
Hari ini juga semua rombongan bersiap untuk pulang. Mereka sangat sedih karena tidak bisa menikmati waktu liburan mereka di sini. Karena ulah seseorang mereka harus merelakan liburan mereka.
Yuna juga sedih karena teman-temannya harus kecewa karenanya. Tapi ia sendiri juga tidak bisa memutar waktu untuk menghindari kejadian itu.
Semua sudah masuk ke dalam bus. Yuna masih belum bisa berjalan karena luka dikakinya, ia memiliki cidera dikakinya. Sehingga ia digendong oleh Ahmad. Ia selalu setia menemani Yuna, kemanapun Yuna pergi ia akan ikut karena Yuna belum bisa berjalan sendiri.
Sedangkan Alia dia pindah tempat duduk, ia duduk dengan Sinta dibangku belakang Yuna. Saat Alia melihat Yuna ia langsung menutup wajahnya. Ia takut kepada Yuna.
Langkah awal Sinta sudah berjalan lancar. Ia sudah membuat Alia takut kepada Yuna. Lama kelamaan ia akan menaburkan bibit kebencian didalam hati Alia. Melihat Ahmad menggendong Yuna dan duduk dengan Yuna membuat Sinta semakin marah.
Ia semakin bertekat untuk membuat Yuna dibenci semua orang. Ia akan membuat Ahmad menjauh dari Yuna.
Sinta tak ingin Ahmad jatuh ke tangan Yuna, ia ingin Ahmad bertekuk lutut dihadapannya.
Sinta memiliki ide untuk membuat kericuhan didalam bus, sepertinya akan menarik.
Ia pun meracuni otak Alia dengan ingatan palsu yang ia buat tentang Yuna yang akan mendorong Alia ke jurang.
Dengan itu Alia akan berteriak histeris dan membuat keributan.
Alia sudah mulai resah, sepertinya dia sudah mulai melihat ingatan yang tidak benar itu.
" Aaaaaaaaaa! Tidak! Jangan! Jangan bunuh gue." teriak Alia menghebohkan seisi bus.
__ADS_1
Yuna yang mendengar sahabatnya berteriak pun ingin menghampirinya dibantu Ahmad. Namun saat ia sudah dekat Alia mendorong Yuna untuk menjauh.
" Aawww" Yuna menjerit kesakitan saat didorong Alia dan kakinya terbentur pegangan kursi.
Untungnya Ahmad berada dibelakang Yuna sehingga Yuna tidak jatuh ke bawah.
" Alia kamu kenapa?" tanya Ahmad kepada Alia
" Pergi Lo! Ngga usah deketin gue lagi," ucap Alia kepada Yuna.
" Alia sudah tenang ya, Ahmad sebaiknya kamu bawa Yuna jauh-jauh dari Alia sepertinya Alia masih trauma dengan kejadian kemarin" ucap Sinta penuh perhatian kepada Alia.
" Lo mau bunuh gue kan? Sebelum lu bunuh gue, gue dulu yang bunuh lo!" ucap Alia sembari menjambak rambut Yuna.
Sinta merasa senang karena yang Alia lakukan melebihi apa yang Sinta harapkan. "Ternyata anak ini gampang banget di adu domba." batin Sinta.
Saat melihat ada video yang dishare oleh seorang siswa pak Ridwan begitu geram karena Yuna membuat keributan di dalam bus. Akhirnya pak Ridwan menghentikan bus yang ia naiki dan bus lainnya. Ia pun segera turun dan pergi ke bus yang ditumpangi Yuna dan Alia.
Begitu kacau dan berisik, Alia sangat kejam memukul serta menjambak Yuna. Ahmad dan Sinta berusaha memisahkan mereka. Sementara para siswa hanya melihat dan memvideo saja tidak ada yang peduli karena mereka juga lah yang membuat rencana liburan mereka yang mengasikan menjadi liburan yang tak menyenangkan sepanjang hidup mereka.
Pak Ridwan masuk dan menghentikan perkelahian itu. Yuna sudah tampak kesakitan karena kakinya yang cidera ditambah luka memar yang disebabkan oleh pukulan dari Alia.
" Hentikan! Sudah cukup! Kalian ini apa-apaan hah? Kenapa kalian bertengkar didalam bus? Apa kalian ingin terjadi kecelakaan?" seru pak Ridwan penuh amarah, ia tak habis pikir mereka sebelumnya adalah sahabat karib kenapa sekarang mereka bertengkar bahkan sampai separah ini.
__ADS_1
" Maafkan saya pak karena tidak bisa menjaga anak-anak disini," ucap Ahmad penuh penyesalan. Ia merasa tidak becus menjadi guru.
" Sebenarnya apa yang terjadi? Coba jelaskan! Alia kenapa kamu memukuli sahabat kamu?" tanya Pak Ridwan, ia ingin diberi penjelasan yang sejelas-jelasnya.
Alia yang ditanyai hanya memandang Yuna dengan tatapan membunuh, air matanya terus mengalir tak henti-henti. Sikap Alia memang sudah dikendalikan oleh Sinta namun hatinya masih mempunyai perasaan sehingga ia menangis melihat sahabatnya menderita karenanya.
" Begini pak, tadi tiba-tiba saja Alia berteriak histeris. Yuna sebagai sahabat ingin melihat dan mengetahui kondisi Alia. Tapi sepertinya Alia begitu marah kepada Yuna sehingga ia mendorong tubuh Yuna, Alia juga mengatakan bahwa Yuna ingin membunuhnya jadi sebelum Yuna membunuhnya Alia dulu yang akan membunuh Yuna." ucap Sinta dengan wajah yang sedih
" Yuna apakah benar kamu ingin membunuh Alia?" tanya Pak Ridwan
" Tidak benar pak! Saya tidak mungkin membunuh Alia, dia adalah sahabat saya sejak kecil. Bagaimana mungkin saya membunuhnya, menyakiti saja saya tidak akan pernah melakukan itu. Saya sudah menganggap Alia sebagai saudara saya sendiri." ucap Yuna sambil menangis. Ia tak menyangka Alia berubah menjadi seperti ini.
"Apa yang membuat Alia berubah, apa ada kata-kata gue yang membuat Alia sampai semarah ini. Sebelumnya jika Alia marah dia akan langsung membicarakannya bersama. Tapi kenapa ini berbeda. Ada yang aneh dengan Alia, Alia tidak pernah berbuat kasar apalagi sampai bermain fisik. Mencubit saja Alia tidak pernah apalagi sampai memukul, ini tidak benar dia bukan Alia yang gue kenal." batin Yuna mengatakan bahwa Alia ini bukan Alia yang Yuna kenal. Dia Alia asing, dia seperti orang asing benar-benar tidak dikenali oleh Yuna.
" Ya sudah kita bicarakan ini besok saat sudah masuk sekolah, sekarang jangan buat keributan lagi. Lebih baik kalian istirahat" ucap Pak Ridwan.
Ia pun kembali ke dalam bus yang ia tumpangi lalu melanjutkan perjalanan.
Semua siswa pun istirahat, Alia tidur disamping Sinta. Yuna terus menangis melihat perubahan drastis pada sahabatnya. Ia sudah merasa ada yang tidak beres dengan Alia. Yuna pun memutuskan akan mencari tahu alasan Alia marah kepadanya.
Akhirnya ia pun tidur disamping Ahmad yang sedari tadi menemani dan menenangkannya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yaa...
Maaf kalo ceritanya aneh atau berantakan, soalnya ini karya baru author. Suport terus yaa😘