Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
60


__ADS_3

Kini Risam dan Nayya sedang duduk bersantai ria di ruang tamu sambil menikmati brownis buatan Nayya, “Mas, bagaimana pekerjaannya hari ini?” Tanya Nayya.


“Alhamdulillah sayang semuanya berjalan lancar. Semuanya sudah selesai. Mas juga sudah memberikan upah mereka yang membantu mas tadi. Dan lebih Alhamdulillah lagi tanamannya tumbuh bagus.” ucap Risam.


Nayya pun tersenyum, “Syukurlah jika begitu mas. Nayya ikut senang deh. Selamat yaa mas.” Ucap Nayya.


“Ini berkat doamu sayang. Terima kasih sudah membantu dan mendoakan mas.” Ucap Risam.


Nayya mengangguk lalu menyuapi sang suami dengan brownis itu, “Sayang, mas ingin nanti hasil panennya itu akan mas kembalikan uangmu dan kita akan menyicil untuk bahan pembangunan rumah kita dan juga akan memcari tanah rumah kita.” Ujar Risam.


Nayya pun mengangguk, “Semuanya terserah mas. Tapi mas aku ingin mengatakan sesuatu bahwa kita gak usah membeli tanah karena papa dan mama sudah membelikannya untuk kami.” ucap Nayya.


“Maksudnya sayang? Mas gak ngerti.” Ucap Risam.


Nayya pun tersenyum, “Mas memang gak akan ngerti. Akan aku jelasin. Mas jika tanah ini yang sekarang ini aku bangun ruko. Aku beli memang dengan hasil uangku. Tapi papa dan mama juga membeli tanah untuk kami bertiga untuk di banguni rumah kami kelak bersama suami kami. Tanahnya itu di dekat rumah mama dan papa.” Ucap Nayya menjelaskan.


“Itu memang di beli untuk kami mas. Jadi jangan merasa apa-apa lagi. Tapi jika mas tidak suka kita akan membeli tanah lagi tapi untuk menghemat uang kita bangun di sana saja. Itu atas namaku mas. Itu memang untuk kami tapi di beli atas namaku. Jadi mas mau kan kita bangun di sana rumah kita atau kita cari tanah lain.” Ucap Nayya.


Risam pun berpikir, “Kita bangun di sana saja. Lagian mas juga gak punya kenalan yang bisa di beli tanahnya. Di dekat rumah mami dan papi pun gak ada. Sejujurnya mas juga pusing memikirkan tanah yang akan kita bangun rumah tapi ternyata semuanya sudah siap. Kamu memang hebat sayang sudah memiliki persiapan sebelumnya tidak seperti mas.” Ucap Risam.


“Ish jangan ngomong gitu mas. Itu bukan aku yang beli loh tapi papa dan mama. Aku hanya menginginkannya saja. Jika mas tidak merasa nyaman di sana kita bisa mencari tanah yang lain. Aku tidak ingin mas merasa rendah dariku. Aku hanya mengatakan apa yang sudah ada. Aku menyayangimu mas. Aku tidak mau kau mengatakan sesuatu yang seolah-olah merendahkanmu. Aku tahu aku tidak menyukai hal seperti itu.” ucap Nayya.


Risam pun tersenyum lalu mengecup kening istrinya itu, “Mas gak merendahkan diri sayang tapi mas bangga padamu. Mas bangga punya istri seperti dirimu. Mas akan membangun rumah di tanah yang sudah di siapkan papa untukmu. Kenapa kita harus membeli lagi jika sudah ada yang tersedia. Dengan begitu juga kita bisa bertetangga dengan adik-adikmu kan. Jika nanti mereka sudah menikah dan memiliki suami nanti.” Ucap Risam.


Nayya pun mengangguk tersenyum, “Iya mas. Aku ingin dekat dengan adik-adikku. Mas, aku biasanya sering memberi mereka uang saku setiap seminggu sekali dan jika aku lupa mereka akan memintanya tapi sepertinya mereka sungkan padamu. Lihatlah sudah sebulan aku belum memberikan uang saku tapi mereka tidak menagihnya. Mas aku ingin--”

__ADS_1


“Sudah berikan saja. Kamu ambil dari uang mas. Adik-adikmu itu juga adik mas. Jadi ayo kirim.” Ucap Risam.


Nayya pun mengangguk lalu segera mengambil ponselnya dan segera mengirimkan uang saku untuk kedua adiknya itu, “Aku yakin mereka akan segera menelponku.” Ucap Nayya setelah selesai mentransfer kepada kedua adiknya itu.


Dan benar saja tidak lama kemudian setelah itu seperti dugaan Nayya telponnya pun berdering dan panggilan dari Rayya, “Lihat kan!” ucap Nayya lalu segera menggeser ikon hijau.


“Halo, Assalamu’alaikum dek!” ucap Nayya.


“Wa’alaikumsalam. Terima kasih kak.” Ucap Rayya terharu.


“Terima kasih untuk apa nih?” tanya Nayya pura-pura.


“Ish kakak gak usah pura-pura deh. Rayya dan Zayya pikir kakak sudah lupa. Tapi ternyata tidak. Terima kasih kak.” Ucap Rayya.


“Ish kak. Kami canggung lah. Kakak sudah menikah. Selain itu juga kami masih punya sedikit uang kok. Jadi belum memintanya kepada kakak.” Ucap Rayya.


“Yakin masih punya uang? Kakak kok gak percaya. Kakak lebih yakin bahwa kau canggung karena kakak sudah menikah.” Ucap Nayya.


“Hehehhh, benar kak. Kami sungkan dengan kakak ipar. Sebenarnya kami sudah berencana akan meminta uang kepada mama dan papa tapi karena kakak sudah memberikannya maka gak jadi deh menghubungi mama dan papa. Terima kasih kak!” ucap Rayya.


“Iya iya. Ohiya itu duit kakak ipar kalian loh.” Ucap Nayya.


“Hm masa sih kak? Ish kak kok gitu.” Ucap Rayya dari sana.


“Rayya, ini kak Risam. Kenapa harus canggung dengan kakak dek. Kakak juga adalah kakak kalian dan selama kak Nayya kalian akan terus menjadi kakak untuk kalian. Jadi jangan sungkan untuk meminta uang. Kami akan memberikannya jika memiliki uang.” Ucap Risam.

__ADS_1


“Emm iya kakak ipar. Maaf!” ucap Rayya dari seberang.


“Gak apa-apa. Terima yaa uangnya. Gunakan dengan baik dan belajar juga dengan baik.” ucap Risam.


“Iya baik kakak ipar. Siap Rayya akan laksanakan dengan baik. Rayya akan belajar dengan baik.” ucap Rayya.


Risam pun tersenyum, “Dengar sendiri kan. Sudah terima saja. Katakan itu juga kepada Zayya.” Ujar Nayya.


“Zayya dengan kak. Dia ada di sampingku.” Ucap Rayya.


Nayya pun tersenyum. Setelah itu sambungan telepon pun segera terputus setelah Nayya saling mengungkapkan rindu dengan kedua adiknya itu.


“Adik-adikmu ini lucu sayang.” ucap Risam.


“Mereka memang seperti itu mas. Mereka itu memiliki sifat sungkan terlalu tinggi. Ohiya Mas terima kasih sudah mengizinkan aku memberi uang saku kepada mereka.” ucap Nayya.


“Adik-adikmu itu juga adikku sayang. Jadi jangan mengatakan itu. Keluargamu adalah keluargaku juga.” Ucap Risam.


Nayya pun mengangguk, “Mas, aku pengen makan nasi goreng buatanmu malam ini.” ucap Nayya.


Risam yang mendengar perkataan sang istri pun tersenyum, “Kamu yakin mau makan nasi goreng buatanku sayang. Kan tahu kan aku tidak bisa memasak.” Ucap Risam.


“Ish mas bisa tahu. Aku pengen banget mas.” Ucap Nayya.


Risam pun mengangguk, “Baiklah jika memang kau ingin sayang. Mas akan membuatkannya untukmu tapi sebelum itu mas belajar dulu. Mas gak mau nanti membuat nasi goreng yang akan meracuni istri mas. Jadi mas mau belajar dulu.” Ucap Risam lalu segera membuka ponselnya mempelajari tutorial memasak nasi goreng. Nayya pun tertawa melihat apa yang dilakukan suaminya itu. Nayya menemani sang suami melihat tutorial memasak sambil menikmati brownis buatannya.

__ADS_1


__ADS_2