
Nayya yang mendengar ucapan terima kasih dari calon suaminya itu tersenyum, “Nayya yang harusnya berterima kasih mas karena sudah di berikan gelang cantik ini. Nayya sangat menyukainya. Terima kasih.” Ujar Nayya.
Risam tersenyum mendengar itu, “Nayya dengar kakak yang membeli dan memilihkan sendiri gelang ini. Jujur saja gelang ini sesuai dengan selera Nayya.” Lanjut Nayya sambil memandangi gelang pemberian calon suaminya itu.
“Saya hanya asal memilihnya dek. Saya gak tahu ternyata itu sesuai dengan seleramu. Saya sangat bersyukur kau menyukainya dan saya sangat senang kau memakainya.” Ucap Risam.
“Tentu saja Nayya harus memakainya. Bukankah itu gelang pemberian calon suami Nayya. Jadi sudah tentu Nayya harus memakainya.” Ucap Nayya.
Risam tersenyum mendengar ucapan Nayya, “Dek, mas ingin bertanya.” Ujar Risam.
Nayya pun menatap calon suaminya itu, “Kamu mau mahar apa?” tanya Risam.
Nayya yang mendapat pertanyaan itu tersenyum, “Seikhlas Mas saja.” jawab Nayya.
Risam menggeleng, “Gak boleh begitu dek. Mahar itu wajib mas berikan untukmu dan kamu memiliki hak untuk meminta mahar itu. Jadi jangan katakan seikhlas Mas begitu. Mas ingin memberikan mahar sesuai dengan keinginan dan permintaanmu.” Ucap Risam.
Nayya pun mengangguk mengerti, “Baiklah jika begitu. Nayya tidak akan sungkan lagi untuk memintanya.” Ujar Nayya tersenyum.
“Silahkan katakan saja dek. In Syaa Allah mas bisa memenuhi permintaanmu maharmu itu.” ucap Risam.
“Sebenarnya Nayya tidak punya keinginan apapun terkait mahar maka untuk itu Nayya mengatakan seikhlas Mas saja tapi karena Mas menolaknya dan ingin tetap Nayya memintanya sendiri maka Nayya pun akan menyembutkannya. Nayya ingin mahar yang tidak memberatkan Mas dan juga tidak merendahkan diri Nayya. Nayya ingin mahar seratus rupiah saja mas.” Ucap Nayya.
Risam yang mendengar itu tersenyum, “Terima kasih atas mahar yang kau minta dek. Tapi mas mohon izin untuk menambah nominal mahar untukmu itu. Mas akan merasa tidak adil untukmu jika hanya memberikan mahar seperti itu. Mas mohon izin.” Ucap Risam.
__ADS_1
Nayya tersenyum, “Nayya izinkan mas. Nayya hanya mencoba menjawab permintaan mas terkait mahar saja. Jika mas ingin menambahnya maka itu semua terserah mas. Untuk itulah mengapa Nayya tadi mengatakan seikhlas mas saja.” ujar Nayya.
Risam pun kembali tersenyum, “Saya hanya gak mau dek bahwa kau merasa sedih nanti dengan mahar yang saya berikan. Jika kau menyembutkannya begitu maka mas memiliki dasar untuk mahar yang akan mas berikan nanti.” Ucap Risam.
Nayya pun tertawa mendengar ucapan calon suaminya itu, “Mas, ada-ada saja padahal Nayya akan menerima apapun atau berapapun mahar yang akan mas berikan nanti.” Ucap Nayya.
Sepasang calon pengantin itu pun seketika tertawa kecil setelah perbincangan mereka terkait mahar. Mami Vega dan papi Lutfi serta keluarga yang melihat interaksi yang terjadi antara Nayya dan Risam itu pun hanya tersenyum bahagia. Begitu juga dengan mama Fara dan papa Imran serta kedua adik Nayya tersenyum bahagia melihat senyum dan tawa bahagia di wajah Nayya.
Akhirnya tepat adzan sholat zuhur, seluruh rangkaian lamaran itu sudah selesai. Bahkan keluarga Risam sudah kembali pulang sekitar 10 menit yang lalu. Kini di rumah itu pun tinggal meninggalkan keluarga pihak Nayya saja dan beberapa tetangga sekitar.
***
Keesokan harinya, tidak terasa Nayya dan Risam sudah melakukan lamaran dan kini Nayya kembali dengan aktivitasnya yang seperti biasa dia jalani. Papa Imran dan mama Fara mereka sibuk dengan semua persiapan pernikahan Nayya yang memang tinggal menghitung hari. Mereka sudah tidak lagi ke minimarket Nayya.
Nayya ingin mendesain sendiri untuk pakaiannya yang akan di gunakan oleh keluarga besarnya serta undangan pernikahan juga begitu, Nayya ingin mendesainnya sendiri.
Nayya hari ini masih ke puskesmas karena dia masih harus mengurus cuti yang akan dia ambil. Nayya begitu tiba di puskesmas semua orang menyambutnya dengan baik. Mereka memang datang ke lamaran Nayya kemarin. Nayya memberikan undangan kepada mereka, yang tidak datang yang memiliki urusan lain yang tidak bisa di tinggalkan. Bahkan dokter Elvie menyempatkan datang walau hanya sekitar setengah jam saja dia di sana hanya menyaksikan acara inti Nayya dan Risam saja lalu setelah itu dia segera pulang karena memang memiliki jadwal di rumah sakit yang tak bisa dia tunda.
“Wah, aura pengantin sudah mulai terlihat nih.” Ucap teman Nayya sebut saja dia A
Nayya pun tersenyum lalu segera duduk di kursinya, “Apa mau mengajukan cuti suster Nayya?” tanya teman Nayya yang satunya lagi sebut saja dia B.
Nayya mengangguk, “Iya, semoga saja di izinkan cuti.” Ucap Nayya tersenyum sambil memeriksa kembali dokumen pengajuan cutinya.
__ADS_1
“Pasti di izinkan suster Nayya kan selama ini suster Nayya gak pernah mengambil cuti.” Ucap Si A.
“Iya saya yakin anda pasti di berikan cuti suster.” Timpal si B.
Nayya yang mendengar ucapan kedua temannya itu pun tersenyum, “Semoga saja begitu.” Ucap Nayya.
Setelah melakukan tugas paginya dan kepala puskesmas sudah tiba, dia pun segera datang ke ruangan kepala puskesmas itu untuk mengajukan cutinya.
Nayya mengucap salam dan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum dia masuk dan baru di persilahkan dia masuk, “Suster Nayya. Ayo duduk!“ ucap Asma sang kepala puskesmas.
Nayya pun segera mengangguk dan duduk di hadapan kepala puskesmas itu, “Apa kau mau mengajukan cuti nak?” tanya Asma.
Nayya pun kembali mengangguk, “Berapa lama cuti yang kau inginkan?” tanya Asma lagi.
“Emm dua minggu saja bu.” Jawab Nayya.
Kepala puskesmas tersenyum mendengar ucapan Nayya itu, “Kenapa hanya dua minggu nak. Apa kamu takut meninggalkan tugasmu. Tenang saya paham dengan keadaanmu dan kau pasti membutuhkan waktu untuk mempersiapkan pernikahanmu. Waktu cuti dua minggu sedikit nak. Saya kan merasa tidak adil untukmu jika hanya memberimu cuti dua minggu mengingat kau tidak pernah mengambil cutimu bahkan kadang hari weekend pun kau datang ke puskesmas. Saya memberimu waktu sebulan untuk cuti agar genap nak. sebulan sepertinya cukup dan cuti itu berlaku mulai besok. Kau tidak perlu datang ke puskesmas selama kau cuti sampai waktu batas cutimu.” Ucap Asma tersenyum.
“Terima kasih bu atas izin cutinya.” Ucap Nayya.
Asma mengangguk, “Tapi kamu punya PR bahwa cuti yang kamu ambil itu harus kau nikmati dengan baik bersama suamimu nanti.” Ucap Asma.
Nayya pun tersenyum sambil mengangguk malu, “Akan saya usahakan bu. Sekali lagi terima kasih atas izin cutinya. Saya akan menggunakan waktu cuti itu dengan baik.” ucap Nayya.
__ADS_1
Asma pun mengangguk lalu setelah izin cutinya di terima bahkan di beri cuti sebulan Nayya pun segera izin keluar kembali.