Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
107


__ADS_3

Keesokkan paginya, Zayya berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan motor milik Rayya yang memang di tinggalkan di rumah. Tidak dia bawa ke kediaman suaminya.


Seperti biasa begitu tiba di rumah sakit, Zayya sebelum melakukan aktivitas pada hari itu dia pun melihat dan mempersiapkan apa yang harus dia lakukan hari ini.


Kini Zayya segera menuju ruangan Cyra untuk melaporkan apa yang akan dia lakukan hari ini kepada dokter pembimbingnya itu. Begitu tiba di ruangan Cyra seperti biasa Zayya melakukan tugasnya dengan baik. Hal ini bukan bagian dari rencana tapi memang Zayya pantas mendapatkan reward untuk hasil kerjanya.


“Zayya!” panggil Cyra begitu Zayya hendak keluar ruangan.


Zayya pun menoleh dan berbalik, “Ada apa dokter?” tanya Zayya sopan.


“Itu saya hanya ingin meminta maaf. Maafkan saya Zayya.” Ucap Cyra.


Zayya yang mendengar permintaan maaf dari Cyra pun terdiam dan bingung, “Kamu pasti bingung tapi kamu pasti akan mengerti nanti.” Ucap Cyra tersenyum.


Zayya pun mengangguk. Dia tidak bertanya lagi tentang hal itu. Dia segera berlalu dari ruangan Cyra itu untuk kembali ke ruangannya. Tapi tiba-tiba saja dia di tarik oleh seseorang menuju taman.


“Dokter, apa yang kau lakukan? Kenapa menarik saya kesini. Saya mau bekerja.” Ucap Zayya begitu mereka tiba di taman dan dia menghempaskan tangan Diaz yang memegang lengannya.


“Maaf!” ucap Diaz lirih.


“Maaf untuk apa lagi dokter? Apa kau berbuat salah?” tanya Zayya.


Diaz mengangguk, “Aku ingin meminta maaf untuk semuanya.” Balas Diaz.


“Apa dokter sudah tahu alasan di balik kejadian yang terjadi pada kita?” tanya Zayya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga ingin berdamai dengan keadaan.


Diaz kembali mengangguk dan segera mengajak Zayya duduk di bangku taman itu dan mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang di lewati. Dia bahkan memutar rekaman pembicaraannya bersama Cyra dan orang tuanya semalam agar Zayya percaya. Yah, selepas dari rumah Cyra dia juga menanyakan semuanya kepada orang tuanya.


Sekitar 20 menit Diaz menceritakan semuanya yang di tanggapi oleh Zayya dengan ekspresi diam. Diaz tidak bisa menebak apa yang di pikirkan oleh gadis itu tapi satu hal yang dia yakini gadis itu terluka.


“Maaf!” ucap Diaz kembali.


Seketika air mata Zayya yang berusaha dia tahan mati-matian luruh dan membasahi pipinya. Dia ingin marah tapi tidak tahu harus marah kepada siapa. Semua yang terjadi padanya ternyata sudah di rencanakan. Walaupun dia sudah menduga ini ada kaitannya dengan orang tua Diaz tapi dia masih tidak menyangka bahwa ini lah kebenarannya.


“Maafkan aku dan keluargaku Zayya. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku--” ucap Diaz terhenti melihat Zayya yang berlari meninggalkannya.


Diaz pun menghela nafasnya dan tidak mengejar Zayya lagi. Dia tahu gadis itu terluka dan dia pasti butuh waktu sendiri untuk menerima semua yang terjadi. Diaz segera kembali ke ruangannya dan memulai aktivitasnya pagi itu. Tidak lupa juga dia meminta pihak bengkel untuk mengantarkan sepeda motor Zayya menuju kediaman gadis itu.


***


Seminggu berlalu dengan sangat cepat, Zayya masih menghindari Diaz dan dia hanya bicara seadanya dengan Cyra. Cyra sudah meminta maaf dan menjelaskan semuanya kembali kepadanya. Tapi Zayya tetap menghindar. Dia sudah bisa menerima semua yang terjadi padanya. Dia bahkan sudah berbaikan dengan Nayya dan kakaknya itu sudah menasehati dirinya untuk mengambil keputusan setelah mempertimbangkan baik dan buruknya.


Zayya selepas melakukan laporan kepada Cyra dia segera kembali ke ruangannya dan memulai aktivitasnya pagi itu bersama teman-temannya yang lain yang sudah tidak lagi membicarakannya. Saat makan siang Zayya segera menuju kantin karena hari ini dia terburu-buru jadi tidak sempat membawa bekal.


Zayya pun hendak memesan tapi lagi-lagi ada yang menarik tangannya dan siapa lagi itu jika bukan Diaz pelakunya. Kali ini Diaz membawa Zayya menuju mobilnya dan kini mereka sudah berada di mobil keluar meninggalkan rumah sakit itu.


Zayya yang dari tadi diam saja menurut kepada Diaz karena dia juga ingin berdamai dengan Diaz memaafkan semuanya, “Ada apa dokter? Kenapa selalu menarik lenganku tiba-tiba dan tanpa persetujuanku? Bagaimana jika tulang lenganku retak karena kau selalu menariknya.” Ucap Zayya akhirnya.


“Aku akan mengobatinya jika retak.” Jawab Diaz enteng.

__ADS_1


Zayya pun tersenyum tipis, “Anda dokter jantung bukan dokter tulang. Dasar!” ucap Zayya.


Diaz pun tersenyum, “Apa kau sudah memaafkanku?” tanya Diaz.


Zayya mengangguk perlahan, “Aku tidak punya alasan untuk tidak memaafkanmu dokter karena kau juga korbannya. Aku sedang mencoba berdamai dengan semua yang terjadi.” Jawab Zayya.


“Apa itu berarti kau juga--”


“Aku memaafkanmu dan memaafkan keluargamu tapi bukan berarti aku menerima perasaanmu dokter. Aku akui aku nyaman bersamamu dan aku cukup menyukaimu. Tapi aku ingin fokus dengan profesiku agar cepat lulus dengan nilai yang memuaskan dan begitu lulus akan segera mendapatkan pekerjaann.” Potong Zayya.


Diaz pun mengangguk mengerti, “Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu ayo kita makan siang dulu.” Ucap Diaz lalu tidak lama dia segera membelokkan mobil masuk menuju sebuah restoran.


Mereka pun segera masuk ke sana dan memesan untuk lunch mereka hari itu. Mereka menikmati makanan mereka itu dengan suasana yang damai. Tidak ada lagi kesedihan di wajah keduanya. Mereka sudah berdamai.


Sekitar kurang lebih 30 menit mereka makan siang di sana. Diaz segera melakukan pembayaran. Sementara Zayya menjawab panggilan dari rumah dan dia kaget begitu mendengar apa yang di katakan oleh mama Fara.


Diaz yang sudah selesai melakukan pembayaran mengangkat alisnya melihat Zayya yang memandangnya dengan tatapan lain, “Ada apa?” tanya Diaz.


“Apa dokter tahu saat ini orang tua dokter ada di rumahku?” tanya Zayya.


Diaz yang mendengarnya sedikit terkejut, “Dari ekspresi yang dokter berikan sepertinya dokter tahu bahwa mereka akan datang atau ini memang permintaan dokter.” Ujar Zayya menahan kesal.


“Mereka memang mengatakan untuk menemui keluargamu semalam. Tapi sungguh aku tidak tahu sama sekali bahwa mereka akan melakukannya hari ini. Sungguh, aku memang ingin menikahimu tapi tidak dengan memaksamu. Aku akan melakukannya pelan-pelan.” Ucap Diaz.


Zayya pun menarik nafasnya panjang setelah melihat tidak ada ekspresi bohong di mata Diaz itu, “Kita pulang ke rumah sakit.” Ucap Zayya lalu dia segera berdiri keluar restoran itu. Diaz pun mengikutinya sambil mencoba mengirim pesan kepada maminya.


“Maaf!” ucap Diaz lagi saat mereka berada di dalam mobil.


Diaz yang mendengar jawaban Zayya pun diam saja karena jawaban Zayya itu sangat meragukan. Lebih baik Zayya menyuarakan kekesalan padanya dari pada diam dan jawabannya santai seperti itu.


***


Sementara di kediaman mama Fara dan papa Imran. Di sana ada empat orang dewasa yang duduk saling berhadapan satu sama lain di ruang tamu.


“Maafkan kami jika kedatangan kami hari ini tanpa pemberitahuan apapun dan membuat kalian orang tua Zayya kaget. Tapi kedatangan kami kesini bukan terjadi tiba-tiba. Kami sudah merencanakan untuk datang ke sini sejak lama sejak melihat putri bungsu kalian di rumah sakit lima bulan lalu.” Ucap papi Atif.


Papa Imran pun mengangguk, “Kami mengerti tuan. Kami tidak masalah atas kedatangan tuan dan nyonya kesini. Tapi putri kami--”


“Dia sangat baik. Kami menginginkan dia jadi menantu kami. Mungkin dia sudah cerita kepada kalian atas apa yang terjadi padanya. Untuk itu kami meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kami tahu apa yang kami lakukan keterlaluan tapi itu kami lakukan--”


“Kami mengerti nyonya. Putri kami sudah menerima apa yang terjadi padanya. Kami juga tidak akan ikut campur dengan permasalahan yang terjadi padanya.” potong mama Fara.


“Baiklah. Kami mengerti maksud anda. Kami akan meminta maaf padanya secara langsung nanti. Tapi kedatangan kami kesini berniat untuk melamarnya untuk jadi istri putra kami dan menantu di keluarga kami.” ucap papi Atif menyuarakan tujuan mereka datang.


“Kami tahu apa tujuan anda datang tapi kami tidak bisa memutuskan apa akan menerima lamaran ini atau tidak. Kami menyerahkan semua keputusan pada putri kami. Selain itu juga putri kami belum lulus kuliah sepertinya kurang pantas menjadi pasangan putra anda yang seorang dokter.” Ucap papa Imran.


“Anda terlalu merendahkan putri anda tuan. Dia lebih segalanya untuk jadi istri putra kami. Kami memilihnya jadi calon menantu bukan karena pekerjaannya sepadan dengan putra kami atau tidak. Tapi karena kami menyukainya dan yang lebih utama yaitu putra kami mencintai putri anda sejak pertama kali melihatnya. Jadi tidak ada alasan kami harus menolak putri anda. Dia sudah jauh dari kata pantas untuk jadi pendamping putra kami.” ucap papi Atif.


“Selain itu juga kami sudah menyelidikinya. Maaf jika apa yang kami lakukan kurang pantas karena melakukan hal illegal. Namun sungguh kami melakukan itu hanya dengan satu tujuan yaitu ingin mengenal calon menantu kami.” sambung mami Kartika.

__ADS_1


Setelah itu mereka pun melanjutkan perbincangan yang patut untuk di bicarakan tapi papa Imran dan mama Fara tetap mengatakan bahwa lamaran ini hanya Zayya saja yang bisa memutuskannya. Mama Fara dan papa Imran akan menghubungi mereka jika Zayya setuju.


***


Sepulang dari profesi Zayya kini langsung di sidang oleh keluarganya termasuk Nayya juga ada di sana sementara Rayya dia tersambung melalui video call untuk ikut menyidang adiknya itu.


“Bagaimana nak, apa kau menerima lamaran dokter itu?” tanya papa Imran menatap putri bungsunya itu.


Zayya diam tidak tahu harus menjawab apa karena tadi sebelum dia pulang. Diaz kembali membawanya ke suatu tempat dan di sana Diaz mengungkapkan perasaannya tapi belum dia jawab.


“Aku bingung.” Ujar Zayya.


“Bingung kenapa? Apa kau ragu?” tanya Nayya.


Zayya menggeleng, “Aku tidak tahu. Sudah ku katakan bukan bahwa aku nyaman dan mengagumi dokter Diaz. Tapi aku tidak tahu apa yang ku rasakan itu adalah cinta atau tidak.” Ucap Zayya.


“Lalu apa yang di katakan oleh hatimu?” tanya Rayya dari seberang.


Zayya menggeleng, “Aku bingung.” Ucap Zayya.


“Ya sudah begini. Kamu lakukan sholat istikharah. Mintalah petunjuk. Kami akan meminta waktu untukmu menjawab.” Ucap mama Fara.


Zayya pun mengangguk menyetujui ide mamanya itu.


Tiga hari berlalu dengan sangat cepat. Selama tiga hari ini Zayya melakukan sholat istikharah meminta petunjuk untuk mengambil keputusan yang tepat dan hatinya mengatakan untuk menerima lamaran dari Diaz itu. Petunjuk yang datang padanya juga menuju kepada dokter itu.


Akhirnya Zayya pun setuju menerima lamaran dari Diaz itu yang langsung di sambut dengan suka cita oleh pihak keluarga Diaz dan Diaz sendiri tentunya. Dia yang bahagia dengan keputusan yang Zayya ambil.


Seminggu kemudian di lakukan lamaran resmi dan pernikahan mereka akan di laksanakan sebulan kemudian. Diaz berjanji akan tetap mendukung cita-cita Zayya untuk menyelesaikan profesinya. Dia bahkan berjanji untuk tidak menyentuh Zayya sampai dia lulus profesi atau sampai Zayya siap. Dia meminta untuk mempercepat pernikahan mereka bukan ingin menghambat atau menolak permintaan Zayya yang ingin menikah nanti selepas dia kuliah. Diaz melakukan itu dengan alasan agar dia bisa menjaga Zayya tanpa takut lagi fitnah yang akan timbul. Akhirnya di sepakatilah sebulan lagi pernikahan Zayya dan Diaz di laksanakan.


Semua orang mulai mempersiapkan pernikahan Zayya itu. Kini Zayya meminta kakaknya mendesain kebaya dan gaun pengantin untuknya. Sama seperti Rayya yang meminat Nayya untuk mendesainnya begitu Zayya mengikutinya.


Ini adalah weekend sehingga Nayya ada di rumahnya dan mendesain pakaian untuk adiknya itu yang memang pernikahan sudah tidak sampai sebulan lagi, “Adik ipar, sepertinya pembicaraan kita beberapa bulan lalu di ruangan ini di ijabah Allah.” Ucap Risam.


Zayya yang bermain dengan keponakannya itu pun tersenyum lalu dia mengingat apa yang di maksud kakak iparnya itu, “Itu adalah bukti bahwa kata itu adalah doa. Kau menginginkan agar jodohmu segera di dekatkan walaupun bercanda saat itu tapi Allah mengabulkannya dengan segera mendatangkan jodohmu dan kau pun akan menikah.” Ucap Nayya.


“Kakak benar. Waktu itu aku hanya bercanda tapi ternyata pintu rahmat Allah terbuka saat itu sehingga candaanku pun di kabulkan. Yah, walaupun harus dengan kejadian yang sangat drama. Tapi aku tetap mensyukurinya.” Ucap Zayya.


“Itu tandanya kau memang pantas untuk mendapatkan ujian seperti itu dek.” timpal Nayya.


Zayya pun mengangguk, “Dek, ayo lihat dulu desainnya.” Pinta Nayya. Zayya pun segera mendekat dan segera melihat desain yang Nayya buat itu. Dia tersenyum lalu mengangguk. Dia menyukai desain yang kakaknya buat itu.


Risam yang melihat istrinya yang berbincang dengan adiknya dia tersenyum lalu dia tiba-tiba dia merasa dadanya sakit. Dalam beberapa bulan ini dia sering merasa sakit dada. Entah apa penyebabnya dia belum memeriksanya.


Risam mengajak anak-anaknya bermain lalu entah kenapa tiba-tiba air matanya menetes tanpa bisa di tahan entah jatuh karena apa. Dia tiba-tiba sedih saja.


“Mas, kenapa?” tanya Nayya yang melihat suaminya mengusap air matanya.


Risam hanya menggeleng dan tersenyum lalu dia kembali bermain dengan anak-anaknya itu.

__ADS_1


Seminggu kemudian di tengah persiapan pernikahan Zayya dan Diaz. Rayya melahirkan putra pertamanya di rumah sakit yang di beri nama Elfattan Syahreza Hakim.


__ADS_2