Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
111


__ADS_3

Kini tidak terasa bulan yang penuh berkah itu sudah selesai dan seluruh umat muslim di dunia sedang merayakan kemenangan mereka karena berhasil melakukan ibadah sebanyak-banyaknya selama sebulan penuh. Berhasil menahan lapar, haus dan hawa nafsu mereka. Kini mereka kembali ke situasi yang suci seperti bayi yang baru lahir menyambut hari raya besar umat muslim.


Nayya dan keluarga kecilnya juga tentu saja merayakan hari kemenangan itu dengan suka cita. Apalagi si triplets yang berhasil menyelesaikan ibadah puasa mereka sebulan penuh.


"Ini bunda dan ayah punya hadiah untuk kalian." Ucap Nayya menatap ketiga buah hatinya itu yang memandangnya dengan tatapan berbinar.


"Ini untuk kakak, ini untuk abang dan ini untuk adik." ujar Nayya membagikan ketiga hadiah kepada ketiga buah hatinya itu.


Mereka pun menerimanya dengan senang hati dan tersenyum, “Terima kasih bunda, ayah!” ucap ketiganya bersamaan.


“Apa kami bisa membukanya?” tanya Qalessa mewakili kedua adiknya itu.

__ADS_1


Nayya dan Risam pun mengangguk, “Silahkan di buka nak.” Jawab Risam lembut menatap ketiga buah hatinya itu yang entah kenapa membuatnya ingin menangis. Dia merasa akan berpisah dengan anak dan istrinya itu. Sungguh dia tidak rela sama sekali tapi entah apa yang takdir sudah rencanakan untuknya di kemudian hari. Itu masih menjadi rahasia tapi untuk saat ini yang dia inginkan adalah melihat ketiga buah hati dan istrinya itu tersenyum. Istri yang sangat mencintainya dan juga sangat dia cintai.


Triplets pun segera membuka hadiah dari Nayya dan Risam itu. Mereka sangat antusias membuka hadiah itu. Nayya pun menatap suaminya dengan tersenyum. Nayya bersandar di bahu suaminya itu.


“Mas, aku harap kita tetap memiliki waktu yang seperti ini untuk tahun-tahun berikutnya. Kita akan memberikan hadiah yang bagus untuk anak-anak kita kelak.” Ucap Nayya.


Risam pun tersenyum dan mengaminkan ucapan istrinya itu walau hati kecilnya mengerang sedih mendengar ucapan dan harapan istrinya itu. Itu terdengar seperti kalimat perpisahan untuknya, “Ya Allah apa yang sudah kau takdirkan untukku? Kenapa aku merasa bahwa kau ingin mengajakku pulang?” batin Risam meringis pengen menangis tapi dia tahan karena ini adalah hari raya hari di mana semua umat muslim sedang berbahagia. Dan saat ini juga dia bersama istri dan anak-anaknya yang dia cintai. Dia tidak akan menunjukkan kesedihannya itu dan beberapa firasat yang selalu datang padanya.


Nayya dan Risam pun memeluk ketiga anak mereka itu dengan tersenyum, “Kalian menyukainya?” tanya Nayya.


Triplets pun mengangguk dengan cepat, “Kami sangat menyukainya bunda karena kami akan segera masuk sekolah dasar. Kami tidak akan jadi anak Taman Kanak-kanak lagi.” Ucap Qalessa.

__ADS_1


“Kami sudah naik satu tingkat lagi.” Sambung Xander.


“Iya anak-anak ayah memang sangat hebat sehingga sudah bisa masuk sekolah.” Puji Risam.


“Jadi apa masih ada yang ingin kalian minta dari ayah dan bunda sebagai hadiah karena menyelesaikan puasa sebulan penuh?” tanya Nayya menatap ketiga buah hatinya itu.


Triplets pun tampak berpikir, “Hum, kami gak butuh apa-apa lagi bunda. Kami sudah punya banyak hadiah.” Ucap Xavier.


“Kami hanya ingin terus bersama ayah dan bunda.” Sambung Xander.


“Hum, Qalessa ingin saat nanti kami masuk sekolah hari pertama ayah dan bunda mengantar kami ke sekolah.” Ucap Qalessa.

__ADS_1


“Boleh kan?” tanya Qalessa memastikan.


__ADS_2