
Nayya mengangkat alisnya dan menunjuk box bayi ketiga anaknya, “Tuh!” tunjuk Nayya.
Rayya dan Zayya pun segera mendekati ketiga box bayi itu dan mereka langsung terharu melihat ketiga bayi kecil yang masih terlelap di sana, “Ahh cantiknya.” Ucap Rayya.
“Itu cowo dek.” ujar Nayya.
“Emang ada yang cewe kak?” tanya Zayya.
Nayya mengangguk, “Itu yang di hadapanmu itu cewe dek.” jawab Nayya.
“Wah, jadi apa saja jenis kelamin keponakan kami ini?” tanya Rayya.
“Satu cewek dan dua cowok adik ipar.” Jawab Risam.
Rayya dan Zayya yang mendengar jawaban kakak ipar mereka itu pun mengangguk paham dan kini mereka sibuk mengagumi ketiga bayi itu.
“Kak, yang cewek bangun kak.” Ucap Zayya melihat anak perempuan Nayya itu membuka matanya yang sangat cantik karena memiliki bola mata warna abu-abu.
Mama Fara dan mami Vega yang mendengar ucapan Zayya itu pun segera mendekati box cucu perempuan mereka itu, “Nak, bola matanya sangat cantik. Menurun dari siapa? Kita sepertinya gak memiliki bola mata warna itu.” ucap mama Fara menatap mata cucunya yang sangat cantik itu berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.
__ADS_1
Mami Vega yang sudah gemas dengan cucunya itu menatap Nayya dan Risam seolah meminta izin untuk menggendong. Nayya dan Risam yang melihat itu pun tersenyum lalu mengangguk, “Gendong saja mih.” Ucap Nayya.
Mami Vega pun tersenyum mendengar jawaban menantunya itu dan segera menggendong cucu perempuannya itu, “Ahh cantiknya!” ujar mami Vega. Papi Lutfi pun segera mendekati istrinya itu untuk melihat cucu perempuannya itu yang memang sangat cantik.
Tidak lama juga kedua bayi laki-laki Nayya pun bangun dan keduanya sama-sama memiliki bola mata biru terang, “Kak, apa anak-anakmu memakai soflens? Kenapa warna bola mata mereka berbeda dengan milikmu dan kakak ipar? Mereka justru memiliki warna bola yang langka yang biasanya hanya di miliki oleh orang barat saja tapi ini. Ahh aku mengagumi ketiga keponakanku ini. Aku menyukai warna bola mata mereka.” ucap Rayya.
Mama Fara tersenyum lalu segera menggendong satu cucunya yang ternyata anak kedua Nayya, “Mas, gendong kesini putra bungsu kita itu.” ujar Nayya.
Risam pun mengangguk dan segera berdiri dan menggendong putranya itu. Risam tidak terlihat kaku karena dia memang sudah mempelajari ini juga, “Wah, kakak ipar hebat bisa menggendong bayi.” Ujar Zayya kagum.
Risam hanya tersenyum lalu segera membawa putranya itu ke dekat Nayya. Nayya menatap putranya yang lahir paling akhir itu. Putra yang membuatnya sempat khawatir dan takut karena tidak menangis seperti kedua saudaranya yang lain begitu lahir. Tapi syukurlah gak ada yang terjadi. Semua yang di takutkan dan di khawatirkan tidak terjadi sama sekali. Kini ketiga bayi yang di lahirkan Nayya itu sangat sehat dan kuat begitu juga dengan Nayya sendiri.
Nayya segera menyusui putranya yang berada di pangkuannya itu, “Mas, sembunyikan aku.” Pinta Nayya. Risam pun mengangguk mengerti apa yang di inginkan istrinya itu. Nayya menyusui ketiga anaknya itu bergantian dan kini mereka berada dalam gendongan Nayya dan kedua nenek mereka mulai terlelap kembali.
“Itu memang wajar pada bayi dek. Mereka itu memang memiliki frekuensi tidur lebih banyak dari pada kita yang sudah dewasa.” Timpal Rayya.
“Zayya juga tahu kak Ray. Tapi kan Zayya masih ingin melihat mereka itu. Ish tapi mereka justru sudah tidur.” Ucap Zayya yang kini menatap ketiga keponakannya itu yang sudah di tidurkan kembali di dalam box bayi mereka.
“Kalian bisa bermain dengan mereka nanti dek. Kalian punya banyak waktu dengan mereka.” ujar Nayya yang kini kembali makan karena sepertinya habis menyusui dia kembali merasa lapar. Risam pun tidak mempermasalahkan hal itu. Dia justru kini menyuapi Nayya makan lagi. Dia tahu Nayya butuh makan agar bisa menyusui ketiga buah hati mereka itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Adiba dan Ahsan serta keponakan Risam datang dan segera masuk ke dalam ruang perawatan Nayya itu, “Ahh, apa ini ketiga keponakanku?” tanya Adiba menatap ketiga box bayi di hadapannya yang di mana ada masing-masing bayi kecil sedang terlelap di sana.
“Apa jenis kelamin ketiga keponakanku ini?” tanya Adiba.
“Satu cewek dan dua cowok kak Diba.” Bukan Nayya atau pun Risam yang menjawab tapi justru Rayya dna Zayya yang menjawab dengan kompak.
Adiba pun tersenyum mendengar jawaban dari dua adik Nayya itu, “Kalian seperti kembar saja. Kompak!” ucap Adiba.
“Kapan mereka bangun adik ipar?” lanjut Adiba.
“Mereka baru saja tidur nak. Mereka baru menyusui. Kau sedikit terlambat. Mungkin jika kau datang sekiatr 10 menit lalu kau pasti masih sempat melihat mereka bangun. Jadi kau hari ini masih sial. Kau harus menunggu mereka bangun.” Ucap mami Vega tersenyum.
Adiba yang mendengar itu pun tersenyum karena wajah takut dan khawatir yang di tunjukkan maminya itu menghilang dan kini hanya ada wajah bahagia di sana karena apa yang di takutkan oleh seluruh keluarga tidak terjadi. Adiba sendiri ikut bahagia karena hal itu. Dia tidak bisa membayangkan jika apa yang di khawatirkan oleh seluruh keluarga terjadi. Pasti saat ini bukan wajah bahagia yang dia lihat tapi kemurungan dan kesedihan.
“Hmm, karena ketiga keponakanku masih tidur dengan damainya. Maka lebih baik katakan kepadaku siapa nama ketiga keponakanku ini.” ucap Adiba.
“Iya benar nak. Siapa nama ketiga cucu kami itu? Kami penasaran dan ingin segera tahu.” Ucap mama Fara juga penasaran dan ingin segera tahu siapa nama ketiga cucunya itu.
“Jadi kalian juga belum tahu nama mereka?” tanya Adiba heran karena dia pikir hanya tinggal dia yang belum tahu tapi ternyata memang adik dan adik iparnya itu belum mengatakan nama anak mereka.
__ADS_1
Semua keluarga menggeleng menjawab pertanyaan Adiba itu, “Wah aku tidak menyangka. Sudahlah, ayo katakan saja kepada kami siapa nama mereka.” ucap Adiba.
Risam yang mendengar pertanyaan kakak perempuannya pun tersenyum lalu dia menatap sang istri untuk meminta persetujuan. Nayya mengangguk pelan begitu memahami apa arti tatapan suaminya itu, “Anak pertama kami beri nama Floella Qalessa Al Ayaan sedang anak kedua dan ketiga kami memberi mereka nama Fachry Xander El Amin dan Fadhly Xavier El Amin.” Ujar Risam. Sementara Nayya tersenyum dan terharu mendengar suaminya yang memberikan marganya untuk sang putri. Tidak hanya Nayya yang terharu mendengar ucapan Risam itu mama Fara dan papa Imran pun ikut terharu karena menantu mereka menggunakan marga Nayya cucu perempuan mereka itu.