Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
114


__ADS_3

Kini Nayya berada di depan ruangan UGD itu menunggu suaminya yang masih di tangani oleh dokter. Nayya sudah menelpon mertuanya dan juga orang tuanya sekalian meminta tolong untuk menjemput anak-anaknya di sekolah.


Tidak lama Diaz keluar dari ruangan UGD itu. Nayya segera menatap adik iparnya itu, “Bagaimana?” tanya Nayya.


Diaz menggeleng dan menarik nafas dalam, “Kita akan bicarakan itu nanti kakak ipar. Sekarang kakak ipar bicaralah dengan suami kakak. Dia akan segera di pindahkan ke ruang perawatan.” Ucap Diaz.


Nayya pun mengangguk menurut ucapan adik iparnya itu. Tidak lama Risam pun segera di pindahkan ke ruang perawatan dan kini Nayya sedang menyuapi suaminya itu makanan, “Sayang, kamu juga makanlah.” Ucap Risam.


“Aku masih kenyang mas.” Jawab Nayya lalu tiba-tiba dia meneteskan air matanya.

__ADS_1


Risam yang melihat itu segera menghapus air mata istrinya itu, “Jangan menangis sayang. Itu sangat menyakitkan untukku saat melihatmu menangis. Aku tidak ingin bungaku menangis seperti ini. Kau itu adalah duniaku sayang.” ucap Risam.


“Duniamu mas? Jika aku adalah duniamu apa itu artinya kau akan pergi meninggalkan aku?” tanya Nayya.


“Sayang, kematian itu adalah rahasia Allah. Jika pun aku pergi meninggalkanmu lebih dulu, aku pasti akan menantikan kedatanganmu. Aku akan menantimu.” Ucap Risam.


Nayya yang mendengar ucapan suaminya bukannya berhenti menangis justru tangisannya itu semakin menjadi-jadi. Risam dengan kekuatannya segera meraih tubuh istrinya dan membawanya ke pelukannya.


Nayya yang mendengar ucapan Risam semakin menangis dan kini dia semakin yakin bahwa suaminya itu akan pergi meninggalkannya. Firasat yang datang padanya adalah petunjuk akan kepergian suaminya ke tempat yang sangat jauh.

__ADS_1


Nayya menangis dalam pelukan suaminya itu sampai baju Risam basah. Risam pun hanya bisa menenangkan istrinya itu walaupun di sisi lain dia juga takut jika kematian itu akan datang sewaktu-waktu kepadanya. Dia sudah mempersiapkan semuanya untuk ini. Sejak dua bulan lalu firasat itu selalu datang kepadanya. Penyakitnya bukannya semakin membaik justru semakin memburuk setiap harinya padahal dalam tiga tahun belakangan ini dia sudah di nyatakan sembuh. Namun sekali lagi semua adalah takdir.


Tidak lama mami Vega dan papi Lutfi beserta Adiba dan suaminya datang. Nayya memberikan waktu untuk suaminya itu bicara dengan keluarganya. Selain itu juga dia ingin menenangkan dirinya. Mencoba menerima takdir buruk yang kemungkinan akan datang kepadanya. Nayya menuju taman rumah sakit dan duduk di sana meluapkan tangisannya.


Dia memang belum mendengar keterangan dokter namun dua tahun dia ikut berperang melawan penyakit suaminya itu. Jadi sedikit tidaknya dia tahu apa yang terjadi pada suaminya walaupun dia hanyalah seorang perawat. Tapi dia mempelajari seluk beluk penyakit suaminya itu saat dua tahun pertama perawatan suaminya. Jadi kini tanpa mendengar keterangann dokter dia sudah bisa menebak apa yang terjadi pada suaminya. Walaupun itu sulit untuk dia terima.


Setelah puas mencurahkan kesedihan yang menyesakkan dada itu, Nayya pun kembali ke ruangan suaminya di mana di sana sudah ada keluarganya juga berkumpul dan Diaz juga ada di sana.


“Diaz, bacakan saja.” ucap Risam begitu Nayya tiba.

__ADS_1


Diaz pun menatap seluruh keluarga di sana yang menunjukkan ekspresi murung mereka.


“Diaz, katakan saja berapa banyak waktu lagi yang ku punya?”


__ADS_2