
Risam yang mendengar ucapan istrinya sekaligus harapan itu tersenyum, “Semoga saja yaa. Tapi sepertinya waktu dua bulan masih kurang untuk menyelesaikan rumah ini.” ucap Risam.
Nayya pun tersenyum, “Emm, baiklah. Jika memang begitu. Kita bisa tinggal di rumah mami atau pun mama.” Ujar Nayya. Memang sejak usia kandungan Nayya 5 bulan keduanya memutuskan untuk tidak tinggal lagi di ruko mengingat kandungan Nayya yang sudah semakin besar dan naik turun tangga akan membahayakan kandungan. Saat usia kandungan Nayya 6 bulan tinggal di kediaman orang tua Risam dan sekarang mereka tinggal di kediaman orang tua Nayya. Baik Risam maupun Nayya tidak ingin menimbulkan rasa iri satu sama lain antara kedua orang tua mereka.
Setelah puas melihat rumah setengah jadi mereka itu, Nayya dan Risam segera pulang ke rumah mama Fara dan papa Imran, “Nak, kalian dari mana?” tanya papa Imran.
“Dari melihat pembangunan rumah pah.” Jawab Nayya.
Papa Imran pun mengangguk mengerti, “Ohiya Nayya. Mamamu tadi mencarimu nak.” ujar papa Imran.
Nayya pun mengangguk lalu dia segera masuk ke dalam menuju dapur mencari sang mama, “Apa mama mencari Nayya?” tanya Nayya kepada mamanya.
Mama Fara pun tersenyum melihat putrinya itu, “Kamu dari mana aja nak?” tanya mama Fara.
“Emm, Nayya dan mas Risam pergi melihat pembangunan rumah kami mah. Ohiya, kenapa mama mencariku?” tanya Nayya ulang.
“I-itu nak lihat ini.” ajak mama Fara ke kamarnya.
Nayya pun tersenyum melihat apa yang di dapat mamanya itu, “Mama dapat ini dari mana? Sangat cantik.” Puji Nayya.
“Kamu menyukainya?” tanya mama Fara.
Nayya pun mengangguk, “Aku sangat menyukainya mah. Mama dapat dari mana?” ulang Nayya.
“Ada yang memberikan itu kepada mama. Jika kau memang menyukainya. Ambil dan simpan untukmu sayang.” ujar mama Fara.
__ADS_1
Nayya pun mengangguk tersenyum, “Terima kasih mah.” ucap Nayya lalu mengecup pipi mamanya itu dan segera keluar dari kamar orang tuanya dengan wajah yang berbinar.
Mama Fara pun tersenyum melihat itu, “Semoga mama gak melakukan kesalahan nak.” gumam mama Fara.
***
Di sisi lain di sebuah kamar, Afnan memandangi sebuah foto yang memang selalu menemani tidurnya selama beberapa bulan ini, “Nay, kau sudah bahagia kan. Aku ikut bahagia untukmu Nay. Aku akan menyimpan fotomu ini. Aku akan melanjutkan hidupku. Dulu kau menginginkan aku berubah dan belajar agama maka hari ini aku akan mewujudkannya. Aku memutuskan memilih ini bukan karena permintaanmu tapi memang karena aku ingin melakukannya. Aku melakukan untuk diriku sendiri. Aku akan berdoa semoga akan ada takdir baik yang menantiku.” Ucap Afnan lalu menyimpan foto Nayya itu di sebuah kotak dan menguncinya di lemari pakaiannya.
Afnan memang sudah tidak lagi merencanakan untuk bunuh diri dan dia juga tidak lagi membunuh dirinya dengan minum alkohol secara diam-diam. Semenjak saat Nayya dan Risam datang saat itu semenjak itulah dia pun kembali bangkit. Walaupun dia belum bisa melupakan Nayya bahkan hingga kini perasaaan itu masih ada. Tapi dia sudah kembali menemukan kewarasannya. Nayya gadis yang dia cintai sudah berbahagia dengan suaminya. Jadi kenapa dia harus sedih sedangkan gadis yang dia cintai bahagia. Seharusnya dia juga ikut bahagia walaupun Nayya tidak bersamanya.
Afnan sudah tidak mengurung diri lagi di kamarnya. Dia sudah kembali seperti dulu. Sudah membantu papi Riyad bekerja. Bisa di katakan dia sudah kembali normal walaupun kesedihannya itu masih ada tapi dia menyembunyikannya dari orang-orang.
“Kak!” ujar Ivana masuk ke kamar kakaknya itu.
Afnan pun tersenyum menatap adiknya itu, “Ada apa dek?” tanya Afnan.
Afnan pun mengangguk lalu segera keluar dari kamar beserta adiknya. Afnan pun segera duduk di kursi yang biasa dia tempati ketika makan. Afnan tersenyum menatap kedua orang tuanya dan kedua adiknya itu.
“Kak, besok ada konser di kota. Apa kau mau ikut?” tanya Efnan adik laki-lakinya.
Afnan pun tersenyum lalu mengangguk, “Okay, kita akan pergi.” jawab Afnan lalu menyendok makanan ke piringnya.
“Kak, kau baik-baik aja?” tanya mami Rana.
Afnan tersenyum lalu menatap maminya itu, “Aku baik-baik aja mih. Jangan mengkhawatirkan aku.” Ujar Afnan.
__ADS_1
“Kau sudah melupakannya nak?” tanya papi Riyad hati-hati. Dia paham putranya itu masih menyembunyikan kesedihannya.
Afnan yang mendengar ucapan papinya terkekeh, “Lupa? Aku tidak tahu apa itu definisi dari lupa pih. Aku hanya mencoba berdamai dengan keadaan. Waktu akan terus berjalan dan tidak menungguku. Aku harus mengejar ketertinggalanku. Aku akan melanjutkan hidupku. Dia sudah bahagia dengan suaminya. Bahkan mereka sedang menanti kedua anak kembar mereka. Munafik aku jika mengatakan bahwa aku sudah melupakannya dan tidak merasa sakit lagi. Karena pada kenyataannya hatiku masih sakit hanya saja dia sudah bahagia. Aku pun harus bahagia dengan caraku sendiri.” Ucap Afnan lalu memulai makannya. Ke empat orang lainnya pun terdiam lalu mereka makan dalam keheningan.
Setelah melakukan makan malam itu, kini Afnan menemui mami dan papinya, “Mih, Pih aku mau bicara dengan kalian. Ini penting.” ucap Afnan serius.
Mami Rana dan papi Riyad yang melihat ekspresi serius yang di tunjukkan oleh putra mereka itu pun hanya bisa menurut, “Apa yang ingin kau bicarakan nak?” tanya papi Riyad.
“Mih, Pih aku ingin pergi ke kota F. Aku ingin bekerja di sana. Aku mohon kalian mengizinkan aku pergi.” ucap Afnan.
“Nak, tidak bisakah kau tidak pergi? Apa waktu setengah tahun ini belum menyembuhkan lukamu?” tanya mami Rana.
“Mih, aku tidak bisa mih. Aku mohon tolong ikhlaskan aku pergi. Aku janji akan pulang. Aku pasti akan pulang.” Ucap Afnan.
“Berapa lama?” tanya papi Riyad. Mami Rana yang mendengar pertanyaan suaminya hanya bisa menangis.
“Mungkin setahun, dua tahun atau tidak tahun. Aku gak tahu pih. Tapi yang pasti aku akan pulang. Itu janjiku.” Ujar Afnan.
“Kenapa kau harus pergi?” tanya papi Riyad.
Afnan tersenyum, “Aku ingin belajar sesuatu. Seperti yang sudah aku katakan di meja makan tadi bahwa aku ingin mengejar ketertinggalanku pih. Aku ingin melanjutkan hidupku dan kenapa aku memilih kota F karena hanya di kota itu aku bisa mendapatkan apa yang aku cari. Aku harap mami dan papi mengizinkan aku pergi.” ucap Afnan.
Papi Riyad menghela nafasnya, “Jika memang itu sudah jadi keputusanmu maka papi hanya bisa menyetujuinya dan mendukungmu. Papi harap kau bisa memenuhi janjimu yang akan pulang dan papi juga berharap kau bisa pulang dalam waktu kurang setahun saja.” ucap papi Riyad.
“Aku janji akan pulang pih tapi tidak janji kapan aku akan pulang.” Ucap Afnan lalu segera masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Mami Rana menangis dalam pelukan suaminya, “Sudah mih. Kita harus mengizinkannya pergi. Dia butuh waktu menyembuhkan lukanya.” Ucap papi Riyad menenangkan istrinya itu.