
Beberapa jam tak terasa sudah dilalui, perjalanan yang lama tak terasa sudah ditempuh kini rombongan SMA Bina Bangsa sudah sampai dilokasi perkemahan Sukamantri didaerah Bogor. Yuna yang tidur diperjalanan dibangunkan oleh Alia karena mereka sudah sampai ditujuan.
"Yuna bangun kita udah nyampe dilokasi nih," ucap Alia yang membangunkan Yuna dengan menggoyang-goyangkan bahunya, tak lama Yuna bangun dari tidurnya.
"Kita dimana Li?" tanya Yuna setengah sadar karena baru bangun dari tidurnya yang sangat pulas.
"Apa lo lagi mimpi Yun? Jelas-jelas kita ada didalam bus" ucap Alia yang ingin menyadarkan sahabatnya dari alam mimpi.
"Bus......? Astaga gue baru inget kalo tadi gue tidur diperjalanan, kenapa lo bangunin gue? Apa kita udah sampe?" tanya Yuna kepada sohibnya itu
"Udah! Bahkan kita udah sampe pluto!" ucap Alia yang kesal dengan kebiasaan sohibnya yang seperti orang linglung jika bangun tidur.
"Hahh pluto?!" teriak Yuna sehingga teman-teman yang lain terbangun dari tidurnya.
"Kenapa si berisik amat, gua lagi tidur tau ngga!" ucap Rangga yang terusik tidurnya karena suara cempreng Yuna
"Stttt! Etdah ini mulut apa toa kenapa berisik amat si, gue cuma bercanda kali ngga usah pake teriak." ucap Alia yang terkejut karena Yuna teriak tepat didepan telinganya. Yuna yang mendengar hal itu langsung menjewer kuping Alia karena membuatnya teriak didalam bus sehingga seisi bus terbangun dari tidurnya
"Lo kalo becanda liat tempat dong, lo kan
__ADS_1
tau kalo gue suka teriak kalo kaget! Liat tu temen-temen jadi bangun kan pak Ahmad juga," ucap Yuna sedikit emosi karena ulah Alia ia harus menanggung malu karena membangunkan semua orang didalam bus.
"Aawww sakit tau ngga! Ya sory gue ngga maksud gitu" ucap Alia menyesal dengan perbuatannya yang awalnya hanya bercanda tapi berakhir seperti ini.
"Sudah-sudah kalian jangan ribut, lagian kita jadi bangun karena kita sudah sampai dilokasi perkemahan. Jadi kalian ngga usah ribut, mending kita turun dari bus dan ambil barang-barang kalian dibagasi bus lalu berkumpul dengan siswa yang lain" jelas pak Ahmad yang melerai pertengkaran antara Yuna dan Alia serta memberikan instruksi kepada siswa untuk segera keluar dari bus.
Mereka keluar dari bus satu persatu agar tidak terjadi keributan, diluar anak-anak dan para guru yang dibus lain sudah turun dan berkumpul didepan bus masing-masing. Karena sudah berkumpul semua, kepala sekolah pun maju kedepan untuk memberikan beberapa informasi dan peraturan yang harus ditaati oleh pengunjung yang akan berkemah ditempat ini.
"Anak-anak yang saya sayangi dan saya banggakan pertama-tama marilah kita bersyukur karena kita masih diberi keselamatan dan bisa sampai disini tanpa kekurangan apapun selama perjalanan. Alhamdulillah, bagaimana dengan kalian apakah kalian senang saat sudah sampai disini?" tanya Pak Ridwan selaku KepSek di SMA Bina Bangsa.
"Senang pak!" seru seluruh siswa yang dengan khidmat mendengarkan pak Ridwan yang sedang berpidato singkat didepan pintu gerbang menuju bumi perkemahan Sukamantri.
"Mengerti pak!" jawab seluruh siswa dengan serentak. Yuna yang mendengarkan dengan seksama pun paham atas apa yang disampaikan oleh pak Ridwan dan wajib dilaksanakan setiap siswa agar mereka selamat dan lingkungan ini tetap terjaga kelestariannya
Setelah pak Ridwan memberikan sepatah duakata ia segera menutup pidatonya dengan doa bersama agar mereka selalu dilindungi oleh Allah SWT dalam keadaan apapun dan dimanapun, pak Ridwan dan seluruh siswa serta para guru mulai memasuki area hutan sebelum masuk ke bumi perkemahan Sukamantri. Mereka harus menempuh jarak kurang lebih 1 km untuk sampai ke bumi perkemahan Sukamantri dengan berjalan kaki agar mereka bisa merasakan sensasi yang luar biasa dari pemandangan hutan yang masih sangat asri dan banyak hewan seperti burung yang beterbangan diatas mereka seperti sedang menyambut kedatangan rombongan SMA Bina Bangsa. Kurang lebih setengah jam mereka berjalan akhirnya mereka sampai disebuah pondok yang cukup besar sehingga cukup untuk mereka beristirahat melepas penat dituduh mereka setelah berjalan jauh.
Yuna dan Alia yang selalu bergandeng tangan sejak turun dari bus pun sedang mengistirahatkan kakinya karena bukan jalan biasa yang mereka lalui tapi jalan setapak dengan batuan kecil dan akar pohon yang menjuntai diatas tanah mengisi jalanan serta jalan yang mendaki lalu menurun membuat mereka merasa lelah yang berkali-kali lipat.
Yuna sesekali memijat kakinya yang sudah mati rasa itu akibat berjalan melewati jalur yang terjal itu, Alia pun juga melakukan hal yang sama karena kakinya pun terasa sangat sakit. Tapi sakit itu seperti terobati setelah mereka melihat betapa indahnya tempat yang mereka kunjungi, karena banyak pohon-pohon besar yang mengelilingi mereka serta ada mata air sungai yang mengalir deras dengan air yang jernih. Mereka juga sempat melihat air terjun tak jauh dari tempat mereka akan mendirikan tenda, dari tempat mereka terdengar suara gemrecik air yang jatuh dari ketinggian 450m dan juga suara aliran air sungai yang deras sehingga membuat suasana menjadi sangat indah dan romantis.
__ADS_1
Bagi mereka yang sudah cukup melepas lelah langsung pergi ke tempat yang sudah ditentukan untuk mendirikan tenda, begitu pun dengan Yuna dan Alia beserta teman setenda mereka yang diantaranya Silvi, Andin, dan Tasya, mereka menjadi teman satu tenda karena kebetulan mereka juga adalah teman dekat dari Yuna dan Alia. Mereka pergi bersama untuk mendirikan tenda karena hari matahari sudah bergerak menuju arah barat yang menandakan hari akan segera berlalu berganti malam, sehingga seluruh siswa dan guru disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing dalam memasang tenda. Karena bekerja sama dengan teman satu tenda, tenda Yuna dan kelompoknya sudah berhasil berdiri sebelum matahari tenggelam sehingga mereka bisa menata barang mereka didalam tenda dan istirahat didalamnya.
"Akhirnya jadi juga tendanya," ucap Tasya yang memang sudah sangat lelah sejak tadi mendirikan tenda tetapi gagal berkali-kali, saat sudah berdiri dengan kokoh ia sangat senang karena dapat melihat hasil kerja kerasnya bersama teman satu tendanya.
"Iya, akhirnya berdiri juga ni tenda. Ya udah yuk ambil barang-barang kita dipondok abis itu langsung kita tata didalam biar kita bisa langsung istirahat" ucap Alia yang sudah tidak sabar ingin berleha-leha karena badannya sudah pegal semua.
"Yang ambil perwakilan aja ya kan kita juga harus ambil kantong plastik ke pak Ridwan dan juga kita perlu buat perapian didepan tenda biar kalo mau masak air atau mie rebus ngga perlu jauh-jauh ke tenda orang lain" ucap Yuna yang mengingat amanah pak Ridwan yang meminta perwakilan tiap tenda untuk datang menemuinya mengambil kantong plastik agar sampah yang dihasilkan tidak berceceran dimana-mana dan menyebabkan polusi.
"Ya sudah biar gue sama Andin aja yang ambil tas kalian biar nanti yang ambil kantong plastik Yuna dan yang buat perapian disini Alia sama Tasya, gimana?" tanya Silvi kepada keempat anggota kelompoknya
"Oke gue setuju, lagian gue juga udah belajar cara buat perapian kok" ucap Tasya dengan bangganya karena ia sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan teliti sehingga tidak ada barang yang tertinggal dan terlupa, ia bahkan sudah belajar macam-macam hal yang perlu dilakukan jika berada dalam perkemahan.
"Oke deh gue mau nemuin pak Ridwan dulu ambil kantong plastik biar kalo kalian makan ataupun minum tempat sumpahnya udah ada" ucap Yuna sambil pergi meninggalkan teman-temannya menuju tenda pak Ridwan yang terletak di pojok Timur.
Gimana nih readers, ini novel yang aku buat sendiri ya jadi ini murni pemikiran aku. Dan maaf banget kalo masih ada kesalahan atau mungkin ceritanya kurang menarik, soalnya ini pengalaman pertama aku jadi author.
Yang ngerasa kurang menarik dari novel ini bisa komen ya biar thor tau tentang kekurangan dari novel ini, Terimakasih sudah membaca novel KEPASTIAN CINTA
Salam kenal dari author @KNia😚
__ADS_1