
Singkat cerita, kini sebelum nanti mereka tidak akan saling bertemu satu sama lain nanti. Nayya dan Risam sepakat untuk membicarakan hal-hal pribadi agar tidak akan terjadi masalah nantinya. Bisa di katakan ini adalah perjanjian pra nikah atau kesepakatan antara mereka. Nayya dan Risam memutuskan untuk membicarakan hal ini nanti malam di sebuah restoran yang sudah menjadi kesepakatan mereka.
Kini Nayya sibuk dengan bersiap untuk pertemuannya dengan calon suaminya itu nanti malam. Nayya sudah menuliskan poin-poin penting di kertas untuk semua yang menurutnya harus di bahas. Di sisi lain juga Risam melakukan hal yang sama. Risam sering mengganti kertasnya itu lalu kembali menulisnya hingga kini kamarnya itu di penuhi dengan kertas yang berserakan.
“Astaga, apa yang terjadi dek? Kenapa kau bermain kertas seperti ini?” tanya Adiba yang masuk ke kamar adiknya itu untuk meminjam kunci mobil dari adiknya.
Risam tidak menjawab dan hanya menatap kakaknya itu lalu kembali fokus menulis, “Apa sih dek yang kau tulis sehingga harus menulis dengan sangat rapi.” Ucap Adiba penasaran lalu mengambil kertas di lantai kamar adiknya yang sudah berbentuk bola.
“Jangan mencoba kepo kak. Letakkan kembali kertas itu. Sekarang katakan apa tujuanmu ke mari?” ucap Risam menatap kakaknya itu tegas. Adiba pun akhirnya tidak jadi kepo melihat apa yang di tulis oleh adiknya itu dan kembali meletakkannya di lantai.
“Emm, baiklah kakak tidak akan kepo. Kakak kesini hanya mau mengambil ini saja.” ucap Adiba lalu mengambil kunci mobil di meja adiknya itu. Dia pun keluar setelah melihat satu kalimat yang di tulis adiknya. Dia tersenyum setelah membaca itu, setidaknya dia sudah bisa menebak apa yang di tulis adiknya hanya dengan membaca kalimat pertama itu.
“Buat dengan baik ya dek dan jangan menutupi apapun dari calon istrimu.” Ucap Adiba lalu segera menutup pintu kamar adiknya itu karena tidak ingin mendapatkan semprot kemarahan adiknya.
Risam pun hanya bisa menghela nafasnya mendengar ucapan kakaknya itu lalu dia kembali menulis.
***
Kini Nayya dan Risam sudah ada di restoran lebih tepatnya di sebuah ruangan privat yang memang sudah mereka pesan sebelumnya karena apa yang akan mereka bahas adalah sesuatu yang bersifat rahasia yang tidak boleh di ketahui oleh public.
“Dek, mau minum apa?” tanya Risam saat dia memesan.
__ADS_1
“Emm terserah mas aja asal jangan kopi.” Jawab Nayya tersenyum lalu kembali sibuk dengan tasnya.
Risam pun mengangguk saja lalu memesankan minuman untuknya dan calon istrinya itu. Dia memesan dua gelas chocolate drink. Sebenarnya hanya Nayya yang menyukai minuman itu tapi dia ingin mencoba minuman yang biasa di pesan oleh calon istrinya itu.
“Mas, kita bicara dulu atau makan dulu nih?” tanya Nayya.
“Kita lebih baik bicara dulu baru makan.” Jawab Risam.
Nayya pun mengangguk saja, “Emm, Nayya lebih dulu atau mas lebih dulu?” tanya Nayya.
“Kamu aja dek.” jawab Risam.
Nayya pun lagi-lagi mengangguk, “Emm, dari makanan dulu ya mas. Nayya gak suka makanan pedas, Nayya gak pemakan daging hewan selain daging ayam. Nayya juga gak suka makanan seafood. Nayya memiliki banyak hal yang tidak di sukai mas terkait makanan. Bisa di bilang Nayya itu pemilih makanan.” ucap Nayya tersenyum.
Nayya pun tersenyum lalu dia kembali melanjutkan perkataannya, “Nayya gak mau di poligami apapun alasannya mas. Jadi jika nanti suatu saat mas berniat--”
“Saya tidak akan melakukannya dek. Saya hanya ingin memiliki istri satu dan untuk selamanya. Hanya kau yang pilih untuk menjadi istri dan mas janji poligami tidak ada dalam kamus hidup mas. Karena mas sendiri tidak menyukai poligami. Walaupun mungkin poligami di izinkan untuk di lakukan dan laki-laki bisa melakukan poligami sampai empat kali tapi mas gak bisa berbuat begitu. Mas gak bisa berbuat adil karena walaupun mungkin menurut mas adil tapi belum tentu menurut istri-istri mas adil. Jadi mas gak pernah berniat berpoligami dan mas janji hanya kau istri mas satu-satunya sampai mas menghembuskan nafas terakhir mas.” Potong Risam sebelum Nayya selesai melanjutkan perkataannya.
Nayya tersenyum, “Nayya hanya mengatakan seandainya mas. Itu hanyalah salah satu bentuk penjagaan Nayya saja. Mungkin benar bahwa seorang istri yang merelakan suaminya berpoligami di jamin surga. Tapi maaf Nayya tidak mengingkan surga itu dari jalan mengizinkan suami Nayya berpoligami. Nayya adalah pencemburu berat yang tidak akan merelakan apa yang sudah menjadi miliknya di miliki orang lain. Nayya akan mencari jalan menuju surga itu dari jalan lain. Tidak dengan poligami.” Ucap Nayya.
“Mas juga pencemburu Nayya. Sama seperti dirimu yang tidak ingin apa yang dia miliki menjadi milik orang lain maka mas pun sama memiliki sifat itu. Bahkan mungkin mas bisa lebih posesif darimu.” Ucap Risam.
__ADS_1
Nayya pun tersenyum saja, “Mas, Nayya ingin dalam hubungan kita saling terbuka satu sama lain dan tidak saling menutupi apapun. Karena sebuah rahasia dan kebohongan adalah penghancur besar dalam sebuah rumah tangga.” Ucap Nayya.
Risam pun mengangguk membenarkan ucapan Nayya, “Mas tahu itu. Mas janji tidak akan ada rahasia dalam pernikahan kita.” Ucap Risam.
“Baiklah. Tinggalkan hal itu sekarang Nayya persilahkan mas bertanya kepada Nayya.” Ucap Nayya.
“Apa yang harus saya tanyakan dek? Saya percaya padamu.” Ucap Risam.
“Gak boleh. Mas tetap harus bertanya.” Ucap Nayya tegas.
“Mas, gak memiliki pertanyaan dek. Selain mas percaya padamu mas juga sangat mencintaimu. Jadi apa yang harus mas ragukan darimu.” Ucap Risam.
“Tapi bisa saja kan Nayya melakukan kesalahan. Nayya juga manusia kan. Bukankah semua laki-laki akan berubah jika mendapati istri mereka tak lagi suci.” Ucap Nayya tersenyum.
“Saya bukan orang seperti itu dek. Walaupun kau sudah tidak suci, mas menerimamu.” Ucap Risam.
Nayya tersenyum, “Mas sangat positif thinking banget yaa. In Syaa Allah mas Nayya masih suci. Ini mungkin sesuatu yang tabu untuk di bicarakan tapi ini riwayat kesehatan Nayya. Mas bisa membacanya.” Ucap Nayya memberikan kertas hasil pemeriksaannya.
Risam pun membacanya lalu tersenyum, “Mas gak mengerti dek tapi sepertinya dari kesimpulannya semuanya baik.” ucap Risam kembali menyerahkan kertas itu kepada Nayya kembali.
“Ohiya, ini juga hasil pemeriksaan mas.” Ucap Risam kemudian memberikan kertas hasil pemeriksaannya.
__ADS_1
Nayya pun menerimanya dan membacanya lalu dia tersenyum, “Okay, semuanya baik. Apa mas tidak keberatan dengan syarat seperti ini? Apa mungkin Mas merasa risih dengan surat kesehatan begini? Masa iya menikah butuh surat kesehatan.” Ucap Nayya.