
Keesokkan harinya Nayya dan Risam belum ada yang mengerjakan barang lain yang akan di pindahkan ke rumah baru karena memang hari ini Nayya dan Risam masih sibuk dengan panen jagung mereka.
Risam sudah lebih dulu ke kebun sementara Nayya dia sibuk untuk menyusul sang suami yang sudah lebih dulu pergi. Nayya sebelum pergi dia menyiapkan semua kebutuhan triplets. Dia menyedot ASI-nya untuk ketiga buah hatinya itu yang akan di jaga oleh kedua nenek mereka. Yah, mami Vega datang untuk melihat ketiga cucunya itu.
“Mah, Mih, Nayya titip yaa ketiga anak Nayya.” Ujar Nayya saat dia sudah bersiap dengan semuanya.
Mami Vega dan mama Fara yang sibuk dengan cucu mereka itu pun mengangguk, “Hmm, tenang nak kami akan menjaga mereka dengan baik.” jawab mami Vega.
Nayya pun tersenyum lalu mendekati kedua ibunya itu dan menyalami mereka, “Mami sama mama bisa menghubungi Nayya jika mereka rewel atau bagaimana.” Ujar Nayya.
“Iya nak. Tenang saja. Kami pasti akan membuat mereka tidak rewel dan akan menjaga mereka dengan baik.” ucap mama Fara.
Setelah memastikan bahwa semuanya tidak ada lagi yang tertinggal barulah Nayya berangkat dengan menggunakan mobil pick up papanya. Sekitar setengah jam saja dia di perjalanan dia sudah tiba di kebun dan Risam langsung menyambut Nayya begitu menyadari bahwa istrinya itu sudah tiba. Risam sebenarnya tidak ingin istrinya itu datang namun Nayya yang ingin ikut akhirnya dia pun mengizinkannya saja dari pada Nayya ngambek nanti. Yah walaupun Nayya jarang ngambek padanya namun Risam tetap menjaga mood istrinya itu tetap baik dan senang agar ASI istrinya itu lancar karena moodnya baik.
“Mas, aku bawa semua makanan untuk mereka.” ucap Nayya menunjuk mobil yang dia bawa.
Risam pun tersenyum lalu mengusap kening dan kepala istrinya itu. Setelah itu Risam segera meminta kepada semua pekerja yang membantunya untuk segera makan.
“Wah, suster Nayya kami ingin memeriksa tekanan darah kami. Apa suster Nayya membawa alatnya. Kan mumpung suster Nayya ada di sini.” Ujar salah satu pekerja.
Nayya yang mendengar itu tersenyum, “Yah, saya gak bawa pak. Jika ingin melakukan tensi darah nanti datang saja ke ruko atau puskesmas. In Syaa Allah Nayya akan membantu. Tenang saja gratis.” Jawab Nayya.
“Hmm, suster Nayya kami juga ingin melihat anak-anak suster Nayya. Saya juga ingin putri kami memiliki anak kembar tiga sekaligus begitu agar satu kali saja melahirkannya.” Ujar salah satu lagi.
Nayya lagi-lagi tersenyum, “Wah, kalau ini yaa saya angkat tangan. Ini di luar kuasa saya. Tapi jika memang putri anda dan suaminya ingin memiliki anak kembar bisa melakukan program kehamilan kembar kepada dokter spesialis kandungan. Saya mungkin hanya bisa memberikan tips saja.” ujar Nayya.
__ADS_1
“Yah, suster Nayya dan pak Risam beruntung memiliki tiga anak sekaligus mana lagi di cerita yang kami dengar anaknya tampan dan cantik lagi. Boleh lah suster Nayya dan pak Risam di jodohkan dengan cucu kami.” ucap seorang wanita hampir seumuran mama Fara mungkin wanita itu lima tahun lebih muda saja dari mama Fara.
“Yah, ibu bisa saja. Anak kami masih kecil tapi jika memang mereka suatu saat nanti saling menyukai satu sama lain kenapa tidak. Iya gak sayang?” ucap Risam.
Nayya pun mengangguk, “Yah itu benar. Kehidupan kedepannya nanti mungkin perjodohan akan sangat sulit dan kita juga tidak bisa memaksakan keinginan kita kepada anak-anak kita. Jadi semua keputusan nanti akan menjadi pilihan anak kita kelak.” Ucap Nayya.
Para pekerja itu pun mangut-mangut mengerti. Lalu mereka serius kembali makan.
Nayya tersenyum melihat para pekerja yang membantu suaminya itu lalu dia tersenyum melihat suaminya, “Mas, kapan ini akan di jual?” tanya Nayya.
“Mungkin malam sayang. Mas sudah menghubungi mereka. Mungkin mereka akan datang sore nanti.” Jawab Risam.
Nayya pun mengangguk, “Mas!” panggil Nayya.
Risam pun menatap istrinya itu dan mengangkat alis, “Ada apa?” tanya Risam.
Risam yang mendengar itu pun tersenyum lalu mengusap kepala istrinya itu, “Mas juga mencintaimu sayang.” balas Risam.
“Mas, apa pinjaman kita untuk membangun rumah akan lunas dengan hasil penjualan jagung ini?” tanya Nayya.
Risam yang mendengar itu, “Semoga saja sayang. Semoga kita masih akan memiliki saldo.” Jawab Risam.
“Jika hasil penjualannnya hanya cukup untuk menutupi pinjaman kita maka aku belum bisa memberiku nafkah sayang. Suamimu ini numpang lagi ya sayang.” lanjut Risam tersenyum.
Nayya pun tertawa mendengar itu, “Hmm, dengan senang hati istrimu ini bersedia menjadi tumpanganmu suamiku.” Ujar Nayya.
__ADS_1
Kini justru Risam yang tertawa, “Masih akan tersisa sayang. Mas becanda doang tadi.” Ujar Risam.
“Aku tahu mas.” Balas Nayya.
Tidak lama makan itu pun selesai dan semuanya kembali bekerja menyelesaikan pekerjaan yang memang tinggal setengah itu. Nayya pun merapikan semua bekas makanan para pekerja itu kembali ke dalam mobil.
“Sayang, kamu pulanglah lebih dulu. Mas gak mau istri cantik mas ini jadi hitam nanti.” Ujar Risam.
Nayya yang mendengar itu pun tersenyum, “Tenang saja mas. Jika hitam nanti tinggal minta uang sama mas untuk membeli skin care.” Ujar Nayya.
Risam pun mengangguk, “Bisa kok sayang. Kamu ambil saja di ATM mas.” Jawab Risam.
“Ish mas aku bercanda loh. Aku kan baru saja kau belikan skin care dan masih banyak loh.” Ucap Nayya.
“Gak apa-apa sayang di tambah lagi. Mas gak keberatan kok. Kan kamu cantik untuk mas juga.” Ucap Risam.
“Hahahh, sudah ahh jangan godain Nayya. Sana lebih baik mas kerja.” Ucap Nayya yang selalu kalah jika suaminya itu bersikap seperti itu. Risam itu sangat loyal kepada Nayya. Dia tidak pernah memperhitungkan dan bertanya kemana Nayya menggunakan uangnya.
Risam pun tersenyum lalu menuruti perkataan istrinya itu dan segera bergabung dengan pekerja yang lain. Nayya mengamati suami dan para pekerja yang membantu suaminya itu, “Suamiku sangat tampan.” Ucap Nayya mengamati suaminya. Dia seperti jatuh cinta lagi dan lagi.
Risam yang sibuk bekerja begitu melihat istrinya yang memandanginya tersenyum lalu tidak lama mendekati Nayya, “Hmm, kenapa natap mas gitu sayang?” tanya Risam mengambil air minum di tangan Nayya. Risam minum air bekas istrinya itu.
“Gak, Nayya hanya sedang mengagumi suami tampan dan sholeh Nayya aja.” Ucap Nayya tersenyum memandangi suaminya dan membersihkan keringat suaminya dengan hijabnya.
“Jangan hijab sayang. Keringat mas kotor loh.” Ujar Risam.
__ADS_1
“Gak apa-apa. Ini keringat kerja keras suamiku. Jadi gak apa-apa kok.” ucap Nayya.
Risam pun tersenyum lalu melabuhkan kecupan di kening istrinya itu karena saking gemasnya. Nayya hanya tersenyum lalu tidak lama setelah itu Nayya segera pamit pulang menggunakan motor yang di bawa suaminya. Mobil dia tinggal karena masih ada makanan.