
Rumah tangga Nayya dan Risam berjalan harmonis tanpa ada masalah walaupun kadang-kadang terjadi perbedaan pendapat antara Nayya dan Risam. Namun pada akhirnya mereka bisa menemukan solusi dari masalah yang mereka hadapi. Nayya dan Risam adalah dua manusia yang tidak suka masalah berlarut-larut. Keduanya menganut paham musyarawah terbuka. Jadi setiap ada masalah selalu di komunikasikan bersama.
Seperti yang terjadi minggu lalu saat, Afnan datang menemui Nayya di rumah mama Fara dan papa Imran untuk berpamitan. Risam yang saat itu masih dalam perjalanan pulang pun begitu tiba di rumah dan mendapati istrinya bersama Afnan sedikit merasa cemburu.
Siapa juga yang akan cemburu jika melihat itu. Risam pun mendiami Nayya. Nayya sendiri tahu dia salah karena sudah menerima tamu padahal suaminya gak ada. Nayya meminta maaf kepada Risam dan Risam masih saja mendiami istrinya itu.
Nayya pun akhirnya balik marah dan mengabaikan suaminya sehingga sampai waktu makan malam pun keduanya saling diam-diaman saja. Nayya tahu dia salah tapi karena juga hormone kehamilan yang memicunya sehingga dia pun balik marah kepada suaminya itu. Dan barulah di kamar saat berdua, Risam menarik istrinya itu dan membicarakan semua. Masalah kecemburuan itu pun akhirnya terselesaikan. Nayya sendiri hanya menghargai tamu yang datang apalagi Afnan juga hanya ingin berpamitan juga padanya. Afnan hanya ingin melihat gadis yang dia cintai itu sebelum dia pergi untuk waktu yang tidak tahu entah kapan pulang.
“Mas, aku merasa lelah. Entah kenapa usia kehamilanku sejak masuk trimester tiga ini aku sering merasa lelah. Jadi maafkan aku yaa mas jika aku kurang memperhatikanmu.” Ucap Nayya merasa bersalah dengan bersandar di dada suaminya itu.
Memang keduanya sebelum tidur selalu mengobrol berdua dan kadang juga mereka mengajak anak mereka yang masih dalam kandungan itu pun di ajak bicara. Selain di ajak bicara, Nayya dan Risam juga sering membacakan Al-Qur’an kepada calon anak mereka itu. Baik Nayya dan Risam bergantian membacakan Al-Qur’an serta sholawat untuk anak mereka.
Risam yang mendengar ucapan istrinya itu pun segera menghentikan bacaannya terkait ilmu aritmatika dan mengusap perut buncit istrinya, “Anak-anak Ayah jangan nakal yaa di dalam. Kasihan bunda nak.” ucap Risam.
Nayya pun tersenyum, “Mas, aku senang mereka ada hanya saja kadang aku merasa lelah. Tapi itu normal kok pada ibu hamil. Apalagi aku yang hamil kembar begini. Tapi aku yang merasa bersalah karena tidak bisa melayani mas.” Ucap Nayya.
Risam pun tersenyum lalu mengecup rambut istrinya yang memang di gerai itu, “Gak apa-apa sayang. Mas ngerti kok. Kamu hamil begini demi melahirkan buah cinta kita. Demi melahirkan generasi penerus kita. Jadi mas tidak akan menuntutmu apapun sayang. Mas bisa menahannya.” Ucap Risam.
Nayya terharu dengan suaminya itu, “Terima kasih mas.” Ucap Nayya.
__ADS_1
Risam pun mengangguk, “Jangan berterima kasih. Apa yang kamu beri untuk mas ini tidak akan pernah bisa mas balas. Kau mengandung selama sembilan bulan dengan segala konsekuensi. Mana lagi kau harus bertaruh nyawa melahirkan mereka nanti. Setelah itu kau pun akan menyusui dan merawat mereka. Sementara mas hanya bisa membantumu saat sudah lahir nanti dan itu pun tidak banyak. Jadi menjadi seorang ibu itu adalah pekerjaan yang mulia.” Ujar Risam. Nayya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Suaminya itu selalu bisa menenangkannya dengan kata-kata saja. Suaminya itu adalah penawar untuknya. Bagi Risam juga Nayya adalah ketenangannya. Mereka saling menyayangi dan mencintai satu sama lain sehingga kedamaian dalam membina rumah tangga mereka peroleh.
Risam mengecup kepala istrinya itu kembali, “Sayang, kamu yakin ingin lahiran normal? Kenapa tidak operasi saja. Aku khawatir sayang.” ucap Risam.
Nayya tersenyum, “Mas, tenang saja. Memang apa pun cara seorang ibu melahirkan buah hatinya ke dunia ini semuanya mulia dan punya konsekuensinya sendiri. Aku sudah memilih ingin merasakan bagaimana melahirkan secara normal. Itu adalah pilihanku dan aku harap semuanya berjalan lancar. Aku hanya butuh dukungan darimu mas.” Ucap Nayya.
Risam pun tersenyum lalu kembali mengecup kepala istrinya itu dan memeluk Nayya erat, “Mas pasti mendukung apapun pilihanmu sayang. Mas hanya ingin yang terbaik untukmu. Jika memang kau ingin melahirkan normal. Maka kita akan mengusahakan yang terbaik untuk semuanya agar semuanya berjalan lancar nanti.” Ucap Risam.
Nayya pun mengangguk tersenyum, “Aku mencintaimu mas.” Ujar Nayya.
Risam memeluk erat istrinya itu, “Mas lebih mencintaimu.” Jawab Risam.
***
Singkat cerita, kini tanggal perkiraan lahiran Nayya tinggal menghitung hari. Menurut perkiraan dokter Nayya akan melahirkan di minggu depan.
Seperti biasa setiap pagi selepas subuh, Risam menemani Nayya lari-lari kecil mengelilingi kediaman mama Fara dan papa Imran itu. Keduanya memang di usia kandungan Nayya 40 minggu ini tinggal di kediaman orang tua Nayya.
Seperti pilihan Nayya yang ingin melahirkan normal, maka Nayya selalu berolahraga dan juga menerapkan pola hidup sehat. Nayya dan Risam juga mengikuti kelas untuk ibu hamil. Risam tidak pernah membiarkan Nayya sendiri, dia selalu menemaninya. Nayya dan Risam sudah paham semua tentang tanda-tanda akan melahirkan karena memang sudah mengikuti kelas kehamilan.
__ADS_1
“Sayang, sudah cukup.” Ucap Risam melihat Nayya masih bersemangat berlari-lari di tempat untuk menurunkan kepada bayi agar masuk ke panggulnya. Dokter memang sudah mengintrusikan hal itu.
“Mas!” panggil Nayya.
Risam yang sedang duduk di teras dan mendengar Nayya memanggil segera mendekati istrinya itu, “Sayang, kenapa? Apa sudah sakit?” tanya Risam khawatir sambil menahan agar Nayya tidak jatuh.
Nayya mengangguk, “Sepertinya sudah pembukaan mas. Aku akan melahirkan.” Ucap Nayya dengan raut wajah meringis.
Risam pun berusaha tenang seperti apa yang sudah dia dapat di kelas kehamilan, “Mah, Pah. Nayya sepertinya akan melahirkan.” Ucap Risam sedikit keras.
Mama Fara yang sedang memasak pun segera menghentikan memasaknya dan segera memanggil papa Imran, “Pah, siapkan mobil. Kita harus ke rumah sakit. Nayya akan melahirkan.” Ucap mama Fara segera masuk ke kamar Nayya dan Risam untuk mengambil koper yang sudah berisi barang-barang yang siap di bawah ke rumah sakit.
Papa Imran pun begitu mendengar ucapan mama Fara dengan cepat segera menyiapkan mobil dan membantu menantunya itu menuntun Nayya menuju mobil.
Mama Fara tidak lama segera keluar dengan membawa koper dan memasukkan ke bagasi mobil, “Papa pergilah lebih dulu. Temani Nayya.” Ucap Mama Fara.
“Mah, ikut.” Ucap Nayya lirih.
“Mah, mama ikut saja.” ucap Risam.
__ADS_1
Mama Fara pun mengangguk dan segera mengunci rumah dan memastikan bahwa semuanya aman di tinggal, “Sayang, apa sakit?” tanya Risam. Nayya hanya mengangguk sambil berfokus untuk mengendalikan rasa sakitnya itu.