya.
***
Akhirnya setelah drama yang panjang, kini Ariq dan Rayya berpamitan kepada mama Fara dan papa Imran untuk pergi.
“Kalian hati-hati di jalan nak.” pesan mama Fara.
“Baik mah, terima kasih untuk makanannya.” Ucap Ariq. Yah, sebelum ini mereka makan dulu.
Mama Fara pun mengangguk, “Ohiya, Rayya di mana? Ahh anak itu. Lama benar.” ujar mama Fara.
Ariq tersenyum mendengar ucapan mama Fara itu, “Mah, Rayya pamit.” Ucap Rayya tiba-tiba lalu segera menyalami mama Fara dan papa Imran.
Ariq pun segera berpamitan kembali dan kini akhirnya mereka berangkat juga. Ariq membukakan pintu mobil untuk Rayya, “Terima kasih!“ ucap Rayya.
Ariq pun mengangguk lalu dia kembali melihat kepada mama Fara dan papa Imran lalu dia menunduk hormat dan segera masuk ke mobil. Tidak lama mobil itu pun berangkat dan melaju meninggalkan kediaman Mama Fara dan papa Imran.
***
“Kak, kita mau kemana?” tanya Rayya kembali karena dia penasaran akan di bawa kemana oleh Ariq itu.
“Apa kamu sangat penasaran kita mau kemana? Padahal kakak sudah mengatakan bahwa itu adalah kejutan.” Ucap Ariq.
Rayya pun menghela nafas, “Huh, apa aku gak bisa mengetahuinya? Rayya sangat penasaran loh ini.” ucap Rayya.
“Kamu akan mengetahuinya nanti. Anggap saja ini sebagai pengujian sabarmu.” Ujar Ariq.
Rayya yang mendengar perkataan Ariq pun menatap tajam ke arah Ariq, “Ya baiklah. Aku memang sepertinya harus belajar bersabar. Kakak fokus saja menyetir. Aku akan tidur sebentar. Jujur saja aku mengantuk.” Ucap Rayya lalu memilih memenjamkan matanya.
“Apa kamu gak khawatir saya akan ngapa-ngapain kamu saat kau tidur?” ujar Ariq tersenyum.
“Jika kakak berani melakukan itu maka itu akan menjadi dosa untukmu. Aku sudah mempercayaimu bahwa kau bukan pria seperti itu. Jadi jika kau menghianati kepercayaan yang aku berikan. Itu masalahmu.” Ucap Rayya sambil menutup mata.
__ADS_1
Ariq yang mendengar itu pun tersenyum, “Ya sudah tidurlah. Aku juga bercanda. Aku masih tahu batasan untuk tidak melakukan itu pada gadis yang aku cintai. Kau tidurlah. Aku akan membangunmu jika kita sudah tiba.” Ucap Ariq lembut.