Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
64


__ADS_3

Kini Nayya dan Risam sudah siap berangkat menuju rumah sakit setelah menikmati sup buatan mama Fara dan juga setelah selesai membersihkan diri dengan mandi agar bisa memfreshkan tubuh keduanya.


“Apa tidak ada lagi yang tertinggal?” tanya Risam lalu segera meraih tas Nayya yang terletak di ranjang.


Nayya tersenyum, “Gak ada mas. Semua aman. Kita hanya perlu membawa diri saja.” balas Nayya.


Risam pun mengangguk dan tersenyum lalu segera menggenggam tangan istrinya itu keluar kamar. Mereka segera turun ke bawah dan berpamitan kepada mama Farad an papa Imran untuk pergi jalan-jalan sebentara ke kota dengan alasan ada sesuatu yang harus mereka beli. Mereka tidak mengatakan alasan sebenarnya mereka turun ke kota ingin ke rumah sakit memeriksakan kandungan Nayya karena memang masih di rahasiakan. Mama Fara dan papa Imran pun hanya mengangguk saja menyetujui tanpa keraguan.


Kini Nayya dan Risam sedang dalam perjalanan. Nayya tersenyum menatap suaminya itu, “Sayang, kenapa menatap mas seperti itu? Mas malu loh.” Ujar Risam karena memang Nayya sudah dari tadi menatapnya dalam.


Nayya yang mendengar ucapan suaminya pun tersenyum, “Gak apa-apa mas. Nayya hanya ingin menatap suami tampan, baik dan sholeh Nayya ini. Lagian kenapa harus malu kan Nayya istri mas.” Ucap Nayya.


“Tetap malu sayang. Kamu natapnya lama gitu kan mas jadi deg degan.” Ucap Risam.


“Hahahh, mas berebihan deh. Emang iya laki\=laki juga bisa salting? Masa sih? Kok Nayya gak percaya. Kan biasanya hanya perempuan yang bisa malu begitu jika di tatap. Kok ini jadi mas sih.” Ucap Nayya.


Risam yang mendengar penuturan sang istri tersenyum, “Sebenarnya laki-laki juga merasakan itu sayang hanya saja mereka berpura-pura cool untuk menyembunyikan hal itu. Karena jika mereka tidak melakukan yaa mereka akan merasa harga diri mereka jatuh di hadapan gadis yang mereka cintai sayang.” ucap Risam.


Nayya pun mengangguk, “Terus kenapa mas gak melakukan itu?” tanya Nayya.


“Untuk apa mas harus menyembunyikannya lagi darimu sayang. Kau itu istri mas dan mas gak merasa harga diri mas jatuh dengan itu karena yang menatap mas adalah istri mas sendiri. Selain itu juga mas sudah melakukan itu saat kita belum menikah. Apa kau pikir mas gak malu dan canggung jika tanpa sengaja kita beradu pandang saat itu. Mas malu sayang. Tapi seperti yang sudah mas katakan tadi mas berusaha cool di hadapanmu. Namun untuk sekarang mas gak ingin melakukannya lagi kan kamu istri mas.” Ucap Risam.

__ADS_1


Nayya pun mengangguk dan tersenyum, “Ouh gitu yaa. Hmm baiklah. Nayya hari ini mempelajari salah satu sifat pria.” Ucap Nayya.


Risam pun tersenyum mendengar hal itu, “Sayang, kamu istirahatlah dulu. Kan masih lama juga sampai di rumah sakitnya. Nanti jika kita sudah tiba maka mas akan membangunkanmu.” Ucap Risam melihat Nayya yang menguap.


Nayya pun menggeleng, “Nayya gak apa-apa mas. Jika Nayya tidur nanti mas bicara dengan siapa. Kan kasihan jika mas merasa sepi.” Ucap Nayya.


Risam pun terharu dengan apa yang di katakan oleh istrinya itu. Nayya memang istri yang sangat pengertian, “Gak apa-apa sayang. Mas lebih tidak tega jika kau menahan kantuk begitu. Mas gak akan merasa sepi kok kan ada istri cantik mas yang nemenin di samping mas. Sudah ayo tidurlah walau sedikit waktunya.” Ucap RIsam.


Nayya pun akhirnya mengangguk menyetujui. Nayya pun segera memperbaiki posisinya agar nyaman dan mulai memejamkan matanya karena tidak dia pungkiri bahwa dia sangat mengantuk saat ini. Entah kenapa dia merasa mengantuk padahal biasanya tidak seperti ini. Walaupun dia tidur hanya dalam dua jam sehari tapi kali ini dia merasa mengantuk. Mungkin efek kehamilannya.


Risam tersenyum melihat istrinya itu sudah terlelap, “Kau sangat cantik sayang saat tertidur. Entah kenapa aku merasa takut jika aku tidak bisa melihatmu seperti ini lagi. Aku takut meningggalkanmu sayang. Tapi kita juga gak tahu takdir kita kedepannya. Aku harap selamanya aku akan tetap menjadi jodohmu sayang. Aku sangat menyayangimu ah bukan aku mencintaimu. Sangat!” gumam Risam.


***


“Sudah tiba mas?” tanya Nayya menyesuaikan dengan sekitarnya.


Risam pun mengangguk, “Maaf sayang mas membangunkanmu. Kita sholat dulu sebelum ke dokter kandungan.” Ucap Risam.


Nayya pun mengangguk lalu mereka segera turun begitu Nayya sudah sadar sepenuhnya dari tidurnya. Keduanya segera menuju masjid yang berada di rumah sakit itu. Memang di rumah sakit itu ada masjid dan juga mushola.


Sekitar setengah jam lebih keduanya Alhamdulillah sudah selesai melakukan sholat dan langsung masuk ke dalam rumah sakit di mana dokter Elvie sudah menunggu keduanya, “Dokter!” sapa Nayya.

__ADS_1


Dokter Elvie pun tersenyum lalu memeluk Nayya seorang gadis yang sangat dia harapkan jadi istri keponakannya. Hanya saja takdir berkata lain Nayya dan keponakannya tidak berjodoh. Nayya justru berjodoh dengan pemuda yang kini berada di belakang Nayya. Pemuda yang sepertinya sangat mencintai Nayya dan menjaga Nayya itu. Terlihat dari tatapannya kepada Nayya dan Nayya yang terlihat bahagia.


“Ayo kita segera menemui dokter Erina.” Ajak dokter Elvie. Dokter Erina itu adalah dokter kandungan terbaik yang merupakan sahabat dan sepupu dari dokter Elvie sendiri.


Nayya pun mengangguk dan tersenyum, “Terima kasih dokter sudah membuatkan temu janji untuk Nayya.” Ucap Nayya tulus.


Dokter Elvie pun mengangguk lalu dia mengusap perut rata Nayya itu. Dari penglihatannya saja sudah bisa dia lihat bahwa aura yang di tampilkan Nayya itu adalah aura seorang wanita hamil.


Nayya menatap Risam yang tersenyum memandangnya. Risam mengikuti Nayya dan dokter Elvie itu menuju poli kandungan.


“Selamat sore. Apa Erina ada di dalam?” tanya dokter Elvie kepada perawat yang memang bertugas di ruangan dokter Erina itu.


“Ada dokter. Dokter Erina sudah menunggu di dalam. Silahkan masuk saja.” ucap perawat itu dengan ramah.


Dokter Elvie pun mengangguk lalu mereka segera masuk ke dalam ruangan dokter Erina itu.


“Kak!” sapa dokter Erina begitu melihat bahwa kakak sepupunya itu yang datang.


“Sudah. Periksa saja kandungannya. Aku ingin melihatnya juga.” Ucap dokter Elvie langsung duduk di kursi yang ada di dalam ruangan sepupunya itu.


Dokter Erina pun hanya tersenyum. Dia memang sudah hafal dengan sifat kakak sepupunya itu yang tidak suka basa basi, “Silahkan nak!” ajak dokter Erina kepada Nayya menuju ruang pemeriksaan.

__ADS_1


Nayya pun mengangguk lalu mereka menuju ruang pemeriksaan. Nayya segera berbaring di bed pasien. Dokter Erina pun segera memulai pekerjaannya. Dia segera mengoleskan gel ke perut Nayya dan memulai USG-nya.


“Bagaimana?”


__ADS_2